
Ruang tengah Penginapan Matahari Timur, khususnya tempat penginapan Klan Fuyumi.
Di dalam ruangan itu terlihat seluruh pendekar dari Klan Fuyumi duduk berkumpul. Di sana juga ada Gyuki, Sachie, Hayabusa, Matsuri dan Serlin yang sedang menceritakan saat-saat terakhir dari Kakek Hyogoro.
Nagato diam dengan tenang dan melirik Hanabi yang ada di ruangan tengah bersama Hana. Terlihat Hanabi menatap Nagato sinis, bahkan gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu masih merasa kecewa dengan Nagato.
Litha duduk di samping Nagato dan memeluk Iris yang ada disampingnya. Tak lama Hayabusa mulai menceritakan saat-saat terakhir Kakek Hyogoro sebelum kematiannya.
Kembali beberapa hari yang lalu saat misi untuk menghancurkan Sekte Pemuja Iblis yang memiliki markas di Tebing Shikaku, Kekaisaran Kinai.
Sekte Pemuja Iblis memiliki hubungan erat dengan Spider, salah satu organisasi bawah tanah dengan kata lain organisasi yang menjual beli budak maupun organisasi yang mendukung Sekte Pemuja Iblis merampungkan Proyek Beast.
Di malam yang sendu, guyuran hujan mewarnai kesedihan yang mendalam. Tubuh Panglima Goro tergeletak di tanah dan tak bernyawa, sedangkan Kakek Hyogoro masih bernapas, namun sangat lemah.
Kuina menangis melihat Kakek Hyogoro yang terlihat terluka begitu parah, sebagian organ dalamnya hancur, begitu juga dengan Panglima Goro yang lebih parah dari Kakek Hyogoro.
Serlin yang berdiri di samping Kuina memeluk teman seperguruannya itu, “Kuina...” Sulit untuk mengucapkan kata-kata apalagi memberikan semangat di saat dirinya sendiri juga sedang bersedih.
“Kakek Hyogoro...” Kuina menggumam pelan sebelum berteriak histeris, “Kakek Hyogoro! Jangan pergi! Kau masih memiliki Nagato dan Litha!”
Hawk dan Matsuri berjongkok melihat mata Kakek Hyogoro yang membuka pelan, namun tatapannya kosong. Entah apa yang dia lihat, tetapi Kakek Hyogoro terlihat begitu menyedihkan.
“Kakek Hyogoro, kita harus ke tempat Ketua Hana, Klan Misuzawa. Aku yakin Ketua Hana dapat menyembuhkan Kakek!” Kuina menangis histeris dan memegang tangan Kakek Hyogoro.
Serlin menangis di samping Kuina, sedangkan Hayabusa dan Matsuri menatap Kakek Hyogoro dalam.
Matsuri memegang perut Kakek Hyogoro dan meneteskan air mata, “Kuina...” Dia ingin mengatakan sesuatu namun setelah melihat kesedihan Kuina, mulut Matsuri tertutup rapat dan dia mengurungkan niatnya.
“Kakak Matsuri, bisakah kau berikan pertolongan pertama pada Kakek!” Kuina kembali berteriak histeris, air mata terus mengalir dengan deras di matanya.
Matsuri menggigit bibir bawahnya dan menangis, “Maaf...”
Kuina menggelengkan kepalanya dan menatap Matsuri, “Apa maksudmu, Kakak Matsuri? Aku tidak mengerti maksudmu... Bukankah kau anak dari Ketua Hana? Kau pasti bisa menyembuhkannya?!”
Kuina berteriak sejadi-jadinya, kemudian dia menatap Serlin, “Oh, iya. Serlin! Berikan sihir penyembuhanmu pada Kakek Hyogoro! Seperti kau mengobati aku dan Azai!”
“Kuina! Kakek Hyogoro...” Serlin menangis dan memeluk ibunya yang berdiri disampingnya, “Kakek Hyogoro tidak bisa disembuhkan dengan sihirku...”
