
"Apa ada yang sesuatu yang menempel di wajahku?" Tanya Iris ketika melihat Nagato terus menatap dirinya.
"Tidak. Tidak ada." Nagato menjawab sambil tersenyum tipis menatap wajah Iris.
"Ngomong-ngomong Litha tadi pergi kemana?" Nagato mengalihkan pembicaraan karena melihat Litha, Hika dan Tika yang pergi keluar bersama Chiaki, Chaika dan Yuri.
Iris memejamkan matanya sesaat. "Mereka pergi ke Danau Sakura. Di sana ada penerbangan seribu lampion." Iris menjawab. Pandangan matanya menatap sambal yang telah terlihat di atas meja.
"Naga, apa kamu tidak ngeri melihat sambal yang seperti ini?" Iris menelan ludah tak percaya melihat sambal yang menurutnya begitu pedas.
Nagato tersenyum tipis. "Tidak. Karena aku menyukai makanan pedas sejak kecil. Mungkin makanan kesukaan mendiang ibuku telah menurun padaku." Jawab Nagato sambil melihat sambal yang ditatap Iris.
Ketika Nagato dan Iris sedang berbincang, seorang pelayan perempuan memakai pakaian merah muda datang membawa daging yang dilumuri sambal.
"Maaf membuat kalian menunggu, Tuan Muda, Nona Muda." Pelayan tersebut tersenyum ramah pada Nagato dan Iris.
"Ini adalah daging berlumur sambal. Tingkatannya adalah tahap tiga tingkat tiga." Pelayan tersebut menaruh piring yang berisi daging tersebut ke meja makan, tepat di depan Nagato dan Iris.
"Tahap tiga tingkat tiga?" Nagato menaikan alisnya namun matanya menatap daging yang dilumuri sambal tersebut. Sementara itu Iris menelan ludah bukan karena merasa lapar dan tak sabar menyantap makanan tersebut, melainkan merasa ngeri melihat selera makanan pemuda yang dia cintai itu.
"Perkenalkan nama saya Okiayu. Saya adalah pemilik Rumah Makan Hono yang baru." Perubahan sikap terlihat di wajah pelayan yang ternyata bernama Okiayu, dan Okiayu sendiri adalah pemilik Rumah Makan Hono.
"Jadi ini sungguhan, Fuyumi Nagato dan Fuyumi Iris adalah sepasang kekasih." Raut wajah Nagato dan Iris mendadak merah padam. "Aku sangat senang melihat pertandingan kalian sejak awal Turnamen Harimau Kai." Okiayu terlihat begitu gembira.
Okiayu memegang jari manis Nagato dan Iris yang terpasang sebuah cincin, kemudian dia satukan kedua jari manis mereka sehingga terlihat lambang dua hati yang saling menyatu di kedua cincin tersebut.
"Kalian berdua sangat serasi." Perkataan Okiayu membuat Nagato dan Iris terdiam seribu bahasa.
"Eh ... maaf." Okiayu menghela napas panjang dan terlihat malu. "Aku tidak sopan terhadap pelanggan. Orang tuaku selalu berkata padaku, pelanggan layaknya seorang raja. Jadi mohon maafkan sikapku tadi yang kurang sopan."
Nagato mencoba untuk terlihat tenang dan menyembunyikan perasaan senangnya saat Okiayu mengatakan Iris sebagai kekasihnya.
"Raja? Hmmm..." Nagato memejamkan matanya. "Bisa jelaskan tentang tahap tiga tingkat tiga?" Nagato mengalihkan pembicaraan dan disambut dengan senyuman sumringah oleh Okiayu.
"Baiklah, saya akan menjelaskannya kepada Tuan Muda dan Nona Muda." Okiayu mengeluarkan sebuah buku, kemudian menunjukkan tulisan yang ada di buku tersebut.
__ADS_1
"Setiap kepedasan rasa dalam makanan ada tahapannya. Yang terendah adalah tahap satu dan yang tertinggi adalah tahap sembilan. Setiap tahap memiliki tiga tingkatan yaitu tingkat satu, tingkat dua dan tingkat tiga." Okiayu menatap Nagato dan Iris yang sedang duduk tenang mendengarkan penjelasannya.
"Beda tingkatan, maka rasa pedas makanannya juga berbeda, dan sampai sekarang belum ada yang memakan makanan pedas tahap sembilan tingkat tiga." Okiayu menambahkan.
Nagato tersenyum tipis. Iris yang melihatnya senyuman itu merasa jika Nagato akan melakukan hal yang tidak terduga.
"Apa yang akan kamu ucapkan, Naga?" Batin Iris penasaran.
"Aku pesan satu daging ayam dan sapi tahap sembilan tingkat tiga." Nagato menatap Okiayu sembari tersenyum tipis. Kemudian dia mengeluh. "Ternyata tingkatan makanannya seperti ini. Kepanjangan."
Okiayu dan Iris tercengang tidak percaya melihat Nagato yang terlihat tenang. "Tuan Muda, apa kamu mendengar penjelasanku?" Tanya Okiayu memastikan.
Nagato mengalihkan pandangannya menatap Okiayu kembali. "Aku mendengarnya." Kepala Nagato mengangguk lirih, setelah itu dia kembali menatap Iris.
Okiayu menelan ludah. "Menurut ibu dan ayah. Orang yang memakan makanan pedas tahap sembilan tingkat tiga yang terakhir kali sekitar 20 tahun yang lalu. Dan sekarang seorang pemuda ingin memakan makanan terpedas di Ibu Kota Daifuzen. Ini adalah hal paling bersejarah di dalam Rumah Makan Hono." Batin Okiayu sembari menatap Nagato tidak percaya.
