
Waktu yang dimiliki Nagato hanya tinggal sedikit, saat Hound sedang mencoba menghubungi Markas Besar Organisasi Hero yang ada di Pulau Heya, dia tidak menyangka Magma akan kembali menghubungi dirinya setelah sekian lama.
“Kakak, ini aku, Magma. Sekarang kau berada dimana?” Suara Magma terdengar ketika Hound mengangkat dan menerima panggilan dari Tablet yang diberikan oleh Magma. Hound sendiri mempunyai dua Tablet.
“Ya, ini aku. Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Sihir Azbec.” Hound menjawab dengan tenang sambil merokok santai.
“Sudah dua tahun sejak kau pergi mendapatkan misi itu, selama itu juga kau tidak kembali ke Azbec.” Suara Magma terdengar tenang sebelum kembali melanjutkan perkataannya, “Bagaimana? Apakah kau berhasil menemukan keturunan Pandu yang bernama Nagato itu?”
Hound berkeringat dingin, “Tidak, aku hanya menemukan selebaran poster buronan anak yang kita cari.”
“Jadi garis keturunan Pandu telah berakhir. Aku rasa ayah akan tenang karena luka lamanya yang diakibatkan oleh Pandu itu. Aku ada kabar baik untukmu, Kakak.” Magma kembali berbicara, sementara Hound sebisa mungkin menjauh agar Nagato tidak mendengar perkataannya, tetapi terlambat sudah, karena Nagato mengetahui jika Hound adalah anak dari Kazan dan seorang kakak dari Magma.
“Kalau begitu, bukankah ini kabar yang baik.” Hound memejamkan matanya dan tetap memegang Tablet.
“Ya, salah anggota dari Black Madia berhasil mendapatkan Air Mata Phoenix saat mereka melakukan pencarian di Pulau Ryushima. Ini rahasia, karena Air Suci tersebut diambil dari kapal Bangsawan Bahamut yang sedang dalam perjalanan ke Azbec.”
Hound tersenyum. Tidak pernah dia sangka ini adalah berita bagus untuknya. Dengan ini Nagato akan sembuh. Matanya mengalihkan pandangannya menatap Chibi yang sedang tertidur di atas badan Nagato.
“Kembalilah. Kau akan mendapatkan misi baru untuk mengantarkan Air Mata Phoenix ke tempat ayah.” Magma melanjutkan perkataannya dan memberikan penjelasan pada Hound jika saat ini dia harus secepatnya kembali ke Pulau Majin.
“Baiklah, aku akan kembali secepat mungkin. Dimana Air Mata Phoenix itu berada? Siapa yang memegangnya?” Hound bertanya. Dia menarik napas karena tidak dapat menyembunyikan kesenangannya.
“Air Mata Phoenix itu berada di tangan Black Morn. Saat ini mereka sedang berada di Tambang Ascerik. Mereka akan datang ke Pulau Majin setelah menutup semua akses menuju Tambang Ascerik. Jika kau berniat kesana, tidak apa. Tetapi aku bersama beberapa anggota sedang dalam perjalanan kesana. Jadi kita akan bertemu di jalan nantinya.” Magma menjelaskan, sementara Hound langsung berkemas sambil terus mendengarkan perkataan Magma.
“Aku akan kembali.” Hound menutup panggilan dan langsung membangunkan Nagato, walau Nagato sendiri sudah bangun dan mendengarkan pembicaraan Hound.
“Nagato, bangun! Aku ada kabar bagus!” Hound mengangkat tubuh Nagato. Berat badannya menurun, mengingat tubuhnya kian melemah.
“Kau dapat sembuh dengan meminum Air Mata Phoenix! Lupakan saja orang-orang bodoh itu yang tidak dapat menyembuhkanmu! Dengan ini, penyakit jantung dan kutukanmu bisa sembuh!” Hound begitu bergembira. Sementara Nagato merasa tersentuh melihat anak dari orang telah membunuh orang tuanya justru membantunya kembali bangkit.
“Penyakit jantungku dan kutukanku bisa sembuh? Jadi aku akan sembuh, Hound-San?” Nagato bertanya.
“Ya, kau bisa sembuh.” Hound begitu bersemangat.
