
"Terimakasih telah memberitahukan semua yang kau ketahui padaku ... aku tidak akan menyia - nyiakan kematianmu." Kakek Hyogoro menutup mata ST 13 yang melotot ketika lidahnya putus.
"Jadi mereka masih hidup ... pengkhianat sebenarnya akan kubunuh dengan tanganku ... dendam seluruh marga Kagutsuchi ada ditanganku." Kakek Hyogoro mengangkat tubuh ST 13 keluar dan hendak menguburkannya.
"Aku tidak ingin Nagato mengetahuinya ... aku tidak bisa membiarkan anak kecil itu menanggung beban yang begitu menyakitkan." mata Kakek Hyogoro berkaca - kaca setelah mendengar cerita dari ST 13.
Empat jam telah berlalu semenjak penyerangan maskas kelompok perampok Isamu dan Kakek Hyogoro sudah menguburkan semua perampok yang meninggal.
"Setidaknya kalian mati dengan layak ... jika dendam maka dendamlah padaku ... jika kalian mengutuk maka kutuklah diriku." guma Kakek Hyogoro yang meninggalkan kediaman para perampok dan kembali menuju Desa Ninniku.
"Aku sudah curiga dengan sistem kasta yang digunakan oleh pemerintahan Hizen di Provinsi Barat dan beberapa provinsi yang lainnya... semua sesuai perkiraanku bahwa kebencian kaum pemakan uang rakyat itu iri dengan kesuksesan Pandu di masa lalu ... semua menjadi jelas aku sudah tahu siapa yang harus kubunuh!" Kakek Hyogoro tersenyum masa lalunya yang menjadi pembunuh berdarah dingin kembali menyeruak masuk kedalam setiap sel tubuhnya ketika dirinya ingin melupakan semuanya.
Kakek Hyogoro berjalan dengan santai menuju Desa Ninniku sedangkan di desa terjadi keributan karena anak pertama dari kepala desa berubah menjadi manusia buas dan sedang mengamuk di luar desa.
"Kenapa anakku menjadi makhluk seperti itu?!" Kepala desa dan istrinya menangis histeris melihat anak pertamanya berubah menjadi manusia buas setinggi tiga meter.
"Nagato tidak bisa bangun aku harus mengatasi ini sendiri." gumam Litha yang melihat manusia buas setinggi tiga meter bersama para penduduk desa.
"Litha kenapa anak kepala desa berubah menjadi monster mengerikan?" Rini menutup mulutnya manusia buas setinggi tiga meter sedang berteriak diluar desa dan merusak perkebunan.
"Itu adalah manusia buas orang itu berubah menjadi seperti itu karena meminum air berbahaya ... hanya itu saja yang kuketahui kak." Litha menjelaskan tentang manusia buas pada Rini.
"Dia merusak kebun jagungku!"
"Sialan dia menginjak tanaman kacang panjangku!"
__ADS_1
Beberapa penduduk desa justru kesal dan geram melihat manusia buas setinggi tiga meter menghancurkan kebun mereka bukannya takut mereka malah marah karena tanaman yang sudah siap panen telah dirusak.
Manusia buas setinggi tiga meter tersebut terus berteriak dan menghancurkan perkebunan milik penduduk desa yang sudah siap panen.
"Nak kenapa kau menjadi seperti ini!" Kepala desa terduduk lemas tak berdaya melihat anak pertamanya menjadi manusia buas sedangkan anak keduanya telah menculik perempuan desa dan berbuat bejat kepada perempuan yang telah diculik.
"Kenapa anak kita bisa menjadi seperti ini!" Istri kepala desa terus menangis dan tidak percaya bahwa anak yang mereka besar telah tumbuh menjadi penjahat tetapi yang membuat dirinya sakit adalah melihat seorang anak yang dirinya rawat sejak kecil namun ketika besar justru berakhir menjadi manusia buas tak berakal.
Selesai menghancurkan perkebunan dibagian kanan, manusia buas setinggi berjalan pelan hendak memporak porandakan perkebunan dibagian kiri.
"Tidak itu adalah kebunku!"
"Disana juga ada kebun milikku!"
Penduduk desa hanya bisa pasrah sambil terus melontarkan perkataan kekesalan melihat tindakan manusai buas setinggi tiga meter yang hendak menghancurkan perkebenan mereka.
"Nak ini ibumu!" Istri kepala desa berlari mendekati anak pertamanya yang telah berubah menjadi manusia buas tak berakal.
Melihat seorang perempuan berlari mendekatinya, manusia buas setinggi tiga meter tersebut menatap tajam seorang perempuan yang tak lain adalah ibunya sendiri.
"Tidak!" teriak perempuam desa histeris melihat manusia buas.
"Lihat makhluk itu hendak menyerang kita!" Penduduk desa pucat wajahnya ketika melihat manusia buas setinggi tiga meter hendak memukul istri kepala desa.
"Kamu tidak mengenali wajah ibu nak." Istri kepala desa menangis pasrah ketika melihat anaknya yang berubah menjadi manusia buas setinggi tiga meter hendak mumukulnya.
__ADS_1
Setelah pasrah karena merasa dirinya akan mati ditangan anaknya sendiri, istri kepala desa kaget karena dirinya masih hidup sedangkan tubuhnya diangkat Kakek Hyogoro ketempat yang aman.
"Itu adalah manusia buas yang sudah tidsk memiliki akal sehat! Bagaimana bisa makhluk itu ada disini?" Kakek Hyogoro mengerutkan dahinya dan menurunkan istri kepala desa.
"Kakek itu adalah ... " Litha menjelaskan pada Kakek Hyogoro bahwa manusia buas dihadapan mereka adalah anak pertama kepala desa yang meminum air dari botol kecil. Kemudian Litha juga menjelaskan jika anak pertama kepala desa terlihat sedang begitu kesal dan memukul wajah kepala desa yang tak lain adalah ayahnya sendiri setelah itu pergi ke perkebunan desa untuk menenangkan diri dan meminum air didalam botol kecil namun dirinya berakhir menjadi manusia buas tak berakal.
"Aku mengerti ... jadi bagaimana apa aku harus membereskannya?" Kakek Hyogoro menatap kepala desa bersama istrinya.
Kepala desa dan istrinya tidak tega tetapi melihat anak mereka yang berubah menjadi manusia buas juga membuat mereka merasa sakit sehingga pertanyaan Kakek Hyogoro membuat mereka berdua bimbang.
"Tuan tolong ... " kepala desa memejamkan matanya dengan bibir yang gemetar dirinya tidak bisa melihat kematian anaknya yang telah menjadi manusia buas tak berakal.
"Ya ... aku juga merasa sakit ketika mendengar teriakannya anak anda ingin segera dibebaskan dari rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya." Kakek Hyogoro menatap manusia buas yang sedang melihat dirinya.
"Sirih." Kakek Hyogoro mengolah pernapasan.
"Mengalir Seperti Air."
Kakek Hyogoro menghilang dalam pandangan Litha dan penduduk desa dalam sekejap.
"Tidurlah dengan tenang."
Kakek Hyogoro sudah melompat berada disamping manusia buas yang kepalanya telah terlepas dari tubuhnya.
"Aku akan mencabut rasa sedih ini sampai ke akar - akarnya." Kakek Hyogoro menatap tubuh manusia buas setinggi tiga meter yang terlihat menguap sebelum menghilang.
__ADS_1