Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 83 - Cinta Monyet


__ADS_3

Nagato berdiri kemudian dia mengejar Litha yang berlari sambil menangis kearah hutan.


"Litha, ada apa denganmu?" Nagato berteriak sambil melangkahkan kakinya lebih cepat mengejar Litha.


Litha berhenti kemudian mengusap air matanya.


"Jangan kejar aku! Berada didekatmu membuatku merasa sakit!" Litha kembali berlari karena tidak ingin melihat Nagato yang selalu ada didalam pikirannya.


"Eh?" Nagato terdiam dan perlahan suara sedih Litha terngiang didalam telinganya.


Perkataan Litha membuat Nagato sedih dan entah mengapa melihat Litha yang semakin menjauh darinya membuatnya sakit.


Melihat gadis kecil yang menangis dan terlihat begitu rapuh berlari menjauh darinya membuat Nagato ingin memeluknya tetapi Litha terlalu rapuh untuk dia dekap. Ingin menggenggam tangannya tetapi Litha terlihat terlalu rapuh untuk dia genggam.


Nagato sadar jika yang telah membuat Litha menangis adalah dirinya karena dia tidak pernah menceritakan perjodohannya dengan Iris kepada Litha.


"Aku telah membuat seorang perempuan menangis ..." Nagato bergumam pelan suaranya terdengar sedih karena dia mengingat perkataan ibunya yang berkata padanya agar tidak pernah membuat seorang perempuan mengeluarkan air mata kesedihan keluar membasahi wajahnya dan jangan pernah menyakiti perasaan perempuan.


Nagato berjalan memasuki hutan tetapi berbeda arah dengan Litha. Kakinya terus melangkah dan sampai disebuah padang rumput yang luas yang berada di lapisan hutan kesepuluh.


Angin berhembus menerpa tubuhnya dan disela - sela tulangannya angin berbisik melewati pori - pori tubuhnya dan membuat seluruh tubuhnya merasa sakit.


"Kenapa jadi seperti ini?" Nagato menghela nafas panjang sambil bersandar dipohon dan menikmati pemandangan hijau yang membentang luas dihadapannya.


Hembusan angin yang menerpa tubuhnya membuat Nagato ingin memejamkan matanya dan menikmati suasana sekarang ini tetapi didalam pikirannya terbayang wajah Litha yang sedang menangis mengingat semua itu membuat Nagato merasa bersalah dan bimbang karena didalam pikirannya sekarang ini adalah raut wajah Litha yang sedang menangis semakin memikirkannya semakin membuat Nagato cemas terhadap keadaan gadis kecil tersebut.


"Litha ..." Nagato bergumam pelan sambil menatap langit yang kian mendung dan tak lama hembusan angin yang mengantarkan pesan suara rintikan hujan membasahi tubuhnya.


Nagato bangkit berdiri dan berlari mencari Litha karena dirinya sangat cemas dan khawatir terhadap keadaan gadis kecil tersebut.


Rintikan gerimis yang membasahi wajahnya membuat perasaan campur aduk yang mendekap tubuhnya membuat Nagato semakin bimbang.


Nagato berlari menuju lapisan hutan kedua dua puluh dua karena didalam pikirannya terbayang Litha sedang menangis melihat air yang jatuh dari Aor Terjun Mata Air Berbeda.

__ADS_1


"Sirih." Nagato menarik nafas panjang dalam satu tarikannya nafasnya entah mengapa perasaan dihatinya semakin buruk dan terasa menyakitkan.


Nagato mempercepat langkah kakinya karena khawatir dengan keadaan Litha.


"Sial! Kenapa aku harus merasakan hal yang seperti ini?" Nagato terus berlari melewati gerimis hujan yang membasahi tubuhnya. Lapisan demi lapisan hutan terus dia lewati.


Di waktu yang sama dan dibawah langit yang sama Litha sedang memandang air jernih yang turun dari atas Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda.


Litha menangis ketika mengingat kedekatan Nagato dan Iris disaat itu.


"Nagato ..." Litha menyentuh air yang sedang dia lihat karena ada bayangan dirinya didalam air tersebut.


Litha terus menangis ketika gerimis hujan membasahi wajahnya yang manis dan membuat rambut halusnya menjadi basah.


Ketika Litha memejamkan matanya dia merasakan ada beberapa hawa keberadaan manusia yang mengawasi dirinya dan membuat perasaan sedihnya menghilang dalam sekejap.


'Hutan Cakrawyuha adalah hutan tersembunyi yang diketahui oleh beberapa orang dari Klan Kagutsuchi! Tidak mungkin ada puluhan orang yang datang kehutan ini tanpa diberitahu seseorang ... ' Litha semakin merasa tidak enak setelah merasakan rasa haus darah yang semakin mendekat padanya.