“Meong-Meong.” Tampak Chibi juga terlihat bahagia. Hound dan Nagato menatap Chibi.
Nagato sendiri merasa Chibi mengerti bahasa manusia. Tetapi saat ini dia akan kembali sembuh, dengan ini dia akan dapat berlatih dan menjadi lebih kuat demi menuntaskan tujuan dan impiannya.
“Nagato, aku mendengar dari Uzui jika kau itu anak Pandu. Kemampuan unsur apimu itu dapat kau satukan dengan Air Mata Phoenix. Dengan begitu kau dapat membantu banyak orang yang sakit. Kemampuan ini sama seperti Arwah Suci Phoenix.” Hound terlihat begitu gembira. Sampai membuat Nagato menahan air matanya.
‘Hound-San, terimakasih. Aku akan melupakan dendamku kepada Kazan dan Magma. Aku tidak menyangka orang baik hati sepertimu memiliki orang tua seperti mereka.’ Nagato membatin karena menyadari semua yang terjadi. Dia pernah bertemu Asha yang tidak bahagia walau tinggal bersama orang tuanya, sekarang dia diselamatkan oleh Hound yang telah memberinya kesempatan kedua.
Berkat Hound, Nagato dapat melewati masa kelamnya. Berulang kali dia putus asa dan mencoba bunuh diri, tetapi Hound selalu menghentikannya.
“Nagato, dengarkan aku. Air Mata Phoenix itu berada di tangan Magma. Kebetulan Tambang Ascerik dekat dengan kita. Aku akan mengantarmu ke tempat yang aman.” Hound tersenyum ramah menatap Nagato.
Nagato membawa Chibi dan memeluknya sambil mengikuti Hound dari belakang. Hound membawa Nagato melewati sebuah jembatan gantung.
Sesampainya Nagato dan Hound di sebuah pohon cemara, Hound menyuruh Nagato agar tetap tenang menunggu dirinya.
“Dengar, kita berdua berhadapan dengan Organisasi Disaster! Aku akan merebut Air Mata Phoenix dan kau yang meminumnya! Dan setelah kau sembuh, kita berdua akan pergi dari Benua Ezzo ini! Kita akan berpetualang berdua keliling dunia!” Hound tersenyum ramah pada Nagato setelah berkata demikian, kemudian dia melangkahkan kakinya melewati jembatan gantung.
Nagato menatap punggung Hound, “Hound-San!” Mendengar itu, Hound menoleh ke belakang, “Hati-hati...”
__ADS_1
Nagato berharap jika tidak akan terjadi hal yang buruk. Saat ini mereka berada di Kerajaan Sihir Azbec. Tidak ada tempat yang aman jika bukan karena Hound telah menetap di Azbec selama beberapa tahun.
___
Tambang Ascerik adalah sebuah tambang tempat penyihir yang membelot pada pemerintah Black Madia dikurung. Orang-orang yang berada di dalam tahanan, tidak mempunyai masa depan. Selain harus bekerja tanpa henti, dengan upah makanan yang tidak seberapa, mereka hanya bisa menunggu giliran menjadi bahan percobaan dan mati.
Hound menatap ke arah Tambang Ascerik dari kejauhan. Dengan hati-hati Hound melewati penjaga dengan menunjukkan tanda jika dirinya adalah anggota Organisasi Disaster.
Selepas melewati penjaga, Hound membunuh mereka dengan sangat berhati-hati. Di dalam tambang terdengar suara teriakan, kemungkinan banyak tahanan yang disiksa.
‘Penjata disini tidak terlalu banyak. Kemungkinan ada satu atau dua orang yang cukup kuat menjaganya.’ Hound berpendapat sebelum masuk ke dalam tambang dan membuat semua penjaga yang di dalam menatapnya.
“Bukankah anda...”
“Kepala sipir! Ada kunjungan dari Tuan Hound!”
Ketika Hound melihat seorang pria mendekatinya. Dengan segera dia membunuh orang tersebut bersama penjaga di dalam Tambang Ascerik.
Namun kesalahan besar yang dilakukan Hound karena mengira orang yang telah dia bunuh adalah orang yang berkuasa di tempat ini yakni kepala sipir Tambang Ascerik.
