
Akai menatap Akaza yang akan bertanding. Pemuda itu tersenyum sumringah. "Lawanku adalah pendekar dari Klan Muromachi! Sekarang darahku semakin mendidih!" Akaza berkata dengan penuh percaya diri sembari berdiri dari bangku penonton.
Takamasa dan Hinozaya melirik Akaza sesaat sebelum mereka berdua menatap pria berambut merah yang bernama Akatsuki Takeda.
"Tumben sekali kau diam..." Takamasa menegur Takeda yang menatap ke arah tengah lapangan dengan tatapan kosong.
"Wasit itu ... aku pernah melihatnya di suatu tempat. Kalau rambutnya botak, Gyuki sangat mirip dengan salah satu pengikut Tuan Pandu." Takeda menjawab sembari menatap Takamasa.
"Hmm..." Takamasa menanggapi perkataan Takeda dan memastikan. "Ah, aku tidak mengingatnya sama sekali..." Takamasa berkata pada Takeda setelah melihat wajah Gyuki dengan seksama dari atas tribun penonton.
"Itu sudah pasti. Ketua sudah pikun. Lagian matamu sudah buram." Perkataan Takeda membuat Hinozaya dan Akaza tersedak. Bahkan Akai yang mendengarnya langsung menatap Takeda dengan tatapan terkejut.
Takamasa tertawa. "Terimakasih Takeda." Sontak Akai yang mendengarnya terkejut kembali, sedangkan Akaza dan Hinozaya hanya menggelengkan kepala mereka.
"Aku tidak memujimu!" Takeda membalas perkataan Takamasa dengan sengit.
Akai melihat Akaza yang menghela napas panjang. "Kakak, kenapa Kakak Besar Takeda tidak sopan sama sekali terhadap Ketua Takamasa." Mata Akai menatap Akaza yang berhenti melangkah dan melirik dirinya.
"Kakak Takeda adalah lelaki sejati..." Setelah berkata demikian. Akaza meninggalkan Akai dengan seribu pertanyaan di dalam benaknya.
"Apa yang Kakak katakan?" Akai bergumam dan bersandar di bangku penonton.
Akaza menatap Kise yang juga sedang berjalan menuju tengah lapangan. Mereka terus berjalan dan bertemu di tengah lapangan, tepat di depan Gyuki. Setelah itu Akaza dan Kize berhenti berjalan dan saling menatap satu sama lain.
Gyuki melihat kedua peserta yang terlihat memiliki semangat masa muda yang sama. Kemudian dia membatin. "Kedua anak muda ini terlalu bersemangat. Sebaiknya aku dengarkan dulu ocehan mereka."
Tidak berapa tebakan Gyuki tepat, karena Akaza dan Kise saling menyapa sebelum mereka bertanding.
Di depan Gyuki terlihat Kise tersenyum lebar menatap Akaza. "Yo, pemuda api. Ini pertama kali kita berdua bertemu." Kise melihat raut wajah Akaza yang terlihat santai.
"Yo, om ... siapa namamu tadi? Iya, ini pertama kali kita bertemu." Dengan perkataan santainya, Akaza sengaja memancing emosi Kise.
"Om? Apa katamu tadi, pembakar sialan?!" Kise terlihat begitu emosi dan hendak menerkam tubuh Akaza.
"Cepat kita mulai pertandingannya, Paman Wasit! Aku akan membakar anak ini!" Akaza melepaskan aura tubuhnya yang berwarna merah. Kemudian diikuti oleh Kise yang mengeluarkan aura tubuhnya berwarna ungu.
Gyuki menaikkan alisnya. "Kenapa mereka berdua malah berkelahi seperti ini?!" Tidak berapa lama Gyuki menghela napas panjang sembari memberi isyarat pada Akaza dan Kise untuk menjaga jarak.
Akaza tersenyum tipis, sedangkan Kise merapatkan giginya ketika mundur ke belakang untuk berdiri di garis putih yang telah ditentukan.
