Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 209 - Fuyumi Iris vs Seifu Kirisaki


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya. Dua hal yang kalian lakukan itu sangat menghargai author untuk terus berkarya.


Selamat menikmati.


____


Gyuki menatap ke arah bangu penonton yang ditempati oleh Klan Fuyumi. Pandangan matanya terarah pada Ichiba, Hika dan Tika.


Senyuman bahagia terlihat di wajah Gyuki. "Aku tidak pernah memanjangkan rambutku seumur hidupku. Bahkan tidak banyak orang yang tidak mengenalku saat rambutku tumbuh dengan panjang seperti ini. Sejak malam itu, aku terus menyembunyikan identitasku dan kembali menyandang nama Akaramizarawa." Senyuman bahagia yang terlihat sesaat berubah menjadi senyuman yang dipenuhi kesedihan.


Gyuki menarik napas dalam-dalam dan menahannya selama delapan detik, setelah itu dia menghembuskannya secara perlahan-lahan. Setelah suara penonton mulai tidak terlalu bising, Gyuki langsung memimpin dan mulai beralih ke pertandingan selanjutnya.


"Selanjutnya pertandingan kesebelas, babak 32 besar Turnamen Harimau Kai antara Fuyumi Iris melawan Seifu Kirisaki. Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!" Pertandingan kali ini akan semakin menarik mengingat lawan dari Iris adalah pendekar yang termasuk dalam sepuluh pendekar muda jenius.


Di bangku penonton yang ditempati pendekar dari Klan Fuyumi, Nagato tersenyum tipis menatap Iris. "Lawanmu adalah seorang jenius. Apa yang akan kamu lakukan?" Iris melirik Nagato yang bertanya padanya.


"Aku tidak akan melakukan apapun. Aku tetap akan seperti biasa." Iris berdiri dan berjalan menuju tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.


"Iris semangat!" Tika tersenyum melihat Iris yang masih pura-pura terlihat dingin.


"Hika sudah lama tidak melihat Iris terdesak. Raut wajahnya yang tenang itu terkadang membuat Hika sedikit khawatir karena mengingatkan Hika saat Iris kecil..." Hika justru terlihat sedih.


"Iris sudah berubah, begitu juga dengan kita semua, Hika." Tika tersenyum lembut pada saudari kembarnya itu.


Hika mengangguk penuh semangat dan membalas senyuman Tika.


"Hisui, apa kamu menyukai Nagato?" Litha yang sedang berbicara dengan Hisui membuat Hika dan Tika menoleh mereka berdua.


Hisui hanya mengangguk dan tidak menjawab pertanyaan Litha. Kepolosan Hisui membuat pendekar dari Klan Fuyumi yang melihatnya langsung tertawa lirih.


Nagato menghela napas panjang. Pandangan matanya menatap Iris yang sedang berjalan. Litha dan Hisui menyadari perhatian Nagato yang tertuju kepada Iris.


"Sampai kapanpun aku dan Hisui mungkin akan dianggap seperti adiknya. Tidak kurang dan tidak lebih..." Litha membatin dalam hatinya sambil menatap Nagato.


"Bocah manja, apa sepuluh jenius itu benar-benar orang yang kuat?" Nagato bertanya dengan nada yang tenang. Dengan cepat gadis bermata sayu itu menoleh melihat Nagato.


"Sepertinya seperti itu. Apa ada yang mengganggu pikiran Kakak Tampan?" Hisui dengan matanya yang sayu menatap Nagato berbinar-binar.


"Tidak ada, hanya saja aku berpikir kompetisi ini mampu membuatku menemukan jawaban dari pertanyaanku..." Nagato menjawab dengan lirih.


Pikiran Nagato menari-nari tidak bisa diam, sejauh ini dia hanya menemukan sebuah pertanyaan yang lebih banyak daripada jawaban yang dia cari.


Kini Nagato lebih memilih diam dan memusatkan pandangannya ke tengah lapangan tempat pertarungan antara Iris melawan Kirisaki.


Di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau, terlihat disana Gyuki sedang menatap Iris dan Kirisaki yang sudah saling menatap satu sama lain.


