Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 90 - Story Leak


__ADS_3

Waktu terus berlalu, dan musim gugur datang menghampiri Hutan Cakrwayuha.


"Nagato, sepertinya kali ini aku menang lagi." ucap Kakek Hyogoro mengayunkan pedangnya mengincar pedang Nagato.


Pedang Nagato terlemper keatas, kali ini dia kalah kembali bertarung dengan Kakek Hyogoro. Kali ini Nagato tidak menunjukkan emosi seperti biasanya.


Kakek Hyogoro mengerutkan dahinya, karena wajah Nagato terlihat sedih.


"Nagato..." gumam Kakek Hyogoro lirih melihat raut sedih Nagato.


Nagato merasa sedih, walau hanya latih tanding bersama Kakek Hyogoro. Tetapi setelah latihan keras yang dijalaninya, dia tidak pernah menang sekalipun dari Kakek Hyogoro.


"Ada apa dengan wajahmu itu? Seolah kau mengatakan jika segalanya telah berakhir." Kakek Hyogoro menepuk pundak Nagato dan berbisik ditelinga muridnya itu.


Nagato tersenyum canggung, karena Kakek Hyogoro menyuruhnya untuk lebih dekat dengan Litha.


Nagato melirik Litha, gadis kecil itu sedang berlatih pedang dan melakukan gerakan - gerakan pemanasan.


"Litha?" sapa Nagato duduk melihat Litha.


"Ada apa, Nagato," jawab Litha.


Nagato terdiam sesaat, karena melihat Kakek Hyogoro yang menahan tawa, melihat dirinya yang mengikuti perkataan Kakek Hyogoro untuk mendekati Litha.


"Bagimu aku ini seperti apa? Teman? Sahabat?" tanya Nagato berdiri didepan Litha dan memalingkan wajahnya kesamping.


"Kita kan sahabat, tunggu... kita berdua ini bisa dibilang sahabat, tapi bisa dibilang juga kita cuma seorang teman," balas Litha memperhatikan tingkah aneh Nagato.


Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nagato tersipu malu karena sadar jika hari ini dirinya bertingkah aneh.


"Litha, apa hari ini aku bertingkah aneh?" tanya Nagato pada Litha dengan wajah datarnya.


"Heeh, jadi Nagato juga bisa sadar ya." jawab Litha cekikikan melihat ekspresi lucu wajah Nagato.

__ADS_1


Melihat dirinya ditertawakan olehnya, Nagato memegang hidung Litha.


"Litha, aku serius." ucap Nagato menatap wajah Litha dekat.


"Aku juga serius, oh iya Nagato bisa temani aku pergi sebentar gak?" balas Litha mengalihkan pembicaraan.


"Aku mau berlatih sendirian, jadi jangan ganggu," jawab Nagato cuek karena malu.


Mendengar jawaban Nagato membuat Litha kesal, dirinya tersenyum tipis melihat Nagato yang beranjak pergi dari sisinya.


Nagato berlatih pedang seperti biasa, dirinya melatih kedua tangannya mengayunkan pedang, agar berguna untuk pertarungan yang tak terduga kedepannya.


Mereka berdua terus melewati hari seperti biasa, hingga suatu hari ada sebuah surat yang ditulis Hawk untuk mereka berdua.


Dalam surat yang ditulis Hawk, disitu tertulis jika dia ingin memberitahu Litha dan Nagato tentang turnamen yang diadakan khusus pendekar muda.


"Banyak orang kuat yang berkumpul disana, aku tertarik dengan turnamen ini." ucap Nagato setelah membaca surat tersebut.


"Jadi bagimu, aku tidak terlalu kuat, begitu." sahut Litha yang mendengar perkataan Nagato.


"Kau juga bisa bertarung denganku, tidak harus bertarung dengan orang kuat yang mengikuti turnamen itu," balas Litha menatap Nagato tajam.


