Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 238 — Kematian Hisui


__ADS_3

Kata mengikat Nezusaki dan seluruh pendekar dari Klan Kuromachi dengan rantai.


“Ketua Agata, apa kau serius Kaisar Hizen menjual Kekaisaran Kai pada Sekte Pemuja Iblis?” Emi menatap Kata serius. Entah kenapa dia merasakan firasat buruk karena angin pagi yang berhembus disekitarnya lebih dingin dari biasanya.


“Ya, aku serius...” Kata tak melanjutkan perkataannya karena mendengarkan ledakan dari arah Istana Hizen.


“Itu...” Emi menahan perkataannya, ”Sepuluh Tetua Kai?”


Kata bergegas menuju ke arah suar untuk membantu Chosu. Sedangkan Yamashita menjelaskan pada pendekar kubu timur agar membantu dan bekerjasama dengan mereka untuk memukul mundur penyusup dari Kekaisaran Rakuza.


Tak lama Nagato datang dan memberitahu Emi tentang kematian Ashiya dan Himuro.


Nagato tidak melihat Iris. Tetapi dia melihat Litha yang sedang duduk bersama Masayu.


“Kalian tunggu disini. Masalah ini biar kami yang urus.” Emi memberi perintah pada Nagato yang menghampiri Litha, Hika, Tika dan Masayu.


Sementara itu Shirayuki merasa gelisah karena tidak melihat anaknya kembali bersama Nagato.


***


Hisui bergemetar hebat mendengar pembicaraan ayahnya dengan Satra.


“Hiragi, putra bodohku. Dia sama sekali tidak berguna.” Kaisar Hizen memukul meja dan terlihat kesal wajahnya.


“Yuki telah mati. Aku tidak sempat merasakan tubuhnya.” Satra justru terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehatnya, “Yang Mulia Yamata Hizen, siapa orang yang anda cintai? Dan dari ratusan perempuan yang anda tiduri. Kenapa anda lebih memilih Yuki untuk anda nikahi?”


“Shirayuki. Di dunia ini hanya dia yang mengisi hatiku. Yuki hanyalah sebagai pelampiasanku. Lagipula dia adalah adik Shirayuki. Apa salahnya jika aku tidak mendapatkan kakaknya, lalu beralih pada adiknya?” Kaisar Hizen tertawa, satu menit kemudian Satra ikut tertawa tak percaya.


Hisui terjatuh dan menangis karena mendengar perkataan ayahnya.


“Hisui?” Kaisar Hizen dan Satra terkejut.


“Ayah jahat!” Hisui berteriak dan berlari keluar Istana Hizen.


Gadis bermata sayu itu terus berlari menuruni tangga. Hatinya hancur setelah mengetahui ibunya meninggal. Matanya yang sayu mencoba mencari keberadaan kakaknya.


“Kakak!” Hisui berteriak namun justru dia melihat pertarungan yang terjadi di depan Istana Hizen.


“Jadi kembang api biru tadi?” Hisui menyeka air matanya dan kembali berlari menuju tempat yang sepi.


“Tuan Putri Hisui!” Pemuda yang tak lain adalah Satha memanggil nama Hisui dan menatapnya dengan sinis.


“Mau kemana?” Satha langsung melepaskan aura tubuhnya dan memegang tangan Hisui sebelum memeluknya.


“Jangan kurang ajar!” Hisui meronta dan menatap Satha penuh kebencian.


Satha memeluk Hisui lebih erat. Namun tak lama gadis bermata sayu itu meledak emosinya dan menarik pedang Satha. Tanpa sadar Hisui memotong tangan kanan Satha yang menggerayangi tubuhnya.


“Argh!” Mata Satha melebar sepenuhnya dan mengerang kesakitan.


“Dasar sialan!” Satha menatap Hisui seperti ingin menerkamnya.


“Hisui! Jangan lari!” Kaisar Hizen mencoba mengejar Hisui namun anaknya justru menatapnya penuh kebencian sama seperti Hiragi.


Hisui melepaskan seluruh aura tubuhnya dan tenaga dalamnya. Gadis bermata sayu itu tidak peduli jika seluruh tenaganya habis.


