
Di suatu kota yang dikenal dengan Kota Daruma. Sebuah kota yang berada paling utara di Kekiasaran Kai. Kota Daruma adalah kota wisata yang menyajikan pantai pasir yang indah dengan bebatuan putih yang tersebar di pinggiran pantai. Ada dua pulau yang dekat dengan Kota Daruma yang pertama adalah Pulau Maru dan yang kedua bernama Pulau Samui. Kota Daruma merupakan bagian dari wilayah Klan Fuyumi, sedangkan kediaman Klan Fuyumi sendiri ada di Pulau Maru.
Di sebuah penginapan yang bernama Penginapan Hachi. Terlihat tiga orang yang baru bangun dari tidur siang mereka, ketiga orang itu tak lain adalah Kakek Hyogoro, Litha dan Nagato. Enam hari telah berlalu semenjak mereka bertiga meninggalkan Hutan Cakrawyuha. Sekarang mereka bertiga berada di Penginapan Hachi untuk menunggu perahu yang akan menjemput mereka dari Klan Fuyumi.
Kakek Hyogoro yang sedang duduk di ruang tengah Penginapan Hachi menikmati kopi menanti kedatangan Kin yang merupakan burung elang kesayangannya. Kakek Hyogoro meminum kopinya dan mendengarkan suara - suara dari pedagang dan nelayan yang hendak pergi berjualan maupun melaut terdengar di telinganya.
Tidak lama Nagato dan Litha duduk di bangku yang sama dengan Kakek Hyogoro. Mereka berdua menatap Kakek Hyogoro yang sedang meminum kopi.
"Kakek Hyo. Aku ingin memastikan satu hal yang mengangguku. Apa Kakek Hyo berniat pergi jauh sehingga menitipkan aku dan Litha di tempat Iris?" tanya Nagato pada Kakek Hyogoro. Kedua bola mata Nagato menatap Kakek Hyogoro dalam - dalam.
Kakek Hyogoro meminum kopinya dan menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Nagato, "Kakekmu ini akan pergi sementara waktu," senyuman khas Kakek Hyogoro terlihat di wajahnya, "Saat kakek kembali. Kakek ingin melihat keberhasilan kalian di Turnamen Harimau Kai," tambah Kakek Hyogoro.
Nagato merasa lega karena entah mengapa dirinya tidak bisa tenang akhir - akhir ini. Setiap nadinya merasa tertusuk jarum dan seperti memberi peringatan padanya. Senyuman tipis terlihat di wajah Nagato dengan tatapan matanya yang melihat ke luar jendela penginapan.
"Sepertinya aku terlalu khawatir..." batin Nagato lega setelah mendengar jawaban Kakek Hyogoro.
Mata Nagato menatap tajam burung elang emas milik Kakek Hyogoro yang terbang di atas Kota Daruma, "Kakek Hyo, di luar ada Kin yang terbang mencari kita," Nagato berdiri dan melangkahkan kakinya keluar penginapan.
Kakek Hyogoro dan Litha mengikuti Nagato sambil menatap silau langit di atas sana, mata mereka tertuju pada burung elang emas peliharaan Kakek Hyogoro. Kin terbang hinggap di pundak Nagato dan mematuk pelan rambut Nagato yang hitam itu.
Nagato mengambil sepucuk surat yang ada di kaki Kin kemudian memberikannya pada Kakek Hyogoro, "Ini Kakek Hyo," tangan Nagato menyodorkan sepucuk surat yang dia ambil pada Kakek Hyogoro.
Kakek Hyogoro mengambil surat yang diberikan Nagato kemudian membacanya. Setelah membaca surat yang ditulis Shirayuki. Kakek Hyogoro menyuruh Nagato dan Litha mengambil tas mereka berdua untuk segera pergi ke pelabuhan karena sudah ada Shirayuki yang ditemani Tika dan Hika telah menunggu kedatangan mereka bertiga.
Nagato dan Litha mengambil tas mereka berdua sambil menghela napas panjang karena mereka telah menunggu selama sehari penuh di Kota Daruma. Nagato menemani Litha untuk membeli ikan mentah terlebih dahulu sebelum pergi ke pelabuhan.
