
Jari kelingking Gyuki mengorek lubang telinganya, tidak berapa lama Gyuki meniup kotoran telinganya ke arah udara.
"Mereka terlalu heboh, suara bising ini membuatku tidak nyaman berada di tengah lapangan." Gyuki membatin kesal dalam hatinya. Pria itu menunggu kedatangan dua peserta yang sedang berjalan menuju tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.
Selang beberapa menit kemudian Hiragi dan Mirazawa datang bersamaan di depan Gyuki. Mata Gyuki menatap dua peserta yang akan bertanding.
"Apa kalian tidak keberatan dengan keputusan pertandingan ini?" Gyuki mengajukan pertanyaan terlebih dahulu pada Hiragi dan Mirazawa.
"Aku tidak keberatan. Cepat kita mulai pertandingan ini." Hiragi dengan tidak sabaran langsung menanggapi pertanyaan Gyuki. Sedangkan Mirazawa terlihat ragu melawan Hiragi.
"Kau bagaimana?" Hiragi melirik Mirazawa.
Gyuki melihat Mirazawa hanya diam, pria itu menghela napas panjang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Kurozawa Mirazawa. Aku membaca catatan pertandingan di Turnamen Harimau Kai cukup mentereng prestasimu. Selama tiga tahun berturut-turut kau selalu masuk babak 16 besar. Apa kau tidak mempunyai keberanian melawan Tuan Muda Hiragi?" Gyuki menatap tajam Mirazawa, sambil menunggu jawaban Mirazawa yang sedang memejamkan matanya, Gyuki membatin. "Sistem kasta jenius? Anak ini cukup belagu. Jadi ingat masa lalu saat Tuan Muda mengalahkan kakak kandungnya."
Gyuki menatap tajam raut wajah Hiragi yang terlihat tidak sabaran bertarung melawan Mirazawa.
"Aku berani. Aku berani bertarung melawan Tuan Muda Hiragi." Mirazawa menghela napas panjang setelah berkata demikian.
"Baiklah, kalian berdua ambil jarak."Gyuki langsung memberi isyarat pada Hiragi dan Mirazawa agar mengambil jarak tepat setelah Mirazawa tidak keberatan melawan Hiragi.
"Pertandingan ketujuh babak 32 besar Turnamen Harimau Kai antara Tuan Muda Hiragi melawan Kurozawa Mirazawa dimulai!" Gyuki tersenyum tipis setelah memulai pertandingan babak 32 besar antara Hiragi melawan Kurozawa Mirazawa.
Serangan pembuka dilancarkan oleh kedua peserta, tangan Hisui langsung menarik pedangnya yang berwarna putih dan pedangnya itu termasuk dalam ukuran besar. Dengan gerakan yang cepat, Hiragi menebaskan pedangnya pada Mirazawa.
Benturan pedang menggema ketika Mirazawa menangkis tebasan pedang Hiragi dan memulai serangannya, Mirazawa tidak segan-segan mengayunkan pedangnya pada Hiragi.
"Putaran Hitam Pekat!"
Dalam pertarungan sengit yang terjadi, Hiragi dengan cepat memutarkan tubuhnya dan kembali menebaskan pedanganya pada Mirazawa. Sebuah pusaran aura berwarna hitam pekat mulai menyeret tubuh Mirazawa.
Semua orang terkejut melihat Hiragi yang memiliki aura berwarna hitam pekat, warna hitam tidak selalu menandakan kejahatan tetapi untuk seorang anak Kaisar Kai tentu ini bukanlah hal yang baik.
Banyak orang yang menganggap warna aura memiliki sifat yang sama dengan pemiliknya, tetapi sebenarnya itu adalah hal yang berbeda. Bahkan ada orang yang memiliki aura putih memiliki sifat yang bengis dan jahat. Biasanya orang yang memiliki aura putih tersebut, auranya tidak terlalu putih, karena warna putihnya bercampur dengan hitam dan terkadang merah seperti sebuah noda dalam kain putih yang bersih.
Sedangkan ada kasus dimana seseorang yang memiliki aura hitam pekat justru memiliki sifat yang baik hati. Semua kembali pada diri masing-masing manusia, jika ilmu bela diri tidak ditempa dengan kerohanian maka semua akan percuma.
