
Salah satu penjaga menuntun mereka memasuki kediaman Bangsawan Kochi. Disana terlihat seorang pria yang memakai kacamata dan berumur tiga puluh tahun datang untuk menyambut mereka bertiga. Pria yang mengaku sebagai klien dari Kakek Hyogoro yang bernama Amaga memperkenalkan diri pada mereka bertiga.
"Selamat datang di kediaman Bangsawan Kochi Tuan Pendekar." dengan sopan Amaga menyambut mereka bertiga.
"Terimakasih Tuan Amaga." Kakek Hyogoro tersenyum kemudian Amaga mengajak mereka masuk kedalam rumah yang didalamnya sangat luas ruangannya.
"Amaga?" Kakek Hyogoro menatap tajam punggung Amaga didepannya.
"Nagato, rumah ini sangat berbeda dengan rumah kita yang ada di Hutan Cakrawyuha." Litha tertawa kecil sambil mendekati Nagato.
Nagato hanya tersenyum sambil terus berjalan mengikuti Kakek Hyogoro dan Amaga.
"Aku menyewa Tuan Pendekar untuk mengurus bandit yang membuat markas di wilayah ini ... akhir - akhir ini banyak bandit yang mencuri hasil panen warga bahkan mereka membunuh dan mencuri perhiasan dirumah warga desa yang berada di wilayah Kochi." Amaga tersenyum ramah sambil menjelaskan situasi yang terjadi di Kediaman Bangsawan Kochi.
Nagato memalingkan wajahnya kesamping setelah mendengar perkataan Amaga karena menurutnya ada yang janggal dari perkataan Amaga.
'Kenapa tidak menyuruh prajurit kekaisaran? Ada yang tidak beres disini?' Nagato tersenyum tipis menatap Amaga.
Amaga mengantarkan mereka bertiga kekamar yang sudah disiapkan agar mereka bisa beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh. Kakek Hyogoro disiapkan satu kamar untuk dirinya sendiri yang luas sedangkan satu kamar yang lainnya diberikan pada Nagato dan Litha. Menurut Nagato ada yang disembunyikan oleh Amaga pada mereka bertiga.
Nagato merebahkan tubuhnya sambil menatap Litha yang sedang duduk disamping ranjang.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau tidur bersamaku?" Nagato melihat Litha yang menjaga jarak dengannya.
Litha kemudian melirik Nagato dan melompat kearah pemuda yang sedang baring diranjang kamar.
"Aku sudah pernah tidur disamping mu, jadi buat apa aku malu!" Litha sengaja mengeledek Nagato kemudian tidur disamping pemuda itu.
Nagato menyentuh rambut halus Litha, merasakan sentuhan lembut tangan Nagato, gadis kecil itu memejamkan matanya dan membiarkan Nagato menyentuh rambutnya.
Tangan Nagato turun menyentuh leher Litha dan mengelusnya pelan.
"Siapa yang menggigitmu? Kenapa bisa ada bekas gigitan dilehermu?" Nagato berdiri menatap Litha yang sedang baring dibawahnya.
Litha memalingkan wajahnya kesamping karena malu melihat Nagato yang sedang menatap lehernya. Walau Litha sedikit kesal karena sifat Nagato yang tidak peka bahkan pemuda itu tidak sadar dengan ketampanannya sendiri jika banyak gadis kecil yang tertarik padanya.
"Ini bekas gigitan Chibi waktu itu!" Litha mendorong tubuh Nagato dan duduk disamping pemuda itu.
Nagato mengerutkan dahinya setelah mendengar jawaban Litha kemudian dia menatap dingin Chibi yang sedang tertidur dipinggiran ranjang.
"Jadi kucing ini yang menggigitmu? Sudah kuduga kucing ini hanya pura - pura terlihat imut untuk menyembunyikan kekuatannya yang tersembunyi dibalik cakar kakinya ini!" Nagato mengganggu Chibi yang sedang tidur disamping ranjang.
