
Beberapa hari telah berlalu semenjak pertempuran yang membuat Ibukota Daifuzen menjadi rata. Kabar Kekaisaran Kai yang berada di bawah perlindungan salah satu Lima Penguasa membuat kegemparan hebat di Benua Ezzo.
Kejadian itu menuai reaksi dari berbagai pihak yang berada di dalam bayang-bayang gelap. Kecemasan menghampiri setiap pihak yang memiliki ambisi besar di Benua Ezzo.
Saat sebagian besar orang-orang yang tinggal di Benua Ezzo khawatir dengan masa depan yang akan terjadi di benua yang mereka tinggali, ribuan orang dari Kekaisaran Kai sedang berduka dan berkabung dengan memberi penghomatan terakhir pada pendekar yang telah gugur di pertempuran berdarah Ibukota Daifuzen.
Sachie yang mengambil alih kursi kepemimpinan untuk sementara mengangkat Hawk sebagai Panglima Besar Kekaisaran Kai. Walau berhasil mengetahui kebenaran tentang penuduhan yang dilakukan Hizen kepada Pandu. Tidak ada perasaan senang di hati Hawk ketika diangkat menjadi Panglima Besar Kekaisaran Kai.
Hawk dan Matsuri merasa hampa walau dapat mengetahui kebenarannya dari Hayabusa. Mereka berdua merasa bersalah karena telah mengira Hayabusa berkhianat. Di masa lalu, Hayabusa tidak akan segan membunuh siapapun orang yang melindungi Hizen. Bahkan walau harus bertarung melawan Hawk dan Matsuri.
“Apa yang akan kalian berdua lakukan selanjutnya? Jangan terlalu memikirkan masa lalu, mulai dari sini masa depan Kekaisaran Kai dan Benua Ezzo akan terlihat. Perkataan orang bernama Ophys membuatku penasaran dengan masa depan. Karena perkataannya sangat mirip dengan Nona Sarah, istri Guru Pandu.”
Hayabusa berkata sambil menatap langit. Saat ini dia bersama Hawk dan Matsuri berada di Kota Mikawa, kediaman Bangsawan Kita.
“Saat aku bersama bawahanku memeriksa keadaan di Kota Helai. Situasi disana sungguh kacau karena banyak penduduk perempuan yang memilih bunuh diri. Kenapa para bangsawan dari Provinsi Barat mati dengan mudah ditangan musuh, setidaknya biarkan aku yang membalas perbuatan mereka yang keterlaluan, terlewat keji itu!” Hawk mengepalkan tangannya.
Matsuri sendiri merasakan kehampaan saat ini. Sulit baginya untuk bersikap tenang setelah mengetahui kebenaran tentang Hizen, identitas Nagato dan yang terakhir adalah penyakit Hanabi.
Matsuri tidak ingin percaya jika umur Hanabi tidak akan bisa mencapai delapan belas tahun. Sebagai seorang kakak, tentu saja dia ingin Hanabi tumbuh dewasa karena adik pertamanya itu sangat mengidolakannya dan menjadikan dirinya sebagai seorang panutan.
“Aku akan mencari keberadaan Nagato bersama Kyla dan yang lainnya. Aku tidak akan bisa hidup dengan tenang jika tidak dapat mengetahui keberadaan Nagato.” Hanabi bangkit berdiri dan masuk ke dalam ruangan yang ditempati Sachie.
Hawk menatap Matsuri cukup lama sebelum menatap Hayabusa. Keduanya duduk mengobrol setelah sekian lama.
“Hayabusa, jika aku mati, bisakah kau menuruti permintaanku untuk menikahi Matsuri.” Hawk tersenyum tipis melihat raut wajah Hayabusa yang terlihat tidak terlalu tertarik mendengar perkataan Hawk.
“Aku sudah berdosa. Kau tidak akan tahu rasanya menyesal hingga aku berakhir seperti ini...” Hayabusa menjawab dengan nada yang sedikit kecewa.
