Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 132 - Hutan Cakrawyuha END


__ADS_3

****Arc Hutan Cakrawyuha telah berakhir, Terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca dan mengikuti karya pertama saya sampai sejauh ini. Mulai beberapa minggu kedepan Arc Ketiga Kagutsuchi Nagato akan dimulai dengan judul CINTA. Dalam babak ini akan menceritkan tentang Klan Fuyumi, Sepuluh Tetua Kai, Bangsawan Bahamut, Exequtor, Hell Shadow, Organisasi Revolusioner, Turnamen Harimau Kai, Disaster, Gore maupun Tujuh Dosa Besar Mematikan. Nanti ada chapter spesial tentang Pasukan Khusus Penegak Perdamaian dan Hero (Pahlawan). Bisa dibilang babak baru ini adalah akhir dari pertumbuhan Nagato sebelum mengumpulkan beberapa temannya dan menjadi seorang buronan demi membalaskan dendamnya, tentunya Nagato sudah mempunyai tujuan dan sebuah impian sendiri nantinyaπŸ˜„πŸ€—.


Jangan lupa baca Love in Jiu War, itu adalah novel kembangan dari novel Kagutsuchi Nagato. Dan tunggu saja pertemuan antara dua pewaris kekuatan surgawi yaitu Kagutsuchi Nagato dan Ming Fengying(Tsukuyomi Kenshin) di Negeri Yamato, Benua Jiu(Arc Love in Jiu War).


[Selamat membaca di rumah aja**.]


Kepergian Nagato dan Litha dari Markas Pencuri Ashikubi membuat Dorobo bersama yang lainnya sedikit kesepian. Dalam perjalanan kembali ke Hutan Cakrawyuha, Nagato selalu mengingat perkataan Dorobo dan mengingat wajah Black Fang yang memukul Asha.


Nagato merasa kekuatannya masih terlalu lemah, sempat berpikir untuk mencari seseorang yang dapat memberi kekuatan besar padanya, tapi Nagato tidak ingin melukai perasaan Kakek Hyogoro. Untuk bertumbuh kuat Nagato tidak henti - hentinya untuk melatih fisik dan mentalnya. Nagato bukanlah seorang jenius, selalu berlatih keras saja belum tentu membuahkan hasil apalagi yang tidak berlatih. Demi menjadi orang yang lebih kuat, Nagato mulai belajar memanipulasi auranya menjadi api yang dapat dia kendalikan sesuka hatinya. Secara bertahap Nagato sudah bisa menggunakan Tenkai walau masih belum sempurna.


Nagato masih mengingat ketidakmampuannya untuk melindungi Asha bahkan dia hampir membuat Dorobo kehilangan nyawanya, kekuatan Green Vas masih jauh diatasnya. Nagato sangat yakin untuk membalaskan dendamnya, musuh seperti Green Vas yang tak lain adalah tujuh penyihir bawahan Black Madia yang biasa disebut dengan Hell Shadow akan menghadangnya kembali.


Azbec adalah tempat bisnis kedua Kazan setelah Benua Kuru, kepergian Kazan dari Benua Ezzo ke Benua Kuru membuat Nagato harus pergi dari Benua Ezzo suatu hari nanti. Magma adalah sosok Dewa Gunung Azbec itu yang dianggap Black Madia yang menyurug seluruh rakyat Azbec untuk tidak mengusik Magma, setiap tahun ada acara untuk memberikan sesembahan pada Magma yang menempati Kastil Hollow di Pulau Majin.


Setiap tahun Black Madia dan seluruh penyihir yang menjadi bawahannya pergi ke Pulau Majin untuk merayakan kematian Pandu dan Sarah maupun runtuhnya Kerajaan Sihir Azbec. Kepergian Kazan dari Benua Ezzo karena dia memiliki koneksi untuk membuat air suci buatan dengan salah satu Ilmuwan Bahamut di Benua Kuru. Kazan menyuruh anaknya sendiri yang tak lain adalah Magma untuk menguasai Azbec dan menguasai Benua Ezzo tentunya, setelah diberi tahu tentang salah benua tersembunyi yang telah ditemukan Kekaisaran Bahamut. Kazan tertarik untuk pergi ke benua tersebut, benua itu tak lain adalah Benua Jiu.