Litha terdiam mendengar perkataan Nagato entah mengapa dirinya merasa kesal karena Nagato tidak mengingat kejadian dimana Nagato menggigit lehernya ketika pemuda itu terluka.
"Nagato! Apa kamu sudah lupa?!" Litha menatap tajam Nagato.
Nagato melihat raut wajah Litha yang marah namun dirinya tidak mengetahui alasan kenapa Litha bisa marah sampai seperti itu.
"Aku mengingatnya!" Nagato mengingat ketika dirinya menggigit leher Litha tetapi dirinya tidak menyangka aka meninggalkan bekas luka gigitannya pada leher putih Litha. Perkataan Nagato membuat Litha tersipu malu karena Nagato dengan santainya menjelaskan semua itu kepadanya.
Kemudian Nagato membaringkan tubuhnya untuk merenungkan kejadian saat itu dia merasa menyesal dan bersalah karena gigitannya meninggalkan bekas luka pada leher Litha.
Keesokan harinya Amaga mengajak mereka bertiga untuk sarapan pagi disebuah ruang makan. Kakek Hyogoro sedikit curiga karena tidak melihat orang yang memiliki kharisma seorang bangsawan yang sedang makan bersama Amaga.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan Nagato dan Litha kembali kekamar untuk mengikuti Chibi yang akan menuntun mereka ketempat pria misterius sedangkan Kakek Hyogoro menanyakan kepada Amaga tentang keberadaan kepala keluarga Bangsawan Kochi kemudian Amaga menjelaskan kepada Kakek Hyogoro bahwa ada seorang pria yang sudah bekerja selama puluhan tahun dikediaman Bangsawan Kochi mendorong kepala keluarga jatuh ditebing sungai dan yang tersisa adalah anak perempuan dari kepala keluarga yang berumur 17 tahun yang bernama Kochi Cika sedangkan ibu dari Cika sudah meninggal setelah melahirkan Cika.
Mendengar jika ayahnya telah mati jatuh dari tebing membuat Cika bersedih bahkan gadis itu sudah mengurung diri selama 2 minggu lamanya. Kakek Hyogoro mengelus dagunya sambil dia menanyakan identitas pria yang mendorong ayah dari Cika kepada Amaga. Kemudian Amaga menjelaskan ciri- ciri orang tersebut beserta namanya.
'Tsutomu? Apa benar dia yang membunuh kepala keluarga Kochi?' Kakek Hyogoro mengerutkan dahinya setelah mendengar penjelasan Amaga.
Sebelum keluar ruang makan Kakek Hyogoro diberi lokasi tempat bandt yang mengacau di wilayah Kochi ketika dia membuka pintu didepan ada Nagato bersama Litha yang sedang membawa Chibi. Melihat reaksi mereka berdua membuat Kakek Hyogoro semakin yakin jika ada sesuatu yang tidak beres dikediaman Bangsawan Kochi.
Kakek Hyogoro memberi tugas kepada untuk tetap berdiam dirumah Bangsawan Kochi untuk mengawasi tindakan Amaga.
Nagato dan Litha mengamati Amaga yang sedang duduk bersama penjaga rumah diruang tengah.
"Nagato, apa pria misterius itu adalah Tuan Amaga!" bisik Litha pelan berdiri disamping Nagato.
"Aku yakin dengan penciuman Chibi karena aku juga sudah tidak suka sejak awal bertemu dengan pria kacamata itu!" entah mengapa Nagato kesal melihat Amaga.
Litha menegur Nagato kemudian mereka berdua mengikuti Amaga yang sedang berjalan kebelakang rumah menuju gedung berwarna coklat yang dipakai sebagai lumbung menyimapan makanan.
Amaga tidak sadar dirinya diikuti Nagato dan Litha sebelum masuk kedalam gudang pria itu menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan jika tidak ada orang yang mengikutinya.
Nagato dan Litha berdiri disamping gudang menguping pembicaraan Amaga dengan orang lain.
