
Nagato menebaskan pedangnya ke arah Kyu dengan cepat, tetapi Kyu dapat dengan mudah menahan tebasan pedang Nagato dengan tangannya.
Kali ini Nagato coba menebaskan pedangnya dari kiri ke kanan dengan cepat, tetapi lagi - lagi Kyu dapat menahannya dengan tangan kosong.
Ketika keduanya saling menatap satu sama lain, tiba - tiba suara manusia buas dari arah pintu masuk Gunung Menangis terdengar raungannya yang begitu keras.
Nagato mengerutkan dahinya, dia tidak menyangka akan bertemu dengan anggota dari Sekte Pemuja Iblis kembali.
Nagato mengolah pernapasan sirih sambil terus melancarkan serangan pada Kyu, tebasan demi tebasan pedangnya tidak bisa membuat Kyu terluka. Tetapi Nagato tidak patah semangat dan menyerah, karena melawan seseorang yang lebih kuat dari dirinya adalah hal yang paling dia inginkan. Untuk mengukur sejauh mana kekuatannya, Nagato justru merasa senang bisa bertarung dengan Kyu.
"Gyu, dia menggunakan pernapasan yang sama dengan pengkhianat itu." ucap Kyu pada Gyu.
Gyu melihat dengan jelas pertarungan antara Kyu dengan Nagato, setelah melihat dengan seksama kecepatan dan kekuatan Nagato.
Gyu mulai mengeluarkan rantainya dan melemparkannya pada Nagato, perlahan rantai berwarna putih itu berubah menjadi hitam. Rantai tersebut mengikat Nagato dengan sangat erat.
"Rantai? Sial!" batin Nagato berdecak kesal ketika dirinya tertangkap oleh Gyu.
Kyu melirik Gyu tajam, "Gyu, apa yang kau lakukan? Kau mengganggu pertarunganku," Kyu menghampiri Gyu dan menarik kerah baju temannya itu, "Jangan mengangguku, sialan!"
Gyu tersenyum tipis kemudian mengangkat kedua tangannya, dirinya juga tidak ingin bertarung dengan Kyu.
"Tenang Kyu, aku hanya ingin berbicara dengan anak ini..." ucap Gyu pada Kyu.
Kyu melepaskan tangannya pada kerah baju Gyu, dia melihat temannya itu menghampiri Nagato.
"Apa yang akan Gyu lakukan?" pikir Kyu melihat Gyu yang memegang topeng rubah putih Nagato.
Gyu tersenyum tipis, "Kau yang namanya Nagato, bukan? Apa kau tertarik berlatih di bawah asuhan Tuan Gore?" tanya Gyu sambil berusaha melepaskan topeng rubah putih yang dipakai Nagato, "Bisa dibilang beliau adalah orang terkuat di Kai. Dan kau bisa berlatih bersama beliau, untuk membunuh Magma yang sekarang berkuasa di Azbec."
Nagato menatap tajam Gyu dari balik topeng rubah putihnya, setelah itu dia mengolah pernapasan sirih dan menyalurkan udara ke seluruh tubuhnya.
"Bara Api."
Nagato berhasil memutuskan rantai milik Gyu yang mengikat dirinya. Nagato mencoba untuk memanipulasi aura tubuhnya menjadi api, dan ketika tangannya sudah dapat mengayunkan pedangnya. Nagato dapat memutuskan rantai Gyu dengan mudah.
"Suatu saat kau akan datang ke tempat Tuan Gore, kau tidak akan tahu bagaimana busuknya Pamanmu dan Sepuluh Tetua Kai." ucap Gyu mengingatkan Nagato tentang keputusan pemuda di hadapannya itu.
__ADS_1
"Tidak masalah bagiku jika kau menolaknya, tetapi malam ini kami akan membuat Gunung Menangis menjadi lautan api. Sama seperti yang Beliau lakukan di Kota Roshima, ketika Tuan Gore dan Tuan Blood menghancurkan kota itu." tambah Gyu tertawa pelan.
Detak jantung Nagato berdetak lebih cepat, dengan cepat dia menebaskan pedangnya pada tubuh Gyu.
"Gore? Blood? Siapa itu?" batin Nagato bertanya - tanya, dia tidak bisa membunuh Gyu karena tebasan pedangnya ditahan oleh Kyu.
"Gyu, kau berbicara terlalu banyak!" teriak Kyu pada Gyu.
"Tenang, mereka tidak akan bisa mengalahkan kita. Lihat disana..." balas Gyu, dia menunjuk arah pintu masuk Gunung Menangis dengan jari telunjuknya.
Melihat hal tersebut, Kyu tertawa karena seribu manusia buas berhasil membuat kekacauan di Gunung Menangis.