Akar merambat melindungi Hisui dan menghalangi orang-orang yang mengejarnya.


Di pintu masuk Istana Hizen telah menjadi lautan darah karena anggota Phyton telah membunuh prajurit militer Kekaisaran Kai yang menjaga Istana Hizen.


“Tangkap dia!” Salah satu pria yang memakai jubah dan penutup wajah menatap Hisui dan mengejarnya.

__ADS_1


Tanpa sadar kekuatan Jelmaan Dewi Kesuburan bangkit. Kedua bola mata Hisui berwarna hijau muda terang. Tumbuhan dan pepohonan tumbuh dalam sekejap di sekitar Istana Hizen.


Kaisar Hizen yang menyadari Kekaisaran Rakuza telah melakukan pergerakan langsung pergi dari Istana Hizen lewat terowongan bawah tanah menuju Kota Mikazuchi.


“Kaisar Hizen, bagaimana dengan ayah anda?” Satra merasa Kaisar Hizen melupakan rencana untuk membunuh Kaisar Genki.


“Aku sudah meminta Gore untuk membunuhnya.” Kaisar Hizen dan Satra masuk ke dalam terowongan. Kemudian mereka berdua menghancurkan pintu masuk terowongan tersebut.


”Hisui sudah pasti akan seperti Hiragi. Tapi aku tidak peduli, lagipula jika aku dapat membuat Shirayuki menjadi milikku. Maka aku akan memberinya seorang anak yang luar biasa.” Kaisar Hizen terkekeh dan tersenyum.


“Aku melupakan anakku!” Satra mengumpat karena melupakan Satha.


“Di atas masih ada Sepuluh Tetua Kai. Mereka pasti bisa membawa Satha pergi dari Ibu Kota Daifuzen menuju Kota Mikazuchi lewat terowongan yang ada di kediamanmu...” Kaisar Hizen menanggapi perkataan Satra dengan tenang.


“Aku harap dia baik-baik saja,” balas Satra khawatir.


Setelah menceburkan darah pada istri beserta anaknya sendiri. Kini tidak ada jalan untuk kembali. Benih-benih kebencian yang dia tanam akan menghasilkan buah yang justru menghunuskan pedangnya pada dirinya. Entah apa takdir yang menanti pria bernama Yamata Hizen. Tetapi setiap perbuatanya sekarang sudah pasti mendapatkan balasan.


***


Tubuhnya bersimbah darah karena membunuh lusinan prajurit militer dari Kekaisaran Rakuza dengan kekuatan Jelmaan Dewi Kesuburan.


Hisui dengan air mata yang berlinang terus melangkahkan kakinya menuju Sungai Shi.


Hatinya hancur berkeping-keping. Dia tak lebih dari seorang anak pria yang tidak punya hati nurani. Pria yang mengkhianati kepercayaan istri dan anaknya.


“Hisui...” Dengan cepat Hisui menyeka air matanya karena berpapasan dengan Iris.


“Hisui! Pakaianmu kenapa penuh dengan darah?” Iris bertanya dan wajah cantik itu terlihat begitu mengkhawatirkan adik sepupunya.


“Jangan kejar aku!” Hisui kembali berlari menuju Sungai Shi dan menghiraukan Iris.


Namun Iris bisa melihat kedua bola mata Hisui yang berwarna hijau muda terang. Bagaimanapun sifat Hisui yang selalu membuatnya kesal, Iris tetap menganggap Hisui sebagai adik kecilnya yang manja.


Di Ibu Kota Daifuzen terdapat sebuah tebing yang dibawahnya ada sungai besar yang dipenuhi bebatuan. Kedalaman antara tebing dan sungai tersebut bagai kematian karena tidak ada yang tahu dalamnya dan apa yang ada di bawah sana.


Sehingga tebing dan sungai yang dekat dengan bukit Kuil Kagutsuchi diberi nama Tebing Shi dan Sungai Shi.


Kematian. Hanya satu kata yang merujuk pada Tebing Shi dan Sungai Shi.


