Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 41 - Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

Reto dan Miake keluar kereta kuda diikuti beberapa pendekar dari Klan Kitakaze, kemudian mereka berdua menghampiri Kakek Hyogoro.


Reto tersenyum ramah pada Kakek Hyogoro setelah melihat pertarungannya dengan mata kepalanya sendiri.


Shugo dan Haru keluar membawa beberapa makanan, untuk mereka makan.


Kakek Hyogoro dan Reto sedang mengobrol, sedangkan Serlin bersama Haru sedang membuat api unggun dibantu Azai dan Shugo.


"Daging ayam, daging sapi, daging kambing kita akan buat barbeque." Haru terlihat begitu bersemangat, ketika perempuan itu terlihat seperti ini dirinya mirip dengan Chiaki yang enerjik.


"Hehe." Serlin mencoba tersenyum ketika melihat tingkah Haru.


Nagato menghampiri Kakek Hyogoro dan Reto, kemudian dirinya menyapa Reto.


"Paman, aku punya seorang kenalan yang ingin menjadi murid Klan Kitakaze." ucap Nagato karena ingin memberitahu pada Reto soal Ninjin.


"Oh, siapa itu tuan muda? Klan Kitakaze selalu terbuka buat anak yang berbakat dan mempunyai kemauan keras dalam berlatih bela diri." jawab Reto yang terlihat lebih sopan pada Nagato.


"Namanya Ninjin, dia dari keluarga petani di Kota Yasai." Nagato menatap Reto.


"Sampaikan salamku padanya ketika temanku itu sudah menjadi bagian dari Klan Kitakaze." Nagato menambahkan.


Reto tersenyum melihat Nagato, anak muda yang menyapanya itu mengingatkannya pada seorang pendekar di masa lalu.


"Aku pernah mendengar ini sebelumnya ketika pendekar itu menyuruh aku mengangkat Miake sebagai anak angkatku." Reto berpikir dengan keras namun tidak juga mengingatnya.


"Baiklah, akan kusampaikan salam Tuan Muda pada Ninjin." Reto mengingat nama teman Nagato.


Nagato tersenyum mendengar jawaban Reto, setelah itu dirinya pamit dan beranjak pergi untuk duduk dibawah pohon yang rindang.


Malam terbenam di ufuk barat, kumpulan awan berganti menjadi langit malam, angin berhembus menggoyang dedaunan hijau hingga berjatuhan.


Nagato melepaskan penat dengan duduk bersandar di bawah pohon rindang, matanya melihat sekelilingnya dan memperhatikan orang - orang yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.


Hembusan angin mulai terasa dingin di kulit Nagato, ketika dirinya sedang melepaskan penat dan memejamkan matanya karena menikmati suasana yang membuat hatinya tenang ketika hembusan angin terus berhembus meniup pohon rindang yang menjadi tempat bersandar Nagato.


Kemudian muncul Litha, Chiaki dan Chaika mengajak Nagato untuk membuat barbeque.


Nagato membuka matanya secara perlahan sambil menghembuskan nafasnya secara perlahan.


"Barbeque? Bahkan mereka membawa alat pemanggang, keluarga bangsawan memang hebat." gumam Nagato yang melihat Shugo sedang mengeluarkan alat pemanggang bersama para pendekar dari Klan Kitakaze.

__ADS_1


"Nagato, ayo kita buat bersama - sama!" ucap Chiaki sambil menghampiri Nagato.


"Hmmm ... aku sulit bergerak jadi aku akan menunggu disini saja." jawab Nagato karena dirinya malas membuang tenaga yang menurutnya tidak perlu.


"Oh iya, aku lupa hehe." Chiaki menatap balutan perban ditangan dan kaki Nagato.


"Ka-Kakak, lebih baik menyuruh ayah untuk membawa pemanggang kesini, jadi kita bisa buat barbeque bersama." ucap Chaika pada Chiaki, walaupun pemalu tetapi Chaika pandai mengamati situasi disekitarnya.


"Benar juga, ini baru adikku, aku pergi dulu!" Chiaki mengelus kepala Chaika kemudian gadis kecil itu berlari.


Nagato yang melihat perbedaan kedua gadis kembar itu hanya bisa mengerutkan dahinya.


Litha duduk disamping Nagato, kemudian gadis kecil itu juga bersandar dibawah pohon rindang tempat Nagato bersandar.


