
Bisma memejamkan matanya ketika Hiryuu lagi-lagi mengatakan hal jujur padanya. Bagi dirinya, sosok Hiryuu terlalu percaya padanya. Walau keduanya pernah saling membunuh satu sama lain, tetapi pertemanan mereka tetap terjalin sangat erat hingga sekarang.
“Aku tidak terlalu tertarik dengan semua itu.” Bisma kembali meminum sakenya dan menghiraukan Hiryuu.
“Walau kami berhasil mengetahuinya. Tetapi aku rasa, kami terlalu cepat mengetahui itu. Aku bersama teman-temanku belum menjelajahi seluruh belahan dunia. Aku belum mengetahui asal-usul laut iblis itu. Aku rasa di lautan itu terdapat makhluk hidup. Surganya para manusia duyung.” Hiryuu memerah wajahnya. Terlihat pria itu sudah mulai mabuk.
Tak lama Hiryuu menceritakan pada Bisma tentang rahasia Eden. Ketika dia menceritakan hal tersebut kepada Bisma. Angin berhembus, daun-daun berjatuhan. Sementara alam terasa begitu tenang. Selepas Hiryuu memberitahu kebenaran tentang Eden kepada Bisma. Keduanya sama-sama tertawa.
“Yang benar saja? Manusia adalah makhluk yang paling egois. Suatu saat kita semua akan mendapatkan karma dan balasan!” Bisma tak henti-hentinya tertawa.
Keduanya mengobrol dalam waktu yang lama. Tak lama Bisma bertanya sesuatu pada Hiryuu. Yang mana dari jawaban Hiryuu itu membuatnya meneteskan air mata. Bisma dengan cepat menyekanya. Kemudian dia meminum sakenya kembali dan telah menghabiskan dua gentong.
“Apa aku harus memberikannya pada anakmu itu sekarang?” Bisma menyinggung soal Catatan Kuno karena dia sendiri tidak ingin melupakan apa yang diamanahkan padanya itu.
“Jangan sekarang. Maaf, aku minum terlalu banyak. Yang penting jangan sekarang kau memberikan Catatan Kuno itu kepada anakku yang bernama Kirara. Suatu saat dia akan membutuhkan kekuatan di dalam catatan ini. Ketika dia menemukan orang-orang yang ingin dia lindungi. Saat itu berikan Catatan Kuno ini padanya.” Hiryuu memegang pundak Bisma sebelum tubuhnya ambruk ke tanah.
“Andai saja aku manusia gunung berapi itu, mungkin saja kau akan mati saat ini, Hiryuu...” Bisma menghela napas panjang karena melihat Hiryuu dengan santainya tertidur di tanah.
Tidak butuh waktu lama bagi Hiryuu untuk kembali duduk. Melihat itu Bisma kembali menghela napas panjang. “Tidurlah, Hiryuu. Aku tidak akan membunuhmu dengan panahku ini!”
Hiryuu justru tertawa cukup keras mendengar perkataan Bisma. “Umurku sudah tidak lama lagi. Untuk apa aku tidur. Selag masih hidup, aku harus membuka mata untuk menatap dunia ini. Aku harus benar-benar menikmatinya. Menikmati kehidupan.”
“Tidak ada orang yang pernah kutemui sebodoh dirimu, Hiryuu. Kau selalu saja melakukan apapun dengan penuh tawa. Baik saat berperang bahkan menjelang kematianmu saja kau masih bisa tertawa.” Bisma ikut tertawa. Walau rasanya tawanya terasa hambar.
“Nah, Hiryuu. Tentang Kagutsuchi Mugen. Apakah di tempat yang kau bilang timur paling jauh ada orang bermarga Kagutsuchi?” Bisma bertanya, setelah itu dia sembari meneguk sakenya.
