Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 102 - Kharisma Nagato


__ADS_3

Nagato merapatkan giginya karena merasakan aura intimidasi milik Demet, membuatnya menjadi sulit bergerak dan bernapas.


"Aura miliknya lebih besar dariku, bahkan auranya terlihat begitu stabil..." batin Nagato mengamati Demet yang mengeluarkan aura intimidasi ke arahnya.


"Aura harus dilawan dengan aura, benar bukan?" ucap Demet tersenyum lebar melihat Nagato yang kesulitan untuk bergerak.


Demet berlari ke arah Nagato dengan cepat, kemudian dia menebaskan pedangnya ke arah leher Nagato.


Nagato mampu menangkis tebasan Demet, tetapi tubuhnya sangat sulit untuk digerakkan.


"Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Nila." hati Nagato menarik nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya. Kemudian dia mencoba untuk tenang dan berkonsentrasi seperti biasanya.


Demet kagum dengan Nagato yang kembali bersikap tenang, bahkan kali ini pemdua itu terlihat sangat tenang dan aura emas yang keluar dari tubuhnya terlihat begitu stabil dan membungkus tubuhnya.


Nagato maju dengan cepat menebaskan pedangnya ke arah Demet, keduanya saling menahan pedang mereka satu sama lain dan saling menatap tajam.


Nagato tersenyum tipis dan menghilang dari pandangan Demet sejenak sebelum muncul dibelakangnya dan memberikan serangan tebasan api padatnya. Nagato memegang pedangnya secara terbalik mengincar kepala Demet.


Demet terkejut dan menghindari serangan tebasan pedang Nagato, tetapi punggungnya yang terkena tebasan Nagato sebagai ganti dari lehernya.


"Beraninya kau!" Demet murka ketika punggungnya terluka oleh tebasan pedang Nagato. Luka dipunggung bagi seorang pendekar pedang merupakan sebuah aib, karena itulah Demet marah kepada Nagato.


Nagato hanya diam dan mengamati Demet dengan seksama sebelum dia kembali menyerangnya. Nagato menggunakan langkah cepatnya sambil terus menusuk dan mengayunkan pedangnya kepada Demet.


Walaupun serangan yang diberikan Nagato sangat mematikan, tetapi Demet dapat menghindari serangan tebasan yang begitu cepat dan mampu mengimbangi kecepatan langkah kaki Nagato.


"Kurang ajar! Kenapa aku tidak mampu mengimbangi kecepatannya, tubuhku sudah tidak seperti dulu lagi." batin Demet yang terus dipaksa ke posisi bertahan oleh Nagato. Dan, kali ini dia begitu kewalahan menangkis tebasan cepat yang terus diayunkan Nagato.


Nagato tersenyum tipis, karena baru kali ini dia merasakan lawan yang membuatnya begitu senang. Hari - harinya yang selalu bertarung dengan Hewan Buas dan Binatang Iblis membuatnya semakin merasa bosan, karena Nagato juga ingin sesekali mencoba melawan seorang manusia.


Nagato mencoba untuk mengatur napasnya yang mulai terengah - rengah. Dan, dia menurunkan kekuatan tebasan pedangnya, sehingga membuat Demet berpikir jika Nagato telah kehilangan momentum dan dia dengan sekuat tenaga menyerang balik Nagato.


Nagato dengan mudah menangkis tebasan Demet dan sesekali dia juga memberi tusukan pada tubuh Demet.


Demet berdecak kesal, kemudian dia mengalirkan auranya yang berwarna hijau ke bilah pedangnya. Dengan penuh percaya diri dia terus memberikan serangan pada Nagato.


Nagato dan Demet telah bertukar tebasan pedang selama beberapa jam. Pertarungan adu stamina dan kecepatan bisa dibilang dimenangkan Nagato, tetapi sekarang Nagato dipaksa ke posisi bertahan oleh Demet.