Kembali ke pertarungan antara Hiragi melawan Mirazawa, benturan pusaran terjadi di tengah lapangan, Mirazawa juga mengeluarkan aura tubuhnya yang berwarna ungu. Terlihat kemampuan berpedang Hiragi dan Mirazawa sama.
Hiragi tersenyum tipis, pemuda itu melirik tajam Iris yang sedang duduk di bangku penonton. Hiragi sedari kecil selalu dikelilingi anak perempuan karena statusnya, namun dia tidak pernah menemukan seorang perempuan seperti Iris.
"Aku tidak kalah hebat dengan anak berandalan itu!" Hiragi membatin kesal mengingat Nagato.
Tidak berapa lama serangan tebasan lurus dari depan mengarah padanya, Hiragi menangkis tebasan pedang Mirazawa dengan mudah.
"Tebasan Api Membara!"
Hiragi memusatkan aura tubuhnya pada bilah pedangnya, kemampuan yang dia dapat dari Perguruan Api Abadi membuat penonton berdecak kagum. Serangan tebasannya berhasil dimentahkan oleh Mirazawa yang menangkis menggunakan teknik pedanganya.
"Cekungan Ungu!"
Benturan aura berwarna hitam pekat dan ungu terlihat di udara, api yang membara di bilah pedang Hiragi juga terlihat jelas. Keduanya terdorong ke belakang, sedangkan tanah tempat mereka berpijak sedikit berlubang.
Hiragi melepaskan aura tubuhnya yang berwarna merah dan memusatkannya pada bilah pedangnya, setelah pedang yang dia genggam di tangan kanannya bercahaya, Hiragi berlari dengan cepat ke arah Mirazawa sambil mengayunkan pedangnya.
__ADS_1
Aura tubuh Hiragi berwarna merah dan hitam. Mungkin karena faktor garis keturunan Yamata di dalam darahnya, Hiragi mempunyai dua aura tubuh yang berbeda. Walau banyak orang yang memiliki dua sampai tiga warna aura tubuh, namun kasus seperti itu masih sangat langka.
Keduanya bertukar serangan namun tebasan pedang Hiragi lebih kuat dan dalam. Ketika melihat ada celah untuk menebas dada lawannya, Hiragi menebaskan pedanganya yang bercahaya berwarna merah itu dengan kecepatan tinggi ke arah dada Mirazawa.
"Api Membakar Daratan!"
Dada Mirazawa tertebas dan bersimbah darah, tebasan Hiragi sangat cepat dan membuat Mirazawa lengah.
Gyuki masih membiarkan pertandingan tetap berlanjut, dia menatap mata Mirazawa yang menunjukkan kemarahan.
Hiragi mengayunkan pedangnya lebih cepat dari sebelumnya, dia tidak berniat membiarkan Mirazawa untuk memulihkan tenaganya.
"Untung saja tidak tertalu dalam tetapi dia sangat serius ingin membunuhku!" Mirazawa membatin dalam hatinya. Selama dirinya mengikuti Turnamen Harimau Kai, Mirazawa tidak pernah membunuh orang sekalipun. Namun dihadapannya sekarang, sosok lawannya adalah putra dari Kaisar Kai. Dan lawannya tersebut tidak segan-segan membunuhnya.
Mirazawa menahan tebasan pedang Hiragi dengan susah payah, kali ini Mirazawa memusatkan aura tubuhnya yang berwarna ungu pada bilah pedanganya. Dalam posisi yang tidak menguntungkannya, Mirazawa mencoba untuk tetap berpikir secara tenang.
Perlahan Mirazawa sudah mampu mengimbangi tebasan pedang Hiragi. Semakin lama mereka bertarung, semakin Mirazawa merasa Hiragi memiliki ilmu pedang lebih dari satu. Pemuda itu bisa melihat jika Hiragi mempelajari ilmu pedang dari Perguruan Api Abadi, Pedang Naga Sakti dan Ikatan Darah Tunggal.
Bukan hanya kemampuan ilmu pedang saja yang Hiragi pelajari dari tiga perguruan terbesar di Kekaisaran Kai tersebut, tetapi sosok lawannya itu juga mempelajari ilmu bela diri tangan kosong dari ketiga perguruan tersebut.