Kirisaki memiliki tubuh yang lebih dewasa dari Iris tentunya, gadis berumur enam belas tahun dengan rambut berwarna kuning itu terlihat tidak menyukai Iris.


"Gadis kecil ini sungguh menyebalkan. Hanya karena cantik saja dia sudah berlagak sombong dengan sikapnya yang dingin." Kirisaki membatin kesal dalam hatinya.


"Setiap hari aku melihatnya duduk bermesraan dengan pemuda tampan itu! Tidak kusangka hari ini aku akan membuat perhitungan dengan gadis kecil ini!" Senyuman sinis menyeringai di wajah Kirisaki.


Iris tetap diam dan menunjukkan wajah yang tidak terlalu tertarik, setelah keduanya berdiri selama satu menit, Gyuki mengajukan pertanyaan kepada mereka berdua.


"Pertandingan kesebelas telah ditentukan. Fuyumi Iris, Seifu Kirisaki, apakah kalian tidak keberatan dengan keputusan ini?" Gyuki bertanya pada kedua peserta yang berdiri di depan.


Iris diam tak menjawab, sedangkan Kirisaki merapatkan giginya merasa kesal melihat sikap Iris yang terlihat anggun di depannya.


"Aku tidak keberatan!" Kirisaki langsung mengambil jarak sebelum Gyuki menyuruhnya. Tidak berapa lama Iris mengikuti Kirisaki yang mundur beberapa langkah ke belakang.


Gyuki menghela napas panjang. "Masa muda." Gyuki membatin melihat Kirisaki yang cemburu dengan Iris.


"Pertandingan kesebelas, babak 32 besar Turnamen Harimau Kai antara Fuyumi Iris melawan Seifu Kirisaki dimulai!" Gyuki mundur ke belakang tiga langkah setelah mengumumkan aba-aba pertandingan.


Kirisaki menarik pedangnya dan tersenyum lebar memulai serangan pembukanya. Tebasan pedang yang menciptakan pusaran api melesat cepat ke arah Iris.


Gadis cantik yang terlihat begitu anggun di bawah terik matahari itu hanya diam sambil membentuk pelindung es dengan tenaga dalamnya. Pusaran api yang melurus dan melesat cepat ke arahnya berbenturan dengan pelindung es miliknya.


Perlahan es yang melindungi Iris mencair. Tidak berapa lama serangan susulan dari Kirisaki kembali melesat cepat mengarah padanya.


Iris meniup tebasan pedang Kirisaki yang berbentuk sabit itu dengan hembusan napasnya yang dingin. Sekali lagi serangan Kirisaki digagalkan Iris dengan santai.


"Wajah gadis kecil ini!" Kirisaki membatin penuh kekesalan melihat Iris yang masih tetap berdiri dengan tenang.


Perlahan Kirisaki mengolah pernapasan dan melepaskan aura tubuhnya yang berwarna merah ke arah Iris.


Melihat Kirisaki yang mengeluarkan aura intimidasi ke arahnya, Iris juga melakukan hal yang sama dengan lawannya tersebut.


Benturan aura tubuh berwarna merah dan putih terlihat jelas di udara. Kirisaki tersenyum lebar melihat Iris melakukan hal yang sama dengannya. Setelah berbenturan selama dua menitan, aura tubuh yang berwarna merah milik Kirisaki berubah menjadi api, sedangkan aura tubuh Iris berubah menjadi es.


Kirisaki mengaliri pedangnya dengan tenaga dalam dan menebaskannya ke arah Iris. Sebuah tebasan api berbentuk sabit melesat dengan cepat ke arah Iris.

__ADS_1


"Daun Salju Berguguran."


Iris dalam hati menyebut nama jurusnya, tebasan api berbentuk sabit yang dilesatkan Kirisaki membentur daun-daun salju yang berguguran. Daun-daun salju berguguran itu melindungi tubuh Iris.


Melihat jurus pedanganya ditahan dengan baik oleh lawannya, Kirisaki maju dengan cepat mendekati Iris dan menebaskan pedangnya ke arah dada gadis cantik yang menjadi lawannya itu.


Iris kembali menciptakan daun-daun salju yang berguguran dengan tenaga dalamnya, setelah itu dia menggerakkan daun-daun salju tersebut untuk menyerang Kirisaki.


