Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 159 - Arena Lingkaran Harimau


__ADS_3

Aura yang dilepaskan Nagato membentuk lautan api yang kecil membakar Ryuzaki. Api yang membakar tubuhnya, tidak dapat membuat Ryuzaki terluka. Kulitnya mengeras karena Ryuzaki memusatkan auranya untuk menjadi pertahanan di seluruh tubuhnya.


Ryuzaki berteriak dengan keras sambil tangannya menghempaskan api yang berkobar ke arahnya. Nagato tersenyum tipis melihat Ryuzaki mulai serius melawan dirinya. Tidak ada perasaan takut pada diri Nagato. Anak muda berumur lima tahun yang telah melihat kekejaman dunia tentu mentalnya sudah berbeda, kepribadian Nagato seharusnya sudah hancur, tetapi pertemuannya dengan teman-teman pertamanya seperti Litha, Iris, Chaika, Chiaki, Hika dan Tika membuat lubang hitam yang menganga di hati Nagato mulai tertutupi. Bahkan berkat adik angkatnya yang telah meninggal, Nagato menjadi ingin menjaga impian masa kecil Asha.


Nagato sudah tidak ingin kehilangan siapapun lagi, karena semua itu sangat menyakitkan rasanya. Dengan langkah kaki yang pasti, Nagato melesatkan pukulan bertubi-tubi ke arah Ryuzaki.


"Bocah!" Ryuzaki bertukar serangan dengan Nagato selama beberapa menit, ketika Ryuzaki mulai mengeluarkan aura hitam pekat yang berasal dari sifat aslinya, tubuh Nagato tidak dapat bergerak. Aura hitam pekat dari kebencian, kedengkian dan sifat kejam manusia keluar dari tubuh Ryuzaki.


Shirayuki yang melihat hal itu dengan cepat melepaskan auranya yang berwarna putih ke arah Ryuzaki. Es membekukan seluruh halaman depan Penginapan Matahari Timur. Tubuh Ryuzaki membeku oleh serangan kejutan Shirayuki.


"Tidak tahu malu! Seharusnya kau yang sudah tua mengalah dengan anak muda!" Shirayuki membentuk puluhan pedang dengan tenaga dalamnya, kemudian dia mengarahkan semua pedang es itu ke arah kepala Ryuzaki.


Nagato mengatur napasnya sambil menatap Shirayuki yang berjalan ke arahnya.


"Nagato, jangan buang tenagamu untuk melawan orang sepertinya. Kau harus fokus menatap kompetisi." Shirayuki menegur Nagato yang masih terlihat emosi.


Ryuzaki berdecak kesal melihat Shirayuki yang dapat menghentikannya dengan mudah, sekuat tenaga dia menghancurkan es yang membekukan tubuhnya.


"Shirayuki!" Ryuzaki menatap tajam Shirayuki yang sedang bersama Nagato.


Shirayuki melesatkan serangan pedang es nya tepat ke arah kepala Ryuzaki. Semua orang terkejut melihat Shirayuki yang hendak membunuh salah satu dari Sepuluh Tetua Kai hanya untuk melindungi Nagato.


"Pergi dari sini! Tidak akan kubiarkan kau menyentuh Nagato sedikitpun!" Shirayuki kembali menciptakan puluhan pedang es yang terbang cepat ke arah Ryuzaki.


Ryuzaki dengan kesal pergi dari Penginapan Matahari Timur. Tindakan Nagato menarik perhatian pendekar dari klan lain, pendekar muda yang hendak mengikuti kompetisi kagum dengan Nagato yang berani melawan salah satu dari Sepuluh Tetua Kai.


"Bibi Shirayuki ... maaf, apa tindakanku membuat bibi malu," ucap Nagato merasa bersalah karena tindakannya membuat nama baik Klan Fuyumi terlihat buruk, tetapi dengan penuh kasih sayang Shirayuki menyentuh pipi Nagato.


"Tindakanmu tidak salah, lihat mereka semua. Semua orang bangga padamu," ujar Shirayuki menyuruh Nagato melihat pendekar dari klan lain yang melihat pertarungannya dengan Ryuzaki.

__ADS_1


Nagato tersenyum tipis melihat semua orang senang dengannya, kemudian dia pergi untuk menenangkan diri di dalam kolam air panas.


Dua hari terakhir untuk persiapan Turnamen Harimau Kai melebihi ekspetasi Nagato. Agar dirinya dapat bertarung dengan kondisi fisik yang siap, Nagato tidur cepat malam ini.


Malam di langit Ibu Kota Daifuzen berwarna merah darah, entah bulan menunjukkan sebuah pertanda baik atau buruk, yang jelas ketenangan di Ibu Kota Daifuzen terasa mencekam.


Seluruh pendekar muda telah menanti-nantikan sebuah kompetisi untuk membuktikan dirinya sebagai pendekar muda yang paling jenius, dari semua tujuan yang berbeda-beda, Nagato gemetar tangannya karena tidak sabar bertarung dengan pendekar muda yang seumuran dengannya.


"Aku ingin melihat sejauh mana perkembanganku," ucap Nagato sebelum tertidur di ranjangnya.


Malam tak terasa semakin berlalu, pagi yang cerah membuat Ibu Kota Daifuzen menjadi semakin meriah dan ramai hari ini.


Ketika pagi hari tiba, Nagato bersama seluruh pendekar dari Klan Fuyumi bangun lebih awal dari hari-hari biasanya. Nagato seperti biasa hanya tidur selama dua sampai tiga jam, matanya terlihat semakin tajam.