"Majulah rambut sapu!" Akaza sengaja mengejek Kise.
"Pembakar sialan ini!" Kise membatin kesal menatap Akaza.
Gyuki menairk napas dalam-dalam sebelum memulai pertandingan tersebut. "Baiklah, pertandingan kelima belas babak 32 besar Turnamen Harimau Kai antara Akatsuki Akaza melawan Muromachi Kise dimulai!" Dengan cepat Gyuki mundur ke belakang ketika melihat mulut Akaza langsung menghembuskan api yang berbentuk bola ke arah Kise.
"Pemuda ini sangat panas." Gyuki membatin mengomentari tindakan Akaza.
__ADS_1
Serangan pembuka yang dilakukan oleh Akaza tidak dihindari oleh Kise. Tubuh Kise diselubungi aura tubuh berwarna ungu yang membuat tubuhnya terlihat seperti mengeras.
"Bakar aku!" Kise memukul dadanya, kemudian dia menarik pedangnya. "Itupun jika kau bisa, pembakar sialan!" Ayunan pedang Kise sangat cepat.
"Apiku? Tidak mungkin..." Akaza masih tidak percaya, tangannya tidak menarik pedangnya bahkan dia tidak menghindari tebasan pedang Kise. Pemuda itu membiarkan tebasan pedang Kise mengenai lengannya.
"Dia gila!" Kise membatin tidak percaya. Walau tebasannya sedikit meleset, tetapi tetap saja dia melihat Akaza tidak berniat menghindari tebasan pedanganya.
Akaza menggumam pelan. "Api milikku tidak melukai tubuhnya? Bagaimana ini bisa terjadi?" Melihat Akaza yang meremehkan dirinya, Kise menyerang Akaza dengan segenap kekuatannya.
Akaza menarik pedangnya dan menangkis tebasan pedang Kise. "Hei, badanmu itu barusan dapat menahan serangan apiku, bukan?" Tanya Akaza memastikan. Setelah itu dia memutarkan tubuhnya menciptakan pusaran api.
Kise tersenyum tipis dan melakukan hal yang sama dengan Akaza. "Aku tidak mempunyai elemen bawaan dari lahir, sebagai gantinya aura tubuhku mampu memperkuat daya tahan tubuhku!" Benturan pusaran api dan pusaran aura ungu bertabrakan di udara.
Akaza tersenyum menyeringai. "Menarik sekali. Aku sudah lama ingin bertarung melawan orang yang memiliki kemampuan sepertimu. Aku tidak sabar membakarmu, Kise!" Akaza bergerak dengan cepat dan mengayunkan pedangnya mengincar Kise.
"Jangan pikir kau bisa menang dariku, pembakar sialan!" Kise menanan tebasan Akaza dan menatap tajam mata lawannya tersebut. "Kau tahu cara menyebut namaku. Kupikir ada yang tidak beres dengan otakmu."
Kise berusaha melakukan tendangan pada dada Akaza namun lawannya itu dapat menghindari tendangannya. "Lincah." Kise memuji Akaza sembari memainkan pedangnya dan menyerang Akaza kembali.
Akaza tersenyum lebar menatap arah tebasan pedang Kise. "Kau juga." Akaza membalas perkataan Kise yang memuji dirinya. Permainan pedangnya kini lebih agresif dari sebelumnya.
"Aliran Awan Api." Akaza membatin dalam hatinya. Permainan pedangnya sekarang sangat agresif. Setiap tebasannya sangat dalam, dan disetiap tebasan pedangnya selalu muncul percikan api yang membara di udara.
Kise tersenyum menyeringai melihat permainan pedang Akaza yang berubah. "Menarik, aku akan menahan setiap seranganmu, Akaza!" Tebasan pedang Kise mengeluarkan cahaya berwarna ungu.
Akaza memainkan pedangnya dengan cepat. Setiap tebasan pedangnya yang mengeluarkan percikan api terus ditahan dengan baik oleh Kise.