Langkah kaki Kirisaki untuk menebas dada Iris terhenti ketika melihat puluhan daun-daun salju yang tajam terbang di udara mengarah padanya.


Kirisaki memutarkan tubuhnya menciptakan pusaran api, setelah itu dia melompat ke atas dan memusatkan aura tubuhnya pada bilah pedangnya kembali sambil menebaskan pedangnya ke arah Iris.


"Amarah Rasa Yang Membara!"


Sebuah tebasan pedang api yang membentuk puluhan burung merpati itu terbang melesat dengan cepat ke arah Iris. Ledakan terjadi di tanah setiap Iris menghindari serangan tersebut.


Kirisaki tersenyum lebar setelah kakinya menyentuh tanah, gadis berambut kuning itu menatap tajam Iris sambil menebaskan pedangnya dari jauh untuk mengincar Iris yang sedang melompat kesana kemari menghindari serangannya.


Gadis cantik yang sekarang memakai jepit rambut kupu-kupu bersayap merah muda yang menghiasi rambut halusnya itu menghindari setiap serangan Kirisaki dengan baik. Telapak tangannya membuka ketika melihat Kirisaki semakin dekat dengannya, bibirnya yang tipis dan mungil merekah sesaat. "Pedang Bunga Salju," gumamnya.


Sebuah pedang es dengan corak ukiran bunga mawar keluar dari telapak tangan kanan Iris. Pergerakan Iris sangat gemulai ketika mengayunkan pedangnya untuk menangkis tebasan pedang Kirisaki.


"Heh? Jadi kau bisa menggunakan pedang?" Kirisaki mendorong pedangnya ke depan dan matanya menatap tajam mata Iris. "Itu sudah pasti, mengingat Kekaisaran Kai identik dengan seorang pendekar pedang," tambahnya sambil memutarkan tubuhnya dan menebas pedangnya dari samping.


Mulut Iris terkunci rapat-rapat tidak menjawab provokasi yang keluar dari mulut Kirisaki. Walau mulutnya diam, tetapi tangan Iris tetap bergerak dengan gemulai menangkis setiap tebasan Kirisaki.


Benturan pedang terjadi terus-menerus ketika Kirisaki mendominasi serangan, sedangkan Iris sendiri memiliki pertahanan yang kuat.


Iris mengeluarkan tenaga dalamnya untuk membentuk tiga pedang es yang terbang di udara, melihat hal itu, mata Kirisaki melebar.


"Terbakar Dalam Keputusasaan!"


Kirisaki mundur dua langkah ke belakang ketika melihat tiga pedang terbang di udara dan melesat dengan cepat ke arahnya, Kirisaki mengaliri pedangnya dengan tenaga dalam, setelah itu dia menebaskan pedangnya yang dilapisi api itu untuk menghancurkan ketiga pedang es Iris.


"Tidak mempan?" Iris dengan ekspresi wajah yang masih sama tidak terkejut menatap Kirisaki yang kembali berlari ke arahnya.


Iris ingin menguji kemampuan berpedangnya, dan ini adalah kesempatan yang tidak datang dua kali. Perlahan Iris mengaliri aura tubuhnya yang berwarna putih pada pedang es yang dia ciptakan dengan tenaga dalamnya. Pedang es Iris bercahaya berwarna putih, setelah itu dia berlari mendekati Kirisaki dan mengambil tindakan untuk lebih aktif dalam menyerang.


Banyak penonton yang terkejut melihat Iris. Mengingat sepanjang pertandingan, Iris selalu diam di tempat tanpa berlari, bahkan selama ini gadis cantik itu menungggu lawannya menyerang.


Permainan pedang Iris bisa dibilang menjadi salah satu yang terbaik dari puluhan peserta di Turnamen Harimau Kai. Gerakan langkahnya sangat lembut, tebasan pedangnya berkali-kali mampu membuat Kirisaki mengernyitkan dahinya.


"Ah, masa bodoh dengan hal itu. Aku perempuan normal, aku menyukai laki-laki yang seperti Fuyumi Nagato. Biarpun dia lebih muda dariku, tapi aku menyukainya!" Kirisaki membatin kembali dalam hatinya.


