
Shirayuki sudah membekukan seluruh lapangan Arena Lingkaran Harimau menjadi es tetapi reaksinya terlambat.
Semua mata terkejut melihat Kakugo yang berniat membunuh Hika. Reaksi kubu barat dan Sepuluh Tetua Kai biasa saja, mereka hanya tersenyum.
"Oi, pecundang kurang ajar!" Api mencairkan seluruh es yang membekukan lapangan Arena Lingkaran Harimau.
Nagato memeluk tubuh Hika dan mendekapnya dengan erat. Dia membalik badannya sedangkan tangannya yang memegang pedang menaruhnya dibelakang punggungnya menahan tebasan pedang Kakugo.
Ledakan terjadi, Nagato memuncak emosinya melihat wajah Hika yang bercak darah.
"Na ... ga ... to." Hika tersenyum lembut pada Nagato sebelum pingsan.
Nagato tetap tegak berdiri walau tanah disekitarnya hancur. Kakugo berkeringat dingin tetapi senyuman lebar terus menyeringai diwajahnya.
"Hika?!" Nagato menatap Hika yang sudah pingsan.
Nagato melepaskan aura tubuhnya ke seluruh lapangan Arena Lingkaran Harimau dengan dirinya yang menjadi titik tengahnya. Semua orang kembali dibuat terkejut oleh Nagato. Api membakar es yang dibekukan Shirayuki. Kemampuannya yang dia sembunyikan terlihat oleh ribuan manusia.
"Lintasan Jingga!"
Nagato menebaskan pedangnya pada Kakugo. Walau berhasil menahannya tetapi tendangan kaki Nagato membuat Kakugo terlempar ke arah Mujin.
"Hika. Aku akan membaringkanmu disini terlebih dahulu. Semoga kamu tidak terluka tertalu parah." Nagato membersihkan wajah Hika yang bercak darah dengan telapak tangannya yang bersih. Kemudian dia mengecup kening Hika sebelum berdiri penuh emosi menatap Mujin dan Kakugo.
"Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah."
Nagato mengolah pernapasannya sebelum menyerang Kakugo. Tebasannya yang cepat membuat semua orang hanya bisa diam melihat tanpa berkedip. Tebasan pedang Nagato ditahan Kakugo tetapi pemuda yang melukai Hika itu terlempar ke belakang dengan tubuh yang terbakar.
"Oi, wasit sialan! Apa kau berniat membiarkan temanku terbunuh, hah?!" Nagato menebaskan pedanganya pada Mujin. Dia tidak peduli jika dirinya didiskualifikasi, tebasan Nagato dapat dihindari Mujin tetapi pakaian yang dikenakan Mujin terkoyak.
Semua orang tidak habis pikir dengan Nagato yang dengan gagah berani menyerang salah satu anggota dari Sepuluh Tetua Kai.
Topeng rubah putih yang dipakai Nagato terjatuh, semua orang kembali dibuat terkejut dan terpana dengan wajah tampan rupawan sedang marah itu.
Tatapannya yang dingin membuat penonton perempuan langsung berteriak histeris melupakan apa yang telah terjadi di pertandingan barusan. Sekarang mereka benar-benar telah terbius oleh ketampanan Nagato.
Hisui sangat khawatir melihat Nagato yang terlihat begitu marah, sedangkan Kaisar Hizen dan Hiragi tidak peduli. Rekasi yang paling mengejutkan adalah Kaisar Genki dan Yuki yang merasa Nagato sangat mirip dengan seseorang, hanya saja tatapan dingin Nagato membuat ketampanan Nagato jauh di atas mendiang ayahnya.
Mujin berusaha menenangkan dirinya, bagaimanapun dia tidak bisa melukai peserta yang mengikuti Turnamen Harimau Kai.
"Apa kau tidak takut jika didiskualifikasi? Sadarlah akan posisimu!" Mujin menatap tajam Nagato. Dia berusaha menenangkan pemuda yang sedang marah itu.
"Aku tidak peduli lagi dengan hal itu. Kau telah membiarkan bocah kurang ajar itu menyiksa temanku. Jika kalian berniat menyentuh temanku sedikit saja, maka masalahnya sudah beda!" Nagato menebaskan pedanganya menciptakan seokor harimau yang berlari di udara dan berada di sampingnya.
__ADS_1
"Hika telah terluka! Dan kau hanya diam saja!" Nagato kembali berteriak.
Ketika Nagato menebasakan pedangnya dengan cepat, harimau berwarna merah yang keluar dari pedangnya itu melesat cepat ke arah Mujin dan mengaum.
Aumannya terdengar seperti sungguhan. Nagato kini dipenuhi emosi, perasaannya yang tidak dapat melindungi Asha juga menjadi pengaruh mental Nagato yang takut akan namanya kehilangan.
Mujin terpaksa melepaskan aura hitam pekat dan membalas serangan Nagato dengan pukulan tangannya. Benturan terjadi membuat tanah-tanah kembali retak.