Banyak penyihir Azbec yang mempunyai dendam dengan Black Madia maupun Organisasi Disaster, mereka mengikuti perkataan Sarah untuk menanti sang fajar yang akan datang ke Azbec setelah berumur tujuh belas tahun. Ada penyihir yang mengumpulkan senjata dan membuat markas di hutan, pegunungan dan goa - goa tersembunyi.


Perkataan terakhir Sarah masih melekat di hati Black Madia, perkataan yang membuatnya selalu tidak tenang dengan ancaman yang selalu masuk di dalam pikirannya. Black Madia melakukan apapun demi membunuh Nagato karena perkataan Sarah mengacu pada anaknya yang akan membebaskan Azbec setelah berumur tujuh belas tahun.


Black Madia sempat menyuruh dua pembunuh setelah dia mendapatkan informasi dari pengkhianat yang merupakan murid dari Pandu. Namun hingga saat ini dua pembunuh itu belum juga kembali, dua pembunuh itu tak lain adalah Demet dan Devon, kini Demet dan Devon telah menempuh hidup baru.

__ADS_1


Dua hari setelah melakukan perjalanan kembali ke Hutan Cakrawyuha, Nagato melihat hutan yang masih sama sebelum ia tinggalkan dari udara yang sejuk hingga ratusan kera hitam dan kera putih yang menyambut kedatangannya. Nagato menaikan alisnya karena melihat jumlah kera hitam dan kera putih yang semakin banyak jumlahnya.


Kakek Hyogoro bersiul memanggil harimau dan beruang, kedua hewan tersebut meraung dari arah Hutan Cakrawyuha dan berlari ke arah Kakek Hyogoro. Perasaan yang membuat Nagato dan Litha bernostalgia terasa sama seperti ketika mereka berdua datang pertama kali ke Hutan Cakrawyuha.


Kakek Hyogoro dalam perjalanan menuju tengah Hutan Cakrawyuha dia duduk di atas pundak beruang. Dengan sebotol arak yang dia minum, matanya terarah pada Nagato dan Litha karena kali ini dia akan benar - benar menitipkan kedua murid kesayangannya itu pada Shirayuki. Pencariannya selama setahun ini membuahkan hasil, sebuah pencarian untuk memastikan identitas pengkhianat yang memberitahu lokasi Hutan Cakrawyuha maupun Hutan Suci tempat Pandu dan Sarah bersembunyi.


Kakek Hyogoro menemukan beberapa markas Sekte Pemuja Iblis, sosok pemimpin dari kelompok Sekte Pemuja Iblis yang bernama Gore memiliki koneksi dengan Black Madia dan Kazan. Demi mewujudkan ambisinya Gore harus melakukan uji coba yang disuruh Kazan, dengan dirinya yang memiliki koneksi dengan Kazan maka Tujuh Dosa Besar Mematikan akan sulit untuk membunuhnya.


Kabar tentang kedatangan Bangsawan Bahamut dan sebuah kelompok yang dibentuk oleh Panglima Empat Penjuru Kekaisaran Bahamut yang bernama Exequtor juga mendampingi kedatangan Bangsawan Bahamut ke Kerajaan Sihir Azbec. Kakek Hyogoro ingin melihatnya hanya saja sekarang dirinya fokus untuk membunuh Gore dan pengkhianat yang telah menyebabkan istri, anak bahkan muridnya telah mati.


Kakek Hyogoro yang sudah memiliki dendam dan tumbuh menjadi seorang pendendam tidak ingin melihat Nagato sama sepertinya, kenyataan bahwa dia telah kehilangan semua orang terdekatnya membuat Kakek Hyogoro mencari tempat yang pantas untuk mati.