Litha membeli ikan mentah untuk ia berikan pada Chibi yang sudah waktunya makan siang. Nagato menatap Chibi dengan sinis karena sedikit kesal melihat kucing yang begitu dimanja oleh Litha.
__ADS_1
Selesai memberi makan ikan mentah pada Chibi. Nagato dan Litha, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan pergi ke pelabuhan tempat dimana Shirayuki sedang menunggu bersama Tika dan Hika.
Kakek Hyogoro tersenyum melihat Nagato dan Litha yang kembali membeli ikan mentah. Tanpa menunggu lebih lama lagi mereka bertiga bergegas pergi ke pelabuhan. Jalanan Kota Daruma sangat ramai dan padat, kereta kuda banyak yang keluar masuk Kota Daruma. Suasana yang begitu ramai sedikit membuat Nagato kesal ditambah dengan tatapan penduduk kota dan beberapa gadis yang terus melihat ke arahnya.
Nagato sedikit merasa terganggu dengan tatapan mereka. Ketampanannya membuatnya menjadi sedikit pesimis, ketika matanya menatap dingin para gadis yang menatap dirinya justru gadis - gadis tersebut terlihat begitu senang dan berteriak histeris sambil melambaikan tangannya pada Nagato.
Kakek Hyogoro dan Litha yang sedang berjalan bersama Nagato juga terganggu. Kakek Hyogoro baru menyadari perubahan pada Nagato, semakin umur Nagato bertambah, semakin terlihat ketampanannya. Banyak yang tertarik dengan Nagato di masa lalu, Kakek Hyogoro tidak heran karena Nagato sendiri seharusnya merupakan seorang pangeran tetapi demi menjaga identitas sebagai keturunan Kagutsuchi yang terakhir, Nagato harus rela hidup penuh dendam dan sengsara tidak seperti anak - anak sebaya seumurannya.
Sesampainya di pelabuhan terlihat dua gadis yang semakin terlihat cantik dan manis. Tika dan Hika yang telah berusia dua belas tahun semakin terlihat kecantikan mereka dengan rambut mereka berdua yang pendek sebahu itu. Tika memakai aksen jepit rambut bunga mawar berwarna biru yang ia selipkan diantara rambut lurusnya yang sebahu sedangkan Hika memakai aksen jepit rambut bunga mawar berwarna merah dirambutnya.
Tika dan Hika memakai jubah putih bercorak bunga mawar yang dihiasi dengan sebuah kain putih yang terikat di pinggang mereka. Mata Nagato menatap Shirayuki yang menatap dirinya, di mata Nagato sosok Shirayuki membuatnya semakin mengingat mendiang ibunya. Dari wajah dan sikap Shirayuki yang seperti ibunya membuat Nagato tidak menolak permintaan Kakek Hyogoro ketika berniat menitipkan dirinya bersama Litha di tempat Shirayuki.
"Hai, Litha. Masih kenal aku?" sapa Hika menghampiri Litha dan menyentuh kedua tangan Litha.
"Aku masih kenal kok. Kamu Tika, kan?" Litha tersenyum canggung karena sejujurnya dia sedikit lupa dengan Tika dan Hika. Dibanding Chiaki dan Chaika yang berbeda kepribadiannya walaupun kembar, membuat Litha mudah mengingat kedua anak kembar dari Bangsawan Kita itu, sedangkan Tika dan Hika sangat mirip yang membedakan mereka berdua hanya jepit rambut mereka berdua, dan tentu saja itu membuat Litha lupa.
Hika mengembungkan pipinya sambil kedua tangannya mencubit lembut pipi Litha, "Dasar Litha. Aku Hika lain Tika. Hmph," Hika memalingkan wajahnya ke samping.
"Hika... Hika... kamu jangan perkenalkan dirimu saja. Tika juga ingin berpelukan dengan Litha." tegur Tika sambil menarik tangan Hika.
"Lama tidak berjumpa, Litha. Coba tebak aku siapa?" sapa Tika sambil tersenyum manis pada Litha.
"Kamu Tika hehe..." Litha tersenyum canggung dan menjabat tangan Tika.
Nagato menatap ketiga gadis muda yang semakin dewasa dan terlihat kecantikannya tanpa ekspresi sedikitpun. Wajahnya menunjukkan jika dirinya telah bosan dan ingin bergegas ke tempat yang sepi karena dari atas pelabuhan terlihat banyak gadis - gadis yang melihat dirinya.
