Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 152 - Kepolosan Alami


__ADS_3

Emi memesan sembilan kamar di Penginapan Jajar Genjang yang berada di pinggiran Desa Kuri. Pelayan perempuan kagum dengan kedatangan para pendekar dari Klan Fuyumi. Sosok Shirayuki yang memiliki kecantikkan tiada tara, membuat pelayan penginpan gugup untuk melayani mereka.


Penginapan Jajar Genjang berada di pinggiran Desa Kuri. Tempat yang terlihat megah itu memiliki fasilitas yang cukup. Kolam mandi air panas juga disediakan, bahkan sarapan lesehan dengan duduk bersama di ruang tengah menjadi alasan Emi memilih Penginapan Jajar Genjang menjadi tempat mereka beristirahat.


Pakaian tidur juga telah disediakan, sebenarnya Penginapan Jajar Genjang adalah penginapan khusus perempuan. Tentu saja Nagato tidak mengetahui hal itu, sehingga dia kebingungan ketika melihat pakaian perempuan di luar kolam mandi air panas. Nagato hanya melilitkan handuknya, memperlihatkan bentuk perutnya yang menggoda dengan wajahnya yang tidak ditutupi topeng rubah putih.


Nagato melangkahkan kakinya penuh percaya diri, dan ketika dia menoleh kebelakang betapa terkejutnya dirinya. Semua yang tertulis di papan kecil hanyalah kolam air panas khusus perempuan, hanya yang membedakan kolam air tersebut adalah pembagian ruangannya. Nagato baru saja mandi di kolam air panas satu, matanya menoleh melihat papan kolam air panas dua dan tiga.


Tidak berapa lama Nagato merasa malu sendiri, suara-suara dari Iris, Litha, Hika dan Tika terdengar di telinganya. Ini adalah hal memalukan yang pertama kali Nagato rasakan dalam hidupnya, karena ketika pintu kolam air panas dua terbuka, terlihat Iris keluar menggunakan piyama putih. Tidak sampai berselang satu menit, Litha, Hika dan Tika keluar menyusul Iris menggunakan piyama putih sama seperti Iris.


"Apa aku salah masuk?" hati Nagato terperanjat karena dia takut akan mendapat sindiran dari teman-teman perempuannya dari Klan Fuyumi.


Tidak beberapa lama kolam air panas tiga terbuka pintunya, terlihat Shirayuki menggunakan piyama putih dan menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah. Di belakang Shirayuki terlihat Oichi dan Ichiba yang menggunakan piyama putih sambil mengelap rambut mereka menggunakan handuk. Nagato tidak melihat Emi sama sekali keluar dari kolam air panas tiga.


Nagato memejamkan matanya dan wajahnya merah padam menahan rasa malu, ingin rasanya dia segera melarikan diri dari situasi memalukan ini.


"Na ... ga?" suara Iris yang terbata-bata membuat Nagato membuka matanya secara perlahan, mata Nagato melebar melihat wajah Iris dan yang lainnya merah padam.


"Nagato, jadi kamu mandi di kolam air panas khusus perempuan." Shirayuki tersenyum sambil berjalan mendekati Nagato dan berbisik pelan di telinga pemuda yang dekat dengan anaknya itu. "Apa kamu ingin mengintip anak Bibi Shirayuki?" Kata - kata Shirayuki membuat wajah Nagato merah padam, tidak ada kata yang keluar dari mulut Nagato selain dirinya yang menahan rasa malu.


"Shirayuki. Penginapan Jajar Genjang adalah penginapan khusus perempuan, aku lupa jika kita sedang bersama Nagato." Suara Emi mencairkan suasana yang memalukan bagi Nagato. Perlahan Shirayuki menjauh dari Nagato dan mengelus rambut pemuda itu dengan lembut.


Nagato menatap Emi penuh kekesalan, karena nenek dari Iris itu telah membawanya ke dalam situasi yang tidak ingin dia alami.

__ADS_1


"Dasar nenek tua bangka!" batin Nagato merasa kesal dengan Emi.


"Apa kamu mengatakan sesuatu?" Emi menaikan alisnya dan menatap tajam Nagato.


Tidak ada kata yang keluar dari dalam hati Nagato selain keterkejutannya melihat Emi yang terlihat seperti mendengar suara hatinya. Perlahan Nagato membalikkan badannya, dan berjalan cepat karena dia ingin segera masuk ke dalam kamarnya yang telah disiapkan penginapan.


Shirayuki tersenyum tipis menoleh kebelakang melihat Iris yang wajahnya merah padam, dia mengetahui anaknya malu melihat tubuh bagian atas Nagato yang terbuka jelas.


"Kenapa?" Shirayuki jongkok dan menatap anaknya dalam - dalam.


"Bu, Iris pusing kepalanya." Iris ambruk ke tubuh ibunya yang sedang ada didepannya, pikirannya sedikit kacau karena melihat tubuh bagian atas Nagato.