"Ibu, ayah! Pesanan meja nomor satu. Makanan paling pedas tahap sembilan tingkat tiga satu porsi!" Okiayu berteriak pada ayah dan ibunya yang sedang memasak di dapur.
"Apa?!" Reaksi terkejut beberapa pelanggan yang mendengar teriakan Okiayu bahkan Ayah Okiayu dan Ibu Okiayu juga ikut terkejut. Mereka semua tidak menyangka ada orang yang memesan makanan terpedas di Ibu Kota Daifuzen.
"Iya, Ayah!" Okiayu menjawab.
"Silahkan dinikmati daging berlumur sambal tahap tiga tingkat tiganya, Tuan Muda, Nona Muda." Okiayu berdiri dan membungkuk, kemudian dia beranjak mengambil kertas di atas meja pembayaran.
Nagato menatap Iris yang terlihat tidak percaya. "Ayo makan. Jangan bengong." Ajak Nagato sembari menggoyangkan tangannya di depan mata Iris.
"Naga!" Iris menatap Nagato dan mengalihkan pandangannya melihat daging yang berlumuran sambal. "Seberapa suka kamu dengan makanan pedas seperti ini?"
Nagato terdiam mendengar pertanyaan Iris. Nagato berpikir sejenak. Dia sendiri masih tidak terlalu mengerti alasan kenapa dirinya sangat menyukai makanan pedas.
"Entahlah aku sendiri tidak mengetahuinya. Apakah rasa suka itu butuh alasan?" Nagato justru kembali bertanya pada Iris. Kedua bola matanya menatap lampu Rumah Makan Hono.
Iris menghela napas panjang. "Dasar Naga!" Desis Iris. Kemudian gadis cantik itu kembali bertanya pada Nagato.
"Kalau begitu, aku ingin memastikan satu hal." Nagato menatap Iris yang sedang menatap dirinya sangat serius.
__ADS_1
"Antara aku dan makanan pedas ini, kamu pilih yang mana?" Iris tersenyum tipis melihat raut wajah terkejut Nagato.
"Berat..." Nagato menjawab dengan sangat lirih. Iris yang mendengarnya langsung cemberut dan memanyunkan wajahnya.
Nagato tersenyum tipis melihat perubahan wajah Iris. Jantungnya memainkan melodi yang tenang dan dia sangat menyukai saat-saat seperti ini.
"Iris, jangan bandingkan dirimu dengan makanan. Bagaimanapun kamu sangat berharga untukku daripada makanan pedas seperti ini. Kamu pikir aku laki-laki yang akan lebih memilih makanan daripada seorang perempuan yang dia sayangi." Wajah Nagato memerah setelah mengatakan hal tersebut.
"Naga, terkadang kata-katamu itu membuatku merasa senang, tetapi entah kenapa aku suka melihatmu yang terlihat malu-malu seperti sekarang ini." Iris menjawab dan tertawa lirih melihat Nagato yang tersipu malu.
"Sudah cukup. Ayo makan." Ajak Nagato pada Iris. Dengan cepat Nagato langsung mengakhiri pembicaraan. "Selamat makan." Nagato menyantap daging yang dilumuri sambal itu dengan garpu dan sebuah pisau makanan.
"Selamat makan..." Iris menelan ludah ketika hendak menyantap daging yang berlumuran sambal yang ada di meja makan.
Nagato memakan daging tersebut dengan lahap, wajahnya yang tampan rupawan dibasahi keringat yang tipis-tipis membuat Iris berdebar melihatnya.
Gadis cantik itu merasa beruntung karena Nagato selalu mengajaknya jalan-jalan. Bahkan Iris merasa bahagia melihat Nagato yang bersikap alam di hadapannya.
"Apa kamu tidak merasa pedas, Naga?" Tanya Iris memastikan.
"Coba kamu makan." Nagato mengunyah daging dan menelannya terlebih dahulu. Setelah itu dia menusuk daging yang dilumuri sambal dengan garpu, kemudian dia menyodorkannya kepada Iris.
"Buka mulutmu." Nagato tersenyum tipis melihat wajah Iris yang terlihat bergidik melihat sambal yang melumuri daging tersebut.
Jari lentik Iris menyentuh samping kiri rambutnya dan menariknya ke atas telinga. Kemudian bibir tipis dan mungilnya merekah pelan-pelan menerima suapan daging pedas dari Nagato.
"Bagaimana?" Nagato tersenyum melihat mata Iris yang melebar dan wajah cantiknya itu memerah seperti tomat.
Iris mengunyah daging tersebut terlebih dahulu. "Huuh!" Iris langsung meminum air putih. "Naga! Ini pedas sekali!" Iris memberi komentar pada makanan yang disukai Nagato.
"Baru sekali coba. Kalau begitu jangan di paksa makan lagi. Kamu sudah menerima tantanganku." Nagato kembali menyantap daging yang pedas itu. Sedangkan Iris menatap Nagato dengan seksama.
Nagato menghabiskan semua daging berlumuran sambal yang ada di piring. Kemudian dia menatap wajah Iris yang menatap dirinya tanpa berkedip sedikitpun itu
"Sehabis ini aku akan belikan kue coklat kesukaanmu. Setelah itu kita pergi ke Danau Sakura untuk melihat pemandangan malam di sana." Nagato ingin membuat Iris merasa senang. Setidaknya itulah hal yang ingin dia lakukan bersama Iris malam ini.
__ADS_1
Senyuman manis menghiasi wajah cantik Iris. "Aku bisa beli sendiri kok. Sebenarnya aku juga ingin mengajakmu ke sana." Ujar Iris sambil membersihkan sisa sambal di pipi Nagato dengan jari lentiknya.