"Lama tidak berjuma, Tika, Hika. Sepertinya kalian berdua semakin kuat belakangan ini." sapa Nagato sambil berjalan mendekati Shirayuki. Walau dia menyapa Tika dan Hika tetapi matanya menatap Shirayuki yang tersenyum lembut padanya.
__ADS_1
Nagato memberi hormat pada Shirayuki dan membalas senyuman perempuan beranak satu itu.
"Tuan muda Nagato tumbuh menjadi pemuda yang tampan..." Shurayuki mengelus rambut Nagato penuh kasih sayang.
"Panggil aku Nagato saja." sahut Nagato cuek dan memejamkan matanya karena merasa diperlakukan seperti anak kecil oleh Shirayuki.
"Baiklah, tapi Nagato harus panggil aku Bibi Shirayuki." balas Shirayuki.
Nagato menghela napas panjang dan memalingkan wajahnya ke samping sebelum mengangguk pelan. Melihat Nagato yang diperlakukan seperti anak sendiri oleh Shirayuki tentu saja membuat Litha, Tika dan Hika terkejut bahkan gadis - gadis muda yang melihat Nagato dari atas pelabuhan terlihat patah hati.
Tidak berapa lama Shirayuki mengajak mereka untuk naik ke perahu khusus yang telah disiapkan oleh Klan Fuyumi. Dalam perjalanan menuju kediaman Klan Fuyumi terlihat Tika dan Hika mendayung perahu.
Kakek Hyogoro tersenyum melihat Nagato yang sedang berbicara bersama Shirayuki, sedangkan Litha sedang membantu Tika dan Hika mendayung perahu.
***
Sementara itu di Ibu Kota Daifuzen yang merupakan ibu kota dari Kekaisaran Kai. Kota Daifuzen sedang kedatangan tamu dari segala penjuru Kekaisaran Kai. Sebuah kota besar dan paling megah di Kekaisaran Kai itu semakin ramai dan padat akhir - akhir ini karena akan diadakannya Turnamen Harimau Kai. Sebuah turnamen yang sering menciptakan tunas muda berbakat dan jenius. Turnamen Harimau Kai hanya bisa diikuti oleh anak yang berusia dua belas tahun sampai tujuh belas tahun.
Di dekat tempat di gelarnya turnamen, ada sebuah rumah megah seperti kastil yang bernama Rumah Harimau Kai. Tempat yang begitu dekat dengan Arena Lingkaran Harimau itu sedang mengadakan pertemuan temu sapa anggota Sepuluh Tetua Kai.
Arena Lingkaran Harimau adalah tempat diadakan acara tahunan Turnamen Harimau Kai. Arena Lingkaran Harimau berbentuk seperti stadion besar dan megah dengan kapasitas penonton mencapai tujuh puluh ribu kursi penonton.
Tahun ini adalah tahun yang paling menarik bagi penonton Turnamen Harimau Kai karena kedua anak Kaisar Hizen ikut dalam kompetisi tersebut, bahkan dengan adanya sepuluh pendekar muda jenius membuat acara tahunan ini menjadi semakin menarik. Bukan itu saja, yang paling menjadi perhatian penonton tentu tiga pendekar muda tak bermahkota. Kebanyakan penonton bertanya - tanya apakah ada anak muda yang bisa mengalahkan tiga pendekar muda tak bermahkota.
Di dalam Rumah Harimau Kai terlihat lilin - lilin putih yang baru menyala, meja bundar dengan kursi yang melingkar dan makanan mewah telah disajikan di atas meja bundar yang akan menjadi tempat pertemuan Sepuluh Tetua Kai.
Sepuluh Tetua Kai sudah duduk di kursi masing - masing sambil menatap tajam satu sama lain. Suasana yang tegang itu akan dibuka oleh salah satu anggota Sepuluh Tetua Kai yang terkuat bernama Satra.
__ADS_1
Ketika Satra ingin mengucapkan sesuatu dan memimpin pertemuan yang diadakan setahun sekali itu tiba - tiba ada tiga perempuan yang mendobrak pintu masuk Rumah Harimau Kai dan salah satunya berteriak lantang.
"Satra!"