Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 161 - Kemunculan Hayabusa! 19,220 Keping Emas Kemenangan!


__ADS_3

Iris menatap Chaika dengan tatapannya yang dingin, sebelum bertanding keduanya saling berjabat tangan. Mujin menatap Iris selama beberapa detik sebelum matanya menatap Chaika.


"Kalian berdua sudah tahu peraturannya?" Mujin ingin bertanya pada dua peserta yang akan bertanding untuk memastikan mereka masih mengingat aturan kompetisi. Baik Iris maupun Chaika masih mengingatnya, mereka berdua hanya mengangguk pelan.


"Mundur, ambil jarak." Mujin melihat Iris dan Chaika yang mulai menjauh. Setelah keduanya berada di jarak yang sudah ditentukan, Mujin memberi aba-aba pertandingan kedua Turnamen Harimau Kai dimulai.


"Mulai!" Mujin menjauh beberapa langkah dari kedua pendekar muda perempuan yang masih berdiri tegak di tempat mereka.


Chaika menggunakan tangan kosong, dia sama sekali tidak memakai senjata apapun. Semua penonton kebingungan dengan Chaika. Benua Ezzo selalu dikaitkan dengan pendekar pedang yang namanya terkenal sampai dunia luar, sudah menjadi hal biasa jika banyak pendekar pedang di Benua Ezzo yang kuat walau bukan pengguna Air Suci ataupun Senjata Kuno. Banyak orang dari Benua Ezzo yang kagum dengan orang asing yang berasal dari luar Benua Ezzo menggunakan kekuatan air suci mereka, tetapi orang yang tidak berasal dari Benua Ezzo juga kagum dengan kemampuan pendekar pedang dari Benua Ezzo yang kuat dan tidak biasa di mata mereka.


Iris juga tidak memakai senjata apapun, dia bisa menciptakan pedang es dengan tenaga dalamnya jika ingin menggunakan pedang. Selama satu menit keduanya hanya saling mengawasi gerak-gerik lawannya, ketika daun terjatuh di tengah lapangan, Chaika maju terlebih dahulu memulai serangannya.


Penonton bersorak tepat setelah Chaika berlari dengan cepat ke arah Iris. Kini jarak keduanya semakin dekat, Chaika melesatkan pukulannya yang membuat Iris terlempar ke belakang walau sudah berusaha menahannya. Semua penonton berdecak kagum dengan kekuatan Chaika. Tidak berniat kehilangan kesempatan untuk menguasai jalannya pertandingan, Chaika mulai melakukan langkah tipuan untuk mengecoh Iris.


"Bola Mata Angin."


Chaika berniat memukul wajah Iris dengan tangannya yang telah dilapisi angin, tetapi sebuah pelindung es yang melindungi Iris membuat Chaika langsung menjaga jarak dengan Iris.


Pelindung es yang melindungi Iris mulai menghilang, tetapi setiap Chaika mendekat maka pelindung es akan kembali melindungi Iris dengan sendirinya.


Iris tidak begerak dari tempatnya sama sekali, setelah menerima serangan Chaika yang membuat dirinya terhempas, kini Iris juga sedang mencari titik kelemahan Chaika.


Aura hijau muda mengililingi tubuh Chaika. Auranya menyebar menjadi angin yang dapat memberi Chaika keuntungan untuk bergerak dengan cepat. Berkali-kali Chaika menghancurkan pelindung es yang melindungi Iris tetapi dia tidak dapat mendekati Iris sama sekali. Semakin lama dia menyerang, maka akan semakin cepat kekalahannya. Chaika menyadari Iris berniat memaksa pertarungannya untuk menjadi adu stamina, dimana orang yang kehabisan kekuatannya terlebih dahulu, maka dia yang akan kalah.


Chaika tidak membiarkan pertandingan ini berjalan sesuai rencana Iris. Dengan satu langkah yang pasti, Chaika mengambil inisiatif untuk menyerang Iris.