Mata Nagato melebar melihat seribu manusia buas, dia tidak menyangka akan melihat manusia buas yang tingginya hingga 12 meter, yang sedang dirinya tatap dari kejauhan.
Kyu menendang perut Nagato kemudian dia berdiri di samping Gyu.
"Dimana Fu dan Shu?" tanya Kyu pada Gyu.
"Mereka berdua sedang dalam perjalanan kemari." jawab Gyu yang matanya tetap melihat seribu manusia buas mengamuk di pintu depan Gunung Menangis.
Kyu tersenyum tipis sebelum menyerang Nagato kembali, pukulan Kyu mampu ditahan oleh Nagato dengan pedangnya.
Nagato menghindari tendangan Kyu dan dia terus melancarkan serangan sambil mencari titik lemah Kyu.
"Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah." hati Nagato menarik napas panjang dalam satu tarikan napasnya.
"Lautan Api."
Nagato menebaskan pedangnya yang dikelilingi api pada bilahnya, ke arah tubuh Kyu.
Kyu tersenyum lebar melihat Nagato, kemudian dia kembali menyerang Nagato dengan pukulan dan tendangan kakinya.
Nagato dan Kyu bertukar serangan selama beberapa menit, Nagato menebas tubuh Kyu dengan pedangnya. Sedangkan Kyu memukul Nagato dengan pukulan tangannya.
Ketika Nagato dan Kyu sedang bertarung dengan sengit, muncul dua orang teman dari Kyu dan Gyu.
Kedua orang itu bernama Fu dan Shu, mereka berdua diutus oleh Gore untuk membantu Kyu dan Gyu.
__ADS_1
Nagato mengerutkan dahinya melihat kedatangan Fu dan Shu. Dia bisa melihat jika kedua orang tersebut bukanlah orang sembarangan.
Fu adalah seorang perempuan berkulit coklat dan membawa sebuah senjata seruling. Sedangkan Shu adalah seorang pria yang wajahnya terlihat ada bekas luka bakar, dan di punggungnya terdapat sebuah pedang besar berwarna kuning keemasan.
"Tenang, mereka tidak akan mengganggu pertarunganku denganmu." ucap Kyu pada Nagato dengan senyuman lebar yang menyeringai di wajahnya.
Nagato terdiam dan menebaskan pedangnya lebih cepat dari sebelumnya, kali ini dia mampu membuat badan Kyu tergores.
"Keras sekali? Tetapi sedikit demi sedikit, aku sudah mampu memberikan luka padanya." batin Nagato menatap darah segar yang keluar dari badan Kyu.
Kyu mengusap darahnya kemudian dia menjilat darahnya sendiri, yang menempel di jari telunjuknya.
"Darahmu, rasanya seperti apa?" gumam Kyu, senyuman yang menyeringai di wajahnya terlihat menakutkan.
Nagato diam dan melihat ketiga teman dari Kyu menghela napas panjang. Perlahan dia bisa melihat aura Kyu berubah.
Nagato mengeluarkan aura intimidasinya pada Kyu, perlahan dirinya berusaha untuk tetap tenang kembali dan melakukan konsentrasi secara penuh.
"Lintasan Jingga."
Nagato kembali menebaskan pedangnya kembali, tetapi api tebasan pedangnya tidak mampu memberikan luka pada tubuh Kyu.
Kyu tertawa melihat Nagato, "Kau berbakat, bergabunglah bersama kami," Kyu mendekati Nagato pelan - pelan, "Kekuatanmu akan percuma jika kau sia - siakan."
Nagato mundur beberapa langkah ke belakang ketika melihat Kyu semakin mendekat padanya.
Nagato menatap dingin Kyu dari balik topeng rubah putihnya, Nagato mengeluarkan aura tubuhnya dengan paksa.
Aura emas dan putihnya keluar dari tubuh Nagato secara bersamaan, perlahan dia memanipulasi kedua auranya menjadi api yang membungkus tubuhnya.
"Tenang, aku harus konsentrasi secara penuh." batin Nagato sambil mencoba menenangkan dirinya.
Ketika Nagato sudah mencoba mengatur aliran auranya dan memanipulasi auranya. Masayu datang bersama Namida dan ratusan pendekar dari Perguruan Gunung Menangis.
"Bu, itu dia lelaki bertopeng yang menyelamatkanku." ucap Masayu menunjuk Nagato yang sedang bertarung dengan Kyu.
Mata Namida melebar melihat tubuh Nagato yang diselubungi api yang membungkus tubuhnya. Bahkan air hujan tidak membuat api Nagato padam.
__ADS_1
"Matahari akan bersinar... apinya masih tetap bercahaya, walau cahayanya temaram." ucap Namida yang sedang melihat Nagato.