Mirazawa bahkan terkejut ketika Hiragi menendang perutnya dengan kaki yang dilapisi api. Tubuh Mirazawa terjatuh ke belakang dan tersungkur ke tanah.
"Menarik, tetapi pengalamanku lebih darimu, Tuan Muda Hiragi!" Mirazawa berdiri sebelum Hiragi melesatkan serangan beruntun padanya.
Hiragi dan Mirazawa bertukar serangan sambil berpindah-pindah ketika selesai menebaskan pedang mereka. Raut wajah Hiragi terlihat tidak puas karena Mirazawa mampu mengikuti pergerakannya dan menahan setiap tebasan pedanganya.
"Naga Api Abadi Mengarungi Langit!"
Hiragi mengeluarkan salah satu teknik pedang terkuat yang dia miliki, sebuah api berbentuk kepala naga melesat cepat ke arah Mirazawa dan menyatu dengan tebasan pedangnya.
"Sinar Cekungan Ungu."
Mirazawa mencoba menangkis tebasan pedang Hiragi dan mementalkannya ke arah udara, tubuhnya terpental jauh ke belakang sedangkan tebasan pedangnya dan tebasan pedang Hiragi melesat cepat ke atas udara.
Kedua tebasan api dan aura berwarna ungu saling melilit satu sama lain, setelah sampai di titik teratas, kedua tebasan tersebut terlihat seperti meledak.
Mirazawa mengatur napasnya yang terengah-rengah, dia berdiri sambil menatap tajam Hiragi yang mengkerutkan wajahnya terlihat emosi.
"Seranganku bisa dimentahkan begitu saja olehnya!" Hiragi membatin penuh kekesalan.
"Jika begini maka aku terlihat lebih lemah dari berandalan bertopeng itu!" Hiragi menggertakkan giginya. Dalam hatinya dia sangat membenci Nagato yang dikelilingi gadis-gadis yang sulit untuk dia dekati. Kecemburuan dan perasaan iri menguasai dirinya.
"Lintasan Pekat Kegelapan!"
Hiragi kembali bergerak dengan cepat, tebasannya sekarang melesat dengan cepat ke arah Mirazawa. Tebasan yang dikelilingi sebuah lintasan aura berwarna hitam pekat itu menusuk lengan Mirazawa.
"Argh!" Mirazawa meringis kesakitan dan menendang tubuh Hiragi hingga tersungkur ke tanah.
Penonton melihat jelas pertandingan yang terkesan agresif itu, kedua peserta tidak segan-segan menunjukkan niat membunuh.
"Beraninya dia menendangku!" Hiragi mengerutkan dahinya dan menatap tajam Mirazawa. Pemuda itu berdiri tegak dan kembali menyerang Mirazawa dengan sekuat tenaganya.
Dalam tukaran serangan yang terjadi, Mirazawa berhasil memberi luka tusukan-tusukan pada sekujur tubuh Hiragi hingga tubuh lawannya itu penuh dengan luka sayatan.
Kekesalan Hiragi semakin memuncak, pemuda itu memutarkan tubuhnya berkali-kali menciptakan pusaran api dan kembali menebaskan pedangnya. Perlahan serangannya semakin membuat Mirazawa terdesak.
__ADS_1
Hiragi memberi luka tebasan pada dada kiri Mirazawa. Sementara itu tendangan kakinya kembali mengenai perut Mirazawa dengan telak.
Hiragi berniat mengikuti Nagato yang mampu memberikan pukulan pada Kakugo sebelum pemuda itu terjatuh menyentuh tanah.
Hiragi melapisi tangannya dengan api dan mengarahkanya pada tubuh Mirazawa, tetapi tubuh lawannya itu hampir menyentuh tanah, sehingga Hiragi memilih menebasakan pedangnya.
Mirazawa mengalami luka yang cukup parah di dadanya, bahkan sekujur tubuhnya penuh dengan darah yang bercampur keringat yang membasahi tubuhnya.
"Sepuluh pendekar muda jenius? Julukan membosankan yang membuatku berperan sebagai seorang pengganti." Mirazawa mencoba untuk berdiri kembali. Dalam hatinya dia membatin lirih penuh kekecewaan. "Jika dipikir kembali, sepertinya aku hanya menggantikan Agata Izawa atau Iwata Ren. Mereka berdua lebih cocok dengan sebutan pendekar muda jenius dibanding diriku ini."
