
Kesejukan pagi membawa embun yang mendekap dedauanan perlahan menghilang, matahari bersinar dengan terangnya untuk menyinari kehidupan di muka bumi. Nagato sedang membasuh wajahnya dan menyikat giginya sebelum mandi. Pagi ini dia memilih mandi di dalam kamar mandi yang ada di kamar penginapan, karena dia tidak ingin merasakan rasa malu seperti kemarin malam.
Setelah satu jam terlihatlah pagi yang cerah, dan cuaca yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan hujan, dan suasana ini membuat Nagato semakin bersemangat. Selesai memakai kimono dan mengikat kain putih di pinggang kirinya, suara pintu kamarnya membuat Nagato membukanya.
Terlihat Litha yang sudah memakai yukata dan dalam sekejap tangan Litha memegang kimono Nagato. Terlihat kegelisahan di wajah Litha. Perlahan tangan Nagato menarik tangan Litha untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Nagato ... aku masih merasa bersalah kepada Asha..." bibir Litha gemetar ketika mengucapkan nama Asha. Pundaknya terlihat rapuh, Nagato sadar jika Litha pasti telah bermimpi buruk tadi malam. Dengan lembut Nagato membelai rambut Litha dan menenangkan gadis tersebut.
Litha tidak cemburu ketika melihat Nagato begitu dekat dengan Iris karena suatu alasan. Litha sadar jika dirinya juga telah membuat perasaan Asha terluka, dari semua itu dia belajar jika mencintai seseorang tidak selamanya harus memiliki. Karena Litha begitu mencintai pemuda yang sedang mengelus rambutnya dengan lembut, Litha harus rela melepas Nagato agar bahagia bersama Iris.
"Litha. Jujur, aku ingin ikut berpetualang bersamamu ketika kita telah dewasa. Mungkin aku akan pergi dari Benua Ezzo setelah membebaskan Azbec." Nagato menunduk dan menatap wajah Litha dari dekat. "Saat itu tunggulah aku...." Nagato tersenyum dan mengambil tas pinggangnya.
Litha tersenyum bahagia mendengar ucapan Nagato. Perlahan dia keluar kamar Nagato dan menunggu pemuda itu di luar. Setelah Nagato keluar, Litha menatap Nagato yang lebih tinggi darinya.
"Aku akan pergi dari Benua Ezzo setelah umurku tujuh belas tahun." Litha mengulurkan jari kelingkingnya pada Nagato. "Paus terbang? Kura - kura raksasa yang berenang? Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, negeri dongeng yang ada di buku penyihir Azebc!" Litha tersenyum lebar ketika Nagato mengaitkan jari kelingkingnya di jarinya.
"Iya, kita akan melihat semuanya." Nagato membalas senyuman Litha. Tidak berapa lama mereka berdua pergi ke ruang tengah untuk sarapan pagi.
Nagato pernah mendengar cerita ibunya tentang leluhur penyihir Azbec yang berwujud manusia, hanya saja leluhur penyihir tersebut bertelinga panjang. Misteri yang ingin dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, membuat Nagato ingin membuktikan semua dongeng yang dia dengar dari ibunya sendiri yaitu Sarah maupun gadis yang sedang berjalan di sampingnya, bahwa semua cerita dongeng itu adalah kenyataan.
Ruangan tengah Penginapan Jajar Genjang terlihat bersih dan rapi. Nagato melihat Iris yang terlihat sudah sehat, kemudian dia duduk di samping Iris dan Litha.
Emi menyuruh pendekar muda yang mewakili Klan Fuyumi untuk segera sarapan pagi, tanpa menunggu lebih lama kelima pendekar muda yang mewakili Klan Fuyumi memakan hidangan yang telah disajikan.
__ADS_1
"Makan yang banyak, kalian masih dalam masa pertumbuhan." Emi memberi saran kepada Nagato, Iris, Litha, Hika dan Tika.
Selesai sarapan pagi, Shirayuki menghampiri Nagato dan Litha untuk memperbaiki pakaian yang dikenakan Nagato dan Litha. Seperti seorang ibu yang begitu perhatian pada anaknya, Shirayuki juga memperlakukan Nagato dan Litha sama seperti Iris.
Kecupan Shirayuki di kening Nagato, Iris dan Litha membuat mereka bertiga menjadi merasa bahagia terutama Nagato dan Litha yang telah kehilangan orang tua mereka. Iris terlihat begitu cantik dari hari ke hari, melihat Nagato yang sedang melihat dirinya, Iris melemparkan senyuman tipis sambil menatap Nagato yang menatap dirinya dengan wajah datarnya.
Setelah duduk bersantai selama satu jam, Emi mengajak yang lainnya untuk segera meninggalkan penginapan. Emi membayar dua puluh keping emas, walau biaya asli mereka menginap hanya sepuluh keping emas. Penginapan Jajar Genjang menolak uang pemberian dari Emi. Tetapi karena desakan dan paksaan Emi akhirnya pelayan perempuan menerima uang yang diberikan Emi.
Nagato memakai topeng rubah putihnya dan berlari mengikuti yang lainnya. Nagato mempercepat langkahnya untuk mengikuti ritme kecepatan Emi. Kekuatan dari pedang es yang merupakan senjata kuno membuat Nagato tertarik mempelajari sesuatu dari Emi. Untuk mengetahui alasan mengapa pedang peninggalan ayahnya tidak mau terlepas dari sarung pedangnya, Nagato ingin menanyakan hal tersebut kepada Emi.
