
Mulut Iris membuka secara perlahan. "Bukankah dia Guren Toshiko." Tangan Iris memegang lengan baju Nagato. "Naga, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa seperti ini?"
Nagato menarik tangan Iris dengan lembut dan mendekati mayat Guren Toshiko yang tergeletak di jalanan sepi Ibu Kota Daifuzen. Jalanan yang sepi itu Nagato dan Iris lewati karena dekat dengan Arena Lingkaran Harimau.
Mengingat Penginapan Matahari Timur dekat dengan Arena Lingkaran Harimau, Nagato dan Iris lebih memilih rute melewati jalanan sepi. Namun mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan, mereka menemukan mayat Guren Toshiko yang tergeletak di tanah dengan perut yang ditusuk pisau dan sekujur pakaiannya terlihat penuh dengan bekas sobekan seperti di robek secara paksa.
Nagato menutup mata Guren dengan telapak tangannya secara lembut. "Semoga kau tenang disana. Aku tidak tahu siapa yang membunuh dirimu, dan kita tidak saling mengenal. Tetapi aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu, Guren Toshiko." Nagato membatin dalam hatinya ketika mata Guren tertutup.
Iris ikut berjongkok di samping Nagato sembari menatap wajah Nagato "Naga, apa perlu kita melaporkan hal ini kepada ibuku dan Nenek Emi?"
Nagato memejamkan matanya. "Ya, kupikir ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita campuri." Kedua bola mata Nagato menatap Iris. Tidak berapa lama mereka berdua mengangguk.
"Tunggu! Kalian jangan laporkan hal ini pada siapapun!" Seorang pria yang memakai tudung di kepalanya dan membawa dua pedang datang menghampiri Nagato dan Iris. "Lihat ini!"
Mata Nagato melebar, sedangkan Iris baru pertama kali melihat simbol tersebut. Lambang tengkorak dan bulan sabit berwarna merah karena darah terukir di perut Guren yang digambar dengan darah gadis muda tersebut.
Nagato dan Iris merasa kematian Guren sangat trgais. "Bukankah ini lambang yang membakar tempat tinggal Litha!" Dalam sekejap Nagato terlihat emosi namun tangan Iris menggenggam tangannya dengan erat.
"Naga, tenangkan dirimu..." Iris menarik tangan Nagato hingga pemuda itu berdiri di sampingnya.
"Bocah! Apa yang kalian berdua lakukan disini?" Pria tersebut menatap tajam Nagato dan Iris. Namun setelah melihat kedua wajah mereka berdua, pria tersebut terkejut. "Bukankah kalian ... Fuyumi Nagato dan Fuyumi Iris?"
Mendengar itu, Nagato menatap pria tersebut, namun tidak mengenalnya. "Sebenarnya apa yang terjadi disini? Kenapa dia bisa berakhir seperti ini?" Nagato bertanya untuk memastikannya.
"Entah, tetapi lambang ini adalah milik Sekte Pemuja Iblis yang namanya terkenal di Benua Ezzo." Pria tersebut menjawab. "Kalian tidak boleh terlibat masalah ini. Biar aku yang mengurusnya. Kebetulan aku baru saja pergi ke salah satu penginapan untuk membunuh puluhan penyusup."
Nagato dan Iris terdiam mendengar perkataan pria yang memakai tudung tersebut. Selang beberapa detik kemudian, Nagato kembali berkata, "Aku tidak tanya kesibukanmu."
Pria tersebut tertawa. "Fuyumi Nagato. Apa kau tidak penasaran dengan namaku?" Nagato dan Iris menjauh tiga langkah dari pria tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak penasaran dengan namamu. Hanya saja aku lebih penasaran dengan orang yang membunuh Guren Toshiko ini!" Nagato menatap tajam mayat Guren Toshiko yang tergeletak di tanah.
"Hayabusa. Itulah namaku." Pria tersebut mengecek luka tusuk dari sebilah pisau di perut Guren.
Nagato menatap tajam Hayabusa. "Aku tidak tanya namamu!" Sedangkan Iris menatap Hayabusa penuh kewaspadaan. Mengingat penampilan Hayabusa terlihat mencurigakan.
"Tetapi, kalian berdua adalah pendekar muda jenius yang paling menarik perhatian. Dan ternyata kalian telah pacaran. Hah, aku kaget melihatnya." Hayabusa tidak mempedulikan perkataan Nagato. "Anak muda sekarang cepat besar dan agresif."
Nagato dan Iris memerah wajahnya. "Kami tidak pacaran!" Nagato dan Iris mencoba mengelak perkataan Hayabusa secara bersamaan.
Hayabusa melihat tangan Nagato dan Iris yang saling menggenggam. "Lihat jari manis kalian itu. Hanya dengan melihatnya saja aku sudah tahu." Hayabusa tertawa lirih. Tidak berapa lama wajahnya berubah serius.
"Andai saja ada petunjuk tentang pembunuh keparat ini! Sial!" Hayabusa mengertakkan giginya. Nagato dan Iris terkejut melihatnya.
