Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 21 - Benang Merah


__ADS_3

Malam ini wali kota bersama para pasukan militer penjaga Kota Yasai mengevakuasi penduduk kota untuk menuju alun - alun tengah kota.


Di alun - alun tengah kota terlihat sebuah patung pria dan wanita yang memakai topi jerami patung kedua pasangan itu adalah petani, yang sedang memegang sayuran ikon dari kota ini cocok dengan nama kota yaitu Yasai yang berarti Sayuran.


Para penduduk kota berbondong - bondong menuju alun - alun tengah Kota Yasai, penduduk yang tinggal di dekat dinding kota segera berlari dan menjauh dari rumah mereka, mereka semua menuju alun - alun tengah kota yang telah diinformasikan oleh para penjaga kota.


"Apa benar Sekte Pemuja Iblis berniat menyerang kota ini!" ucap seorang wanita yang terlihat ketakutan.


"Iya, tapi tenang saja karena dipihak kita banyak pendekar tangguh! Bahkan Tuan Putri Shirayuki ada di pihak kita!" jawab penjaga kota dengan penuh percaya diri.


Kekaisaran Kai bagian Provinsi Utara yang dikuasai oleh Bangsawan Kita dan ketiga klan yang termasuk dalam sepuluh klan terkuat di Kekaisaran Kai mendominasi wilayah ini.


Para pejabat dan wali kota di Provinsi Utara peduli terhadap rakyat yang tinggal di wilayah mereka, berbeda dengan provinsi lain di Kekaisaran Kai, bahkan Bangsawan Besar seperti Bangsawan Kita begitu peduli terhadap rakyat biasa, keluarga mereka berbeda dengan kaum bangsawan lain di Kekaisaran Kai.


Ribuan penduduk kota memadati alun - alun Kota Yasai, mereka berdesak - desak untuk berada ditengah kota, karena titik tengah kota adalah tempat yang paling aman menurut mereka.


Ketika para penduduk kota mulai berdesak- desakan dan terjadi perkelahian kecil sesama penduduk kota karena nyawa mereka yang menjadi taruhan karena penyerangan yang dilakukan oleh Sekte Pemuja Iblis, sehingga mereka hanya peduli terhadap diri sendiri dan orang yang dikenalnya saja seperti keluarga, teman, dan yang lainnya sedangkan orang yang mereka anggap tidak penting atau tidak mereka kenal, mereka hiraukan dan abaikan begitu saja.


Ketika dalam keadaan hidup dan mati ataupun terdesak seperti ini sifat dalam hati manusia yang paling dalam akan keluar dan menunjukkan sifat aslinya.


Wali kota yang melihat penduduknya bersikap seperti itu membuat dirinya mengerutkan dahi dan emosi.


"Para penduduk Kota Yasai sekalian, dengarkan suaraku ini!" Teriak Wali Kota Yasai yang bernama Moyashi itu terdengar begitu keras dan lantang, sehingga para penduduk yang mendengar suaranya menjadi diam dan tenang.


"Dalam keadaan terdesak seperti ini, kalian semua hanya mementingkan diri sendiri dan menyelamatkan orang yang kalian kenal saja! Ingat kita semua adalah penduduk Kota Yasai yang kita cintai ini kota penuh tali persaudaraan dan kota indah dengan beragam warna!" Teriak Moyashi suaranya membuat penduduk kota merenung, Moyashi tidak peduli lagi jika suaranya serak karena dia berteriak.


"Kita tidak mengenal satu sama lain, tapi ingatlah perkataanku ini, Kita semua adalah penduduk Kota Yasai, kita semua adalah saudara, tidak perlu panik, kita cukup berdoa dan percayakan sisanya pada para pendekar yang mempertahankan kota ini! Mari kita saling merangkul satu sama lain, mari kita saling mengenal satu sama lain, mari kita saling berjuang bersama satu sama lain untuk melindungi Kota Yasai yang kita cintai ini!" Suara Moyashi terdengar begitu keras dan lantang membuat hati para rakyatnya tergerak karena perkataannya.


Perlahan para penduduk kota mulai terlihat tenang mereka mulai menatap orang yang disamping mereka dan menyapa sambil tersenyum kepada orang yang berada didekat mereka.


"Benar, Perkataan Tuan Moyashi itu benar!"

__ADS_1


"Kita harus saling bekerja sama untuk melindungi Kota Yasai tercinta ini!"


"Walaupun aku berasal dari Provinsi Barat tapi penduduk di wilayah utara begitu ramah padaku dan mereka menerimaku apa adanya tanpa memandang status sosial!"


"Benar, kita semua adalah saudara, kita harus percaya pada pendekar yang melindungi kota ini!"