Perjalanan mereka semakin dekat dengan Ibu Kota Daifuzen. Jalan setapak mereka lewati, hutan dan bukit juga mereka lewati. Nagato bersyukur karena tidak bertemu dengan masalah, tetapi dirinya sadar jika Kekaisaran Kai bukanlah tempat yang ingin dia lindungi. Nagato berbeda dengan Pandu. Nagato tahu apa yang harus dia lakukan, impian Kakek Hyogoro membuat hati Nagato tergerak untuk melakukan sesuatu. Tetapi dia memilih mengurungkan niatnya, membeberkan identitasnya pada semua orang hanya akan membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
Tidak terasa sembilan orang yang sedang menuju Ibu Kota Daifuzen telah melakukan perjalanan selama sehari dari Desa Kuri menuju Provinsi Barat. Nagato berburu ayam hutan untuk makan malam, sebuah hutan terbuka dengan pemandangan di atas bukit yang indah menjadi tempat mereka bermalam.
Nagato melihat Oichi yang sedang membakar ayam hutan bersama Hika dan Tika. Terlihat penuh kehangatan dan suasana seperti sebuah keluarga yang sedang berkumpul di depan api unggun. Nagato juga ikut membakar ayam hutan, setelah matang dia mencicipi daging ayam yang baru saja dia bakar.
Emi menyadari potensi tersembunyi Nagato yang sama dengan cucunya, bukan hanya Nagato saja, tetapi Litha dan Hisui juga menarik perhatiannya. Emi mengingat Hisui yang memiliki sifat yang sama persis dengan Yuki.
Walaupun Yuki bukan anak kandungnya, tetapi dia tetap menyayangi Yuki dan tentu saja dengan anak Yuki yang bernama Hiragi dan Hisui. Perasaan bersalah pada Shirayuki dan Yuki membuat Emi ingin menceritakan cerita masa lalunya, hanya saja dia tidak pernah menemukan waktu yang tepat.
Tak terasa malam semakin larut, perlahan Emi tertidur di samping anaknya yang telah tumbuh besar dan mempunyai satu anak. Sementara itu di depan api unggun, Nagato sedang membakar daging ayam untuk kesekian kalinya.
Entah mengapa malam ini Nagato tidak bisa tidur lebih cepat, untuk mengisi kebosanannya, Nagato memakan daging ayam dan menatap langit malam yang berbintang.
__ADS_1
Selesai memakan daging ayam, Nagato masih menatap langit malam dan mengepalkan tangannya. Langit yang sangat luas itu ingin dia gapai, dan bintang-bintang yang mengedipkan cahayanya ingin dia tangkap.
Perlahan mata Nagato mengantuk setelah menatap langit malam terlalu lama, dengan cepat dia membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Beberapa jam telah terlewati untuk beristirahat, cahaya terang membuat mata Nagato merasa silau. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mendapatkan kembali kesadarannya, tidak berapa lama Nagato terbangun dari tidurnya dan melihat sekelilingnya.
Nagato hanya melihat Emi, Shirayuki dan Oichi yang sudah bangun, sedangkan Ichiba masih tertidur memeluk dua anak kembarnya.
"Dimana mereka berdua?" batin Nagato terkejut tidak melihat Iris dan Litha di mana pun, setelah bangun secara perlahan Nagato meregangkan tubuhnya dan mencari air untuk membasuh wajahnya.
"Nenek. Di balik hutan itu ada sebuah kota." Suara Iris terdengar dari arah hutan, dia keluar bersama Litha untuk melihat kota yang ada di Provinsi Barat.
"Barat sangat berbeda dengan di utara..." Emi menggerutu kesal sambil tangannya memijat keningnya.
"Kita cari penginapan di Kota Mikazuchi sebelum pergi ke Ibu Kota Daifuzen." Emi berdiri dan kembali berjalan pelan di depan. Nagato hanya mengikuti Emi dari belakang.
"Bangun..." Shirayuki menghembuskan napasnya yang dingin ke arah Ichiba, Hika dan Tika. Tidak butuh waktu lama bagi mereka bertiga untuk bangun, karena tubuh mereka dalam sekejap merasa kedinginan.
Emi melirik Nagato dan menjelaskan sesuatu pada pemuda yang berjalan dibelakangnya. Emi sengaja bermalam di bukit yang dekat dengan Kota Mikazuchi agar kelima pendekar muda yang mewakili Klan Fuyumi tidak melihat kejahatan malam di Provinsi Barat.
Nagato sedikit mengerti penjelasan Emi jika Provinsi Barat adalah tempat yang paling berbeda di antara yang lainnya, kaum bangsawan dan pendekar dari klan besar selalu berbuat semena-mena. Sebuah tempat yang dikendalikan oleh Satra bersama Bangsawan Seifu membuat Provinsi Barat menjadi tempat yang jauh dari kata makmur dan damai. Kemakmuran hanya dimiliki orang yang kaya dan kedamaian sama sekali tidak ada. Rakyat biasa ditindas oleh orang yang lebih kaya, bahkan yang lebih parah lagi tiga dari lima perguruan bela diri terbesar di Kekaisaran Kai bekerja di bawah perintah Bangsawan Seifu maupun Satra.
Kondisi yang memprihatinkan tidak diketahui Kaisar Hizen yang menutup matanya dan lebih memilih mendengarkan perkataan Satra.
__ADS_1
Kota Mikazuchi terlihat jelas di mata Nagato dan itu membuat detak jantungnya memainkan melodi amarah dalam ketenangan.
"Akhirnya aku bisa melihat tempat orang yang merusak nama baik ayahku!" Perkataan Nagato yang terdengar begitu dingin membuat Emi terkejut, bahkan Iris yang sedang berjalan bersama Litha bisa merasakan kemarahan luar biasa dari Nagato.