Semakin lama mereka bertukar serangan, jalannya pertandingan kali ini berubah menjadi adu kekuatan. Setiap serangan memiliki momentum yang berarti.
Akaza mengaliri bilah pedangnya dan bersiap melancarkan serangannya. "Teknik Pedang Aliran Awan Api : Kilatan Cakar Merah!" Tebasan yang berbentuk tiga cakar harimau berwarna merah melesat dengan cepat ke arah Kise.
"Menarik sekali, Akaza!" Kise tersenyum lebar melihat arah tebasan pedang Akaza. "Tebasan Gabungan Ungu!" Kise juga melepaskan tebasan pedang yang membentuk sebuah cakar berwarna ungu dengan pusaran angin berwarna ungu yang keluar dari aura tubuhnya ke arah tebasan pedang yang dilesatkan oleh Akaza.
Benturan kedua teknik pedang terjadi. Saling bergesekan dan bertabrakan kedua teknik pedang yang dilapisi aura itu membuat hembusan angin yang cukup besar. Perlahan debu-debu berterbangan dan membuat jarak pandang di tengah lapangan menganggu penonton yang melihat pertandingan tersebut dari atas tribun.
"Kise!" Akaza berlari ke arah kumpulan debu. Tindakan Akaza diikuti Kise yang terpancing dengan tindakan lawannya tersebut.
"Aku terima tantangmu, Akaza!" Kise dengan penuh percaya diri berlari ke arah kumpulan debu. Setelah itu Kise mencoba merasakan hawa keberadaan Akaza sebelum dia mengayunkan pedangnya.
Suara langkah kaki Akaza terdengar dari sebelah kiri, dengan cepat Kise menebasakan pedangnya ke arah kirinya. Benturan pedang terjadi karena Akaza juga menebaskan pedangnya.
"Kau memang hebat, Kise!" Akaza tersenyum ketika melihat Kise menahan tebasan pedangnya.
"Kau juga, Akaza!" Kise menatap tajam Akaza. Kemudian dia memutarkan tubuhnya dua kali dan menciptakan pusaran angin dari aura tubuhnya yang berwarna ungu. Kedua pusaran aura ungu berputar menghimpit tubuh Akaza.
"Tidak buruk juga." Akaza membatin dalam hatinya. Pandangan matanya tak lepas dari dua pusaran aura ungu yang semakin dekat dengan dirinya.
__ADS_1
"Teknik Pedang Aliran Awan Api : Pelindung Merah Menggapai Awan!" Akaza memfokuskan aura tubuhnya pada bilah pedangnya, sedangkan tangannya yang hendak mengayunkan pedang terisi tenaga dalam. Ketika dua pusaran aura ungu sudah begitu dekat dengan dirinya, Akaza langsung menebasakan pedangnya dengan sekuat tenaga untuk menahan dua pusaran aura ungu tersebut dan mementalkannya ke atas.
Kise melihat Akaza yang mementalkan kedua pusaran aura ungu ke atas membuat debu-debu yang menutupi pertarungan mereka menghilang. Di udara terlihat aura berwarna ungu mewarnai udara sebelum menghilang secara perlahan.
"Kuakui kau, wahai rivalku!" Kise tersenyum menatap Akaza.
"Rival? Boleh juga!" Akaza membalas perkataan Kise dan tersenyum tipis.
Tidak berapa lama keduanya kembali bertukar serangan. Gyuki yang memperhatikan pertarungan dari dekat bisa merasakan persaingan sengit secara sehat tanpa memiliki dendam terselubung sedikitpun itu.
Setiap Akaza dan Kise bertukar tebasan. Mereka berdua akan saling memahami perasaan masing-masing. Perasaan untuk menang dan lebih kuat dari diri kita yang sebelumnya.
"Lintasan Ungu Kelabu!"
Kise mengayunkan pedangnya ke arah Akaza secara beruntun. Kemudian dia memutarkan tubuhnya dengan sangat cepat, setelah itu Kise menebaskan pedangnya menciptakan sebuah tebasan berwarna ungu yang membentuk sabit.