Mata Iris terlihat semakin tajam dan dingin. Pandangan matanya sangat menusuk, bahkan serangannya sekarang lebih tajam dan dalam.


Kini keduanya bertukar serangan selama dua puluh menit, terik matahari bukan menjadi penghalang mereka. Keringat yang membasahi wajah Iris menambah kesan tersendiri bagi gadis cantik tersebut.


Dahi Kirisaki mengkerut melihat pedang es Iris tidak mencair, setiap benturan antara pedangnya yang dilapisi api dan pedang es Iris sama sekali tidak ada pengaruh apapun pada pedang es tersebut.


Sekarang Kirisaki di paksa untuk bertahan, serangan Iris semakin lama semakin dalam. Bahkan kini pakaian yang dikenakan Kirisaki sudah sobek di bagian perutnya, luka-luka tusukan juga berulang kali menyentuh kulit mulus gadis berambut kuning itu.


"Apa dia berniat melucutiku?" Kirisaki membatin dalam hatinya. Tidak berapa senyuman aneh menyeringai di wajahnya. "Dasar mesum," desis Kirisaki.


Raut wajah Iris berubah, dengan cepat gadis cantik tersebut menjaga jarak dari Kirisaki. Matanya melebar menatap Kirisaki. "Mesum? Kenapa lawanku selalu memanggilku mesum?" Iris membatin dalam hatinya.


Kirisaki tidak peduli dengan perubahan raut walah lawannya, justru dia menggunakan kesempatan emas ini untuk melancarkan serangan beruntun kepada Iris.


Tukaran tebasan terjadi, Iris mencoba menangkis setiap tebasan yang dilesatkan oleh Kirisaki. Perlahan gadis cantik itu mengatur napasnya secara perlahan dan memulai serangan mendadak yang mengejutkan Kirisaki.


Iris menahan tebasan pedang Kirisaki, kemudian dia mendorongnya ke depan, dengan gerakan yang cepat, Iris menendang perut Kirisaki menggunakan tendangan kaki yang di belakang menggunakan tumitnya.


Tidak berhenti sampai disitu, Iris menebaskan pedangnya dari jauh saat tubuh Kirisaki masih melayang di udara.


"Gadis ini tidak segan-segan!" Kirisaki mencoba menggerakkan tubuhnya ketika masih melayang di udara, namun tindakannya itu membuat tangnnya yang mencoba menangkis serangan tebasan pedang Iris justru merenggangkan genggaman tangannya yang erat pada pedanganya.


Iris melihat sekilas pergerakan panik Kirisaki, matanya sangat tajam. Gadis cantik itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan napasnya ke arah Kirisaki. Tiupan dari mulut Iris membuat udara-udara disekitarnya mulai membeku.


Perlahan tubuh Kirisaki membeku di udara dalam keadaan melayang. Penonton terdiam melihat permainan pedang Iris yang dikombinasikan dengan gaya bertarungnya yang seperti biasa.


"Lihat Kirisaki membeku..." Salah satu penonton perempuan menunjuk Kirisaki yang membeku di udara dari atas tribun.


"Anak dari Tuan Putri Shirayuki memang hebat!" Penonton perempuan yang lainnya menanggapi dengan teriakan yang histeris.


Iris bisa melihat Kirisaki hendak mencairkan es miliknya dengan kekuatan elemen api yang dimiliki lawannya tersebut. Tangan Iris memegang pedangnya dengan erat dan menebaskan pedangnya sambil memutarkan tubuhnya.


Pusaran salju bercampur dengan hembusan angin menyeret tubuh Kirisaki ke atas. Semua orang kembali terdiam melihat tubuh Kirisaki yang terlempar ke udara, tidak berapa lama gadis berambut kuning itu jatuh ke bawah.


Kirisaki menatap tajam Iris dan menebaskan pedangnya ketika masih melayang di udara. "Cakar Elang Api!" Tebasan pedang Kirisaki yang dilapisi api itu membentuk sebuah tebasan cakar elang. Tebasan tersebut melesat dengan cepat ke bawah dan menyerang Iris.