Raut wajah Iris yang tetap tenang dan terlihat dingin mulai berubah, perlahan Iris membentuk pedang es dengan tenaga dalamnya dan menggunakan puluhan pedang es tersebut untuk membalas serangan Chaika.


Chaika tidak dapat menghindari beberapa pedang es yang melesat ke arahnya, darah segar karena goresan pedang es Iris terlihat di lengannya.


Di bangku penonton Nagato dan Litha melihat Chaika yang sudah banyak berubah, gadis kecil yang dulunya manja dan selalu malu-malu itu kini telah berubah menjadi gadis muda manis yang mempunyai tekad dan harga diri tinggi.


Penonton terlihat mulai bosan karena hasil pertandingan sudah terlihat jelas, berkali-kali Chaika bangkit berdiri melakukan perlawanan sengit, tetapi Chaika selalu terjatuh karena serangan Iris.


Mujin yang melihat pertandingan berat sebelah berniat untuk menghentikannya, tetapi setelah melihat raut wajah Chaika yang telah bertekad, dia mengurungkan niatnya.


"Mereka butuh pengalaman, berulang kali terjatuh, tapi gadis ini masih bisa bangkit kembali. Aku kagum dengannya." Mujin bergumam pelan menatap Chaika yang masih melakukan perlawanan sengit kepada Iris.


Setiap pukulan dan tendangan Chaika membuat angin yang kencang disekitarnya. Iris menghindari setiap pukulan dan tendangan Chaika. Tidak terlintas di pikiran Iris untuk menggunakan kemampuannya yang cukup ahli dalam pertarungan jarak dekat, dia berniat menyimpan setiap tekniknya untuk melawan pendekar muda di babak selanjutnya.


Tidak berapa keduanya saling bertukar serangan, Chaika memukul Iris dari jauh dan menghempaskan puluhan pedang es yang menghujam ke arahnya, sedangkan Iris terus membentuk pedang es dengan tenaga dalamnya untuk menyerang Chaika.


Perlahan tapi pasti, kini Chaika sudah mampu mengimbangi kecepatan Iris dalam memanipulasi auranya untuk menciptakan puluhan pedang es. Chaika terus menahan serangan Iris sebelum akhirnya mereka berdua saling bertukar serangan selama beberapa menit.


"Daun Salju Berguguran."


Iris dalam hati menyebutkan nama jurusnya, dengan keanggunannya yang memikat semua penonton Arena Lingkaran Harimau, Iris memanipulasi auranya untuk menciptakan ratusan daun yang terbuat dari salju. Semua orang yang melihatnya hanya bisa berdecak kagum dengan keterampilan dan kemahiran Iris dalam menggunakan kekautaan aura tubuhnya.

__ADS_1


Chaika terkejut melihat ratusan daun salju melayang dan memutari tubuh Iris. Tidak ada celah sama sekali bagi dirinya untuk memberikan satu pukulan tepat di tubuh Iris. Perasaan kesal mulai merayapi Chaika. Dia tidak ingin pertandingan pertamanya berakhir dengan menyedihkan, setidaknya dia bisa kalah setelah berjuang dengan seluruh tenaganya.


Chaika mengolah pernapasan dan menyalurkannya ke dalam dadanya. Ketika dadanya mengembung, Chaika mulai memusatkan auranya di dalam mulutnya.


Iris menggerakan ratusan daun-daun salju dengan tenaga dalamnya, diantara daun-daun salju yang dia ciptakan, Iris membuat sebuah pedang es bercorak bunga mawar yang terbuat dari es.


Iris dan Chaika menyerang secara bersamaan, ratusan daun salju mengarah ke arah Chaika dengan cepat. Serangan bertubi-tubi dari Iris membuat penonton kagum dengan gadis berparas cantik itu.


