
Sinar mentari menyinari Hutan Cakrawyuha dengan sinar terangnya. Pagi yang masih dipenuhi kabut dan embun yang mendekap dedaunan membuat tubuh menjadi dingin. Nagato mengerjapkan matanya berkali - kali untuk menikmati matahari pagi.
Nagato memegang pedang peninggalan ayahnya yang tidak bisa terlepas dari sarung pedangnya. Kekesalannya semakin lama semakin terlihat karena Nagato menganggap pedang peninggalan ayahnya tidak memilih Nagato sebagai pemiliknya, perasaan kesal menghampiri Nagato mengingat petir berbentuk naga yang mendiami pedangnya saat di Kota Roshima.
"Naga sialan itu! Semua ini karena dia!" umpat Nagato dalam hatinya
Ketika sinar matahari mulai menyeruak menyinari bumi, perlahan kabut di Hutan Cakrawyuha mulai menghilang. Nagato hanya membawa pedang peninggalan ayahnya dan pedang hitam yang dibelikan Kakek Hyogoro. Tas pinggang yang Nagato bawa hanya berisi uang dan cincin peninggalan orang tuanya.
Sebelum pergi meninggalkan Hutan Cakrawyuha, Nagato memandangi hutan tersembunyi yang berbentuk lingkaran ini dengan penuh makna. Tempat yang berkesan baginya akan dia tinggalkan dengan waktu yang cukup lama. Matanya melihat pepohonan yang bergoyang karena tiupan angin, dengan udara sejuk yang terus menerus menerpa tubuhnya.
"Selamat tinggal, aku belum memberi kalian nama. Tapi kamu yang hitam kunamai Yu dan kamu yang putih kunamai Ya..." Nagato melambaikan tangannya pada kera hitam dan kera putih yang mengantarnya pergi meninggalkan Hutan Cakrawyuha.
Litha dan Kakek Hyogoro tertawa cekikan mendengar Nagato yang memberi nama kera hitam dan kera putih, tidak berapa lama Raja Hewan Buas Gorila Peniru menghampiri Nagato dan memukul dadanya.
"Kamu kube-" belum selesai Nagato berkata, perkataannya dipotong oleh Litha.
"Kamu Gori..." potong Litha menunjuk Raja Hewan Buas Gorila Peniru dengan telunjuknya.
Nagato menghela napas panjang kemudian melanjutkan perjalanannya keluar dari Hutan Cakrawyuha. Kakek Hyogoro membawa pedang dan gulungan yang terlihat digunakan untuk bertarung, Nagato sedikit heran dengan penampilan Kakek Hyogoro yang berbeda.
"Kakek Hyo, berapa lama kita sampai di tempat Iris?" tanya Nagato pada Kakek Hyogoro.
Kakek Hyogoro menatap Hutan Cakrawyuha dari luar, "Sekitar satu minggu, mungkin."
Nagato dan Litha juga menatap Hutan Cakrawyuha cukup lama sebelum melanjutkan perjalanan. Banyak hal yang dilalui di Hutan Cakrawyuha, latihan di Bukit Angin dan Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda cukup membekas di hati Nagato dan Litha. Dan yang terakhir Gua Hati, sosok kebencian yang ada di hati Nagato membuatnya terjatuh ke alam bawah sadarnya dan dia terpaksa harus bertarung melawan Kazan dan Magma.
Kepergian Nagato ke Kediaman Klan Fuyumi juga bersamaan dengan peristiwa yang baru - baru ini terjadi di Pulau Vanovanonia, Kekaisaran Bahamut, Benua Barat. Sebuah kejadian yang akan menyulut para manusia yang terjajah untuk mendapatkan hak kembali kebebasannya. Kelak dalam satu tahun kedepan dunia akan dipenuhi dengan penjahat yang berasal dari negeri terjajah.
Organisasi Shin Jidai yang dipimpin Hiryuu telah berakhir dengan tertangkapnya Hiryuu oleh Kekaisaran Bahamut dan dua pasukan yang dibentuk Aliansi Bangsa - Bangsa yaitu Pasukan Khuhus Penegak Perdamaian dan Hero.
Dalam perjalanan Nagato yang sedang berlari tiba - tiba ia memperlambat langkah kakinya, seperti ada suara yang memanggilnya dan sebuah perasaan gundah yang menyeruak masuk menghampiri tubuhnya. Nagato berhenti dan menatap langit yang terang, matanya terkejut melihat sebuah jalan yang berbentuk bintang - bintang dari arah barat.
__ADS_1
"Jalan? Kenapa pagi hari ada bintang?" Nagato menaikan alisnya karena masih tidak menyadari jika para pewaris kekuatan surgawi saling terhubung satu sama lain.
Kakek Hyogoro berhenti dan melihat Nagato, "Ada apa Nagato? Kenapa kau berhenti berjalan?" tanya Kakek Hyogoro pada Nagato.
"Kakek Hyo, apa kau melihat bintang yang membentuk sebuah jalan?" tanya Nagato pada Kakek Hyogoro.
Kakek Hyogoro menatap langit dalam - dalam karena tidak melihat bintang yang membentuk sebuah jalan, kemudian matanya menatap Nagato keheranan.
"Nagato, ini masih pagi. Jangan bilang kamu masih tidur dan belum bangun sepenuhnya." ledek Litha menghampiri Nagato dan memukul lengan Nagato.