Serangan balasan dari Kirisaki membuat Iris terpental jauh ke belakang, Iris menjaga keseimbangan tubuhnya ketika melayang di udara dan dengan sigap dia menancapkan pedangnya di tanah untuk digunakan sebagai pijakan kakinya.

__ADS_1


Penonton terpesona dengan penampilan Iris bahkan Kirisaki sendiri terdiam melihat Iris.


"Dia benar-benar memikat semua orang..." Kirisaki bergumam pelan dalam hatinya.


Iris memghancurkan pedang es yang dia gunakan sebagai pijakan, kemudian telapak tangannya membentuk pedang es yang lain. Gadis cantik itu mengibaskan pedangnya sambil mengeluarkan tenaga dalamnya membentuk ratusan jarum es yang berterbangan di udara.


Iris menggerakkan ratusan jarum es yang berterbangan di udara untuk menyerang Kirisaki. Sekarang gadis cantik itu berdiri dengan tenang mengamati Kirisaki yang sedang bersusah payah menahan serangan ratusan jarum yang terbuat dari es tersebut.


Iris melihat serangannya dapat dihancurkan oleh Kirisaki dengan mudah. Karena merasa dirinya tidak akan menang dengan mudah, Iris melepaskan aura tubuhnya yang berwarna putih dalam jumlah besar, setelah itu dia memanipulasi aura tubuhnya menjadi salju dan es.


Hawa dingin dari Iris bahkan sangat terasa di kulit Gyuki. Pria yang menjadi wasit itu menggigil kedinginan, kemudian dia mundur menjauh untuk mengamati pertandingan yang masih berlangsung tersebut.


Udara di sekitar Iris berubah, setengah lapangan Arena Lingkaran Harimau dipenuhi salju yang berjatuhan bahkan tanah yang dipijak Iris berubah menjadi es.


Wajah Kirisaki sedikit pucat melihat Iris yang terlihat lebih serius dari sebelumnya. "Bukankah dia lebih muda dariku? Cara memanipulasi aura tubuhnya melebihi sepuluh pendekar muda yang sering dijuluki jenius ... bahkan Fuyumi Iris mungkin setara dengan Himuro Kirigiri..." Kirisaki menelan ludah setelah menggumam pelan.


Kekhawatirannya terbukti ketika kakinya melangkah mencoba mendekati Iris. Dalam sekejap tanah yang dia pijak berubah menjadi es dan dengan cepat merambat ke kaki jenjang Kirisaki.


"Apa ini?!" Kirisaki panik ketika bagian kakinya terasa sangat dingin, wajahnya merah padam. Matanya menatap Iris sengit.


Iris menghentikan serangannya, gadis cantik itu mengetahui serangannya akan membuat Kirisaki memanggilnya dengan sebutan mesum. Entah kenapa Iris sangat tidak menyukai sebutan tersebut.


Namun karena dia menghentikan serangannya, perlahan Kirisaki dapat menghancurkan es yang merayapi kaki jenjangnya, bahkan sekarang Kirisaki melapisi seluruh tubuhnya dengan aura berwarna merah.


Sedangkan pedang yang dia genggam dilapisi api yang berkobar menghancurkan ratusan jarum es yang berterbangan menyerangnya.


Iris menggigit bibir bawahnya dan kembali melancarkan serangannya. Dalam sekejap tanah yang sekarang berubah menjadi es langsung merambat ke seluruh tubuh Kirisaki kecuali kepalanya.


Wajah Kirisaki merah padam, tubuhnya menggigil hebat dan mulutnya membuat suara desahan. "Ah!" Sontak Iris dan Gyuki yang mendengar desahan Kirisaki paling jelas di antara semua orang yang melihat pertarungan tersebut memerah sedikit wajah mereka berdua.


Iris menggigit bibir bawahnya berharap Kirisaki menyerah, namun sampai lima menitan tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Kirisaki.


Dengan cepat Iris menekan aura tubuhnya dan menghilangkan salju-salju yang berjatuhan di sekitarnya maupun es yang membekukan tanah beserta tubuh Kirisaki.