Iris masih ingat bagaimana Nagato menyelamatkan hidupnya, rasa bersalah yang mendalam di hati Iris pada Nagato sangat mendalam. Melihat tubuh bagian atas Nagato membuat Iris kembali mengingat rasa bersalahnya.


Sementara itu Nagato yang telah membasuh seluruh tubuhnya yang basah menggunakan handuk sudah memakai pakaian biasa. Baju putih dan celana hitam yang dia kenakan membuatnya merasa nyaman, ketika dia berjalan keluar kamarnya dan bergegas menuju ruang tengah, para pelayan terkejut karena ada anak laki-laki yang menginap bersama pendekar Klam Fuyumi.


Hanya dengan ketampanan Nagato yang membuat mereka mematung, tidak ada satupun pelayan yang memprotes. Nagato dengan santai duduk disamping Iris yang sedang menunggu kedatangan ibunya.


"Bu..." gumam Iris melirik Nagato dan mengerjapkan matanya berkali - kali melihat wajah Nagato.


"Kamu kenapa?" Tangan Nagato menyentuh kening Iris dan sedikit membelai rambut hitam yang halus milik gadis yang ada disampingnya.


Iris sadar jika yang berada disampingnya adalah Nagato karena dia sangat mengetahui suara pemuda itu, wajahnya merah padam dan perlahan pandangannya kabur.

__ADS_1


"Iris, minum ini." Shirayuki datang dari arah belakang menghampiri Nagato dan Iris. Tangan Iris mengambil segelas air yang tercium seperti minuman herbal, Nagato bisa merasakan kehangatannya.


Iris meminum minuman yang diberikan ibunya, tegukan demi tegukan Iris meminum semuanya hingga habis. Nagato penasaran dengan Iris yang terlihat berbeda, mengingat dirinya sendiri memiliki tubuh yang lemah sejak lahir membuat Nagato berasumsi jika Iris memiliki penyakit yang sama dengan dirinya.


Tidak berapa lama pelayan penginapan membawa makanan dan minuman yang masih hangat, beberapa pelayan mencuri-curi pandang melihat Nagato.


"Naga..." suara Iris yang terdengar begitu lirih menghilangkan perasaan risih Nagato karena ditatap pelayan perempuan. "Maaf..." kata - kata terakhir Iris membuat Nagato terkejut. Nagato sama sekali tidak mengerti maksud ucapan Iris padanya, hanya Nagato dapat mengetahui saat ini Iris terlihat merasa bersalah padanya.


Nagato mengambil daging ayam dengan sumpit dan menyodorkannya ke mulut Iris. Tindakan Nagato menjadi perhatian semua orang, Emi bisa melihat cucunya sangat mencintai Nagato begitu pula sebaliknya. Iris membuka mulutnya malu-malu dan mengunyah daging ayam secara perlahan.


"Kalau sakit. Kamu harus makan yang banyak..." Nagato kembali menyodorkan daging ayam ke bibir tipis Iris. Shirayuki tertawa sendiri melihat Nagato yang terlihat begitu polos di matanya, begitu juga dengan anaknya.


Wajah Iris merah padam, ada perasaan senang dan bahagia dalam hatinya. Perhatian Nagato penuh kepadanya, pemuda yang pertama kali dia kenal itu sangat berbeda dengan pemuda yang lainnya. Iris kembali membuka mulutnya dan mengunyah makanan.


Litha, Hika dan Tika tertawa pelan melihat Nagato dan Iris yang begitu dekat, tidak ada perasaan cemburu sama sekali dalam hati Litha melihat Nagato bersama Iris. Baru pertama kali Litha melihat Nagato yang terlihat begitu ceria, walau wajah pemuda itu tidak menunjukkan kegembiraannya, tetapi Litha sangat mengetahui hal itu karena dia telah tumbuh bersama Nagato.


Dengan wajah santainya, Nagato memakan daging ayam memakai sumpit yang gigit Iris. Setelah memakan daging ayam manis, Nagato mengambil daging ayam pedas dan memakannya. Iris hendak makan sendiri tetapi Nagato dengan cepat kembali menyuapi gadis itu dengan makanan yang lainnya. Tanpa rasa malu, Nagato tersenyum hangat melihat Iris yang malu-malu.


Mulut Iris kembali terbuka menerima suapan Nagato dan mengunyah makanan, setelah menelan daging ayam yang baru dia makan, perlahan wajah Iris memerah karena kepedasan. Dengan geram Iris mencubit badan Nagato.


"Aku tidak suka makanan pedas." Iris dengan manja menatap Nagato yang tersenyum hangat padanya.


"Kupikir kamu menyukainya ... ternyata kita berdua sangat bertolak belakang..." suara Nagato membuat Iris merasa bersalah, tapi melihat Nagato yang sedang tersenyum membuat dirinya lega.

__ADS_1


"Semoga lekas sembuh..." itu adalah kata- kata terakhir Iris dengar dari pemuda yang begitu perhatian padanya, sentuhan tangan Nagato yang mengelus rambutnya sebelum beranjak pergi akan menjadi hadiah perpisahan terindah sebelum tidur malamnya.


__ADS_2