Chaika meniupkan angin dari mulutnya dan menghempaskan ratusan daun salju yang mengarah padanya. Satu hal yang tidak Chaika sadari adalah pedang es bercorak bunga mawar yang Iris ciptakan yang berada di paling belakang di antara ratusan daun-daun salju. Tepat setelah ratusan daun salju berguguran jatuh ke tanah, pedang salju bercorak bunga mawar berada tepat di wajah Chaika.


Iris mengendalikan pedang es nya dengan mudah, penonton dari kalangan orang biasa yang bukan seorang pendekar bersorak. Tetapi para pendekar yang melihat pertandingan tersebut menyadari tekad dan kemauan Chaika yang memberikan perlawanan sengit kepada Iris.


Tentunya tekad dan kemauan Chaika patut diberi tepuk tangan maupuan pujian dari mereka.


Mujin menghentikkan pertandingan, dan menunjuk Iris sebagai pemenangnya.


"Pemenangnya Fuyumi Iris!" Mujin menunjuk Iris sebagai pemenangnya. Semua pendekar bertepuk tangan untuk Chaika yang telah berjuang dengan baik.


"Iris ... kamu memang hebat, kamu harus menang di pertandingan selanjutnya demi diriku," ucap Chaika tersenyum pada Iris. Tidak berapa lama keduanya saling berjabat tangan.


"Kau telah berjuang dengan baik Chaika." Iris menenangkan Chaika yang terlihat ingin menangis, tidak sampai dua detik Chaika menangis memeluk Iris.


"Kalah ... rasanya sangat ... menyakitkan..." Chaika menangis di pelukan Iris. Mereka berdua kembali duduk di bangku penonton khusus peserta, tidak berapa lama Chiaki dan Yuri menghampiri Chaika.


"Kau telah berjuang dengan sangat baik, Chaika!" Teriak Yuri berlari ke arah Chaika. Gadis muda yang dulu terlihat seperti laki-laki itu kini semakin terlihat cantik dengan rambutnya yang kian memanjang.


"Adik keren, bukan maksudku, Chaika sangat hebat bisa bertarung melawan Iris..." Chiaki mencoba menenangkan kakaknya itu.


"Selanjutnya Nagato..." Tiba-tiba Chaika berhenti menangis, dia tersenyum lebar karena tidak sabar melihat kemampuan Nagato yang sejak dulu menjadi perhatiannya.


"Eh? Cepat sekali kamu ceria lagi?" Yuri kebingungan melihat Chaika yang telah duduk bersama Kitakaze Reto dan Kitakaze Owara.


"Dasar Adikku ini!" Chiaki sedikit sebal melihat Chaika yang telah kembali ceria. Padahal beberapa detik yang lalu Chaika masih menangis.


Mereka berdua juga duduk bersama Chaika untuk menonton pertandingan ketiga Turnamen Harimau Kai.


"Fuyumi Nagato dan Heise! Kedua nama yang kupanggil, silahkan maju kedepan!" Mujin berteriak memanggil nama Nagato dan Heise.


Semua penonton menatap Nagato yang memakai topeng rubah putih, beberapa dari mereka ada yang mengejek Nagato.


"Mungkin anak muda itu memiliki kelainan, Fuyumi adalah klan dimana anggotan klan tersebut, semuanya perempuan. Lihat, dia sudah pasti perempuan yang memiliki nama laki-laki."


"Hahaha, laki-laki yang menyamar menjadi perempuan."


Penonton mulai bersorak mendukung Heise yang merupakan wakil pendekar muda dari Ikatan Darah Tunggal. Tidak berapa lama mereka mulai membicarakan tentang pertandingan ketiga kali ini.


Sorakan penonton yang bergumuruh menggema di Arena Lingkaran Harimau, dan penonton mulai kembali membicarakan pertandingan antara Nagato melawan Heise.

__ADS_1


"Ikatan Darah Tunggal adalah perguruan yang kuat. Aku sangat yakin, pemuda yang namanya Heise akan memenangkan pertandingan ketiga Turnamen Harimau Kai ini." Salah satu penonton mulai berbicara tentang Heise yang terlihat lebih unggul di mata mereka.