"Hidup Tuan Mayoshi! Hidup Tuan Mayoshi! Hidup Tuan Mayoshi!" Teriak para penduduk secara serentak membuat suaranya menggema keseluruh pelosok Kota Yasai.


Ketika para warga kota sedang gelisah dan cemas, wali kota yang bernama Moyashi berhasil menenangkan para warga kota dengan pidatonya.


Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, bahkan malam ini bulan purnama bersinar dengan terangnya dan terlihat dengan jelas jika rembulan menyinari kota ini dalam kegelapan.


Salah satu pendekar dari kedua orang kepercayaan Hana mendatanginya, kemudian dia menjelaskan bahwa ada pergerakan mencurigakan dihutan yang ada di tembok timur.


"Putri Shirayuki aku akan memantau lawan dari tembok timur, mereka sepertinya telah melakukan pergerakan!" Hana menatap Shirayuki kemudian dia berdiri sambil mengambil selendang merah mudanya.


Hana menjelaskan kepada Shirayuki jika salah satu kepercayaannya yang bernama Kafun merasakan pergerkanan dihutan timur.


Reto mengerutkan dahinya dia berniat untuk meminta maaf pada Nagato karena telah bertanya hal yang tidak perlu, namun sepertinya ini bukanlah waktunya kemudian dia memutuskan untuk menjaga gerbang selatan.


"Iris, ibu pergi dulu ya, kamu harus bisa menjaga keluarga Bangsawan Kita dengan kekuatanmu sendiri!" Shirayuki menghampiri Iris sambil menyentuh rambut hitam panjangnya itu sebelum pergi.


"Iya bu!" Iris hanya menuruti perkataan ibunya karena dia sangat mengagumi sosok ibunya tersebut.


Setelah beberapa pendekar keluar dari ruangan, Kuina dan Serlin mengajak ketiga gadis kecil dari Klan Fuyumi dan keluarga Bangsawan Kita untuk meninggalkan penginapan.


Nagato mendengar percakapan diruangan itu, tangannya yang melingkar ditubuh Litha telah terlepas namun ketika Nagato melepas pelukannya justru Litha memeluk tubuh Nagato lebih erat.


"Biarkan aku seperti ini selama beberapa detik!" suara yang terdengar lembut dan lirih terasa indah ditelinga Nagato.


Nagato tersenyum kemudian memeluk tubuh Litha kembali sambil sesekali dia mencium aroma wangi rambut Litha yang menyentuh pipinya.

__ADS_1


Litha terkejut tangan Nagato mendekap tubuhnya dengan erat, kali ini jantungnya berdegup kencang dan terdengar suara detakan jantungnya.


"Nagato?" Litha terkejut ketika merasa Nagato sedang menyentuh kepalanya dengan lembut bahkan suara nafas Nagato terdengar ditelinganya.


"Tunggu, jangan lihat aku!" Nagato merasa malu karena untuk menatap wajah Litha sehingga dia bingung harus berbuat apa.


"Biarkan aku melihatmu!" Litha mencoba mendorong tubuh Nagato dan tersenyum ketika melihat raut wajah Nagato yang lucu karena terlihat malu.


Nagato menutup matanya dengan tangannya kemudian dia berjalan menuju keluar kamar diikuti Litha dari belakang.


Kemudian mereka berdua mengikuti Kuina dan yang lainnya untuk pergi ke alun - alun tengah kota.


Chiaki dan Chaika menghampiri Nagato dan Litha, kedua gadis kecil kembar itu terlihat khawatir pada keadaan mereka berdua.


"Nagato, apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Chiaki sambil memandang Nagato.


"Sudah." Nagato memalingkan wajahnya kesamping karena Litha berada disampingnya.


Litha tersenyum mengingat raut wajah lucu Nagato ketika malu.


Nagato memegang pedangnya yang masih tersarung rapi didalam sarung pedangnya, sambil terus melangkah keluar penginapan.


Dalam perjalanan baik Nagato dan Litha hanya saling diam karena mereka berdua malu untuk memulai pembicaraan.


Nagato melirik Iris yang sedang berjalan disamping Tika dan Hika.


Iris juga melirik Nagato kemudian dia memalingkan wajah kesamping karena merasa terganggu dengan lirikan mata Nagato.


"Apa kamu seorang pendekar?" sapa Nagato pada Iris yang tidak peduli dengannya itu.


"Iya, aku seorang pendekar." suara Iris terdengar merdu dan indah tetapi tatapan matanya yang dingin membuat Nagato tersenyum tipis kemudian dia memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Apa dia menertawakanku!" batin Iris karena melihat Nagato tersenyum hangat padanya namun setelah itu Nagato memalingkan wajahnya ke samping seolah - olah dia menertawakan dirinya.


__ADS_2