Mirazawa berdiri kembali, namun serangan dari Hiragi membuatnya kembali tersungkur ke tanah. Kini Mirazawa terlihat hanya menjadi bulan-bulanan Hiragi.
Tendangan Hiragi berulang kali mengenai perut dan ulu hatinya, sedangan tangan Hiragi memukul wajahnya dan dadanya. Kini Mirazawa terlihat jelas telah di ambang batas kekalahan. Selang beberapa detik kemudian, mulut Mirazawa memuntahkan darah dalam jumlah banyak tepat di wajah Hiragi.
Darah segar Mirazawa mengalir di rambut dan turun ke wajah hingga leher Hiragi. Pemuda itu semakin kesal karena merasa terhina, tangannya menggenggam pedanganya dengan sangat erat, setelah itu dia berniat memotong kepala Mirazawa.
"Kepala yang berani memuntahkan darah pada wajahku harus kupotong dengan tanganku sendiri!" Penonton seakan tidak percaya melihat Hiragi yang berniat membunuh Mirazawa.
Tebasan pedang Hiragi sangat cepat dan hampir menyentuh leher Mirazawa. Gyuki tersenyum tipis dan memegang tangan Hiragi dengan erat hingga pedang Hiragi berhenti bergerak.
"Cukup!" Gyuki menatap tajam Hiragi yang terlihat begitu emosi.
"Beraninya kau menyentuh tanganku! Dasar rendahan!" Hiragi membalas tatapan Gyuki dengan sengit. Namun tidak lama tangannya terlempar ke belakang dan pedangnya terlempar ke atas, setelah itu melesat cepat ke bawah dan tertancap di tanah.
"Pemenang pertandingan ketujuh ini adalah Tuan Muda Hiragi!" Gyuki dengan menahan kesabarannya mengumumkan Hiragi sebagai pemenangnya, dengan cepat dia memberi isyarat pada tenaga medis untuk memberi pertolongan pertama pada Mirazawa.
Gyuki menghampiri Hiragi yang masih berdiri dan terlihat begitu emosi.
"Aku benci dengan kematian konyol seperti ini. Kemenanganmu telah terlihat jelas, jangan biarkan tanganmu itu membunuh orang karena masalah yang sepele!" Gyuki memberi teguran pada Hiragi. Namun pemuda itu justru menatap Gyuki sangat tajam.
"Ayahku dan Paman Satra selalu mengatakan padaku jika orang yang lemah tidak boleh memilih caranya untuk mati!" Hiragi merapatkan giginya. Pandangan matanya sangat tajam menusuk Gyuki.
"Dia berani memuntahkan darah pada wajahku ini! Seorang rakyat jelata seperti dia harus kuberi pelajaran!" Gyuki menarik napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan dirinya.
"Sang adik memiliki kelembutan hati seperti ibunya dan sang kakak memiliki sifat yang sama seperti ayahnya." Gyuki membatin lirih dalam hatinya.
"Iri, dengki dan sifat arogan seperti ini yang sangat mirip dengan ayahmu. Keturunan Yamata akan mendatangkan malapetaka sekali lagi." Gyuki berkata dengan pelan. Hiragi menatap tajam Gyuki yang berani berbicara seperti itu padanya.
"Kembali! Kita tidak bisa mengulur waktu pertandingan selanjutnya!" Gyuki dengan tegas memberi teguran pada Hiragi.
"Hanya karena kau berasal dari Keluarga Akaramizarawa. Kau sudah berani berkata seperti padaku!" Hiragi mengambil pedangnya dan mengibaskannya sebelum menyarungkan pedangnya kembali.
"Akan kuingat perkataanmu tadi! Dan akan kupastikan ayahku mengetahuinya!" Hiragi tersenyum sinis dan kembali ke bangku penonton.
Gyuki menghela napas panjang tidak percaya. Dia tidak menyangka akan melihat sosok Kaisar Hizen ketika masih muda di dalam diri Hiragi.
___
****Note : 22~06~2020 – 26~06~2020
22 komentar : Bonus 1 chapter.(1/5)
122 Like : Bonus 1 chapter.(1/5)
1000 Vote Poin : Bonus 1 Chapter(0/10)
__ADS_1
Bonus Chapter Malming : 2/25**.