“Oh, Tuan Hound...” Orang yang bernama Black Morn tersentak kaget melihat Hound membunuh semua penjaga beserta wakil kepala sipir tambang Ascerik, “Apa yang anda lakukan?”
Black Morn dengan cepat menghubungi kakaknya menggunakan Tabletnya, “Kakak Night! Tuan Hound membunuh semua penjaga di Tambang Ascerik! Laporkan ini pada Tuan Magma!”
Hound menggertakkan giginya karena bertindak gegabah. Tanpa basa-basi dia melesat cepat menyerang Black Morn. Mengingat Tambang Ascerik terdapat tahanan yang memberontak pada Black Madia, membuat Hound mengambil kunci yang ada di seragam Black Morn.
“Kau! Beraninya kau mengkhianati Tuan Magma!” Black Morn melepaskan sihir api ke arah Hound.
“Kalian bebas! Cepat melarikan diri dari sini!” Hound tersenyum menyeringai.
Hound dan Black Morn bertukar serangan lebih dari tiga puluh serangan sebelum Hound membuat Black Morn terkapar dengan pukulan api.
“Sekarang saatnya mengambil Air Mata...” Hound tidak menyelesaikan perkataannya karena tidak menyangka Black Morn menembak perutnya dengan pistol.
“Kau...” Hound langsung menghabisi Black Morn. Sementara tahanan tambang terlihat gaduh karena satu demi satu orang keluar dari dalam sel.
Hound berjalan menyusuri tambang sebelum akhirnya dia menemukan ruang kepala sipir. Di ruangan itu terdapat cawan suci yang bersinar dan seperti air bening. Saat itu Hound mengetahui jika itu bukanlah Air Mata Phoenix melainkan Air Suci Kehidupan.
“Sial!” Hound mengumpat dan mengambil Air Suci Kehidupan. Kemudian dia langsung bergerak cepat keluar dari Tambang Ascerik. Namun kekacauan terjadi.
Hound melebar matanya melihat ledakan magma yang terlihat sudah dekat. Beruntung Magma tidak datang dari tempat Nagato berada, tetapi ini membuat Hound sadar jika tidak ada cara untuk melarikan diri baginya.
Para tahanan tambang berlari ke segala arah karena merasakan bahaya ketika melihat bola-bola magma memenuhi langit malam di tempat itu.
‘Magma, kah?’ Hound langsung bergerak cepat menuju tempat Nagato. Dia melewati jembatan gantung yang digunakan penyihir yang melarikan diri. Kemudian dia melihat Nagato yang sedang tergeletak lemah di tanah bersalju.
Hound menatap Nagato cukup lama. Dia mengingat saat-saat dirinya dan Nagato menghabiskan waktu bersama-sama selama dua tahun belakangan ini.
‘Aku sudah tidak dapat melarikan diri lagi. Jika aku dapat mengulur waktu dan menahan Magma, mungkin aku dapat membuat Nagato pergi dari tempat ini. Aku telah menghabiskan waktu bersamamu, dan belum memberitahumu tentang identitasku ini. Jika aku memberitahumu, apakah kau akan membenciku? Karena aku anak dari Kazan, tentunya kau akan membenciku...’ Hound membatin sedih dalam hatinya. Tak lama Nagato terbangun dengan wajah yang panik ketika melihat bola-bola magma di atas langit.
“Hound-San!”
Hound menutupi perutnya yang tertembak, bahkan peluru masih bersarang diperutnya itu.
__ADS_1
“Syukurlah, kau baik-baik saja!” Mendengarkan perkataan Nagato membuat Hound ingin menangis.
“Nagato, maafkan aku. Ternyata ini bukanlah Air Mata Phoenix. Kau peganglah ini...” Hound memberikan cawan suci yang berisi Air Suci Kehidupan kepada Nagato.
“Ini adalah Air Suci Kehidupan yang dapat memberikan kekuatan. Ada macam-macam seperti meramal, mimpi masa depan dan membuat hewan menjadi berbicara.” Hound menatap Chibi.
“Aku gagal, maafkan aku, Nagato.” Hound mengepalkan tangannya. Ketika darah segar menetes dari perutnya, Nagato langsung panik.
“Hound-San!”