Gadis bermata sayu dengan kedua bola mata berwarna hijau muda terang meneteskan air mata berwarna merah dari mata kirinya.


“Hisui? Kamu kenapa?” Iris berhenti dan melihat Hisui yang berdiri di ujung tebing.


“Kakak Iris. Maaf, sepertinya Hisui tidak dapat menepati janji kita berempat. Membayangkan masa depan bersama kalian sangat indah untukku. Tetapi, masa depan itu tidak ada untukku. Aku tidak ingin ada orang yang memanfaatkan tubuhku. Sama seperti yang terjadi Bunda.”


Iris melihat adik sepupunya berbeda. Keputusasaan di dalam diri Hisui sudah di ambang batas. Kedua bola mata sayu itu berwarna hijau muda terang dan menyiratkan kesedihan yang teramat dalam.


“Apa yang kau katakan, Hisui?” Iris mendekati Hisui. Namun dalam sekejap tubuhnya terikat tumbuhan.


“Di tubuh kita terdapat kekuatan Jelmaan Dewa-Dewi. Kekuatan yang orang Benua Ezzo sebut dengan keturunan surgawi. Tetapi aku tidak ingin sama seperti Bunda. Aku tidak ingin mengakui orang yang bernama Hizen sebagai ayahku lagi!”


Jantung Iris serasa berhenti. Dia melihat adik sepupunya merasakan kesedihan yang mendalam dan terlihat seperti orang yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri.


“Apanya yang seorang Kaisar Kai? Dia menjual negeri ini pada orang lain dan membiarkan rakyatnya mati tanpa alasan yang jelas!”


Hisui mendekati Iris dan melepas kalung kristal es berwarna hijau.


“Sudah terlambat untuk memberitahumu tentang ini, Kakak Iris?” Hisui menatap wajah Iris yang terlihat khawatir padanya, “Ibu Kota Daifuzen telah dimasuki ribuan penyusup dan cepat atau lambat, kota ini akan menjadi medan pertempuran ketika Kekaisaran Rakuza mulai melakukan kudeta dan Sekte Pemuja Iblis melakukan percobaan yang mengerikan. Aku mendengar pembicaraan ini dari Hizen dan Satra. Dua orang itu adalah iblis tidak berperasaan berwujud manusia!”


“Hisui, jangan bilang padaku...” Iris dengan cekatan melepaskan aura tubuhnya dan membekukan tumbuhan yang mencengkramnya. Namun justru tubuhnya terasa dililit semakin erat.

__ADS_1


“Kekuatanku telah bangkit. Tetapi aku benci dengan pertumpahan darah. Aku akan memberikan separuh kekuatan dari seluruh kehidupanku kepadamu, Kakak Iris.”


Hisui mengecup kening Iris. Seketika aura tubuh Iris berwarna putih dan hijau muda.


“Hisui, jangan sembarangan! Ini terlarang! Ini teknik terlarang!” Iris menjerit karena melihat Hisui berniat mengakhiri hidupnya.


“Jika perang terjadi di Ibu Kota Daifuzen. Aku yakin masa kepemimpinan Hizen akan berakhir. Aku tidak mengakuinya sebagai ayahku. Aku berniat mencari Kakak Hiragi. Tetapi aku tidak terima dengan kenyataan ini, Kakak Iris!”


“Hisui, kita berempat telah berjanji! Masih ada aku, Nagato dan Litha!” Iris melepaskan seluruh aura tubuhnya hingga hawa dingin menyebar ke seluruh tempat. Namun tumbuhan yang mengikat tubuhnya masih belum hancur.


“Hisui, ini... Kau memberikan seluruh auramu padaku?” Iris menangis.


“Hisui!!”


“Kakak Iris, padahal kita sudah seakrab ini. Tetapi Kakak Iris dan aku berbeda. Aku lahir dengan seorang ayah. Dan ayah itu justru hanya memanfaatkan Bunda. Kakak Iris tidak akan pernah tahu rasa sakit ini?!” Hisui berteriak dan menangis.