"Sudah pasti itu, Heise juga merupakan murid dari lima perguruan terbesar di tanah Kai tidak mungkin kalah. Sangat disayangkan, sepertinya Fuyumi hanya memiliki satu anak yang berbakat," sahut salah satu pendekar yang sedang menonton dari bangku penonton.


Di antara kerumunan penonton yang sedang membicarakan Heise ada satu seorang pendekar pedang yang memiliki dua pedang tersarung rapi di pinggangnya mendukung Nagato. Seorang pria berambut hitam dengan luka yang terpampang jelas di dadanya menatap penonton yang mendukung Heise.


"Ada yang berani bertaruh denganku? Aku pasang 2200 keping emas!" Seorang pria yang bernama Hayabusa menaruh kantong yang berisi 2200 keping emas di depan penonton yang mendukung Heise.


"Apa masih kurang? Sepertinya tidak ada yang berani bertaruh denganku..." Hayabusa tersenyum simpul melihat raut wajah penonton yang tertarik bertaruh dengannya.


"Aku pasang 1000 Keling emas untuk Heise!" Salah satu penonton menaruh kantong emasnya di depan Hayabusa.


"Mana yang lain nih? Apa kalian takut bertaruh?" Penonton yang menaruh kantongnya yang berisi kepingan emas mulai memprovokasi yang lainnya untuk ikut bertaruh.


"Aku pasang 5000 keping emas untuk Heise!" Seorang pria paruh baya yang bernama Hideaki dan merupakan Sepuluh Tetua Kai ikut bertaruh untuk Heise. Dalam sekejap Hayabusa yang memakai tudung hitam menurunkan tudungnya agar tidak kelihatan wajahnya.


"Aku tambah 9020 keping emas untuk Fuyumi Nagato!" Lagi-lagi Hayabusa membuat semua orang terkejut.


"Kalau begitu, aku menambah 2000 keping emas untuk Heise." Hideaki tidak mau mengalah dengan Hayabusa.


Salah satu penonton hanya melihat orang-orang didepannya sedang bertaruh, tidak berapa lama dia terkejut dengan jumlah uangnya.


"19,220 keping emas! Luar biasa!"


"Hadiah Turnamen memang besar, tapi pertaruhan adalah hal yang menarik!"


"Kita lihat siapa yang akan mendapatkan 19,220 keping emas itu!"


Hideaki tersenyum lebar menatap penonton yang lainnya, tidak seperti Sepuluh Tetua Kai yang lain. Hideaki duduk bersama penonton untuk menyalurkan hobinya mencari orang yang mengajaknya bertaruh.


Hayabusa menatap tajam Nagato dari arah bangku penonton.


"Topeng itu? Aku seperti pernah melihatnya di masa lalu?" Hayabusa bergumam pelan menatap Nagato yang sedang berdiri di depan Mujin.


Tidak berapa lama Mujin menjelaskan peraturan pertandingan pada Nagato dan Heise.


"Apa kalian masih ingat dengan peraturannya? Jangan dendam jika salah satu dari kalian kalah. Harus sportif, ini adalah ajang untuk menjalin persaudaraan," ucap Mujin pada Nagato dan Heise sambil memegang pundak kedua pendekar muda tersebut.


"Aku masih mengingatnya, jangan dendam padaku. Karena yang akan kalah adalah kamu!" Dengan nada yang sombong dan angkuh, Heise merendahkan Nagato.


"Ambil jarak dan dengarkan aba-abaku dengan baik!" Mujin menyuruh Nagato dan Heise menjaga jarak.


Nagato memegang pedangnya dan matanya menatap tajam Heise.


Tidak berapa lama aba-aba dari Mujin memulai pertandingan ketiga Turnamen Harimau Kai.


"Mulai!"

__ADS_1


__ADS_2