
Nagato dan Raja Hewan Buas Gorila Peniru sudah beradu pukulan selama puluhan menit, bahkan kini Bukit Angin telah di penuhi kunung - kunang cahaya dan kupu - kupu malam.
Ratusan Kera Hitam menonton pertaungan Nagato melawan Raja Hewan Buas Gorila Peniru. Beberapa pukulan cepat dan sikutan tangan Nagato, ditiru Raja Hewan Buas Gorila Peniru dengan mudah.
Nagato dapat menangkis pukulan depan Raja Hewan Buas Gorila Peniru, melihat ukuran lawannya lebih besar tiga kali lipat dari Kera Hitam, membuatnya ingin mencoba teknik barunya.
Nagato dan Raja Hewan Buas Raja Gorila Peniru mundur ke belakang secara bersamaan, Nagato memegang pedangnya sedangkan Raja Hewan Buas Gorila Peniru memegang bebatuan.
Angin malam berhembus menerpa tubuh mereka, bahkan Litha dan Kera Hitam yanh menonton pertarungan tersebut terdiam selama beberapa saat. Ketika Raja Hewan Buas Gorila Peniru melempar batu - batu besar ke arah Nagato, pertarungan menjadi semakin menarik. Karena Nagato membelah setiap batu besar yang mengarah padanya.
"Kecepatan batu besar ini cukup mengerikan... jika terkena tubuhku maka... " gumam Nagato merapatkan giginya ketika mengingat dirinya terkena lemparan batu manusia buas X 2 di Kota Yasai. Nagato ingin melatih instingnya, sehingga dia memejamkan matanya dan menganggap pertarungannya melawan Raja Hewan Buas Gorila Peniru sebagai latihan juga. Bahkan Nagato memegang pedangnya dengan tangan kiri, karena dia ingin kedua tangannya terbiasa menggunakan pedang.
Ketika Nagato mulai memejamkan matanya, ratusan Kera Hitam memukul dada mereka dan berteriak mendukung Nagato. Litha yang mendengar suara berisik dari Kera Hitam, menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya.
Raja Hewan Buas Gorila Peniru memukul dadanya dan berteriak sekeras - kerasnya, suaranya cukup keras karena dia berusaha membuyarkan Konsentrasi Nagato.
"Depan... dia juga melempar batu ke atas..." gumam Nagato menebas setiap batu besar yang dilempar Raja Hewan Buas Gorila Peniru ke arahnya. Nagato sama sekali tidak terpengaruh suara Kera Hitam yang mendukungnya dan suara Raja Hewan Buas Gorila Peniru yang mnegintimidasinya. Suara - suara yang tidak perlu baginya, tidak terdengar di telinga Nagato, konsentrasi penuhnya membuat dia hanya mendengar suara batu besar yang melesat kearahnya.
Nagato terus mengayunkan pedangnya memotong batu - batu besar yang dilempar Raja Hewan Buas Gorila Peniru, pertarungan ini sudah cukup lama bahkan sinar rembulan mulai menerangi langit malam Hutan Cakrawyuha.
Litha menghela nafas panjang melihat Nagato yang sangat menikmati pertarungan ini dan menganggapnya sebagai latihan. Karena sangat jarang Raja Hewan Buas bisa dijadikan sebagai teman berlatih.
"Nagato, aku ingin memasak ayam bakar pedas, tetapi sepertinya hari sudah terlalu malam... jadi aku tidak jadi membuatnya..." teriak Litha sengaja untuk membuyarkan konsentrasi Nagato karena dia juga sudah lelah menunggu Nagato yang sedang menikmati pertarungan tersebut.
Suara indah Litha terdengar di telinga Nagato, dia mengerutkan dahinya mendengar Litha tidak jadi membuat ayam bakar pedas.
"Pernafasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah." hati Nagato menghirup udara disekelilingnya dan menyalurkannya ke seluruh tubuhnya. Kemudian dia mengambil kuda - kuda sebagai tumpuannya sebelum mengayunkan pedangnya kembali.
"Lintasan Api." Nagato mengayunkan pedangnya ke arah Raja Hewan Buas Gorila Peniru, tebasan horizontal yang memiliki jangkauan cukup luas membuat lawannya itu berkeringat dingin karena tidak menghindari teknik pedang lintasan api milik Nagato.
__ADS_1
Raja Hewan Buas Gorila Peniru berkeringat dingin, melihat lintasan api padat melesat ke arahnya. Dia memukul kedua dadanya setelah itu melempar batu besar untuk menahan lintasan api tersebut.