“Perutmu berlubang? Kau terluka karena aku, kan? Kenapa kau sangat ingin menyelamatkanku? Aku takut sendirian, Hound-San! Kita harus segera sembuhkan ini, aku tidak ingin kau mati!” Nagato panik, tetapi Hound tertawa lirih.
“Nagato, aku akan baik-baik saja. Luka ini tidak akan membunuhku...” Hound meremas rambut Nagato dan tersenyum ramah, “Aku akan menghentikan pendarahan ini.”
Hound menoleh melihat langit, bahkan Nagato menyadari jika bola-bola magma yang besar itu bukanlah sesuatu yang asing dimatanya.
“Maafkan aku, Nagato. Aku gagal mendapatkan Air Mata Phoenix, kemungkinan Air Mata Phoenix tidak berada di benua ini dan aku selama ini hanya membuatmu menderita. Tetapi Air Suci Kehidupan bisa kau suruh Chibi untuk meminumnya, kemungkinan air ini dapat membuat hewan menjadi berbicara.” Hound berjongkok dan menatap Chibi.
“Apakah kau meminum ini, Chibi?” Nagato bertanya kepada Chibi.
“Meong-Meong.” Chibi terlihat kegirangan. Nagato meminumkan Air Suci Kehidupan untuk Chibi, namun sesuatu yang mengejutkan terjadi, tiba-tiba Chibi berbicara sebelum tergeletak tubuhnya.
“Na ... ga... to...”
“Chibi?” Nagato kembali panik. Sekarang dia benar-benar menjadi orang yang paling takut dengan yang namanya kehilangan.
“Dia masih hidup, Nagato. Chibi hanya pingsan.” Ucap Hound menenangkan.
”Maafkan aku yang menyuruhmu sedang sakit, tetapi aku ingin kau melakukan sesuatu. Pegang Tablet milikku ini dan catatan ini.” Hound menatap Nagato yang berkaca-kaca.
Nagato sendiri sudah mengetahui Tablet yang dipegang Hound karena pria berambut merah itu menceritakan banyak hal tentang dunia pada dirinya termasuk teknologi di luar Benua Ezzo.
”Nagato, mulai saat ini kau harus berjalan ke arah barat hingga mencapai Pulau Ryushima. Dan benda kecil ini adalah berkas tentang Benua Raya, aku pernah kesana dahulu. Ini akan menyelamatkan negeri yang sedang menanti tibanya sang fajar...” Hound menjelaskan, sementara Nagato merasa gelisah karena melihat ledakan Magma.
“Tetapi...”
“Dengarkan perkataanku, Nagato. Kau harus menjauh dari tempat ini dan pergi menuju Pelabuhan Pulau Ryushima. Teruslah berjalan ke barat. Selama kau tidak menyerah maka kau akan memiliki kesempatan untuk hidup...” Hound memegang pundak Nagato.
“Bagaimana denganmu, Hound-San?” Nagato tidak ingin berjalan sendirian.
Hound tersentak sesaat. “Aku akan menahan Magma sebentar. Tenang saja, walau dia mempunyai kekuatan yang berlawanan denganku dan magma lebih kuat dari api. Tetapi aku tidak akan tumbang semudah itu. Aku adalah Pahlawan, jangan lupakan itu.”
Nagato tersenyum lega melihat kepercayaan diri Hound. Sementara itu Hound melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Nagato.
“Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi kau harus pergi meninggalkan tempat ini!” Hound mengulurkan jari kelingkingnya pada Nagato. Kemudian Nagato menyambutnya.
“Aku berjanji, Hound-San.” Nagato mengaitkan jari kelingkingnya.
“Jaket ini akan menghangatkanmu saat kau kedinginan .... Kalau begitu, sampai jumpa di Pulau Ryushima.” Hound tersenyum kepada Nagato dan membalikkan badannya, “Tunggu aku disana, Nagato.”
Di saat amukan Magma dan anggotanya semakin mendekat. Hound merasa lega karena Nagato mendengarkan perkataannya untuk menjauh dari tempat Tambang Ascerik.
Dengan kekuatannya, dia menghancurkan jembatan gantung agar tidak ada akses untuk mengejar Nagato.
__ADS_1
Kisah akhir dari pria berambut merah yang baik hati dan langkah awal Nagato memenuhi permintaan Hound telah mencapai babak akhir.