
Shirayuki menghabisi setiap orang yang menghadangnya. Dia terus melangkahkan kakinya mencari keberadaan Nagato, Iris dan Litha. Tidak butuh waktu lama bagi Shirayuki untuk menemukan keberadaan ketiga anak muda yang sedang bertarung melawan pasukan militer Kekaisaran Rakuza bersama Hanabi.
Shirayuki merasa ada yang aneh dengan Ilusi Hutan Cakrawyuha. Orang yang menjadi dalangnya, orang yang meniup seruling tidak diketahui keberadaannya. Bahkan berkali-kali medan di Ilusi Hutan Cakrawyuha berganti-ganti.
Shirayuki hendak menghampiri Nagato, Iris, Litha dan Hanabi namun dirinya berpindah kesl suatu tempat. Sebuah tempat yang dipenuhi dengan tanah yang kering. Tempat kekeringan.
”Pengguna seruling ini!” Shirayuki mengumpat dalam hatinya dan melepaskan hawa dingin untuk melampiaskan kekesalannya.
Tak lama sekitar seratus prajurit militer Kekaisaran Rakuza datang secara tiba-tiba mengepung Shirayuki. Selepas Shirayuki menekan hawa dingin miliknya. Seratus prajurit militer Kekaisaran Rakuza datang menyerang secara bersamaan.
Shirayuki membuka telapak tangannya dan membentuk pedang es dengan tenaga dalamnya. Hawa dingin yang keluar dari tubuhnya membuat seratus prajurit militer Kekaisaran Rakuza menjaga jarak darinya, namun mereka yang terlambat menyadari langsung terkena tebasan pedang Shirayuki.
“Kalian laki-laki yang tidak tahu diri! Menyerang seorang wanita secara bersamaan adalah hal yang membuktikan jika kalian semua adalah pecundang!” Shirayuki berkata dengan sinis pada prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang mengepungnya.
Serangan dari berbagai arah dapat diatasi Shirayuki dengan mudah. Tebasan pedangnya menciptakan lintasan es yang membeku di udara karena bercampur dengan darah dari orang yang terkena tebasannya.
“Mereka selalu saja berdatangan! Aku harus menemukan orang meniup serulingnya!” Shirayuki membatin dalam hatinya dan bergerak dengan kecepatan tinggi menyerang prajurit militer Kekaisaran Rakuza.
Ledakan yang membuat prajurit militer Kekaisaran Rakuza terpental terjadi ketika Shirayuki menebaskan pedangnya menciptakan tebasan yang membentuk sabit es. Serangannya membentur tanah dan meledakkan tanah yang terkena tebasannya.
Serangan Shirayuki membuat prajurit militer Kekaisaran Rakuza membentuk formasi pertahanan. Mereka mengira Shirayuki telah kehabisan tenaga dan dapat dikalahkan dengan mudah. Namun tebakan prajurit militer Kekaisaran Rakuza salah. Shirayuki masih dapat bertarung dengan segenap kekuatannya yang tersisa. Selagi berusaha, maka akan ada harapan.
Prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang membentuk formasi pertahanan membuat Shirayuki melepaskan aura tubuhnya. Hawa dingin mencekam mulai terasa disekelilingnya. Tanah kekeringan membeku ketika Shirayuki melebarkan hawa dingin dari tubuhnya itu. Hawa dingin tersebut mulai menyebar dan membekukan kaki prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang membentuk formasi pertahanan.
“Sangat disayangkan...” Shirayuki tersenyum tipis dan memainkan pedangnya menghabisi lawannya yang tidak dapat bergerak karena tubuh mereka membeku.
Permainan pedang Shirayuki begitu anggun. Tebasannya terus mengayun mengincar prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang masih berusaha menyerangnya. Sekitar tiga puluh serangan yang dilepaskan Shirayuki, akhirnya prajurit militer Kekaisaran Rakuza telah tembang semuanya.
Prajurit militer Kekaisaran Rakuza datang kembali ke Ilusi Hutan Cakrawyuha selang lima menit setelah Shirayuki menekan hawa dingin dan mulai mencari keberadaan Nagato, Iris dan Litha.
