Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 282 — Keputusasaan II


__ADS_3

Raido mempercepat langkah kakinya. Kekuatan petir yang membantunya dapat bergerak dengan cepat membuatnya dengan mudah mengejar Nagato dan yang lainnya.


“Kalian tidak akan bisa melarikan diri!” Raido tersenyum menyeringai melihat raut wajah penuh keterkejutan Nagato dan yang lainnya.


“Ibu...” Iris menoleh melihat Shirayuki yang tergeletak di tanah. Dia tidak dapat berpikir jernih. Amarahnya dia lepaskan untuk membunuh Raido.


“Jangan terburu-buru!” Raido memukul perut Iris dengan kecepatan tinggi. Kemudian dia melayangkan pukulan beruntun pada Iris.


Nagato kembali bergerak melawan Raido sebisa mungkin. Namun dia tidak dapat berbuat banyak. Raido tidak segan-segan untuk mendaratkan ratusan pukulan yang membuat tubuh Nagato bersimbah darah.


Litha berusaha mengeluarkan aura dan mana. Tetapi tubuhnya kian melemah. Sudah tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Raido terus melayangkan pukulan pada Nagato dan Iris.


“Raido! Bunuh orang-orang yang berusaha melarikan diri! Aku akan menghabisi mereka semua!” Ignist terbang di angkasa dengan wujud Naga Merah. Tak lama wujudnya kembali menjadi manusia sebelum mendarat di tanah.


Raido menatap Ignist yang terlihat menahan rasa sakit. Terlintas dipikirannya untuk membunuh Ignist tetapi dia bukanlah orang yang bodoh. Kekuatan Ignist jauh dari yang dia perkirakan. Masih terlalu cepat untuk melawan Ignist dan menunjukkan taringnya.


“Baiklah, aku akan menghabisi orang-orang yang belum mati. Terutama orang-orang dari negeri bernama Rakuza dan Kinai. Mereka sama sekali tidak dapat menghiburku...” Raido menggunakan kekuatan petir miliknya sebelum menghilang.


Ignist mengeraskan kulitnya dan menatap wajah Nagato dan Iris yang baru saja disiksa oleh Raido. Dalam satu kali ayunan tangannya dia mengincar wajah Iris, tetapi Litha melempar pedangnya pada Ignist.


“Jangan bunuh mereka!” Litha berteriak. Dia sadar dengan melihat Ignist saja tubuhnya tidak bisa berhenti gemetaran karena ketakutan.


Nagato dan Iris berdiri mencoba menjauh dari Ignist. Tak lama Ichiba, Hika dan Tika membekukan tubuh Ignist untuk mengulur waktu. Tidak butuh waktu lama bagi Ignist untuk menghancurkan es yang mengekang tubuhnya.


“Sepertinya kalian sangat keras kepala!” Ignist mengambil salah satu pedang yang berserakan. Lalu dengan cepat dia mengayunkan pedang tersebut pada Ichiba.


“Kalian pergi!” Teriak Ichiba. Sekilas dia melihat Hana yang sedang membawa tubuh Hanabi.

__ADS_1


“Aku akan mengulur waktu!” Ichiba mulai memainkan pedangnya. Namun tidak sampai dirinya melakukan pertukaran serangan dengan Ignist. Tusukan pedang Ignist menembus perutnya.


Hika dan Tika menangis. Kedua gadis kembar itu bergerak berdasarkan amarah. Tentu keadaan ini semakin dipenuhi rasa keputusasaan.


“Bodoh!” Ignist hendak memenggal kepala Hika dan Tika, namun Shin dan Mujin sekuat tenaga menebaskan pedangnya yang membentuk sabit itu untuk membuat Ignist menjadi dari pendekar muda.


“Luka Bibi Ichiba tidak dalam, kita harus hentikan pendarahan...” Litha dengan cekatan berusaha menolong Ichiba. Dengan cepat Hika dan Tika menoleh melihat Litha.


“Naga, ibuku...” Iris menggigit bibir bawahnya dan menatap tajam Ignist.


Nagato menoleh melihat Shirayuki yang sedang di tolong Hana. Tidak ada jalan keluar untuk pergi dari Ibukota Daifuzen. Nagato menyadari hal tersebut. Perasaan yang sama saat dirinya tidak mampu berbuat banyak saat Kazan menghancurkan kebahagiaannya dan merenggut orang-orang tersayangnya, kini sosok orang yang memiliki kekuatan yang hampir sama dengan Kazan berdiri didepannya.


“Kalian menjauh dari sini! Berpikirlah untuk pergi dari tempat ini! Aku akan memberi jalan untuk kalian keluar!” Mujin berteriak. Walau dia sendiri tidak dapat berbuat banyak ketika Ignist hanya diam menerima serangannya.


Shin dan Mujin terus melayangkan serangan demi serangan pada Ignist tetapi tubuh yang sekeras kulit Raja Binatang Buas, Naga, dari kekuatan Arwah Sucinya itu membuat Ignist hanya diam dan menatap tajam Shin beserta Mujin.