"Dengar Litha, akhir - akhir ini aku selalu berpikir untuk melindungimu, jadi aku tidak bisa bertarung denganmu." ungkap Nagato sambil mengelus rambut halus Litha yang panjang.


Litha memerah wajahnya, tetapi dirinya berdecak kesal setiap Nagato memegang rambutnya karena Litha merasa seperti dianggap sebagai anak kecil oleh Nagato.


"Berhenti mengelus rambutku, aku bukan anak kecil." Litha memukul perut Nagato, pukulan tangannya membuat pemuda itu menahan tawa.


Nagato tersenyum tipis, " Hentikan pukulanmu itu, aku bahkan tidak merasakan sakit sedikitpun." Nagato memegang tangan Litha sambil menatap wajah Litha dekat.


Litha dan Nagato saling menatap satu sama lain selama beberapa detik, setelah itu mereka berdua terdiam karena malu.


"Aku pergi sebentar." ucap Nagato sebelum berjalan meninggalkan Litha untuk mencari keberadaan Kakek Hyogoro.

__ADS_1


Litha hanya diam dan masuk kedalam rumah, didalam kamar dia senyum - senyum sendiri memikirkan Nagato yang selalu bersikap baik padanya.


Sementara itu Kakek Hyogoro sedang memancing disungai, dia menikmati suasana santai dan nyaman itu sambil meminum arak dia menunggu umpan pancingnya di makan.


"Kakek Hyo, ini ada surat." Nagato mengagetkan Kakek Hyogoro yang sedang memancing.


Kakek Hyogoro mengambil surat tersebut dan membacanya.


"Ini kesempatan yang bagus untuk kalian berdua," gumam Kakek Hyogoro pelan.


"Aku ingin mengikuti turnamen ini." sahut Nagato yang mendengar Kakek Hyogoro menggumam pelan.


"Kalian berdua harus mengikuti turnamen ini ketika kalian telah berumur 12 tahun," balas Kakek Hyogoro.


Nagato mengerutkan dahinya, "Berumur 12 tahun? Perasaanku disitu tertulis dari anak berumur 8 tahun sampai 17 tahun." Nagato menatap Kakek Hyogoro penuh keheranan.


"Disini memang tertulis seperti itu, tetapi kalian berdua harus mengikuti turnamen ini ketika berumur 12 tahun." kata Kakek Hyogoro dengan nada memerintah.


"Kenapa harus menunggu 12 tahun, apa aku dan Litha masih terlalu lemah?" tanya Nagato pada Kakek Hyogoro.


Kakek Hyogoro meminum araknya kemudian dia tersenyum, "Nagato, 1 tahun ada berapa bulan?" kali ini Kakek Hyogoro mengajukan pertanyaan kepada Nagato.


"12 bulan." jawab Nagato singkat karena menganggap Kakek Hyogoro sedang mabuk.


"Ya, karena itu kalian berdua harus mengikuti turnamen ini ketika berumur 12 tahun." jelas Kakek Hyogoro sambil menunggu umpan pancingnya dimakan ikan.


Nagato berdecak kesal setelah mendengar jawaban Kakek Hyogoro. Karena malas berdebat lebih jauh lagi dia kembali kerumah untuk melihat Litha.


Rumah terlihat sepi, Nagato mencari Litha didalam rumah, ketika dia menemukannya, ternyata Litha sedang memasak makanan buat dirinya.


Nagato menghampiri Litha dari belakang dan melihat apa yang sedang dia masak.


"Harumnya..." gumam Nagato mencium aroma sayuran yang dimasak Litha.

__ADS_1


"Eh, Nagato..." Litha menyikut perut Nagato karena pemuda itu datang langsung berada dibelakangnya.


Nagato menahan tawanya, melihat Litha yang menyikut perutnya, karena merasa tidak ada kegaiatan, Nagato pergi ke Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda untuk berlatih pernafasan.


__ADS_2