
Beberapa pendekar yang melatih para murid menyapa Arta yang berjalan dengan pelan menghampiri mereka.
"Selamat pagi Guru Besar."
"Selamat pagi Guru Besar Arta."
Para pendekar yang sedang melatih dan para murid yang sedang berlatih menyapa Guru Besar dari Klan Kitakaze yang bernama Arta.
Arta hanya tersenyum sambil terus berjalan pelan mendekati mereka, setelah itu dirinya menyuruh para murid untuk duduk melingkar dilapangan yang cukup luas yang berada di kediaman Klan Kitakaze.
Arta menyuruh para murid untuk berdoa terlebih dahulu sebelum memulai latihan sparring antar siswa ini.
Kemudian Arta berdiri ditengah - tengah lingkaran para murid dan menyuruh dua orang murid maju, Renji dan Takao maju secara bersamaan. Setelah itu Arta mengingatkan kembali peraturan sparring atau sambung sebelum membiarkan kedua muridnya memulai pertarungan.
"Ingat, kepala dan ******** ...?!" Arta menatap tajam Renji maupun Takao.
"Iya, Guru Besar, murid akan mengingatnya." Renji menundukkan kepalanya pada Arta setelah itu dirinya menatap tajam Takao.
Takao hanya mengangguk pelan mendengar peringatan dari Arta dan matanya terus tertuju pada Renji karena dirinya masih kesal atas tindakan pemuda yang akan menjadi lawannya karena telah membela Nagato.
"Mundur beberapa langkah, ambil jarak!" Arta menjadi wasit di latihan sparring kali ini, Nagato sungguh beruntung bisa melihat langsung Guru Besar dari Klan Kitakaze.
Renji mengambil pasang santai sambil memalingkan wajahnya, dirinya tidak melihat Takao, sedangkan Takao meremehkan Renji karena umurnya lebih tua dan merasa lebih senior dari pemuda itu.
Nagato menghela nafas panjang melihat kedua pemuda itu.
"Seperti apapun lawanmu jangan pernah sesekalipun meremehkannya!" benak Nagato yang sedang melihat pertarungan antara Renji melawan Takao itu.
"Mulai ... "
Ketika aba - aba dari Arta dimulai, Renji bergerak pelan mendekati Takao sambil mencoba mengamati gerakan lawannya itu.
Takao maju dengan penuh percaya diri, ketika dirinya sudah berhadapan dengan Renji, tanpa pikir panjang Takao memukul dan menendang lawannya itu.
Renji mencoba menepis setiap pukulan dan tendangan Takao sambil berusaha membanting tubuh lawannya itu namun gagal.
"Sial, dia hampir menangkap kakiku!" gumam Takao yang sedang mengatur nafasnya.
Renji mundur beberapa langkah kebelakang setelah itu dirinya mencoba mengisi tenaga dalam di kedua tangannya untuk mengeluarkan jurus angin milik Klan Kitakaze.
__ADS_1
Melihat gerakan tangan dari lawannya itu, Takao juga mengisi tenaga dalam ke tangannya dan hendak menggunakan jurus yang sama yang dilakukan oleh Renji.
"Jurus Angin Utara : Tapak Angin."
Teriak keduanya secara bersamaan sambil menggunakan langkah yang hanya dipelajari di Klan Kitakaze yaitu Langkah Angin. Ketika Renji maupun Takao melepaskan jurusnya angin berbentuk telapak tangan walau tak kasat mata melesat dengan cepat kearah tubuh keduanya, Arta tersenyum melihat kedua murid jenius dari Klannya itu.
Jurus milik Renji mengenai perut Takao, sedangkan jurus milik Takao juga mengenai perut Renji.
"Berhenti!" perintah Arta ketika keduanya sudah menggebu - gebu emosinya, karena kedatangan Arta yang menyuruh mereka bertarung adalah untuk melihat perkembangan mereka sampai sejauh mana.
Renji dan Takao kembali duduk dilingkaran para murid lainnya yang menunggu giliran untuk maju.
Litha dan yang lainnya ikut menonton latihan sparring itu bersama Nagato, mereka terlihat sangat antusias.
Kuina hanya tersenyum sambil terus mengamati dari kejauhan, menurut gadis itu potensi para murid di Klan Kitakaze cukup mengejutkan dan menjanjikan.
Nagato merasa senang dan terlihat antusias ketika melihat Renji bertarung melawan Takao, namun wajah Nagato tetap terlihat tenang karena dirinya menyembunyikan perasaan senangnnya itu.
Arta menatap para murid yang menunggu giliran tanpa menunggu waktu lama dua orang maju, keduanya bertarung dengan seimbang juga sama seperti sebelumnya.
Waktu berjalan dengan cepat, tidak terasa empat jam telah berlalu. Arta kemudian menyuruh murid yang lain agar maju.