Dahulu saat menjadi murid Pandu. Memang Hawk dan Hayabusa memiliki perasaan pada Matsuri. Tetapi setelah Matsuri terlihat akrab dengan Hawk, saat itu Hayabusa memilih menjauh.
Apalagi saat berita Pandu yang menjadi pengkhianat dan membunuh keluarganya sendiri. Saat itu Hayabusa merasakan depresi berat, hingga Hayabusa kecil yang baik hati telah tidak ada dan menghilang. Semenjak itu Hayabusa berubah menjadi orang yang haus darah. Namun dia ingin memenuhi permintaan gurunya agar melindungi Kekaisaran Kai, siapapun pemimpinnya bahkan orang yang telah menuduh dan merencanakan akal busuknya selama puluhan tahun.
Bagi Hayabusa sendiri, sosok Pandu terlalu baik sehingga mengakibatkan akhir yang mengenaskan bagi siapapun yang terlibat dengannya. Hayabusa sendiri bisa mengetahui jika Nagato memiliki tatapan yang berbeda dengan Pandu. Masa lalu Nagato tidaklah indah sebagai seorang yang memiliki darah bangsawan.
“Kau jangan mengikuti jalanku. Saat itu kau berhasil mendapatkan perhatian Matsuri. Jangan katakan hal yang membuatku marah. Aku saat ini hanya ingin mencari tempat yang pantas untukku mati.” Hayabusa pergi meninggalkan Hawk tanpa membawa senjata apapun karena dua pedangnya telah patah.
“Kau mau kemana, Hayabusa?” Hawk bertanya sambil berdiri menatap punggung Hayabusa.
“Aku akan menunggu Kagutsuchi Nagato berumur tujuh belas tahun. Setidaknya aku ingin memastikan perkataan Nona Sarah bersama kenalanku di Kerajaan Azbec.” Hayabusa mengangkat tangan kanannya dan pergi meninggalkan Kota Mikawa.
Matsuri sempat mendengar perbincangan Hawk dan Hayabusa. Kedua tangannya melipat di bawah dadanya. ‘Dasar bodoh!’
__ADS_1
___
Salju turun dengan deras di Pulau Samui.
Jauh dari tempat kediaman Shirayuki di Pulau Samui terdapat makam dari Litha dan Emi, kedua makan itu berdampingan. Sebuah batu nisan yang merupakan makan dari Litha selalu menjadi tempat Iris menyepi.
Iris tidak dapat mengingat apapun tentang Nagato. Ingatannya tentang Nagato terkunci rapat-rapat, sementara ingatan tentang orang-orang yang lain masih dia ingat.
Shirayuki selalu mengawasi Iris dari kejauhan. Dia sudah mengetahui alasan mengapa Iris bisa melupakan Nagato. Tetapi Shirayuki tidak percaya jika takdir sekejam ini. Bukan hanya Hisui, Emi, dan Litha yang telah meninggal, bahkan Yuki telah lumpuh selama sisa hidupnya.
Shirayuki sebisa mungkin merawat Yuki di rumahnya, tempat mereka saat kecil bermain bersama. Yuki selalu menggumamkan nama Hisui, setelah itu meneteskan air mata. Mendengar itu detik demi detik membuat seluruh dada Shirayuki merasa sesak.
Shirayuki merasa kepedihan di dasar hatinya. Dadanya terasa begitu sesak dengan hidup yang memilukan ini. Dia pergi meninggalkan tempat pemakaman di Pulau Samui ketika melihat Hika dan Tika menghampiri Iris.
Ichiba, Hika dan Tika telah mengikhlaskan kepergian Takatsugu walau Hika dan Tika masih dalam keadaan berkabung. Sekarang Ichiba menghabiskan waktu untuk membantu kegiatan Oichi yang sedang hamil.