“Aku rasa ada. Walaupun saat itu, aku gagal menyelamatkan saudara-saudara jauhku. Aku rasa orang bermarga Kagutsuchi yang masih hidup akan menyembunyikan namanya. Tentu dia akan hidup penuh dendam, tidak heran ketika orang-orang seperti Mugen mengetahui kebenaran tentang keluarganya. Mereka akan menjadi seorang pendendam yang berniat menghancurkan dunia. Membuat semua orang merasakan penderitaan, seperti yang dialaminya.” Hiryuu tersenyum kecut dan memijat keningnya.
__ADS_1
“Orang jahat terlahir dari orang yang baik. Sementara bagiku, di dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang munafik.” Hiryuu menambahkan.
“Bukankah kau masih memiliki waktu setahun, Hiryuu. Kalau begitu, aku bersama cucu-cucuku ini akan pergi ke Pulau Kura-kura Raksasa yang kau maksud itu. Setelah itu aku ingin berkunjung ke benua yang kau maksud. Aku ingin melihat sendiri seorang orang yang memiliki marga yang sama dengan Mugen.” Bisma berdiri dan menatap Hiryuu yang sedang menghabiskan sakenya.
“Di pulau itu banyak sekali manusia hewan. Mereka itu baik-baik dan memiliki hubungan erat dengan Keluarga Prabu. Konon leluhur mereka yang bernama Nekoma dan Enma menjadi pengikut Keluarga Prabu. Ketika hari dimana Benua Raya dan Benua Kuru dijajah genap 300 tahun. Mereka yang berada di pulau itu percaya jika Nekoma dan Enma serta tiga pengikut Keluarga Prabu yang lainnya akan datang dari masa lalu bersama sosok seorang keturunan asli Keluarga Prabu yang dahulu. Hah, andai saja aku diberi umur yang panjang...” Hiryuu menceritakan pada Bisma tentang Keluarga Prabu dengan penuh semangat, namun selepas bercerita dia justru mengeluh.
“Orang yang akan mati tidak pantas mengeluh!” Bisma menepuk pundak Hiryuu.
Hiryuu berniat menghabiskan waktu yang tersisa untuk melatih anaknya dan menghabiskan waktu bersama putri kesayangannya itu. Sehingga Hiryuu berpamitan dengan Bisma dan anggota Organisasi Brahmastra yang lainnya.
“Kalau begitu aku pergi dulu, Bisma, Terimakasih atas jamuannya, kalian semua telah tumbuh dewasa, Feng Huang!” Hiryuu langsung pergi dan melambaikan tangannya.
“Masih tetap seenaknya saja...” Feng Huang melambaikan tangannya pada Hiryuu.
Ketika Hiryuu sedang terbang menunggangi Singa Terbang, tabletnya berbunyi. “Ayah! Aku sudah menunggumu! Kau bilang ingin melatihku!”
Suara Kirara terdengar. Hiryuu tersenyum lebar. “Tunggu sebentar! Ayahmu ini sedang dalam perjalanan!”
Di sisi lain Bisma bersama anggotanya sedang dalam persiapan untuk pergi berpetualang menuju Pulau Kura-kura Raksasa. Sebuah pulau yang disana terdapat manusia hewan.
Dalam waktu ini, saat itu Nagato bersama Litha hampir menginjak usia sebelas tahun sebelum mereka berdua bertemu dengan Asha dan Bisma di Wilayah Me.
Sementara itu, Hiryuu menjalani hari demi hari bersama anaknya. Terkadang Tetsuya datang melihat Hiryuu yang sedang melatih anaknya. Mereka berlatih di sebuah pulau yang tidak dihuni, dimana tempat itu tidak diketahui oleh Aliansi Bangsa-Bangsa.
Hiryuu mengajari Kirara cara bertarung. Walau terlihat begitu membenci ayahnya, Kirara juga sangat mencintai sosok ayahnya itu.
“Kenapa aku berlatih seperti Hewan Buas?! Aku ini manusia! Oi, apa kau berniat mempermainkanku?!” Kirara menatap dingin Hiryuu.
__ADS_1
‘Padahal dia memiliki wajah yang manis seperti ibunya. Kenapa dia jadi seperti ini?’ Hiryuu terlihat ketakutan dengan anaknya yang menatap sinis dirinya. Tentu saja Kirara memiliki sedikit sifat seperti Hiryuu walau memiliki wajah yang manis seperti mendiang ibunya.