__ADS_1


"Lintasan Jingga!" Nagato meneriakkan nama jurusnya didalam hati, Demet menangkis tebasan Nagato dengan pedangnya yang bercahaya berwarna hijau karena auranya.


"Dia belum menggunakan kekuatan penuhnya!" Demet berdecak kesal dan dia menatap tajam Nagato sambil menyerangnya kembali.


Nagato memejamkan matanya dan kakinya melakukan kuda - kuda depan, melihat hal kuda - kuda tersebut membuat Demet langsung mundur beberapa langkah kebelakang.


"Apa yang bocah ini lakukan? Aku merasakan nafsu membunuh yang begitu besar!" gumam Demet mengerutkan dahinya dan berkeringat dingin melihat Nagato.


Nagato bisa memperkirakan jarak antara dirinya dengan Demet sekitar tiga meter.


"Ruang Hampa!" batin Nagato dengan mengeluarkan seluruh aura intimidasinya kepada Demet, tanpa menunggu lebih lama lagi. Nagato langsung menebaskan pedangnya ke arah Demet.


"Tebasan Api!" Nagato menebaskan pedangnya dari jauh. Dan, dia menciptakan api padat yang berbentuk bulan sabit, terbang melesat cepat ke arah dada Demet.


Demet kembali bisa bergerak, tetapi dia melihat api berbentuk bulan sabit terbang dengan cepat ke arah dirinya. Dia bisa bereaksi cepat tetapi tubuhnya tidak dapat mengikuti reaksinya tersebut.


"Argh!" Demet meringis kesakitan ketika tubuhnya terluka karena tebasan pedang Nagato, badannya terasa sangat panas. Demet terkejut melihat dadanya yang bersimbah darah bahkan baju yang dia pakai robek.


Demet langsung mencari Nagato, tetapi dia tidak dapat menemukan pemdua itu dimanapun.


"Demet! Dibelakangmu!" teriak Devon terkejut melihat Nagato yang berdiri dengan tegak dibelakang Demet.


Demet menoleh kebelakang, tetapi wajahnya berkeringat dingin ketika Nagato melingkarkan pedangnya kelehernya.


"Kemampuanmu cukup menarik." ucap Nagato ketika dia sedikit menggores kulit leher Demet dengan pedangnya. Darah segar keluar sedikit dari kulit leher Demet.


Demet pucat pasi wajahnya dan dia tidak menyangka akan mati di tangan tergetnya, dia adalah seorang pembunuh bayaran suruhan Black Madia dan Pemimpin Sekte Pemuja Iblis, yang telah dibayar untuk membunuh Nagato, tetapi sekarang ini dia yang menjadi target Nagato.


"Kuberikan paman kesempatan kedua untuk hidup, jika paman meninggalkan dunia yang sedang paman geluti ini." ujar Nagato mengintimidasi Demet dan dia tidak tertarik untuk membunuhnya.


"Setiap orang harus punya kesempatan kedua dalam hidupnya." tambah Nagato sambil terus melingkarkan pedangnya pada leher Demet. Nagato menunggu jawaban dari hati Demet yang paling dalam.


Demet menelan ludah sebelum berbicara, "Jika kau melepaskanku, bisa saja aku akan membunuhmu," Demet menahan rasa sakitnya, "Aku adalah pembunuh suruhan Black Madia, orang yang telah menghancurkan keluargamu!"


Nagato menghela nafas panjang kemudian dia melepaskan pedangnya, melihat hal itu Demet mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaganya mengincar kedua kaki Nagato.


Nagato yang menyadari hal tersebut langsung bereaksi menendang tangan Demet, hingga kedua pedangnya terlempar ke atas dan melesat jatuh menancap di tanah.

__ADS_1


Demet yang sedang dalam posisi terduduk di tanah, sudah pasrah karena dia sadar dirinya hampir menodai pertarungannya.