Sedangkan Hika dan Tika sedang berdiri disamping Iris. Terlihat Iris begitu despresi karena telah ditinggal pergi Hisui dan Litha.
“Tika... Tika... Apa Iris sungguh tidak mengenal Nagato? Bagaimana bisa dia kehilangan ingatannya?” Hika berbisik di telinga Tika pelan.
“Aku dengar seperti itu. Iris mengingat semua orang kecuali Nagato. Hanya Nagato saja yang tidak dia ingat. Kita sebagai sahabat kecilnya harus selalu ada disampingnya, Hika...” Tika menjawab lirih setengah berbisik.
“Litha... Aku yang telah menyebabkan kematianmu... Aku... Aku...” Iris tidak percaya dengan kematian Litha. Setelah melihat bagaimana Hisui mati, Iris masih trauma kehilangan seseorang yang berharga dihidupnya. Kematian Litha benar-benar membuat Iris syok, bahkan dia juga merasa tidak percaya dengan kematian Emi.
Kesedihan dan nalurinya terus memberontak hingga membuat mentalnya terpukul. Iris sulit menerima kenyataan yang terjadi. Gadis berparas cantik itu bergantian mengunjungi makan Emi dan Litha. Bahkan sering kali Iris berniat pergi ke Ibukota Daifuzen khususnya Tebing Shi untuk mengenang Hisui, tetapi Shirayuki melarangnya karena untuk sementara waktu Ibukota Daifuzen sedang diurus Keluarga Akaramizarawa dibawah kepemimpinan Sachie untuk melakukan pemindahan ibukota secepatnya.
“Litha, aku berjanji akan memenuhi janji kita bertiga. Dan aku akan memenuhi janji yang kau ucapkan padaku tentang pemuda itu.” Iris menggigit bibir bawahnya, dia meneteskan air mata dan memegang dadanya karena merasakan sesak yang tak terkira dan sakit yang memilukan, “Kamu adalah saudari angkat yang sudah kuanggap sebagai saudariku sendiri. Aku selalu berpikir kita bertiga, aku, kamu dan Hisui akan mendampingi...”
Iris tidak melanjutkan perkataannya, dadanya semakin sesak ketika dia melupakan sesuatu yang berharga. Air matanya terus menetes karena dia tidak dapat mengingatnya.
“Iris, tolong jaga Nagato. Dia adalah orang yang ceroboh. Setidaknya aku ingin melihat kalian berdua menikah ketika dewasa nanti...”
“Litha, aku tidak memahami alasanmu menginginkanku menikah dengan pemuda itu. Aku sudah berpikir keras untuk mengingat pemuda di malam itu, tetapi aku sama sekali tidak mengenalnya. Aku akan memenuhi permintaanmu ini, dan kelak aku akan memenuhi janji kita bertiga...”
Iris menangis sesenggukan dan mencoba untuk tidak menangis kembali, namun kesedihannya bermunculan satu demi satu, merayapi sekujur tubuhnya hingga membuatnya merasakan kesedihan yang teramat dalam.
“Litha, kain putih yang mengikat kimono kita, saat kau menjadi bagian dari Klan Fuyumi memiliki arti tersendiri...” Iris memegang kain putih yang mengikat pinggang kirinya, “Kain putih ini akan menjadi pengingat. Agar kita selalu mengingat akan sebuah kematian. Karena semua makhluk hidup pasti akan mati pada akhirnya.”
Iris menyeka air matanya, “Litha, Hisui, kuharap kalian berdua disana dapat beristirahat dengan tenang. Aku akan memibalas dendammu, kalian berdua adalah sahabatku yang baik hati. Jadi biarkan aku yang menanggung dendam ini...”
Iris cukup lama menangis sebelum tertidur. Kemudian Hika dan Tika membawa Iris kembali kerumahnya.