“Aku sudah berusaha menyembuhkan luka dalam Panglima Goro maupun Hyogoro. Tetapi sihir penyembuh manusia tidak bisa mengobati luka lubang di perut ataupun bagian tubuh yang lain...” Merlin menatap Kuina yang menangis histeris.
__ADS_1
Kakek Hyogoro tersenyum tipis, “Litha... Jangan berisik. Organ dalam Kakek sudah hancur... hidup kakek sudah berakhir...”
Kuina menangis mendengar perkataan Kakek Hyogoro, apalagi dia mendengar perkataan Kakek Hyogoro yang mengira dirinya sebagai Litha.
“Kakek! Aku Kuina...” Tangan Kuina menyentuh tangan Kakek Hyogoro dan menggenggamnya, “Bukankah Kakek masih mempunyai Nagato dan Litha? Jangan tinggalkan mereka berdua!”
Kakek Hyogoro menangis, air matanya menyatu dengan air hujan yang menerpa tubuhnya. Walau terbuka, pandangan matanya gelap, namun dia masih bisa melihat secercah cahaya saat Nagato dan Litha berlatih bersama dirinya. Di dalam ingatannya.
“Semenjak aku tidak dapat menyelamatkan penolongku dan istriku... Aku sudah kehilangan arah...” Suara lirih Kakek Hyogoro membuat Kuina dan yang lain diam mendengarkan.
“Istri, anak dan muridku meninggal terlebih dahulu...” Napasnya terdengar pelan dan suaranya terdengar memilukan, “Tetapi..., seorang pembunuh sepertiku masih hidup... seharusnya aku yang mati... dan bukan mereka...”
Kuina menangis dan menggelengkan kepalanya, “Itu tidak benar... Kakek Hyogoro, kau masih mempunyai sesuatu yang harus kau jaga...”
Kakek Hyogoro tersenyum bahagia, “Aku sudah tidak akan bertahan lebih lama lagi... Jadi ini rasanya kematian...”
Kuina menangis dan berusaha untuk tetap tenang mendengarkan perkataan terakhir Kakek Hyogoro.
”Aku sampai saat ini bertahan hidup hanya ingin melihat kedua cucuku menggapai impian mereka...” Kakek Hyogoro mengingat wajah Nagato dan Litha. Saat-saat terakhir, air matanya membasahi kembali wajahn yang sendu dan dibasahi air hujan yang bercampur dengan butiran air mata dan darah.
Kakek Hyogoro sudah lama ingin meninggalkan dunia yang menurutnya sudah tidak ada masa depan untuknya, namun Nagato dan Litha menjadi alasan utama dirinya terus bertahan hidup.
“Aku ingin melihat mereka tumbuh dewasa... Ketika menjelang kematianku, bahkan aku sangat merindukan mereka berdua...” Perkataan Kakek Hyogoro membuat semua orang yang mendengarnya menangis.
“Litha, aku yakin kau bisa meraih impianmu. Dunia adalah tempat yang luas, kau haru menemukan dan membuktikannya sendiri...” Kakek Hyogoro menangis, matanya terpejam membayangkan sosok Litha yang tersenyum padanya.
Tak lama bayangan Nagato yang sedang terlihat kesal membuat Kakek Hyogoro tersenyum dalam tangisan kesedihannya.
“Nagato, kau harus mempunyai mimpi sendiri. Contoh Litha dan jaga dia. Karena Ltiha adalah adik sekaligus saudara yang harus kau jaga...” Tangan Kuina menggenggam tangan Kakek Hyogoro lebih erat karena terlihat Kakek Hyogoro sudah mendekati ajalnya.
“Aku ingin melihatmu mempunyai mimpi dan meraihnya, lupakan dendammu dan lihatlah sekelilingmu. Kau tidak sendirian, Nagato...” Kakek Hyogoro tersenyum mengingat Nagato yang selalu bertengkar dengannya karena perbedaan pendapat, “Aku yakin kau akan menjadi orang yang hebat dan meraih impianmu saat kau mempunyai mimpi sendiri. Karena kau adalah muridku, Nagato...”