"Kalian berdua beristirahatlah, besok kita akan langsung pergi ke Klan Fuyumi." ujar Kakek Hyogoro pada Nagato dan Litha yang baru sampai di rumah.


"Kakek Hyo. Apa aku pantas untuk dilahirkan?" tanya Nagato pada Kakek Hyogoro dan menatapnya lurus.


Kakek Hyogoro meneguk araknya menatap Nagato yang sedang duduk di teras, "Semua orang pantas untuk dilahirkan. Itu adalah sesuatu yang harus kau cari sendiri," Kakek Hyogoro kembali meminum araknya sebelum kembali berkata pada Nagato, "Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"


Dengan tanganya yang mengepal, "Justru kau yang menggangguku. Jumlah arak yang kau minum sangat tidak wajar, rasanya seperti orang yang ingin menghilang dari dunia ini." batin Nagato melihat Kakek Hyogoro yang masih meminum arak.


"Banyak orang yang membenci ayahku. Aku tidak tahu apa yang telah ayah lakukan di masa lalu. Tatapan mereka saat itu, sebuah tatapan yang sangat menusukku..." ujar Nagato menatap langit dan memejamkan matanya mengingat ketika dia menghajar lusinan orang yang telah menghina nama baik ayahnya ketika melakukan misi bersama Kakek Hyogoro.

__ADS_1


"Nagato, di dunia ini ada orang yang hidup dengan melihat dan memastikan dengan kepalanya sendiri. Dan banyak juga orang yang menilai seseorang hanya dengan mendengarnya saja, dunia adalah tempat seperti itu." Kakek Hyogoro tersenyum tipis menatap Nagato.


Litha mendengarkan pembicaraan Nagato dan Kakek Hyogoro sambil memberi Chibi makan ikan mentah. Sangat jarang dia melihat Nagato yang mengutarakan perasaannya pada orang.


Kakek Hyogoro menatap Litha yang sedang memberi makan ikan mentah pada Chibi, "Litha, katakan padaku. Apa kau senang mempunyai seorang kakek sepertiku?" tanya Kakek Hyogoro pada Litha.


Litha terdiam karena pertanyaan Kakek Hyogoro terdengar begitu sedih di telinganya. Suara yang terdengar ingin mengucapkan perpisahan tetapi Kakek Hyogoro menyembunyikan perasaannya.


"Litha bangga mempunyai kakek. Litha tidak mempunyai kakek..." Litha berkaca - kaca matanya menatap Kakek Hyogoro.


"Jadi Kakek Hyogoro adalah kakek yang sangat berjasa karena telah mengajarkan Litha arti hidup." tambah Litha.


Nagato tersenyum tipis melihat Litha. Mata gadis berambut panjang itu berkaca - kaca membuat Nagato ingin menghampirinya tetapi Nagato mengurungkan niatnya. Tatapan dari Kakek Hyogoro membuat Nagato melihat Kakek Hyogoro yang terlihat ingin mengucapkan sesuatu padanya.


"Nagato, apa kau juga bahagia mempunyai kakek seperti kakekmu ini?" tanya Kakek Hyogoro pada Nagato.


Tatapan Kakek Hyogoro dan suaranya yang terkesan sedih membuat Nagato diam. Tidak pernah tumbuh besar dengan melihat kakeknya sendiri, Nagato menganggap Kakek Hyogoro sebagai kakeknya.


"Entah..." jawab Nagato pelan. Kesedihan mulai merayapi tubuhnya karena pertanyaan Kakek Hyogoro.


Kakek Hyogoro meminum araknya sambil tersenyum tipis, matanya menatap langit yang mulai berganti. Matahari mulai menyalami rembulan untuk mengarungi malam.

__ADS_1


Nagato dan Litha kembali ke kamar masing - masing untuk mengemas barang mereka, senyuman manis terlihat di wajah manis Litha. Sudah lama Litha tidak berjumpa dengan Iris, ada perasaan rindu pada Iris dan dua gadis kecil kembar Tika dan Hika.


"Apa Nagato juga merindukan Iris..." gumam Litha sebelum tertidur.


__ADS_2