__ADS_1
___
Di suatu hutan yang berada di Kerajaan Ellesmere. Pemuda dengan tubuh yang dibalut perban belum terbangun dari tidur panjangnya. Mentalnya benar-benar hancur, dia merasa syok hingga seluruh sel di tubuhnya memberontak.
Pemuda yang tak lain adalah Nagato mengalami despresi yang berat karena tidak dapat menyelamatkan Litha.
Nagato tidur beralaskan batu putih yang berbentuk persegi. Sementara Hound sedang pergi ke kota untuk mencari makanan dan obat-obatan.
Kesadaran Nagato masih jauh di alam bawah sadarnya. Napasnya berhembus pelan, bahkan detak jantungnya juga berdetak lemah.
“Kakak Soren... Penyakitmu pasti akan sembuh. Kau memiliki Iris yang mencintaimu...”
Nagato menggerakkan tubuhnya ketika merasakan dirinya berada dalam mimpi buruk yang panjang. Nagato merasa penyebab kematian Litha adalah karena dirinya yang termakan emosi. Mata Nagato terbuka sepenuhnya dan meronta.
“Akhirnya aku dapat menenangkanmu. Kakak Soren, mulai saat ini aku ingin memanggilmu Kakak Soren...”
Nagato berteriak histeris memegang kepalanya ketika mengingat Litha. Matanya mencari sesuatu, apapun itu. Ketika dia melihat pisau kecil, dengan segera dia mengambilnya dan menusuk lengan kirinya.
“Argh!” Nagato berteriak dan berusaha menghancurkan apapun disekelilingnya hingga tubuhnya bersimbah darah.
*Maafkan aku, Kakak Soren... Aku tidak dapat menepati janji yang kita buat...
Andai ada di kehidupan selanjutnya kita tidak mempunyai hubungan darah. Aku ingin menjadi kekasihmu... Kakak Soren, aku mencintaimu*...
“Litha...” Napasnya terengah-rengah, matanya menatap sekitarnya, “Litha, kau dimana? Jangan sembunyi! Tolong perlihatkan dirimu!”
Nagato berteriak sekeras mungkin berharap Litha menampakkan wujudnya di hadapannya. Tetapi tidak ada siapapun disisinya.
Angin berhembus disekitarnya, Nagato kembali menjerit histeris dan menusuk pisau kecil tersebut ke perut dan dadanya. Walau tidak dalam, Nagato hanya berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi.
Sekujur tubuh bagian depannya bersimbah darah, Nagato menancapkan pisau kecil yang dia genggam ke lengan kirinya. Pisau itu menembus kulitnya bahkan menyentuh tulangnya, Nagato berharap jika dengan rasa sakit ini dia akan terbangun
“Kakek Hyo, Litha...” Nagato berjalan tanpa arah karena mengira hutan yang sedang dia pijak adalah Hutan Cakrawyuha.
“Aku tahu kalian pasti sedang menungguku. Maafkan aku...”
Dia telah terbangun, namun kenyataan pahit menghampirinya. Dia baru saja kehilangan sesuatu yang terpenting dalam hidupnya. Nalurinya memberontak tidak menerima kenyataan, berkali-kali dia melukai tubuhnya sendiri agar terbangun dari mimpi panjangnya tetapi langit dan alam disekitarnya masa sama. Semua ini bukanlah mimpi, dia baru saja kehilangan orang-orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Walau bertahan hidup, tetapi kemauan hidupnya sangatlah kecil. Dia baru saja kehilangan teman pertamanya sekaligus adik sepupunya. Dengan penuh harap dia mengharapkan semuanya adalah mimpi.
Pisau kecil yang tertusuk di lengan kirinya, dia cabut dan arahkan sekuat tenaga menembus telapak tangan kirinya. Darah segar dan balutan perban kembali berdarah. Rasa sakit menyebar cepat, tetapi dunia yang sedang dia tatap masih sama. Dunia yang baginya adalah neraka.
__ADS_1