
Nagato dan Litha berhasil melarikan diri dari penjaga rumah Bangsawan Kochi dan penduduk desa berkat pria yang berumur empat puluhan tahun yang bernama Tsutomu.
"Kalian berdua kenapa berada di wilayah Kochi?" Tsutomu berjalan memasuki lorong gua yang cukup luas.
Nagato tidak menjawab pertanyaan Tsutomu karena dirinya masih kesal dengan semua kejadian yang barusan terjadi.
"Kami hanya mengikuti kakek yang diberi misi dari Tuan Amaga." Litha menjawab pertanyaan Tsutomu sambil menatap bebatuan disekelilingnya.
Kemudian Tsutomu menjelaskan kepada mereka jika gua yang sedang mereka lewati adalah Gua Helai karena lorong gua yang panjang mengarah langsung keatas gunung yang dekat dengan Kota Helai.
"Bisa dibilang ini adalah jalan pintas menuju Kota Helai." Tsutomu berjalan didepan menuntun Nagato dan Litha.
Nagato menghela nafas panjang kemudian dia berhenti sejenak dan mengambil Chibi dari tas punggung Litha.
"Apa yang kamu lakukan?" Litha terkejut melihat Nagato yang mengambil Chibi dari tas punggungnya.
Nagato diam sejenak kemudian menulis sebuah pesan dikertas yang ditujukan untuk Kakek Hyogoro.
"Chibi, berikan ini kepada Kakek Hyo!" Nagato menaruh kertas yang telah dilipat diatas tanah. Sedangkan Chibi hanya diam dan tidak mau menerima perintah Nagato.
'Kucing ini mencari gara - gara denganku!' Nagato kesal karena diabaikan oleh anak Kucing Manis.
Litha tertawa kecil melihat tingkah Chibi dan Nagato kemudian gadis kecil itu menyuruh Chibi untuk mengirimkan surat yang ditulis oleh Nagato kepada Kakek Hyogoro.
"Nagato, kamu harus lebih tenang." Litha mengusap rambut Nagato dengan lembut karena Nagato sedang jongkok melihat Chibi yang berlari keluar Gua Helai.
"Kenapa aku merasa kalah dengan Chibi?!" Nagato menggumam pelan sambil berdiri kemudian kembali melanjutkna perjalanan.
__ADS_1
Nagato dan Litha terus menyusuri lorong gua dari belakang Tsutomu.
Kota Helai adalah Kota Besar yang termasuk dalam wilayah Bangsawan Kochi tetapi semenjak kemunculan bandit yang mengambil alih Kota Helai lima bulan yang lalu membuat kota yang memproduksi kain dan senjata itu menjadi kota sepi dan mati karena penduduk kota tidak bisa memasok senjata dan kain lagi.
Cahaya sinar matahari yang menyinari ujung gua terlihat dari kejauhan dan terlihat disana ada sebuah pemandangan hutan yang luas dan beberapa permukiman penduduk dari atas gunung.
Tsutomu mengajak mereka berdua pergi ke persembunyiannya yang berada didekat dengan gunung dan Gua Helai.
Disana terlihat ada gubuk kecil yang terlihat baru dibuat dan didalamnya ada seorang pria paruh baya yang berumur enam puluhan tahun sedang terbaring beralaskan kayu.
Tsutomu menjelaskan kepada Nagato dan Litha jika orang yang sedang tertidur itu adalah kepala keluarga Bangsawan Kochi yang bernama Kochi Yoshimitsu.
"Paman, katakan padaku mengapa kacamata sialan itu bisa tinggal dikediaman Bangsawan Kochi?!" Nagato duduk bersandar dipohon sambil matanya melirik Tsutomu.
Tsutomu menatap Nagato selama beberapa detik kemudian dia menghela nafas panjang sebelum memberitahu kepada Nagato tentang kedatangan Amaga ke kediaman Bangsawan Kochi.
"Lima tahun yang lalu Tuan Yoshimitsu menemukan Amaga yang terluka parah didekat permukiman penduduk kemudian beliau memberinya perawatan dirumahnya." Tsutomu terdiam selama beberapa detik dengan kedua tangannya yang mengepal karena kesal.