“Kalian sangat merepotkan!” Shirayuki melepaskan kembali hawa dingin yang besar ketika prajurit militer Kekaisaran Rakuza datang kembali untuk mengepungnya.
___
Sementara itu Litha yang sedang bersama Nagato, Iris dan Hanabi juga dipindahkan ke tempat yang berbeda. Sekarang gadis manis itu berada di sebuah padang rumput yang luas. Angin semilir menabrak tubuhnya. Semua itu terasa sangat nyata.
‘Walau semua ini ilusi, tetapi perasaan dan angin yang menerpa tubuhku ini. Semuanya sangat nyata.’ Litha berkata dalam hatinya dan menyarungkan pedangnya kembali secara perlahan.
__ADS_1
Ketika Litha mencoba mengembalikan tenaganya, hawa nafsu membunuh dalam jumlah besar datang dari tiga puluh Manusia Hewan Buas yang datang secara tiba-tiba ke dalam Ilusi Hutan Cakrawyuha.
Sepuluh Manusia Hewan Buas yang memiliki bentuk Serigala Api membentuk formasi pertahanan dan menyerang Litha secara bergantian. Bola-bola api yang dilepaskan dan keluar dari mulut Serigala Api ditangkis oleh Litha dengan permainan pedangnya yang membentuk tebasan air.
Bola-bola api itu meledak di tanah. Litha menghindari serangan bola-bola api yang dilancarkan Manusia Hewan Buas, Serigala Api. Langkah kakinya begitu gesit. Litha memiliki darah yang sama dengan Nagato.
Andai Nagato dan Litha belajar sihir sejak kecil, mereka berdua memiliki kekuatan dari leluhur para penyihir. Ras Elf yang mengalir di dalam darah keturunan Keluarga Von.
“Sirih...”
Litha mengolah pernapasan dan bergerak dengan tempo kecepatan lambat. Aura disekitar berubah dan memancarkan aura yang tenang dan hangat.
Litha mulai merasakan mana yang berada disekitarnya. Secara perlahan dia mulai menggunakan kekuatan sihirnya. Sihir dasar yang dia pelajari dari ibunya dan melihat pertarungan Serlin saat dalam perjalanan menuju Hutan Cakrawyuha.
“Weapon Aura..." Litha memanipulasi mana disekitarnya agar menyelimuti pedangnya. Bilah pedangnya sekarang berwarna biru terang, “Blue Aura...”
Litha terus bergerak dan menghindari dengan gerakan tempo kecepatan yang lambat. Walau lambat, tetapi Litha dapat menghindari bola-bola api yang melesat cepat ke arahnya.
Dengan melakukan konsentrasi secara penuh, Litha mulai melepaskan kekuatannya dan bergerak dengan kecepatan tinggi ke arah sepuluh Manusia Hewan Buas, Serigala Api.
Litha menebaskan pedangnya membunuh lima Manusia Hewan Buas, Serigala Api, dalam sekali tebasan pedangnya.
“Selanjutnya kalian!”
___
Di tempat yang dipenuhi pepohonan sakura. Hanabi terjebak dalam situasi yang membuatnya menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Pohon-pohon sakura tumbuh dengan suburnya di suatu tempat Ilusi Hutan Cakrawyuha.
“Aku terpisah dari mereka bertiga...” Hanabi menggumam pelan sambil memejamkan matanya mencoba merasakan hawa keberadaan disekitarnya. Tidak ada satupun hawa keberadaan aura milik Nagato, Iris dan Litha.
Selepas Hanabi menekan auranya. Tiga puluh Manusia Hewan Buas mengepungnya dari segala arah. Suara raungan Manusia Hewan Buas tersebut membuat daun-daun sakura jatuh berguguran. Beberapa dari Manusia Hewan Buas bahkan merusaknya.
Hanabi mengolah pernapasan dan melepaskan aura tubuhnya sebelum bergerak menyerang Manusia Hewan Buas yang merobohkan pohon sakura.
