
Nagato menatap Emi dari balik topeng rubah putihnya. Entah kenapa dia merasa pusing sendiri mendengar perkataan Emi.
"Nenek Emi. Aku adalah anak yang hanya mempunyai ambisi. Dan ambisi itu kutujukan pada orang yang menguasai Azbec, kelompok yang telah menghancurkan kehidupan Litha dan orang-orang yang telah mencemarkan nama baik ayahku maupun margaku!" Nagato ingin memastikan perkataan Emi.
"Nagato. Apa aku harus mengatakan padamu tentang hal ini sekali lagi, penyakitmu itu bisa sembuh jika kau bersetubuh dengan Litha dan cucuku, baik Iris maupun Hisui." Emi membalas perkataan Nagato pelan.
Kali ini Nagato menggelengkan kepalanya tidak percaya, mengapa Emi sangat ingin menolong dirinya. Jujur jika umurnya hanya akan sampai lima belas tahun, Nagato hanya ingin memastikan jika Iris, Litha dan yang lainnya bahagia. Bahkan dia terkadang merasa putus asa dengan dendamnya.
"Iris, Litha dan Hisui. Mereka bertiga sama sepertimu, satu-satunya cara untuk menyembuhkan penyakit jantungmu adalah bersetubuh dengan salah satu dari mereka." Emi kembali berkata dengan pelan pada Nagato.
"Untuk kutukan itu, sepertinya aku mempunyai cara untuk menekannya. Tapi ingat Nagato kau harus memilih salah satu dari tiga gadis yang menyukaimu itu. Jika mereka bersetubuh denganmu sudah dipastikan kau akan terbebas dari penyakit jantungmu. Bahkan Kutkukan Kuno Dewa Kematian!" Nagato mengerti kenapa Emi ingin menolongnya, perempuan yang duduk disampingnya itu menganggap Nagato sebagai harapan terakhir Klan Kagutsuchi.
Meskipun begitu, tetap saja Nagato tidak bisa berpikir jernih, pikirannya melayang entah kemana setelah mendengar perkataan Emi yang menyuruh Nagato memilih salah satu dari tiga gadis untuk menikah dini dengannya.
Jujur perasaan Nagato lebih memilih hidup damai dan bahagia itulah keinginannya, tetapi dia ingin memilih itu seandainya bisa. Pikiran kepalanya berkecamuk penuh kebencian dan tidak bisa diam. Seakan-akan kejadian masa lalunya terus terngiang di dalam pikiran. Dan masa lalu yang termaafkan masih tetap berada di hatinya dan menggenang.
"Aku tidak bisa melakukannya, mereka bertiga mempunyai masa depan yang cerah. Tapi tidak untukku." Nagato menghela napas panjang. Jika dipikir kembali, mengenal Litha, Iris dan Hisui adalah takdir dari perjalanan hidupnya sendiri.
"Jika suatu saat aku tiada dan mereka telah bahagia bersama yang lain, maka itu juga akan menjadi kebahagiaanku. Aku masih terlalu kecil, dan aku tidak pernah berpikir untuk menikah dini." Nagato sendiri malu mengatakan itu kepada Emi walau suaranya pelan dan yang bisa mendengarnya hanyalah Emi.
"Dulu aku sempat berpikir untuk menikah dengan perempuan yang sama seperti ibuku. Tetapi itu hanya omong kosong, takdir merenggut senyuman ibuku, dan aku sudah lupa dengan perasaan itu. Walau mengingatnya, tetapi hatiku terlalu gelap dan telah jatuh di jurang tak berdasar." Nagato dengan sendu menambahkan perkataannya.
"Jangan putus asa dulu, Nagato. Aku rasa ada Air Suci atau Senjata Kuno yang dapat memberi kekuatan penyembuhan pada orang yang meminum dan menggunakannya." Emi melirik Nagato dan berkata, "Dulu orang yang bernama Hiryuu pernah datang menemuiku, dia pernah berkata tentang Air Suci, Arwah Suci dan Senjata Kuno yang memiliki kekuatan di luar nalar. Kekuatan itu dapat membuat orang yang terpilih memiliki kekebalan terhadap efek penuaan dini dan kematian alami."
Nagato cukup terkejut mendengar perkataan Emi. Bagaimana tidak, nama Hiryuu adalah salah satu dari Lima Penguasa. Sebuah organisasi yang kekuatannya ditakuti Aliansi Bangsa-Bangsa dan keberadaannya sangat mengancam kedamaian dunia.
"Hiryuu juga pernah memberitahu tentang keabadian. Dunia sangat luas, aku sudah terlalu tua. Andai ada Arwah Suci Phoenix atau Air Suci Tipe Langka : Jenis Penyembuh Air Mata Phoenix! Nagato. Aku akan melakukan apapun demi mendapatkan kekuatan itu untuk menyembuhkanmu. Kau adalah harapan terakhir yang dimiliki teman lamaku yang bernama Sura dan dia adalah kakekmu.
__ADS_1
"Aku rela mengorbankan nyawaku demi kalian tunas muda yang baru tumbuh. Kalian lah yang akan menjadi saksi mata akhir dari Benua Ezzo. Jangan menyerah Nagato. Mungkin ini masih terlalu dini, tapi kau harus menikahi salah satu dari ketiga gadis yang menyukaimu itu." Emi menghela napas panjang karena berbicara penjang lebar kepada Nagato.
"Aku akan memikirkannya tapi tetap saja, Nenek Emi..." Nagato menghela napas panjang tidak melanjutkan perkataannya. Dia menyadari semua itu lebih dari siapapun, perlahan dia memejamkan matanya dan melirik Emi.