Nagato maju secara perlahan sambil mengolah pernafasan, ketika Raja Hewan Buas Gorila Peniru hendak menerkam tubuhnya, Nagato menggunakan teknik Ruang Hampanya membuat Raja Hewan Buas Gorila Peniru tidak bisa bergerak selama satu detik.
"Menyerahlah..." Nagato sudah berada di leher Raja Hewan Buas Gorila Peniru dan melingkarkan pedangnya yang di lapisi api padat pada leher lawannya itu.
Raja Hewan Buas Gorila Peniru mengangkat kedua tangannya dan menyerah. Nagato turun dari atas leher Raja Hewan Buas Gorila Peniru dan berjalan mendekati Litha.
Ratusan Kera Hitam melompat kegirangan melihat Nagato berhasil mengalahkan Raja Hewan Buas Gorila Peniru.
"Ayo pulang..." ajak Nagato sambil memegang tangan Litha.
Litha cemberut karena Nagato terlalu menikmati pertarungan dan mengabaikan keberadaan dirinya.
Nagato mengajak Raja Hewan Buas Gorila Peniru dan Kera Hitam ke tengah hutan.
Nagato menyuruh Raja Hewan Buas Gorila Peniru mengamati Hutan Cakrawyuha di lapisan terluar, sedangkan Kera Hitam disuruh untuk mengawasi setiap lapisan Hutan Cakrawyuha dan jika ada keanehan, Nagato menyuruh kelompok Kera Hitam untuk segera melapor padanya.
"Jika aku membuat Kera Putih sebagai temanku, maka latihanku akan menjadi semakin sempurna." gumam Nagato beranjak untuk mandi di sungai.
Nagato membawa handuk dan menaruhnya di lehernya, dia berjalan pelan menikmati suasana malam Hutan Cakrawyuha.
Nagato tidak mengetahui jika Litha sedang mandi di sungai yang sedang dia tuju.
"Hari ini sungguh penuh kejutan..." gumam Nagato sambil terus melangkahkan kakinya ke sungai.
Setelah sampai di sungai, Nagato menatap rembulan sesaat dan menikmati sinarnya, kemudian menoleh ke kiri di sana terlihat sosok perempuan sedang keluar dari sungai dengan tubuh yang tidak di baluti apapun kemudian perempuan tersebut mengelap seluruh tubuhnya dengan handuknya.
Nagato terkejut karena dia sangat mengenal sosok perempuan itu, dia tidak menyangka jika Litha akan mandi di sungai sendirian karena Nagato mengira Litha mandi di rumah.
__ADS_1
"Kenapa Litha mandi disini..." hati Nagato sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Litha yang melilit tubuhnya dengan handuk putih membuat setiap lekuk tubuhnya masih terlihat.
"Nagato, apa itu kamu?" Litha bertanya - tanya melihat bayangan seorang pemuda yang tidak memakai baju.
Rembulan menyinari sungai tersebut, sehingga Nagato yang sedang terdiam berdiri melihat kearahnya terlihat oleh Litha. Karena sinar rembulan membuat wajah Nagato terlihat samar - samar.
"Aku tidak melihat apapun..." ucap Nagato sambil menatap Litha.
Litha memerah wajahnya karena dia tidak menyangka Nagato akan mandi di sungai.
"Nagato, apa kamu tadi melihatnya?" tanya Litha mendekat pada Nagato, aroma harum tubuh Litha yang sehabis mandi tercium oleh Nagato.
"Ya." jawab Nagato singkat dengan wajah datarnya.
"N-N-Nagato..." ucap Litha dengan terbata - bata, karena malu dia mencubit pipi Nagato pelan dan memarahinya.
Nagato menatap wajah Litha yang sedang memarahinya, dengan tenang dia membisikan sesuatu pada Litha.
"Ini salahmu yang tidak mandi di rumah..." bisik Nagato di telinga Litha, bau harum tubuh Litha semakin terasa, kemudian Nagato menjauh dari Litha dan berjalan pelan sebelum terjun ke sungai.
Wajah Litha merah merona mendengar perkataan Nagato, walau sebenarnya ada perasaan senang bercampur malu di hatinya ketika Nagato melihat tubuhnya, tetapi tetap saja Litha sangat malu.
Di sisi lain Nagato hanya bersikap tenang dan mulai membasuh tubuhnya disungai. Litha kembali ke rumah untuk memasak ayam bakar.
Nagato merapatkan giginya ketika menyelam ke dalam air.
"Bekas luka di pinggir perutnya akan selalu ada, melihatnya saja membuatku merasa sakit... karena tidak sempat menolongnya saat itu..." hati Nagato yang terus menyesali perbuatannya karena membiarkan Litha terluka oleh penyusup yang menyusup di Hutan Cakrawyuha beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1