"Sirih." Litha menghirup udara disekelilingnya dalam satu tarikan nafasnya kemudian dia menghindari tusukan pedang yang diayunkan oleh pria berjubah hitam.


"Siapa kalian?" Litha menatap tajam puluhan pria dihadapannya tetapi mereka tidak menjawab perkataannya dan menyerang Litha dengan tebasan pedangnya.


Litha berhasil menghindari setiap tebasan pedang yang mengarah padanya karena dia mengikuti pola langkah yang diajari Kakek Hyogoro kepadanya bahkan Litha berhasil menghindari setiap serangan tebasan pedang puluhan pria berjubah hitam dan sesekali dia melancarkan pukulan tangannya pada mereka tetapi Litha tidak menyadari ada pria berjubah hitam yang menusuk badannya dari belakang.


"Ugh!" Litha meringis kesakitan melihat perutnya berdarah dan menahan rasa sakit yang luar biasa ketika pria yang menusuknya memutarkan pedangnya kemudian mengeluarkannya secara perlahan.


Disisi lain ditepi hutan Nagato yang baru sampai di Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda melihat Litha yang tertusuk oleh pedang.


"Litha!" teriak Nagato yang melihat Litha terjatuh pelan - pelan ketanah dengan emosi yang membakar tubuhnya dia menghilang dalam sekejap dan memegang tubuh Litha yang hampir jatuh ketanah kemudian Nagato menendang puluhan pria berjubah hitam.


"Na .. ga .. to .. " suara Litha yang terbata - bata membuat Nagato mengingat perasaan yang paling menyayat dalam kehidupannya yaitu kehilangan orang yang paling berharga dalam kehidupannya.


"Jangan berbicara Litha, aku akan menyelematkanmu ... " Nagato menggendong tubuh Litha dan berlari menuju tengah hutan kediaman mereka tinggal.

__ADS_1


Nagato dikejar oleh puluhan pria berjubah hitam dan yang ada dipikirannya hanya satu bagaimana cara menyelamatkan Litha.


Litha menatap raut wajah Nagato yang terlihat begitu panik membawa tubuhnya dengan lembut.


"Ma-Maaf ... " Litha bergumam pelan sebelum kehilangan kesadarannya dan tak lama Nagato melihat puluhan Serigala Hijau menghadangnya tetapi dia menghindari pertarungan dan memilih lari melewati jalan pintas menuju tengah hutan.


Nagato melirik kebelakang melihat puluhan pria berjubah hitam sedang bertarung melawan Serigala Hijau.


Hujan semakin deras ketika Nagato semakin cemas pada kondisi Litha setiap tetesan air hujan membuatnya berlari semakin cepat karena dia tidak tahan melihat perut Litha yang bersimbah darah.


"Kakek Hyo, buka pintunya, Litha terluka!" Nagato menendang pintu rumah Kakek Hyogoro yang tertutup.


Kakek Hyogoro membuka pintu dan terkejut melihat Nagato yang menangis membawa tubuh Litha yang bersimbah darah.


"Kakek Hyo, aku mohon selamatkanlah Litha!" Nagato membawa tubuh Litha masuk kedalam rumah dan membaringkannya dikasur tipis yang ada diruangan tersebut.


Kakek Hyogoro mencoba mengobati Litha dan memberinya perban diperut gadis kecil tersebut.


Hujan turun dengan derasnya, hembusan nafas yang tersengal - sengal dari hidung Nagato yang sedang menatap Litha yang terbaring lemah dihadapannya.


Nagato menjambak rambutnya dan menangis karena membiarkan Litha pergi sendiri.


"Nagato, kenapa Litha bisa terluka seperti ini? Jika lukanya sedikit lebih dalam lagi mungkin Litha sudah mati!" Kakek Hyogoro menatap tajam Nagato yang sedang menangis sambil menutup wajahnya dengan tangannya.


"Ini salahku, aku membiarkan Litha menangis sendirian ... " Nagato menggigit bibirnya hingga berdarah karena dia tidak bisa menahan luapan air matanya.


"Kakek Hyo, aku bukanlah orang yang baik tidak seperti ayahku! Aku telah membuat Litha menangis!" Nagato menangis dan tangannya memegang kepalanya.


'Aku seharusnya tahu seorang pria tidak boleh membuat seorang perempuan menangis ... aku bukanlah laki - laki yang baik!"' Nagato berharap jika luka Litha tidak fatal.


"Aku membiarkan Litha terluka ... maafkan aku Litha ... maafkan aku!" Nagato menatap wajah Litha yang terpejam matanya.


Kakek Hyogoro terkejut melihat Nagato menangis seperti itu.

__ADS_1


"Nagato ... " Kakek Hyogoro bergumam pelan menatap Nagato yang menangis.


__ADS_2