"Aku akan membicarakannya dengan Kakek Hyogoro. Dia adalah kakekku. Aku ingin dia yang memberi pendapat tentang hal ini. Dan satu hal lagi, Nenek Emi harus ingat jika salah satu dari Iris, Litha dan Hisui tidak setuju maka lupakanlah pembicaraan tadi. Kami masih terlalu dini saling menyukai, hati manusia itu akan berubah seiring berjalannya waktu. Aku sangat yakin dengan hal itu." Nagato mengakhiri pembicaraan. Dia berharap Emi tidak mengajaknya berbicara membahas tentang hal itu lagi, untuk anak seusianya, Nagato sangat terkejut jika dia bisa sembuh dari penyakit jantungnya dengan cara bersetubuh.
Pikirannya menari-nari dan kepalanya berdenyut karena dia pusing sendiri mengingat perkataan Emi. Perlahan dia mencoba melupakannya dengan memejamkan matanya, tetapi di dalam kepalanya terlintas senyuman Iris, Litha dan Hisui.
"Cih, kenapa aku seperti ini?!" Nagato berdecak kesal.
"Maaf Nagato. Sepertinya Nenek Emi terlalu cepat membicarakan hal ini. Karena kemarin malam kamu sudah berkata jujur tentang identitasmu, maka aku semalaman terus berpikir untuk membicarakan kebenaran ini padamu." Emi kembali mengajak Nagato berbicara. Mengingat usianya yang sudah semakin menua, tentu Emi ingin mengajak Nagato berbincang kembali.
Nagato hanya menggumam mendengar perkataan Emi. Dia tidak menyangka ternyata sosok Emi sangat khawatir padanya. Sampai-sampai dia menyuruh Nagato memilih dua cucunya untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Nagato jika kau tidak suka dengan anak muda seperti Iris, Litha dan Hisui. Ada satu perempuan yang bisa menyembuhkanmu." Nagato sedikit tertarik mendengar perkataan Emi.
"Shirayuki." Emi tertawa pelan setelah mengucapkan nama anak pertamanya.
"Hah?" Nagato tak habis pikir mendengar perkataan Emi.
"Shirayuki sampai tua tetap jadi perawan. Cinta dan sayangnya telah tenggelam bersama masa lalunya." Emi tersenyum kecut mengingat anak pertamanya yang sangat mencintai Pandu.
"Nenek Emi jangan bicarakan hal itu padaku. Bibi Shirayuki mempunyai rahasia seperti ini tetapi Nenek Emi memberitahunya padaku." Nagato berkata pelan pada Emi sambil mencoba untuk berdiri berpindah tempat duduk. Jujur dia merasa mulai lelah sendiri mendengar perkataan Emi.
Nagato berdiri dan berpindah duduk disamping Litha. Sedangkan Emi ingin berbicara dengan Nagato kembali tetapi dirinya ditatap oleh Shirayuki dengan tatapan yang penasaran.
"Naga!" Iris melirik Nagato yang duduk disampingnya.
__ADS_1
Nagato melirik Iris yang duduk disamping kirinya. Kemudian dia memejamkan matanya karena merasa malu mengingat perkataan Emi.
"Aku menyerah bicara dengan Nenek Emi. Dia terlalu banyak bicara padaku." Nagato dengan nada yang tidak semangat membalas tatapan Iris yang terlihat dingin padanya.
"Nenek memang seperti itu. Dia seenak saja menjodohkanku! Apa yang kamu bicarakan dengan nenekku, Naga?" Iris kini terlihat lembut pada Nagato.
"Tunggu..." Nagato membatin mengingat perkataan Emi. Perbincangannya dengan Emi tentu dia tidak bisa memberitahukannya pada gadis cantik yang duduk di sebelah kirinya.
"Nagato. Kamu kenapa? Aku rasa kamu sedang gugup. Apa terjadi sesuatu?" Litha yang sedari tadi diam mulai ikut mengobrol bersama Iris dan Nagato.
Litha tumbuh bersama Nagato sejak umurnya lima tahun. Gadis manis itu tahu jika Nagato terdiam cukup lama ketika ditanya, maka pemuda itu sudah pastinya sedang merasa gugup, gelisah atau malu hingga hanya bisa diam.
Nagato melirik Litha yang duduk di samping kanannya. Kali ini dia merasa lebih baik tetap duduk disamping Emi.
"Aku hanya berpikir tentang masa depanku..." Nagato menyilangkan kedua tangannya di dada. Kemudian dia bersandar di bangku penonton.
"Masa depan? Kamu sudah berjanji ingin menemani perjalananku. Oh iya, Iris, bagaimana kalau kita betiga berjanji?" Litha tersenyum lembut pada Iris yang terlihat dingin. Gadis manis itu selalu memberikan suntikan tersendiri pada Nagato dan Iris.
"Janji. Boleh juga, aku juga penasaran dengan perjalanan yang kamu lakukan, Litha." Iris membalas senyuman lembut Litha.
"Hika tidak ajak. Dasar Litha sama Iris jahat!" Hika yang sedari tadi mendengar obrolan temannya itu mulai kesal sendiri.
Nagato menghela napas panjang, dia merasa lega karena kedua gadis yang ada disamping kiri dan kanannya tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Kalian diam!" Iris, Litha dan Hika yang sedang berbicara langsung menatap Nagato. Saat ini Nagato ingin mengalihkan pembicaraan para gadis yang duduk didekatnya.
"Perhatikan baik-baik lawan dari Tika. Dia membawa dua pedang." Nagato menatap tajam peserta Turnamen Harimau Kai yang akan menjadi lawan dari Tika.
__ADS_1
"Hika khawatir sama Tika..." Mata Hika berkaca-kaca merasa khawatir dengan saudari kembarnya itu.