Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 60 - Menuju Kota Reruntuhan Kuno


__ADS_3

Misi untuk membasmi bandit gunung yang meneror Kota Helai membuat Kakek Hyogoro merasakan firasat yang tidak enak. Sebelum berangkat menjalankan misi Kakek Hyogoro mengajarkan Litha dan Nagato tentang langkah kakinya yang cepat dan tanpa suara.


"Aku sudah tau sebagian dasarnya, tetapi bagaimanapun aku akan menguasainya!" batin Nagato ketika melihat Kakek Hyogoro mengajarkan tentang Langkah Tanpa Suara, yang selalu dirinya gunakan ketika mengajak Litha dan Nagato berlatih di Bukit Angin maupun Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda.


"Jadi kita harus mengolah pernapasan dan memusatkan tenaga dalam di kedua kaki kita, teteapi bagaimanapun itu masih sulit bagiku!" batin Litha ketika melihat Kakek Hyogoro mengajari Langkah Tanpa Suara.


"Jika kalian telah membuka aura itu akan menjadi hal mudah ditambah jika kalian mampu memanipulasi unsur elemen yang kalian punya maka itu akan menjadi senjata yang berharga buat kalian!" Kakek Hyogoro sedang menjelaskan kepada Litha dan Nagato sambil berangkat menuju ke Kota Reruntuhan Kuno.


Kakek Hyogoro mulai berlari diikuti Litha dan Nagato dari belakang, mereka berdua mencoba menggunakan langkah tanpa suara tetapi masih jauh dari kemampuan yang dimiliki Kakek Hyogoro.


"Litha, kamu tidak membawa Chibi?" tanya Nagato yang sedang berlari disamping Litha, mendengar pertanyaan Nagato, gadis kecil itu tertawa kecil.


"Aku membawanya, Chibi didalam tasku." Litha tersenyum pada Nagato dan tak lama Chibi keluar dari dalam tas Litha.


"Meong - Meong."


"Kucing ini sudah akrab dengan Litha?!" gumam Nagato yang melihat anak kucing manis di tas punggung Litha.


"Jangan tertipu walaupun manis dan menggemaskan, tetap saja Chibi berbahaya!" batin Nagato sambil menelan ludah melihat Chibi karena terlihat menggemaskan dengan bulu putihnya.


Kakek Hyogoro memakai rute terobosan yang aman menuju jalan keluar Hutan Cakrawyuha, lapisan hutan demi lapisan hutan mereka lewati dan tak lama mereka telah keluar dari Hutan Cakrawyuha.

__ADS_1


Dari luar Hutan Cakrawyuha terlihat seperti hutan biasa pada umumnya, namun ketika masuk kedalam hutan tersebut yang ada hanyalah tempat yang indah dan mengerikan.


Kabut mulai menutupi Hutan Cakrawyuha dan tak lama Kakek Hyogoro duduk sejenak sambil mengatur napasnya karena matahari sudah hampir terbenam.


"Kita makan bekal dulu, setelah itu kita lanjutkan kembali perjalanan!" ajak Kakek Hyogoro yang sedang mengeluarkan bekal makanan dari tasnya yang sudah dibuat oleh Litha tadi pagi.


"Nagato, apa dulu kamu tinggal di hutan, sepertinya kamu cepat sekali beradaptasi di Hutan Cakrawyuha?" tanya Litha yang duduk disamping Kakek Hyogoro, kemudian Nagato duduk disamping Litha sebelum menjawab pertanyaan gadis kecil itu.


"Iya, saat itu aku tinggal di Hutan Suci di Kerajaan Azbec." jawab Nagato dengan tenang sambil menaruh tasnya.


"Heh? Ketika aku besar nanti aku ingin berpetualang keliling dunia! Aku ingin melihat dunia luar!" gumam Litha yang sedang membuka tutup bekalnya.


Nagato hanya tersenyum melihat Litha yang terlihat bahagia dan senang.


"Pada saat itu aku kabur dari takdir yang menyakitkan dan kini aku dipertemukan dengan takdir yang lainnya, hidup memang selalu mengalun kearah yang tak terduga!" batin Nagato sambil mengunyah makanan perkedel yang dibuat Litha.


Litha menatap Nagato dan tersenyum tipis melihat pemuda tampan yang sedang melamun dan mengunyah makanan yang telah dibuatnya.


"Bagaimana Nagato, apa rasanya enak?" tanya Litha yang melihat Nagato mengunyah perkedel buatannya.


"Enak, aku bersyukur bisa memakan masakanmu." jawab Nagato dengan polosnya sambil memakan perkedel buatan Litha bersama nasi putih.

__ADS_1


"Eh? Syukurlah." Litha memalingkan wajahnya kesamping mendengar jawaban Nagato, wajah Litha memerah, merasa malu dan senang disaat yang bersamaan kesan yang bercampur aduk menghampiri dirinya.


Satu jam kemudian Kakek Hyogoro mengajak mereka berdua untuk kembali melanjutkan perjalanan ke timur.


"Kita pergi kemana kakek?" tanya Litha pada Kakek Hyogoro.


"Hmm ... ke sebuah kota yang sudah menjadi reruntuhan." Kakek Hyogoro mengelus dagunya sambil memikirkan sesuatu.


"Kota reruntuhan kuno, namanya terdengar bagus walau disana hanyalah tempat tempat bagi para orang buangan!" Kakek Hyogoro menambahkan.


"Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan, aku akan berusaha mengikuti Kakek dan Nagato!" Litha tersenyum ceria.


"Jadi ini pekerjaan Kakek Hyo, membasmi penjahat seperti pahlawan kesiangan!" Nagato tersenyum tipis sambil memalingkan wajahnya kesamping.


"Nagato, kamu tidak boleh berbicara seperti itu sama Kakek!" Litha terlihat kesal karena mendengar perkataan Nagato.


"Eh ... Ma-Maaf!" Nagato mengangkat kedua tangannya ketika Litha mendekati dirinya.


"Hahaha ... Kakek juga tidak bisa hidup tanpa uang, walaupun di Hutan Cakrwayuha banyak yang bisa dijadikan makanan sehari - hari, tetap saja kita masih membutuhkan uang!" Kakek Hyogoro menatap langit yang sudah mulai gelap.


"Pada akhirnya cara kerja dunia ini berakhir dengan uang!" Kakek Hyogoro menambahkan.

__ADS_1


Litha dan Nagato menatap Kakek Hyogoro yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tak lama Kakek Hyogoro mengajak mereka berdua untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Reruntuhan Kuno.


__ADS_2