"Aku dipecat satu tahun yang lalu." Tsutomu dipecat oleh Yoshimitsu yang tidak mau mendengarkan penjelasannya walau telah dibuat sakit hati Tsutomu tetap menolong Yoshimitsu ketika menemukan pria paruh baya itu terdampar disungai.
Litha yang mendengar cerita Tsutomu terhanyut dalam cerita sendu dengan mata yang berkaca - kaca, gadis kecil itu merapatkan tubuhnya pada Nagato.
Menurut Nagato keberadaan Yoshimitsu yang masih hidup itu akan membuat rencana Amaga berantakan kemudian Nagato menatap Yoshimitsu yang terbaring dan belum bangun.
Tsutomu menjelaskan pada Nagato jika Yoshimitsu telah lumpuh kakinya karena terjatuh dari atas tebing dan sebuah keajaiban pria paruh baya itu masih hidup.
"Paman, aku ada ide .... " Nagato tersenyum tipis kemudian dia memberitahu semua yang menari - nari didalam kepalanya.
__ADS_1
Pada saat yang sama dibukit dekat permukiman penduduk ratusan bandit yang berubah menjadi manusia buas telah mati dengan cepat karena tebasan pedang Kakak Hyogoro.
"Sudah kuduga Amaga mempunyai hubungan dengan Sekte Pemuja Iblis!" Kakek Hyogoro bergumam pelan sambil mengibaskan pedangnya yang berlumuran darah.
Dalam perjalanan menuju rumah kediaman Bangsawan Kochi Kakek Hyogoro bertemu dengan Chibi yang datang mengantarkan surat yang ditulis oleh Nagato.
"Chibi?" Kakek Hyogoro mengambil kertas yang ada dimulut Chibi dan membacanya.
Kakek Hyogoro geram setelah membaca pesan yang ditulis Nagato dengan langkah kaki yang cepat dia berlari menuju kediaman Bangsawan Kochi.
"Sudah kuduga 5 tahun yang lalu Amaga adalah pemimpim bandit sama seperti orang yang bernama Amasa yang telah kubunuh saat itu!" Kakake Hyogoro mengolah pernafasan kasarnya dan mempercepat langkah kakinya setelah sampai dikediaman Bangsawan Kochi dirinya telah ditunggu oleh puluhan penjaga rumah dan penduduk desa yang menggunakan senjata tajam untuk menghakiminya.
Kakek Hyogoro tersenyum kecut melihat pemandangan sekelompok manusia dihadapannya melihat mereka membuat mengingat masa lalu pahit.
'Orang bodoh ini terlalu mempercayai seseorang sampai - sampai mereka tidak sadar jika mereka telah dimanfaatkan!' Kakek Hyogoro menatap ratusan orang dihadapannya.
Kakek Hyogoro tersenyum sinis sambil melangkahka kakinya dengan cepat menuju rumah Bangsawan Kochi.
"Maaf ... aku tidak suka jika ditatap dengan tatapan orang memfitnah!" Kakek Hyogoro memutarkan tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya hingga membuat pusaran air yang menyeret ratusan orang keatas.
Kakek Hyogoro masuk kedalam rumah Bangsawan Kochi dan mencari kamar Cika setelah menemukan kamar gadis itu dirinya mendapati Amaga yang sedang menjaga Cika.
"Jangan mendekat pembunuh!" teriak Amaga sambil menodongkan pisau kearah Kakek Hyogoro.
Kakek Hyogoro terkejut melihat tingkah Amaga bahkan yang paling membuatnya terkejut adalah ekspresi ketakutan Cika saat melihat dirinya.
"Nona Muda, sepertinya kau harus rasa sakit karena terlalu mempercayai seseorang!" Kakek Hyogoro tersenyum menatap Cika dan tak lama puluhan penjaga rumah mengepung Kakek Hyogoro.
__ADS_1
'Maaf Nagato, rencanamu gagal setidaknya aku ingin memberi pelajaran berharga pada gadis itu dan tenang saja aku tidak akan membiarkan gadis itu terbunuh oleh Amaga.' Kakek Hyogoro melarikan diri dari rumah Bangsawan Kochi dengan membuat pingsan penjaga rumah yang menghadangnya.
Kakek Hyogoro terus melangkahkan kakinya kehutan dan bertemu dengan Chibi yang telah menunggunya kemudian dia mengikuti Chibi menuju tempat persembunyian Tsutomu.