Nagato melihat Iris, Litha, Hika dan Tika telah melakukan persiapan untuk segera bergegas pergi mengikuti Turnamen Harimau Kai.


"Berusaha yang terbaik dan berjuanglah melebih batas kemampuan kalian, latihan panjang kalian berlima harus kalian buktikan di kompetisi ini." Emi berkata pada lima pendekar muda yang mewakili Klan Fuyumi.


Sebelum berangkat menuju Arena Lingkaran Harimau, Emi penuh semangat menyuruh seluruh pendekar dari Klan Fuyumi membentuk lingkaran dan berteriak dengan keras.


"Memalukan," ucap Nagato setelah ikut berteriak. Walau mengikuti kompetisi, Nagato masih memakai topeng rubah putih.


"Kau tadi juga berteriak," sahut Iris mencubit tangan Nagato pelan.


"Aku hanya terbawa suasana saja..."Nagato tersipu malu.


Semua pendekar dari kubu timur keluar penginapan, mereka saling menatap satu sama lain sebelum melangkahkan kaki menuju Arena Lingkaran Harimau yang di pusat Ibu Kota Daifuzen.


Nagato tersenyum tipis melihat Renji dan Takao yang berjalan bersama rombongan Klan Kitakaze. Salah satu pendekar muda jenius dari Klan Mangetsu menghampiri Nagato dan menyapanya.

__ADS_1


"Sampai bertemu di kompetisi," ucap Tatara pada Nagato sambil terus berjalan melewati rombongan Klan Fuyumi. Nagato menatap tajam Tatara yang kembali berjalan bersama rombongan Klan Mangetsu.


"Siapa dia?" Nagato menatap tajam Tatara yang memiliki aura tenang. Menurut Nagato sosok Tatara bukanlah pendekar muda yang sembrono dan semena-mena seperti yang lainnya, termasuk Nagato sendiri.


Jalanan kota begitu padat, orang-orang saling berdesak-desakan untuk melihat Turnamen Harimau Kai. Setelah melakukan perjalanan selama tiga puluh menit menuju Arena Lingkaran Harimau tempat dimana Turnamen Harimau Kai digelar, Nagato memegang pedangnya untuk menenangkan dirinya.


Rombongan Klan Fuyumi menarik perhatian dengan pakaian yang dikenakan mereka, maupun pendekar muda yang mewakili Klan tersebut.


Sepuluh Tetua Kai memberi tugas pada para petugas Arena Lingkaran Harimau untuk lebih mengutamakan pendekar yang menonton kompetisi pertarungan antar generasi muda terbesar di Kekaisaran Kai.


Arena Lingkaran Harimau yang memiliki kapasitas besar dan megah dengan kapasitas penonton mencapai tujuh puluh ribu kursi penonton, semuanya telah terisi penuh. Suara gemuruh penonton memenuhi seluruh penjuru Arena Lingkaran Harimau.


Sepuluh Tetua Kai mengatur tempat duduk di Arena Lingkaran Harimau sesuai perpecahan dua kubu klan yang saling berseteru, entah apa yang dipikirkan Satra sebagai panitia pelaksanaan Turnamen Harimau Kai. Arahan Satra terlihat ingin memecah belah kedua klan barat dan timur yang sudah berdamai, walau kedamaian hanya tertulis di secarik kertas.


Rata-rata peserta Turnamen Harimau Kai telah mengikuti turnamen ini dari umur dua belas tahun, sebagai seorang pemula tentu Nagato tidak boleh meremehkan lawan-lawannya nanti.


Stadion besar yang diberi nama Arena Lingkaran Harimau telah penuh, walau masih babak penyisihan ternyata banyak orang yang melihat acara turnamen tahunan ini.


Seriring berjalannya waktu bangku penonton di seluruh Arena Lingkaran Harimau terisi penuh. Ada satu podium yang menjadi perhatian Nagato. Matanya menatap tajam Kaisar Hizen, Yuki dan mantan kaisar bernama Genki yang merupakan Kakek dari Nagato.


Keluarga Kaisar Hizen dijaga ketat Sepuluh Tetua Kai yang duduk dengan bangku yang sama mewahnya dengan keluarga kaisar.


Salah satu dari Sepuluh Tetua Kai yang bernama Mujin turun ke tengah lapangan yang luas, tempat dimana pertarungan antar pendekar muda gunakan nanti.


Lima bangsawan yang namanya dikenal luas di Kekaisaran Kai juga turut hadir menonton Turnamen Harimau Kai. Kelima bangsawan tersebut yakni Bangsawan Kitakaze, Bangsawan Kochi, Bangsawan Minami, Bangsawan Seibu, dan Bangsawan Seifu.


Kelima bangsawan menyewa pendekar untuk menjaga keluarga mereka. Tidak berapa lama semua orang di Arena Lingkaran Harimau diam.


Peserta yang mengikuti kompetisi juga sudah disiapkan tempat duduk yang cukup mewah untuk mendapatkan giliran bertanding.

__ADS_1


Ketika Satra berdiri dari bangku tempat duduknya, semua orang menatap Satra yang ingin mengucapkan sesuatu pada mereka.


Angin berhembus dengan tenang, perlahan tapi pasti angin semakin kencang membuat lapangan yang di Arena Lingkaran Harimau berdebu.


__ADS_2