“Dengar, Kirara. Kekuatan Arwah Suci yang kelak akan kau punyai itu memiliki kekuatan yang sulit dikendalikan. Bisa saja kau akan melukai temanmu jika tidak dapat mengontrolnya. Jika kau ingin melindungi temanmu, maka pelajarilah setiap arahanku ini dengan baik-baik.” Hiryuu menjawab dengan tegas sembari menatap Kirara.
“Aku tidak akan mempunyai teman. Menjadi seorang Pahlawan seperti Paman Tetsuya saja bagiku sudah cukup. Walau aku sendiri tidak begitu yakin apakah aku telah menjalankan kewajibanku sebagai orang yang melindungi orang-orang lemah yang tidak dapat bertarung...” Kirara nampak murung. Walau berumur lima belas tahun, Kirara merasakan keadilan yang selama ini dia pelajari dan lakukan tidak sesuai dengan apa yang ada dipikirannya.
“Suatu saat kau akan mengetahuinya. Temukan temanmu itu, temukan seorang teman yang menerimamu apa adanya. Kelak kau pasti akan menemukan seorang teman yang sesungguhnya, Kirara.” Hiryuu mengusap rambut anaknya, hingga membuat wajah Kirara merah padam.
Setelah itu Hiryuu kembali melatih Kirara hingga akhirnya dia hampir melatih Kirara selama setahun. Selepas melatih putri kesayangannya, Hiryuu segera mengakhiri pelatihan.
“Aku pergi! Sulit dipercaya seorang ayah lebih memilih mati dan meninggalkan anaknya yang masih gadis sendirian!” Kirara cemberut dan segera pergi ke pesisir pantai menunggu Tetsuya menjemputnya.
Selepas kepergian Kirara. Pulau yang sedang ditempati Hiryuu nampak kedatangan tiga kapal. Dari kejauhan pulau tersebut terlihat tiga kapal yang memiliki corak ukiran harimau dan garuda pada kapalnya, ketiga kapal tersebut berlayar menghampiri pinggiran pantai. Kapal milik Organisasi Revolusioner datang dan singgah di pulau yang sedang Hiryuu tempati.
Tidak ada yang keluar dari kapal tersebut selain Honjo. Pemimpin dari Organisasi Revolusioner itu datang menemui Hiryuu untuk memastikan apa yang tertulis di koran yang tersebar di penjuru dunia benar apa adanya.
“Bos, apa ini benar kau?” Honjo bertanya sembari menatap punggung pria yang sedang berdiri itu. “Apakah yang tertulis dalam koran itu benar, Bos?”
Hiryuu menoleh ke belakang dan menatap Honjo. “Oh, Honjo! Lama tidak bertemu!”
Percakapan keduanya kelak di masa depan nanti akan membuat Honjo mengingat saat-saat dirinya berbincang dengan Hiryuu, ketika saat itu Organisasi Revolusioner sedang melakukan misi untuk menundukkan Aliansi Bangsa-Bangsa bersamaan dengan The Dawn bersama aliansinya yang memulai melawan Organisasi Disaster di Benua Raya dan Benua Kuru. Sebuah pertempuran yang akan menggemparkan dunia, memecah lautan dan membuat gejolak hebat ketika kebenaran dunia terungkap.
Saat ini Honjo ingin mengunjungi Hiryuu untuk memastikan kebenaran apa yang tertulis di berita yang tersebar itu, sebelum seorang senior yang di hormati oleh pemimpin Organisasi Revolusioner tersebut benar-benar meninggalkan dunia.
___
Note : Season 2 nanti judulnya The Dawn. Untuk up-nya, nanti aku buat pengumuman di akhir bulan sekalian tamatin novel ini. Ambil judul The Dawn karena menceritakan kisah petualangan Nagato dan kawan-kawan.
__ADS_1
Untuk The Dawn sendiri, aku berusaha sebaik mungkin memperbaiki tulisannya.
Terimakasih.