“Kakek...” Kuina tidak tega melihat Kakek Hyogoro yang masih mengkhawatirkan Nagato dan Litha di saat-saat terakhirnya.
Lama Kakek Hyogoro terdiam, semua orang menatap Kakek Hyogoro yang matanya terpejam.
Kakek Hyogoro mengingat wajah Nagato dan Litha. Kerinduan dan kesedihan bercampur menjadi satu, bahkan kini dia tidak merasakan sakit sedikitpun lagi di perutnya yang berlubang.
“*Litha, katakan padaku. Apa kau bahagia mempunyai seorang kakek sepertiku?”
__ADS_1
“Litha bangga mempunyai kakek. Karena Litha tidak mempunyai kakek...”
“Jadi Kakek Hyogoro adalah kakek yang sangat berjasa karena mengajarkan Litha arti hidup*...”
Air mata membasahi wajah Kakek Hyogoro mengingat Litha. Suara dan wajah Litha samar-samar terbayang di kepalanya.
“*Nagato. Apa kau bahagia ketika aku menganggapmu sebagai cucuku?”
“Aku sangat bahagia! Kau adalah kakekku sekaligus guru yang sangat berjasa di dalam hidupku!"
"Aku akan membalas jasamu suatu hari nanti*!"
Kakek Hyogoro tersenyum mengingat Nagato bersujud padanya dan mengucapkan kata-kata yang membuatnya merasa bangga.
Namun malam ini dia tidak bisa mendampingi kedua muridnya untuk selamanya. Mulai sekarang dan selamanya dia tidak bisa memarahi dan memberi nasihat pada Nagato dan Litha.
”Aku tidak bisa berteriak untuk memarahi Nagato dan Litha saat mereka berdua berbuat ulah...” Saat Kakek Hyogoro terdiam cukup lama. Semua orang mendengarkan kata-kata terakhir yang ingin diucapkan oleh guru dari Nagato dan Litha itu.
“Mulai sekarang dan seterusnya... aku tidak bisa mengawasi mereka berdua...” Kakek Hyogoro menangis ketika berusaha mengatakan sesuatu untuk Nagato dan Litha, “Nagato! Litha! Terimakasih... telah ada untuk seorang pembunuh seperti kakek kalian ini... Maafkan kakek kalian yang tidak berguna ini. Kakek hanya mengajarkan kalian berdua cara membunuh... Kalian berdua adalah kebanggaan kakek... Nagato, Litha... Terimakasih telah menjadi cucu kakek!”
Senyuman dan tangisan Kakek Hyogoro menghiasi wajahnya ketika kata-kata terakhirnya terucap. Malam itu, detik itu, di bawah guyuran hujan dan langit malam yang tak berbintang, Kakek Hyogoro menghembuskan napas terakhirnya.
Semua orang menangis melihat Kakek Hyogoro sudah meninggalkan mereka untuk selamanya. Bahkan prajurit militer Kekaisaran Kai yang tidak mengenal Kakek Hyogoro ikut menangis ketika melihat Hayabusa dan Matsuri menangis.
Maafkan aku, Nagato, Litha...
Aku hanyalah seorang pembunuh yang seperti orang bodoh dan pemimpi tua.
Kalian berdua telah memberiku keinginan untuk hidup lebih lama.
Ini sudah menjadi akhir dari perjalananku.
Aku sejak kecil ingin menciptakan tempat damai dan negeri tanpa diskriminasi.
Aku sangat berterimakasih pada kalian berdua.
Kalian berdua telah memberikanku segalanya
Hyogoro atau lebih dikenal dengan Monster Pembunuh Kai telah menghembuskan napas terakhirnya.
__ADS_1
Luka lubang diperutnya menjadi akhir dari kehidupannya. Namun di punggung kebanggaannya yang terdapat simbol matahari atau semenjak dia menjadi pengikut Kagutsuchi Sura, tidak ada satupun bekas luka dan goresan sedikitpun.