Nagato masih heran karena Kakek Hyogoro dan Litha tidak melihatnya, banyak pertanyaan yang muncul di dalam benaknya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku merasa sedih tapi tidak menangis? Dan entah mengapa, aku merasa seluruh darahku mendidih?" Nagato tersenyum tipis karena merasakan sesuatu yang masih belum dia ketahui.
Tidak berapa lama Kakek Hyogoro, Nagato dan Litha kembali melanjutkan perjalanan. Setiap langkah kakinya, Nagato masih memikirkan tentang hal yang baru saja terjadi. Tapi karena Nagato tidak terlalu peduli, perlahan dia menganggap dirinya sendiri sedang mengigau.
"Apa ini ada hubungannya dengan perempuan bertelinga panjang itu?" batin Nagato meningat sosok roh dari Sang Hitam yang memiliki wujud perempuan berparas cantik dan bertelinga panjang. Nagato juga masih tidak tahu bagaimana caranya menemui Roh Sang Hitam yang berada di alam bawah sadarnya.
Beberapa jam setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras stamina dan tenaga, Kakek Hyogoro mengajak Nagato dan Litha untuk berteduh di bawah pohon yang rindang. Angin yang berhembus dengan kencang membuat gerah tubuh menjadi hilang.
Nagato berdiri dan bersandar pada pohon, tangannya mengambil pedang peninggalan ayahnya dan mencoba untuk melepaskannya. Sarung pedang yang berwarna hitam itu terlihat tidak mau melepaskan pedang yang telah menjadi bagiannya.
"Nagato, minum ini." Kakek Hyogoro ingin menguji Nagato, tangannya memegang botol arak dan menawarkannya pada Nagato.
"Maaf Kakek Hyo, aku masih memegang perkataan mendiang ibuku." ujar Nagato menatap botol arak yang dipegang Kakek Hyogoro.
"Mungkin itu akan menjadi sumpah seumur hidupku. Satu, aku tidak akan meminum - minuman keras. Dua, aku akan bertindak sesuai kata hati, jangan takut bertindak karena benar. Tapi takutlah bertindak karena sebuah kesalahan," Nagato menatap langit dan menyandarkan kepalanya di pohon, ketenangan ini membuat Nagato mengingat Sarah yang sedang mengelus kepalanya.
Kakek Hyogoro tertawa mendengar perkataan Nagato, "Nagato, kau adalah muridku. Aku tidak menyangka kau akan berkata seperti itu."
Nagato menaikan alisnya dan menatap Kakek Hyogoro, "Aku memang muridmu, tapi aku berbeda denganmu."
__ADS_1
Litha tersenyum sambil menutup mulutnya karena Nagato selalu kewalahan ketika berdebat dengan Kakek Hyogoro.
"Baiklah. Aku puas, mari kita lanjutkan perjalanan kita." Kakek Hyogoro berdiri dan menepuk - nepuk celananya.
"Nagato, diantara Iris dan Litha. Mana yang kau suka?" tanya Kakek Hyogoro pada Nagato.
Nagato dan Litha yang sedang berdiri berdampingan terdiam, tubuh mereka berdua kaku karena pertanyaan Kakek Hyogoro.
Nagato melirik Litha dan memperhatikan wajah Litha dengan seksama, banyak yang dia lalui bersama Litha. Tentu Litha adalah sosok gadis yang menempati hati Nagato. Tapi Nagato juga tidak sadar dengan perasaannya karena dia menganggap Litha sebagai seorang teman seperguruan yang ingin dia lindungi dan dia cintai layaknya keluarga, hati Nagato terikat dengan Iris karena perjodohannya dengan gadis dingin anak dari Shirayuki itu. Nagato ingin melihat apakah Iris masih sama atau sudah berbeda, jika Iris telah menemukan seorang lelaki yang dia suka dan lelaki itu bukan dirinya maka Nagato harus rela melepaskan Iris.
Litha merapatkan giginya karena takut mendengar jawaban Nagato. Setelah hidup bersama Nagato beberapa tahun ke belakang tentu saja Litha menyadari jika Nagato sama sekali tidak menyadari perasaannya pada Nagato.
Setelah diam cukup lama, Kakek Hyogoro tertawa melihat ekspresi dua muridnya yang malu - malu dan kebingungan.
"Nagato, jangan pernah permainkan perasaan hati perempuan. Kekuranganmu yang lain itu kamu orangnya tidak peka. Kamu harus lebih memperhatikan sekelilingmu." Kakek Hyogoro mengelus rambut Nagato.
Nagato melihat Litha yang memalingkan wajahnya, perkataan Kakek Hyogoro membuat Nagato sadar jika Litha selama ini memendam perasaan pada dirinya.
"Litha..." ucap Nagato dengan wajah yang sedikit memerah.
Litha melihat Nagato, "Apa?" Matanya menatap wajah Nagato yang terlihat lucu itu.
"Nagato, kamu terkadang terlihat dingin tapi terkadang juga terlihat lucu dan peduli. Itulah yang kusuka darimu..." ujar Litha menutup mulutnya menahan tawa.
Perkataan Litha membuat Nagato diam dan kali ini perasaannya tak menentu. Tawa Litha membuat Nagato malu.
"Litha, ayo jalan. Kamu masih menertawaiku." Nagato mengelus rambut Litha sebelum melangkahkan kakinya.
"Nagato, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku ingin membuka matamu tentang arti hidup, karena kau selalu saja ingin menuntaskan ambisimu untuk membalas dendam." hati Litha menatap punggung Nagato yang kian menjauh darinya.
"Aku akan mengisi lubang hitam yang menganga dihatimu dengan cinta dan kasih sayang, Nagato."
__ADS_1