"Nikmatnya!" gumam Litha sambil memejamkan matanya.


"Chaika, sini bersandar disini sangat nyaman." Litha mengajak Chaika untuk bersandar di pohon rindang.


"I-Iya." Chaika berjalan pelan menghampiri Litha dan Nagato.


Nagato memegang pedangnya yang ada dipinggangnya, kemudian dirinya tersenyum tipis.


"Disini nyaman, aku mau tidur." Chaika memejamkan matanya dan menikmati hembusan angin malam.


Tak lama Shugo yang membawa alat pemanggang bersama Chiaki sudah berada dihadapan mereka bertiga.


"Makan dulu baru tidur." Shugo membangunkan Nagato dan yang lainnya.


Haru bersama yang lain menghampiri Shugo yang sedang membuat api.


Litha dan Chaika berdiri kemudian mereka membantu Chiaki yang sedang menusuk potongan daging - daging kecil.


Nagato hanya memperhatikan mereka sambil menikmati pemandangan malam karena rembulan terlihat sangat indah diiringi dengan hembusan angin malam yang sejuk.


Setelah beberapa jam kemudian barbeque sudah jadi, Shugo dan Haru tidak membawa satupun sayuran yang menjadi pendampingnya.


"Mmmm ... enak!" gumam Shugo yang sedang memakan barbeque yang sudah matang.


"Nagato bangun!" Kuina menoleh melihat Nagato yang sedang bersandar di pohon rindang itu.


Nagato sudah tertidur, Kuina berhenti berusaha membangunkan Nagato, kemudian gadis itu menikmati barbeque yang sudah matang.

__ADS_1


Chiaki dan Haru terlihat begitu menyukai barbeque yang mereka buat bahkan mereka berdua sudah melahap puluhan tusukan.


Perlahan hari sudah semakin larut malam, setelah mereka menikmati barbeque, mereka semua bergegas tidur, beberapa pendekar Klan Kitakaze berjaga disekitar tempat mereka berhenti dan beristirahat.


Litha duduk disamping Nagato kemudian gadis itu bersandar dipundak Nagato sebelum lelap tertidur.


Litha melapisi tubuhnya dan tubuh Nagato dengan jubah yang diberikan Kuina.


Langit malam perlahan berganti menjadi kumpulan awan yang mulai terlihat karena sang fajar hampir tiba untuk menyinari bumi, perlahan embun pagi mulai muncul dan mendekap dedaunan.


"Mmm ... Nagato." gumam Litha yang masih tertidur dan bersandar pada pundak Nagato bahkan gadis kecil itu memeluk tubuh Nagato karena kedinginan.


Nagato membuka matanya secara perlahan dan bagian tubuhnya terasa ada sebuah kehangatan yang memeluknya.


"Litha." Nagato melihat Litha yang mendekap tubuhnya, gadis kecil itu masih tertidur.


Tidak lama Litha juga terbangun dari tidurnya, kemudian gadis kecil mendapati Nagato yang sedang mengelus rambutnya dengan lembut.


"N-Nagato." guman Litha pelan sambil mengusap kedua matanya.


Nagato hanya tersenyum hangat pada Litha, kemudian dirinya berusaha untuk berdiri dengan pelan - pelan.


Kemudian Litha menuntun Nagato untuk berjalan, gadis kecil itu berniat membasuh wajahnya.


"Yo, kalian berdua?" sapa Kakek Hyogoro yang sedang memberi makan kuda dengan rumput.


"Kakek Hyo, sepertinya kakek bangun lebih pagi." sahut Nagato sambil berjalan mendekati kereta kuda.


"Sudah biasa." jawab Kakek Hyogoro singkat sambil memberik makan kuda.


Setelah sampai dikereta kuda, Litha mengambil botol air kemudian gadis kecil itu membasuh wajahnya dengan air didalam botol kecil itu.


"Ini Nagato!" Litha memberikan botol air pada Nagato.


Nagato membasuh wajahnya dengan pelan, sambil menikmati sensasi dingin air yang membasahi wajahnya.


Pagi ini mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Mikawa.


Shugo masuk kedalam kereta diikuti kedua anaknya yang bersama Haru, kemudian Kuina dan Serlin juga sedang membasauh wajah mereka.


Mereka kembali melanjutkan perjalan menuju Kota Mikawa.

__ADS_1


__ADS_2