Iris terdiam. Perkataan Hisui benar apa adanya. Dia hanyalah seorang anak yang lahir tanpa seorang ayah. Dia hanya wujud dari kekuatan Shirayuki yang tak lain adalah Jelmaan Dewi Salju. Mana mungkin dia mengerti perasaan Hisui sekarang. Walau coba mengerti, tetapi kesedihan dalam hati Hisui tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


“Sampaikan salamku pada Kakak Litha dan Kakak Nagato. Aku harap kalian bertiga tetap bersama sampai dewasa.” Hisui masih menangis dan menatap Iris dengan kedua bola mata sayu yang berkaca-kaca.


“Aku mencintai Kakak Nagato. Permintaanku ini egois. Aku ingin menikah dengannya ketika dewasa. Tetapi Kakak Nagato hanya menganggapku sebagai adik yang manja...”


Iris menangis dan menggigit bibir bawahnya, “Hisui, tolong dengarkan aku... Aku rela kau dengan Nagato, asal jangan pergi dariku! Aku kakakmu!”


Hisui tersenyum mendengarnya, “Aku senang mendengarnya.”


Kalung kristal es berwarna hijau semakin bercahaya. Tak lama terlihat kulit tangan Hisui mengkerut, bersamaan dengan mulutnya yang terbuka mengeluarkan darah.


“Teknik Surgawi : Dewi Alam.”


Hisui tersenyum dan mengalungkan kalung kristal es berwarna hijau pada leher Iris.


Tumbuhan yang membeku hancur. Iris hendak memeluk Hisui, namun tangan Hisui mendorongnya.


“Kakak Iris, kuharap kau dapat menggantikanku untuk menikah dengan Kakak Nagato ketika dewasa. Jangan sampai ada orang yang seperti Bunda lagi. Ini yang terakhir, mungkin ini menyakitkan bagimu, Kakak Iris...” Hisui menyeka air matanya dan menunjuk kalung kristal es berwarna hijau, ”Kalung itu aku berikan padamu, Kakak Iris. Di sana ada jiwa dan ragaku. Berikan pada anak Kakak Nagato dan Kakak Iris, maka kekuatanku akan melindunginya, sampai kapanpun itu...”


“Hisui...” Iris sekujur tubuhnya terasa mati rasa.


“Aku akan menerima kalung ini. Tapi Hisui, apa yang akan kau lakukan? Jangan katakan padaku—”


“Jika aku mati, aku tidak akan merasakan penyesalan karena telah memiliki ayah yang bernama Hizen lagi. Aku juga sudah meninggalkan pesan kematian pada Kakak Hiragi. Aku akan pergi menyusul Bunda...” Hisui mundur kebelakang dan berdiri tepat di pinggir tebing.


“Tunggu, Hisui!”


“Jangan hentikan aku, Kakak Iris!” Hisui menatap Iris dan tersenyum selembut-lembutnya pada kakak sepupunya yang terus meneteskan air mata.


“Jangan hentikan aku, jika kau benar-benar peduli padaku...”


Hisui menghempaskan tubuhnya ke belakang dan terjun ke Tebing Shi dari ketinggian.


Iris mengejar Hisui namun terlambat. Adik sepupunya lebih memilih bunuh diri dibandingkan menerima kenyataan yang memilukan.


“Hisui!”


Iris melebar matanya melihat kegelapan yang tak berujung. Tubuh Hisui terus terhempas ke bawah. Kedua bola mata sayu yang berwarna hijau muda terang terlihat jelas dan bersinar layaknya giok hijau muda. Sebuah siluet senyuman lembut itu membuat Iris berteriak histeris dan menangis.


“Hisui...”


Kedua bola mata Iris mengeluarkan darah. Matanya memejam sesaat, sebelum membuka perlahan. Bola mata hijau muda terang terlihat di mata kirinya dan bola mata berwarna putih terlihat di mata kanannya.


“Hisu... Hisui... Hisui!”

__ADS_1


Aura tubuhnya seperti ledakan yang membekukan seluruh yang ada disekitarnya dari tanah dan pepohonan bahkan udara sekalipun.


__ADS_2