Sedangkan Akaza menarik napas dalam-dalam sebelum membalas serangan Kise. "Teknik Pedang Aliran Awan Api : Ombak Api Dalam Ilusi!" Permainan pedang Akaza kali ini memakai aura tubuh dan tenaga dalam yang cukup besar. Tebasan pedang Akaza yang membentuk gelombang api itu berhasil menangkis tebasan pedang Kise dan mementalkan serangan tersebut ke arah lawannya kembali.
Sebuah ombak api terlihat di udara. Permainan pedang Akaza memukau penonton yang ada di Arena Lingkaran Harimau. Lintasan tebasan pedang Akaza masih terus berlanjut mengarah pada Kise.
"Sial!" Kise mengumpat dalam hatinya. Kemudian dia melepaskan aura tubuhnya dan tenaga dalamnya jumlah besar.
"Tebasan Pedang Gabungan : Putaran Sabit Ungu!"
Kise juga berlari ke arah Akaza sembari memainkan pedanganya. Langkah kaki Kise sangat lembut. Ayunan pedangnya menciptakan puluhan tebasan sabit ungu yang mengarah dengan cepat pada Akaza bersama sebuah pusaran aura ungu.
Benturan kedua teknik pedang terjadi. Akaza dan Kise saling bertukar serangan dan menggunakan segenap kekuatan mereka. Setelah kedua teknik pedang mereka terus-menerus berbenturan, Akaza kembali melancarkan serangannya, namun tidak dengan Kise yang mengerutkan wajahnya.
"Teknik Pedang Aliran Awan Api : Gigitan Harimau Api Merah Membara!"
Akaza tersenyum kecut melihat Kise yang sudah mencapai batasnya. Tebasan pedangnya yang membentuk harimau berwarna merah itu mencengkeram tubuh Kise hingga bersimbah darah.
Akaza mengibaskan pedangnya dan memainkan pedangnya tepat setelah Kise terkapar di tanah. Kemudian pemuda itu menyarungkan kembali pedangnya sembari berjalan menghampiri Kise.
"Pembakar ... sialan..." Suara Kise yang terengah-rengah terdengar oleh Akaza. "Kau mengalahkanku kali ini ... tapi selanjutnya aku akan menang..." Mata Kise memejam setelah berkata seperti itu.
"Hoi, Kise! Jangan mati!" Akaza panik. Gyuki menghampiri kedua peserta yang telah selesai bertanding.
"Bodoh! Aku kehabisan aura tubuhku! Aku belum mati!" Kise membentak pernyataan Akaza. Setelah itu napasnya langsung memburu dan terengah-engah. "Aku tidak pandai mengontrol aura ... aku membuang-buang auraku terlalu banyak..." Kize membatin dan mencoba berdiri.
"Pemenang pertandingan kelima belas adalah Akatsuki Akaza!" Gyuki mengakhiri pertandingan ketika Kise berdiri dan dirangkul oleh Akaza.
Kedua peserta itu langsung menuju bangku penonton secara bersamaan. Gyuki tersenyum melihat Akaza dan Kise yang menjadi akrab.
"Sifat mereka hampir sama. Jadi mereka mudah membaur ketika bertemu satu sama lain." Pikir Gyuki sembari menatap langit yang sudah mulai berwarna jingga.
"Baiklah, saatnya kita beralih ke pertandingan terakhir!" Penonton langsung bergemuruh. Walau hari sudah sore mereka nampak masih tetap bersemangat untuk melihat langsung Turnamen Harimau Kai sampai akhir.
__ADS_1
"Selanjutnya, Guren Toshiko dan Kitakaze Renji. Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!" Gyuki memanggil kedua peserta yang akan bertanding di pertandingan terakhir babak 32 besar Turnamen Harimau Kai. Dua nama tersebut adalah Guren Toshiko dan Kitakaze Renji.