Nagato tetap berdiri tegak, pandangan matanya melirik Kakugo yang sedang berusaha berdiri. Mengingat pemuda yang melukai Hika masih tetap tersenyum lebar, Nagato yang melihat itu menjadi sangat emosi. Kemarahannya meledak.
Ryuzaki yang sedang melihat pertarungan antara Nagato melawan Mujin walau sesaat bisa melihat Nagato sangat berbahaya jika menggunakan pedang hitamnya yang tipis itu.
Semua mata tertuju pada Kakugo yang telah berdiri tegak, tidak berapa lama mereka tidak mendapati Nagato dimanapun. Semua orang kembali dibuat terkejut ketika Nagato sudah berada di depan Kakugo.
"Ruang Hampa!" Nagato membatin sambil mengeluarkan aura intimidasinya pada Kakugo. Tubuh Kakugo terasa ditekan hingga pemuda itu terduduk di tanah. Sedangkan Nagato berdiri didepannya layaknya seorang Dewa Kematian yang siap membunuhnya.
Semua orang terkejut melihat teknik yang digunakan Nagato. Kebanyakan tidak mengerti cara kerjanya, bahkan Nagato sendiri tidak sadar jika ruang hampa yang dia ciptakan adalah kekuatan yang berasal dari Kutukan kuno Dewa Kematian Shinigami yang tertidur didalam tubuhnya.
Nagato menendang wajah Kakugo hingga pemuda itu terlempar ke belakang. Melihat Nagato yang tidak segan-segan berniat menghabisi Kakugo, dengan cepat Mujin menghadang Nagato.
"Minggir!" Nagato menggertak Mujin. Tetapi Mujin tidak bergeming dari hadapannya.
Nagato menyalurkan aura tubuhnya yang berwarna emas pada bilah pedangnya, kemudian dia menebaskan pedangnya pada Mujin.
Kini dengan tidak terpaksa, Mujin memukul Nagato dengan pukulan tangannya yang dilapisi aura hitam pekat. Benturan kembali terjadi, Nagato kembali mengayunkan pedangnya dengan cepat.
Nagato membalik pedangnya dan melangkahkan kakinya lebih cepat lagi, gerakannya yang lebih cepat dari sebelumnya membuat Mujin hendak menggunakan kekuatannya yang sebenarnya tetapi kedatangan Iris yang menghampiri Nagato membuat semua orang kembali dibuat penasaran.
Jelas mereka penasaran, sosok gadis cantik dan dingin itu mendekat pemuda tampan yang sedang dipenuhi kemarahan. Hanya dengan melihatnya saja semua orang sudah memberi pendapatnya masing-masing.
Beberapa orang yang melihat Nagato dan Iris di kedai makan langsung mengetahui jika pasangan muda-mudi itu adalah sepasang kekasih yang telah dijodohkan.
"Naga! Tenanglah!" Iris berteriak cukup keras. Semua pendekar muda yang jatuh hati pada Iris merasa patah hati, terutama pendekar-pendekar dari Klan Kuromachi yang sempat menghina Nagato.
Iris memegang tangan Nagato yang memegang pedang, tatapannya sangat tajam menatap Nagato.
"Aku sudah tenang," ucap Nagato sambil menyarungkan pedangnya tetapi jari jempolnya memainkan sarung pedangnya.
"Kamu masih marah. Sudah cukup, jangan biarkan amarah menguasaimu." Iris tidak peduli jika semua orang melihat tangannya yang memegang tangan Nagato. Sekarang dia tidak peduli lagi jika semua orang tahu Nagato adalah pemuda yang sangat dia cintai.
Nagato menatap Iris cukup lama. Kedua mata mereka bertemu, kemudian Nagato mengalihkan pandangannya menatap Mujin dan Kakugo.
"Akan kupastikan kalian mendapatkan balasannya! Sentuh temanku sedikit saja, maka kalian akan berurusan denganku!" Suara Nagato menggema ke seluruh pelosok Arena Lingkaran Harimau.
__ADS_1
Rata-rata dari mereka yang mendengarnya menelan ludah. Ancaman dari Nagato sangat serius.
Iris melepas tangan Nagato tetapi pemuda itu kembali bergerak dengan cepat menyerang Mujin dan Kakugo.
"Naga!" Teriakan Iris membuat Nagato menebaskan pedangnya dari jauh karena dia berhenti melangkah. Pusaran api dan burung api yang keluar dari tebasan pedangnya membuat Mujin langsung menghindari serangan tersebut, sedangkan Kakugo berkeringan dingin melihat serangan Nagato.
Walau dapat bereaksi tetapi tubuhnya sulit untuk bergerak, mungkin nyawanya bisa saja melayang atau akan sekarat jika Ichiba dan Shirayuki tidak menangkis serangan Nagato tersebut.
"Nagato! Kendalikan emosimu. Kau bisa membalasnya di pertandingan resmi!" Ichiba merasa bahagia melihat Nagato melindungi anak kandungnya tetapi dia bisa melihat Nagato yang tidak peduli dengan perasaan hatinya sendiri, pemuda itu terlalu takut kehilangan seseorang sampai amarah benar-benar menguasai dirinya.