"Guru, tetapi lawanku adalah seorang perempuan?" ucap salah seorang murid laki - laki yang merasa ragu bertarung melawan murid perempuan. Arta tidak menjawab pertanyaan murid itu dan hanya menatap tajam hingga membuat murid yang bertanya dan mengeluh itu menelan ludah.
Murid laki - laki itu bernama Kitakaze Kenji, seorang pemuda berumur delapan tahun sedangkan murid yang perempuan bernama Kitakaze Yuri, gadis itu berumur sepuluh tahun.
"Apa kau takut melawanku, pengecut?" gadis itu memprovokasi lawannya.
"Hah? Apa katamu perempuan tomboy!" balas Kenji yang terpancing provokasi Yuri.
"Baiklah, akan kuhajar wajah bodohmu itu?" gadis itu menatap tajam lawannya.
"Seperti yang kuinginkan." balas Kenji dengan penuh percaya diri.
Mereka berdua adalah murid jenius dari Klan Kitakaze sama seperti Renji dan Takao.
Arta menyuruh mereka berdua untuk mengambil jarak sambil memperhatikan kedua murid jenius dari klannya itu.
"Mulai ... " Arata memperhatikan kedua muridnya itu.
__ADS_1
Kenji dan Yuri menggunakan langkah angin sambil beradu pukulan satu sama lain, kekuatan Kenji terlihat lebih kuat dari Yuri tetapi gadis itu terus membalas pukulan lawannya itu dan dengan tenang seperti merencanakan serangan balik.
"Lelaki hanya otot yang ada dipikirannya!" gumam Yuri sambil menjaga jarak dari Kenji.
"Ada apa? Apa kau takut denganku, tomboy?" Kenji tersenyum sinis melihat Yuri yang mundur beberapa langkah darinya untuk menjaga jarak.
Yuri mengalirkan tenaga dalamnya di pisau telapak tangannya setelah itu dirinya mencoba memperkirakan serangan Kenji.
'Dia merencanakan sesuatu, tomboy sialan itu!' Kenji juga mengalirkan tenaga dalamnya hanya saja dia mengalirkan tenaga dalam itu di mulutnya untuk menghembuskan angin dari mulutnya.
"Hembusan Angin Tak Kasat Mata"
Dada Kenji mengembung ketika dirinya mengambil nafas yang panjang, kemudian menghembuskan pusaran angin yang lumayan besar dari mulutnya dan melesat lurus ke arah Yuri.
Kenji tersenyum sinis melihat Yuri dan merasa bahwa dirinya sudah berada diatas angin.
Hembusan angin tak kasat mata adalah salah satu jurus dasar dari Klan Kitakaze, dimana semua pendekar bisa menggunakannya namun seorang siswa sangat jarang ada yang bisa melakukannya diumur yang begitu muda.
Para siswa yang menonton terkejut karena Kenji menggunakan jurus seperti itu hanya untuk melawan seorang perempuan.
Yuri tersenyum melihat Kenji yang meremehkan dirinya, gadis itu menggunakan langkah angin untuk menghindari hembusan pusaran angin yang mengarah ke arahnya itu.
'Apa dia menghindari seranganku!' Kenji mengerutkan dahinya dan sadar bahwa dirinya telah meremehkan Yuri.
Arta menyipitkan matanya ketika melihat pisau tangan Yuri terlihat begitu terisi tenaga dalam.
"Sabit Angin"
Yuri mengayunkan kedua tangannya dan keluar sebuah angin yang padat berbentuk sabit yang melesat dengan cepat ke arah Kenji. Arta yang melihatnya terkejut karena itu adalah jurus yang digunakan untuk membunuh.
"Diumurnya yang masih muda dia sudah mampu menggunakan jurus itu?" Arta mengerutkan dahinya walau didalam benaknya dirinya merasa bangga dengan tunas muda Klan Kitakaze. Arta meniupkan angin dari mulutnya hingga angin padat berbentuk sabit yang melesat dengan cepat kearah Kenji terhempas mengarah kepohon yang ada dihalaman latihan, ketika jurus milik Yuri mengenai pohon tersebut, pohon itu tumbang dan rebah secara perlahan ke bawah dan menyentuh tanah.
Mata Kenji melebar melihat jurus yang digunakan Yuri, dalam hatinya dia merasa begitu lega karena sabit angin tidak mengenai tubuhnya.
'Syukurlah, jika tidak ada guru maka nyawaku sudah melayang' Kenji mencoba mengatur nafasnya kemudian dirinya mengakui kekalahannya dengan Yuri.
Semua murid yang melihat jurus Yuri juga terkejut dan takjub karena gadis itu benar - benar seorang jenius muda.
Kuina dan yang lainnya terkejut melihat hal itu, disisi lain Nagato tersenyum tipis.
__ADS_1
"Menarik!" batin Nagato ketika melihat pertarungan Kenji melawan Yuri.