Didalam gudang Amaga sedang melaporkan pada ST 1 bahwa dia telah menyewa Kakek Hyogoro untuk menjebaknya dan menuduhnya sebagai pembunuh yang membunuh Cika agar Amaga dengan mudah menguasai harta kekayaan Bangsawan Kochi bahkan yang lebih mengejutkan Nagato dan Litha setelah mendengar pembicaraan kedua orang yang berada didalam gudang ternyata identitas Amaga adalah pemimpin bandit yang sudah memasukan air terlarang yang dapat merubah manusia menjadi manusia buas kedalam arak yang diberikan keseluruh anggotanya.
Nagato memegang tangan Litha karena merasakan haus darah yang mencekam dari ST 1.
Setelah beberapa menit ST 1 keluar dari dalam gudang pria itu berpapasan dengan Nagato dan Litha tetapi pria bercadar merah itu mengabaikan mereka berdua dan pergi menjauh dari kediaman Bangsawan Kochi.
"Anggotaku yang sedang berjaga dibukit dekat permukiman desa akan menjarah rumah penduduk hari ini setelah penduduk desa ketakutan maka pada saat itu aku datang menyelamatkan mereka dan aku akan membunuh anggota yang tersisa itu!" Amaga tertawa sambil merapikan kacamatanya mendengar hal itu Nagato dan Litha mencoba untuk tetap bersembunyi tetapi Amaga melihat mereka berdua.
"Apa yang kalian lakukan disini bocah?!" Amaga marah karena merasa Nagato dan Litha telah mendengar perkataannya.
Nagato mengerutkan dahinya dan hampir menghabisi Amaga disaat itu juga tetapi Litha memukul kepala Nagato untuk menenangkannya.
"Kami hanya sedang bermain mengikuti kucing ini dan tidak sengaja bertemu dengan Tuan Amaga!" Litha mencoba tidak membuat Amaga curiga kepada mereka berdua.
"Ehem ... kalian jangan berkeliaran sembarangan!" Amaga kembali bicara dengan sopan sebelum meninggalkan mereka berdua.
Nagato menatap dingin Amaga yang kian menjauh dari pandangannya.
"Kacamata sialan itu!" Nagato memukul gedung disampingnya.
Litha menghela nafas panjang setelah melihat Amaga pergi kemudian dia mengajak Nagato pergi kekamar dan mengambil tas untuk pergi menyusul Kakek Hyogoro.
Beberapa jam setelah pembicaraan Amaga dan ST 1 digudang belakang rumah Bangsawan Kochi. Kakek Hyogoro sedang bertarung dengan bandit yang telah berubah menjadi manusia buas disebuah bukit yang dekat dengan permukiman desa namun Kakek Hyogoro dapat membunuh semua manusia buas itu dalam sekejap tanpa hambatan sedangkan Amaga yang merasa curiga kepada Nagato dan Litha mengawasi mereka berdua secara sembunyi - sembunyi.
Amaga menguping pembicaraan Nagato dan Litha yang sedang berbicara didalam kamar dari balik pintu kamar dan pria itu tidak menyangka jika anggota banditnya telah dihabisi oleh Kakek Hyogoro kemarin malam ketika mereka bertiga sedang dalam perjalanan kemari.
"Rencanaku untuk dipuji oleh penduduk desa gagal karena dua bocah ini!" Amaga menjauh dari kamar Nagato dan Litha sambil merancanakan sesuatu untuk menyingkirkan mereka berdua.
Matahari mengeluarkan cahaya teriknya, langit dibalik awan terlihat begitu cerah dan pagi mengecup kening siang untuk mengucapkan salam perpisahan.
Nagato dan Litha yang sedang dalam perjalanan menyusul Kakek Hyogoro berlari tanpa arah karena mereka tidak mengetahui lokasi markas dari bandit.
__ADS_1
Nagato menatap Litha yang berada disampingnya.
"Dimana pedangmu?" tegur Nagato yang melihat Litha tidak membawa pedangnya.
Litha baru sadar jika pedangnya tertinggal dirumah Bangsawan Kochi.