Shirayuki menghampiri Nagato dan anaknya, kemudian dia menatap tajam Nagato.
"Ikut Bibi Shirayuki!" Nagato menggertakkan giginya ketika tangan Shirayuki menariknya. Tidak berapa lama Iris mengikuti ibunya yang membawa Nagato dari belakang.
"Apa yang kalian rencakan? Sumpah dekrit darah dari seluruh klan membuat kalian dan Yang Mulia Hizen bertindak semena-mena. Ingat darah harus dibalas dengan darah. Penerus warisan dari Guru Besar Sura belum putus, kalian masih ketakutan dengan tidak ditemukannya mayat Guru Besar Sura dan pengikut Pangeran Pandu, bukan?" Ichiba menatap sinis Mujin. Bagiamanapun perempuan beranak dua itu merupakan istri dari Takatsugu yang merupakan pengikut Pandu di masa lalu.
Mujin berkeringat dingin mendengar perkataan Ichiba. Terlihat jelas raut wajahnya sangat buruk, kemudian dia melirik Satra yang sedang membisikkan sesuatu pada salah satu anggota Akuyaku.
"Lelaki kurang ajar itu ingin membunuh anakku yang memiliki darah dari Klan Kagutsuchi. Andai sumpah dekrit darah tidak ada maka kalian dan orang-orang Kekaisaran Kai kalanagan atas sudah binasa sejak lama! Kalian membinasakan Klan Kagutsuchi karena keturunan mereka adalah-" Emi menepuk pundak Ichiba yang terlihat sangat emosi.
"Cukup Ichiba. Masalah ini kita selesaikan di penginapan. Kita susul Shirayuki." Emi menenangkan Ichiba dan menarik tangan perempuan beranak dua itu menuju Penginapan Matahari Timur.
Sedangkan di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau terlihat Oichi yang mengangkat tubuh Hika dan membawa gadis manis yang terluka itu kembali ke Penginapan Matahari Timur.
Seluruh pendekar dari Klan Fuyumi kembali ke Penginapan Matahari Timur. Sedangkan Namida dari Perguruan Gunung Menangis dan Kitakaze Owara dari Klan Kitakaze langsung mendatangi bangku penonton Sepuluh Tetua Kai.
Seluruh pendekar kubu timur hampir mengeluarkan senjata mereka karena babak penyisihan hampir terjadi pertumpahan darah.
Di kerumunan penonton, seorang pria yang memakai tudung menyeka air matanya.
"Guru..." Pria itu ialah Hayabusa seorang pendekar pedang yang menggunakan teknik dua pedang. Kedua pedang yang tersarung rapi di pinggangnya merupakan senjata utamanya.
"Sepertinya orang-orang tua itu mengincar pemuda yang bernama Fuyumi Nagato." Hayabusa membatin pelan.
"Fuyumi? Apa anak itu adalah anak dari Guru Pandu dan Putri Salju?" Hayabusa menggelengkan kepalanya tak habis pikir jika Pandu dan Shirayuki memiliki anak diluar nikah.
"Tidak mungkin guru seperti itu. Turnamen Harimau Kai tahun ini cukup membuatku gelisah, aku merasa ada sekelompok orang-orang dari Rakuza datang menyamar. Apa yang dilakukan Hawk dan Matsuri!" Hayabusa berdiri dan memulai rencananya untuk memata-matai pergerakan Sepuluh Tetua Kai dan penyusup-penyusup yang berasal dari Kekaisaran Rakuza.
"Aku rasa Tsumasaki dan Budou tidak berada di Ibukota. Apa mereka sudah mengetahui kebusukan Sepuluh Tetua Kai yang terlibat dalam perdagangan manusia. Jika mereka berdua tahu, maka itu akan sangat membantuku daripada dua saudara seperguruanku yang terobsesi membersihkan nama baik Guru Pandu." Hayabusa telah kembali beraksi. Cahaya harapan belum memudar sepenuhnya dan sang fajar akan kembali bersinar jika sudah tiba waktunya.
Dia tahu masa lalu yang sebenarnya, Hayabusa termasuk dari beberapa orang yang mengetahui malam tragedi pembantaian yang menghabisi Klan Kagutsuchi.
Sosok pendendam yang dimaksud Kakek Hyogoro adalah Hayabusa. Dia melakukan pergerakan sendirian untuk menghabisi Sepuluh Tetua Kai bersama dengan seluruh Sekte Pemuja Iblis dan penyusup-penyusup Kekaisaran Rakuza yang mengancam tanah yang dilindungi mendiang gurunya.
__ADS_1
Dia bergerak sendirian untuk mengetahui rencana Satra yang membiarkan para pasukan militer Kekaisaran Rakuza datang ke Ibukota Daifuzen.
Kericuhan pertumpahan darah hampir terjadi sekali lagi. Tirai pun menyambut babak penyisihan Turnamen Harimau Kai yang penuh emosional. Meski awalnya kompetisi ini berjalan dengan lancar, tidak ada yang mengira tentang insiden besar yang akan terjadi selanjutnya.