Gadis berambut kuning sekarang terbaring di tanah dengan pakaian yang basah kuyup, wajahnya terlihat sangat puas. Napasnya terengah-rengah dan memburu, matanya menatap Iris yang sedang mendekatinya.


"Aku ... tidak menyangka ... kau akan melecehkanku ... oh..." Wajah Iris merah padam mendengar ucapan Kirisaki.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Iris. Sekarang dia merasa sangat malu melihat lawannya yang terbaring di atas tanah.


Gyuki menghampiri Kirisaki dan menatap gadis berambut kuning itu dengan seksama. "Apa kau masih kuat untuk melanjutkan per-"


"Aku menyerah! Ah, aku sudah tidak tahan lagi..." Kirisaki dengan wajah yang merah padam bangkit berdiri dan berjalan ke arah lorong Arena Lingkaran Harimau dengan kaki yang merapat.


"Aku tidak tahan buang air kecil!" Kirisaki mendesis dan meninggalkan Gyuki bersama Iris yang terdiam seribu bahasa tanpa berkata apa-apa.


Sementara itu penonton yang melihat pertandingan dari atas tribun kebingungan melihat Kirisaki yang meninggalkan pertandingan, pandangan mereka juga terarah pada Gyuki dan Iris yang berdiri terdiam selama lima menitan.


"Baru kali ini aku melihat Turnamen Harimau Kai semenarik ini. Kalah karena ingin buang air kecil?" Gyuki tidak bisa menahan tawanya. "Hahaha, sangat lucu sekali."


Iris menggigit bibir bawahnya merasa malu. Kemudian gadis cantik itu juga melangkahkan kakinya pelan-pelan meninggalkan Gyuki yang sedang tertawa menuju bangku penonton yang ditempati Klan Fuyumi.


"Ehem!" Gyuki berdeham setelah puas tertawa. Sedangkan penonton bertanya-tanya karena melihat Gyuki yang tertawa.


"Dikarenakan Seifu Kirisaki menyerah, maka pemenangnya adalah Fuyumi Iris!" Gyuki mengumumkan Iris sebagai pemenangnya dan mengakhiri pertandingan.


Penonton terkejut mendengarnya, mereka mulai ramai membicarakan Iris.


"Lihat! Tahun ini ada pemula yang mengalahkan sepuluh pendekar muda jenius!" Salah satu penonton pria langsung berkomentar setelah Gyuki mengakhiri pertandingan.


"Pertandingan tadi sangat menarik, Fuyumi Iris!" Salah satu penonton perempuan berteriak pada Iris yang sedang berjalan menuju bangku penonton.


"Lanjutkan pertandingan selanjutnya!" Seorang pria paruh baya bersorak pada Gyuki.


"Fuyumi tahun ini muncul dengan pendatang yang berbakat!" Seorang pria berumur tiga puluhan tahun tersenyum lebar.


Gyuki menghela napas panjang mendengarkan reaksi penonton yang heboh. Kemudian dia beralih ke pertandingan selanjutnya setelah puas mengingat kemenangan Iris atas Kirisaki yang menurutnya itu adalah hal terkonyol sepanjang dia melihat Turnamen Harimau Kai.


___


"Lanjut..." Salah satu pembaca memberi komentar di kolom komentar.


"Crazy up dong..." Pembaca yang lainnya merasa masih kurang puas membaca 1 chapter setiap harinya. Sehingga dia menekan rate bintang 5 untuk Novel Kagutsuchi Nagato (tapi boong) The Power of nurunin rate wkwkwk. Canda, guyonan aja hah.


"Horaaa! Crazy!" Dengan ketikan tangan yang emosi, salah satu pembaca berharap akhir pekan akan ada CU dari Kagutsuchi Nagato.


"Carzy dong Thor, gue jomblo nih." Pembaca yang sedang berbaring di atas ranjang membatin penuh harap menanti Crazy Up dari Author Pena Bulu Merah.


"Menang turnamen gara-gara lawannya kebelet pipis wkwkwk ... kok aku bisa ngetik begini?" Author membatin dalam hatinya. Tangannya mengetik dengan cepat, sedangkan senyuman tipis menghiasi wajahnya, eak.


Wes basa-basinya. Silahkan lanjut baca chapter selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2