"Aku meninggalkannya didalam kamar!" Litha memegang kepalanya karena tidak menyangkan dirinya akan seceroboh ini.
Nagato dan Litha kembali ke kediaman Bangsawan Kochi tetapi setelah mereka berdua sampai disana para penjaga menatap mereka berdua dengan tatapan tajam.
"Itu dia dua bocah yang membunuh Tuan Amaga!" salah satu penjaga berteriak ketika melihat Nagato dan Litha masuk kedalam rumah Bangsawan Kochi.
Nagato dan Litha terkejut karena mereka berdua baru kembali untuk mengambil pedang Litha tetapi disambut dengan tatapan dingin para penjaga yang berbadan kekar.
Nagato menarik tangan Litha melewati puluhan penjaga yang menghadang mereka berdua.
Litha terkejut ketika sampai dikamar yang digunakan dirinya bersama Nagato untuk istirahat ada mayat pria berkacamata yang mirip dengan Amaga dan diatas tubuh mayat pria itu ada pedangnya yang bersimbah darah.
Nagato mengambil pedang Litha dan berusaha menjelaskan kepada para penjaga bahwa ada kesalahpahaman disini tetapi para penjaga tidak mendengarkan perkataannya dan menghujani mereka dengan pukulan tangan.
"Tidak bisa diajak berbicara!" Nagato menatap dingin para penjaga dan menarik tangan Litha karena gadis kecil itu masih tidak percaya jika Amasa telah mati.
Nagato dan Litha lari dalam kejaran para penjaga kediaman Bangsawan Kochi bahkan ada beberapa penduduk desa yang ikut mengejar mereka berdua.
"Bukankah anak perempuan mereka telah kita selamatkan! Kenapa mereka mengejar kita dan menatap kita sebagai seorang pembunuh?!" Nagato terus menarik tangan Litha hingga mereka berdua sampai disebuah hutan yang lumayan jauh dari permukiman penduduk desa.
Nagato dan Litha telah terkepung dari segala sisi.
"Ternyata kalian datang kesini hanya untuk membunuh Tuan Muda Amaga! Aku telah salah menilai kalian!" salah satu penduduk desa menatap dingin Nagato dan Litha.
"Dasar pembunuh!" sahut salah satu penduduk desa yang lain.
"Kita tangkap gadis kecil itu dan kita adili didesa dengan lemparan batu!" salah satu penduduk desa menatap dingin Litha.
"Bukan aku yang membunuhnya." suara Litha yang terbata - bata dihiraukan oleh mereka.
Mendengar perkataan para penjaga kota dan penduduk desa hendak mengadili gadis kecil yang sedang dia genggam tangannya, perkataan mereka membuat Nagato marah.
"Kalian bisa menghinaku sesuka kalian, kalian bisa menuduhku sesuka kalian tetapi jika kaliam berani menyentuh Litha sedikit saja maka kalian akan berhadapan denganku!" Nagato melepas pedang berwarna hitam yang dibelikan oleh Kakek Hyogoro dari sarungnya.
Para penjaga rumah dan penduduk desa menelan ludah melihat tatapan dingin Nagato.
"Li-Lihat dia adalah pembunuh!" salah satu penjaga menunjuk Nagato dan menatapnya tajam.
Sebelum Nagato berlari dan hendak membunuh seluruh orang didepannya muncul seorang pria menggunakan bom asap untuk mengalihkan perhatian orang - orang yang mengejar Nagato dan Litha.
Nagato terkejut ada orang yang memegang tangannya.
"Tunggu, kamu siapa?" Nagato hendak melepaskan tangannya tetapi pria itu mencengkeram tangan Nagato lebih kuat.
"Kalian berdua ikuti aku! Penjaga rumah dan penduduk desa tidak bersalah, semua ini telah direncanakan oleh Amaga!" Pria itu menarik tangan Nagato dan Litha menjauh dari hutan.
Mereka berlari dan sampai disebuah hutan yang disana terdapat sebuah gua yang cukup besar dan dalam.
__ADS_1