"Aku ingin tumbuh besar dengan cepat dan kuat... agar aku dapat membalaskan kematian kedua orang tuaku, aku juga ingin melindungi orang yang berharga bagiku..." ungkap Nagato dengan suaranya yang dingin membuat Demet terdiam.


"Aku belum cukup kuat untuk membunuh Black Madia dan perjalananku masih panjang." Nagato menambahkan.


Demet berkaca - kaca matanya, "Kau akan terkejut jika mengetahui nama pengkhianat tersebut," Demet menangis melihat kebesaran hati Nagato, "Dunia ini terlalu bengis dan kejam untukmu, apa yang akan kau lakukan jika salah satu orang yang berharga bagimu mati dihadapanmu."


Nagato terdiam selama beberapa saat mendengar perkataan Demet. Perkataannya membuatnya mengingat Shinigami yang berada di dalam tubuhnya.


"Seorang perempuan yang sangat berharga bagiku, mengatakan ini padaku, jika kita harus hidup tanpa penyesalan, karena kita diberi hidup cuma sekali. Dan, aku akan berusaha agar orang yang sangat berharga bagiku itu tidak mati didepanku, walau nyawaku sebagai taruhannya." Nagato menatap Demet yang sedang terduduk di tanah dan menangis itu.


"Paman, hiduplah dengan kehidupan yang baru. Dan, tinggalkanlah kehidupan lamamu itu." Nagato melihat Demet yang menangis.


"Ya... terimakasih... aku akan mencoba memulai kehidupan yang baru." balas Demet dengan suara yang tersedu - sedu.


"Bocah, orang yang menjadi pengkh-" belum selesai Demet berbicara, ada pedang yang tak asing di mata Nagato tertancap di depan Demet dan dirinya. Sehingga membuat Demet menjerit karena kaget.


"Maaf Nagato, lama tidak berjumpa, sepertinya kau semakin kuat saja." sapa Kakek Hyogoro yang datang dari atas pohon tinggi di dekat Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda.


"Kakek Hyo!" teriak Nagato menatap Kakek Hyogoro yang mengejutkan dirinya.


Kakek Hyogoro kemudian membantu Demet berdiri dan menyandarkannya ke pohon.


"Jangan beritahu pada Nagato, aku tidak ingin dia tenggelam dalam kebencian. Rantai kebencian miliknya biar aku yang menanggung semuanya." bisik Kakek Hyogoro pada Demet dengan pelan.


Demet terdiam mendengar perkataan Kakek Hyogoro.


"Apa kau serius, cepat atau lambat dia akan mengetahuinya!" Demet bersikeras untuk memberitahukan nama pengkhianat yang memberitahukan lokasi Hutan Suci dan Hutan Cakrawyuha kepada Nagato.


"Nagato adalah keturunan terakhir dari Klan Kagutsuchi, dia adalah pemimpin dari Klan Kagutsuchi. Walau masih sangat muda dia terobsesi untuk menjadi lebih kuat, agar mampu membalaskan dendam orang tuanya." Kakek Hyogoro menatap Demet tajam.


"Kenapa kau memberitahukan hal yang sangat penting ini kepadaku?" tanya Demet karena dia bisa saja membocorkan pada seluruh orang, yang mempunyai dendam dan ingin menghabisi keturunan terakhir Klan Kagutsuchi.


"Karena kau telah mendapatkan kepercayaan Nagato, hanya itu saja." jawab Kakek Hyogoro sambil berjalan menghampiri Nagato.


Demet terkejut mendengar jawaban Kakek Hyogoro, karena seumur hidupnya tidak ada seorang pun yang percaya padanya. Demet kecil yang hidup sebagai seorang yatim piatu, berjuang keras untuk tetap hidup walaupun harus menjadi pembunuh. Dan, seorang teman satu - satunya bagi Demet adalah sosok Devon. Karena sosok Devon sudah bersamanya sejak kecil, mereka berdua berbagi dan merasakan manis pahitnya kehidupan bersama - sama.

__ADS_1


__ADS_2