Permainan pedang Hanabi sangat cepat. Pedang sakura yang terbentuk dari tenaga dalamnya dan aura tubuhnya itu menebas tubuh Manusia Hewan Buas yang merobohkan pohon sakura.
Hanabi memotong kaki Manusia Hewan Buas sebelum menyerang bagian tubuh yang lainnya. Dia sadar harus bisa menghindari kekuatan yang tidak perlu dengan membuang aura secara tidak jelas.
__ADS_1
Hanabi sebisa mungkin membunuh Manusia Hewan Buas menggunakan tenaganya sendiri. Tebasan pedangnya kian dia percepat. Tempo kecepatan ayunan pedangnya membunuh lima Manusia Hewan Buas dalam lima kali serangannya yang langsung mengincar titik vital Manusia Hewan Buas.
Manusia Hewan Buas yang tersisa membentuk formasi pertahanan dan mengepung Hanabi. Manusia Hewan Buas yang memiliki bentuk wujud dari Hewan Buas, Kalajengking Merah Api, melepaskan hawa panas ke arah Hanabi.
Hanabi menghela napas panjang dan mengeluarkan jurusnya, “Tapak Sembilan Pohon Sakura Berguguran!”
___
Salju turun ditempat Iris. Gadis cantik itu berada di sebuah tempat yang ada di Ilusi Hutan Cakrawyuha. Tempat yang memiliki tanah seputih salju dan pohon-pohon runcing yang tumbuh dengan suburnya disekitarnya.
“Ternyata di tempat tinggal Naga dan Litha ada tempat seperti ini. Aku jadi ingin pergi ke Hutan Cakrawyuha.” Iris tersenyum tipis sambil mengamati sekelilingnya.
Tak lama Manusia Hewan Buas yang memiliki bentuk wujud Hewan Buas, Beruang Es, datang dari arah pepohonan yang lebat dengan daun-daun yang runcing.
Iris melepaskan hawa dingin dan menatap Manusia Hewan Buas, Beruang Es tersebut. Manusia Hewan Buas yang akan menjadi lawan Iris berbeda dari karena Manusia Hewan Buas itu terlihat lebih mirip dengan manusia yang bertubuh besar dan menggunakan jaket dengan bulu-bulu yang tebal.
“Pedang Es...” Iris membuka telapak tangannya dan menciptakan pedang es dari tenaga dalamnya sebelum bergerak menyerang Manusia Hewan Buas, Beruang Es.
Lima Manusia Hewan Buas, Beruang Es, datang dengan kecepatan tinggi menyerangnya. Pukulan yang dilapisi es itu berbenturan dengan pedang milik Iris.
Serangan dari berbagai arah dilancarkan Manusia Hewan Buas, Beruang Es. Iris terkejut karena melihat Manusia Hewan Buas yang menyerangnya menggunakan ilmu bela diri tangan kosong. Pukulan beserta tendangannya sangat bertenaga.
Iris membutuh tenaga lebih untuk membunuh lima Manusia Hewan Buas, Beruang Es. Setelah bertukar lebih dari dua puluh serangan tangan kosong. Akhirnya Iris berhasil membunuh lima Manusia Hewan Buas, Beruang Es, menggunakan pukulan tapak tangannya.
“Tapak es ini harus kulatih lagi..." Iris bergumam pelan sebelum kembali menyerang Manusia Hewan, Beruang Es yang lainnya.
___
Darah berceceran serta tiga puluh Manusia Hewan Buas mati oleh Nagato. Napas Nagato masih terengah-engah. Di suatu tempat dengan dataran tinggi. Nagato melawan Manusia Hewan Buas seorang diri.
“Sepertinya orang yang menggunakan seruling ini berniat memisahkan kami!” Nagato mengibaskan pedangnya dan mengumpat kesal.
Tak lama tanpa Nagato mencarinya. Gunter menunjukkan dirinya sendiri dihadapan Nagato.
“Kau harus lumpuh ditanganku! Kau seperti hewan liar, Fuyumi Nagato!” Gunter berteriak dan datang dari arah hutan.
Gunter kembali meniupkan serulingnya dan membuat lima puluh Manusia Hewan Buas mengepung Nagato dari segala arah.
__ADS_1