Mereka kembali ke tempat Shirayuki yang sedang di tolong Hana. Malam yang panjang itu terasa tidak pernah berakhir. Nagato menggertakkan giginya karena melihat begitu tubuh bergelimpangan. Potongan tubuh bahkan darah membuat mata dan hidungnya mulai terbiasa dengan pemandangan ini beserta bau amis yang menyengat ini.


Namun setiap mendengar jeritan. Hati Nagato terasa sesak. Melihat ratusan bahkan ribuan wajah yang dipenuhi keputusasaan membuatnya semakin tenggelam pada kubangan hitam kebencian yang mendalam.


“Jaga Ibumu ini, Fuyumi Iris. Sepertinya aku bisa merasakan perubahan angin pada langit malam yang terang ini...” Hana sekilas bisa mendengar suara hewan yang cukup keras.


Hana melihat Ichiba yang terluka. Namun dia terkejut melihat Litha yang dapat memberi pertolongan pertama pada Ichiba.


“Apa peperangan ini tidak akan berakhir... Apa kita akan mati disini...” Tika terduduk lemas memegang tangan Ichiba.


“Sungguh ironis. Saat negeri ini dipimpin oleh pemimpin yang tidak bertanggung jawab, justru kita mati-matian melindunginya. Sekarang kita akan mati di tangan orang asing. Jika harapan dan keajaiban benar-benar ada, maka cepat hentikan pembantaian ini...” Oichi juga putus asa karena bayi di dalam kandungannya. Tidak pernah dia sangka kehidupannya akan seperti ini.

__ADS_1


“Iris, apakah kau baik-baik saja? Lukamu parah...” Litha menyentuh perut Iris yang terkena pukulan Raido.


Iris sendiri merasakan rasa sakit yang luar biasa. Tulang-tulangnya terasa remuk dan patah, namun dia berusaha untuk tetap berdiri.


“Aku baik-baik saja. Litha, kau benar-benar dapat diandalkan. Kau selalu memberi semangat pada kami. Aku akan tetap hidup asalkan kau tetap berada disampingku...” Iris memeluk Litha dan menangis sesenggukan. Gadis cantik yang dingin itu juga rapuh karena malam yang berapi-api ini mencairkan dinding es hatinya.


Nagato mengolah pernapasan dan berusaha mengumpulkan tenaga, namun tubuhnya sudah tidak dapat lagi untuk bergerak sesuai keinginannya. Dia menatap ke arah langit dan menoleh melihat Shin dan Mujin dari kejauhan.


Pemandangan malam yang berdarah itu nampak mengerikan ketika lolongan dari Vendom dalam wujud Werewolf menggema. Begitu juga dengan amukan Black Rhino dalam wujud Badak Hitam.


“Iris, Litha, maafkan Ibu...” Shirayuki bergumam pelan. Bibirnya yang tipis itu mengeluarkan darah ketika dia batuk pelan.


“Aku seharusnya dapat menggunakan kekuatan aura yang diberikan olehmu dengan baik...” Shirayuki masih merasa kesal karena tidak dapat berbuat banyak ketika bertarung melawan Raido.


“Tidak apa-apa...” Litha ingin menyebut Shirayuki sebagai ibunya, namun dia tidak sanggup. Tangannya menyentuh tangan Shirayuki.


Sementara Iris memegang tangan Shirayuki yang satunya. Luka Shirayuki termasuk parah karena hampir saja organ dalamnya hancur. Beruntung Hana melihat Shirayuki terkapar dari kejauhan.


“Terimaksih Tetua Hana...” Shirayuki menoleh melihat Hanabi yang pucat pasi wajahnya.


“Apakah Hanabi juga terluka karena serangan mereka?” Shirayuki panik karena pendekar muda berbakat seperti Hanabi tidak pantas kehilangan nyawanya di pertempuran ini.


Hana tersenyum kecut dan menjelaskan pada Shirayuki jika Hanabi telah menghirup asap gas belerang dalam jumlah banyak. Tubuh Hanabi sudah melemah. Walau Hanabi sempat mengolah Pernapasan Cakra tetapi Hanabi belum menguasai pernapasan yang berasal dari Klan Kagutsuchi tersebut. Hana sendiri sudah sangat putus asa ketika mengetahui luka dalam Hanabi.


Hana menebak saat Hanabi terkena asap dari gas belerang, anak keduanya itu karena terkena pukulan Karakurt yang dilapisi aura panas bercampur gas belerang yang mematikan.


Nagato, Iris dan Litha menatap Karakurt dan Black Rhino yang sedang berdiri di atas bangunan tinggi. Keduanya terlihat menikmati pembantaian yang mereka lakukan.

__ADS_1


Nagato mengepalkan tangannya karena tidak dapat berbuat banyak menghentikan pertempuran ini.


__ADS_2