Mata Nagato menatap pisau dan sobekan di sekujur tubuh pakaian Guren. Selang beberapa detik saja terlintas dipikiran Nagato tentang Kucing Manis yang termasuk dalam jenis Hewan Buas dapat membantu Hayabusa menemukan petunjuk.
"Chibi." Nagato membatin memanggil nama kucing peliharaan Litha.
"Iris, lebih baik kita segera kembali ke Penginapan Matahari Timur. Kita harus rahasiakan dari Bibi Shirayuki dan Nenek Emi." Nagato mencoba meyakinkan gadis cantik yang tangannya sedang dia genggam. "Aku percaya pada orang aneh yang mencurigakan ini."
Iris justru tertawa lirih mendengar ucapan Nagato. "Justru karena dia mencurigakan kamu harus mewaspadai dia, Naga. Tetapi kamu malah percaya padanya. Kamu aneh, Naga." Senyuman Iris membuat Nagato tersipu malu.
"Bukankah tadi kamu bilang kita tidak boleh terlibat ini dan harus melaporkannya pada Nenek Emi?" Iris tersenyum tipis dan menjinjit untuk melihat lebih jelas wajah Nagato yang memerah.
"Aku percaya orang aneh ini!" Nagato memencet lembut hidung Iris kemudian langsung melepasnya. "Lupakan saja, lebih baik kita tinggalkan orang aneh ini. Dan memanggil orang dewasa untuk mengurus ini."
Hayabusa mengerutkan dahinya. "Fuyumi Nagato, tadi kau bilang aku orang aneh, bukan?" Tersirat wajah Hayabusa dipenuhi kemarahan. "Cepat kembali! Ini bukan urusan anak kecil seperti kalian!" Hayabusa menegaskan.
Nagato dan Iris menatap tajam Hayabusa. "Katakan tujuanmu yang sebenarnya, Hayabusa?" Iris tidak percaya Nagato memanggil nama Hayabusa seperti seorang teman dengan mudahnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan katakan padamu. Bocah sepertimu lebih baik jangan ikut campur masalah orang dewasa." Hayabusa tersenyum menyeringai menatap wajah Nagato.
"Ayo pergi, Iris!" Setelah mendengar perkataan Hayabusa, dengan cepat Nagato menarik tangan Iris.
"Naga!" Iris terkejut. Gadis cantik tersebut kebingungan. "Kamu kenapa, Naga?"
Nagato terus berjalan sambil menarik tangan Iris. "Apa kamu akan memberitahu hal ini kepada mereka yang ada di Penginapan Matahari Timur?"
Iris mempercepat langkahnya dan menggenggam tangan Nagato. Kemudian dia menarik tangan Nagato ke belakang hingga tubuh Nagato berada di depannya.
"Aku akan memberitahu ini pada Ibu dan Nenek Emi," ucap Iris pada Nagato.
Nagato menatap wajah Iris cukup lama. Kemudian dia menghela napas panjang. "Lagipula cepat atau lambat sesuatu seperti ini akan menjadi sesuatu yang menghebohkan." Nagato kembali menarik tangan Iris.
"Iris, tunggu sebentar!" Nagato menarik tangan Iris dan memeluk pinggang gadis cantik tersebut. "Aku ingin memelukmu sebentar saja. Bukankah ini permintaanmu karena telah melewati tantanganku?"
"Eh? Naga?" Iris terkejut. Wajahnya merah padam. Gadis cantik tersebut tidak percaya Nagato akan memeluknya dalam situasi seperti sekarang ini, dimana ada orang yang melihat mereka.
Nagato menatap Hayabusa yang juga sedang menatap dirinya. Tangannya memberi tanda pada Hayabusa agar menungggu dirinya di tempat ini.
Setelah melihat Hayabusa mengangguk. Nagato melepas pelukannya dan kembali menarik tangan Iris. "Maaf. Aku melakukan hal yang memalukan."
Iris tersenyum tipis. "Apa kamu menyembunyikan sesuatu yang penting dariku?" Iris bertanya untuk memastikan karena menurutnya Nagato bukanlah tipe pemuda yang berani memeluk dirinya tanpa suatu alasan yang pasti.
"Itu adalah hadiah dariku karena telah menemaniku." Nagato mencari alasan. Namun Iris hanya bisa mencoba mempercayai jawaban Nagato.
"Baiklah, aku percaya padamu." Iris tersenyum lembut pada Nagato. Kemudian dia membatin lirih dalam hatinya. "Naga, kamu ingin aku tidak terlibat dengan masalah tadi, bukan?" Gadis cantik itu menebak isi hati Nagato.
Sebelum sampai di Penginapan Matahari Timur, Nagato dan Iris kembali dikejutkan dengan yang terjadi di depan Arena Lingkaran Harimau.
__ADS_1
Raut wajah Nagato murka. "Litha?!" Dengan cepat Nagato melepas tangan Iris dan berlari ke arah kerumunan puluhan pria yang mengeroyok delapan gadis muda.