
Beberapa pendekar muda telah bertanding sebut saja seperti pemula yang menarik perhatian semua orang, Kakugo. Di antara Kakugo ada beberapa pendekar muda yang cukup mentereng penampilan mereka dalam pertandingan.
Nama-nama pendekar muda itu adalah Kuroji, Sasae, Akira, Myoko, Kanade dan Surume. Mereka menampilkan pertarungan yang apik dan bisa menjadi peserta kuda hitam yang akan masuk ke babak 32 besar.
Para penonton terdiam setelah menyaksikan pertandingan pendekar muda dari Kuil Matahari Baru yang bernama Isaka. Kini mereka semua menunggu pertandingan berikutnya.
Mujin menggaruk pipinya sesaat kemudian dia memanggil nama Fuyumi Iris dan Kanade.
"Pertandingan selanjutnya Fuyumi Iris dari Klan Fuyumi melawan Kanade dari Air Terjun Kebenaran!" Mujin melihat kedua peserta yang sudah berjalan menuju lapangan Arena Lingkaran Harimau.
Penonton semakin bersemangat menonton gadis muda yang akan bertanding, mengingat Iris yang kecantikannya sama seperti Shirayuki. Di daratan Kekaisaran Kai mungkin Iris bisa disebut sebagai permata yang paling indah diantara gadis-gadis muda yang lainnya.
Kanade dari Air Terjun Kebenaran juga memiliki paras yang tidak kalah cantik dengan Iris. Gadis muda berumur lima belas tahun itu memakai pakaian terbuka, dia menunjukkan lekuk tubuhnya di bagian perut.
Setelah kedua peserta sampai di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau, Mujin menatap keduanya cukup lama dan menelan ludah.
"Ehem ... ambil jarak!" Mujin berdeham pelan dan menyuruh kedua peserta mengambil jarak. Setelah keduanya berada pada jarak yang telah ditentukan, Mujin langsung memberi aba-aba pertandingan.
"Dengan ini, pertandingan antara Fuyumi Iris melawan Kanade di mulai!" Penonton langsung bergemuruh ketika Mujin memulai aba-aba pertandingan.
Begitu Mujin mundur beberapa langkah ke belakang, Kanade dan Iris segera mengambil tindakan mereka untuk menyerang satu sama lain. Pertarungan dimulai dengan Kanade yang mengeluarkan gumpalan air dari telapak tangannya, kemudian gadis muda itu mengarahkannya pada gadis yang berdiri di ujung sana dengan anggunnya.
Telapak tangan Kanade mengeluarkan bola-bola air yang berterbangan ke arah Iris. Bagi Iris serangan seperti ini bisa dengan mudah dia atasi.
Tanpa bergerak, tanpa memasang ekspresi apapun. Hanya tatapan dingin dan wajah datar yang terlihat pada Iris. Gerakan tangan Iris yang gemulai menahan serangan bola-bola air dengan telapak tangannya. Es membekukan serangan milik Kanade.
Dari bibir tipisnya dan mulutnya yang mungil itu, Iris menghembuskan udara ke arah Kanade. Di udara terlihat salju-salju berjatuhan.
"Aku tidak bisa mendekatinya. Elemen bawaan kami hampir sama. Seharusnya air bisa mencairkan es," gumam Kanade sambil mencari celah untuk memberikan serangan pada Iris.
"Air bisa mencairkan es, begitu juga sebaliknya, es bisa membekukan air." Kanade menggigit bibir bawahnya, kemudian dia mendesis, "Ah, menyebalkan."
Kanade mengingat jika air bisa saja mencairkan es tetapi itu butuh waktu cukup lama.
Gadis cantik dengan jepit rambut kupu-kupu bersayap biru itu terlihat sangat anggun di tengah lapangan. Iris terkesan sangat dingin dan dia sama sekali tidak terlihat antusias, tatapannya kosong melihat sekelilingnya. Ketika tidak berada di dekat orang-orang terdekatnya yang sedang duduk di bangku penonton Klan Fuyumi, dia memang akan seperti ini.
Iris tidak pernah tersenyum atau tertawa walau sedari kecil dia sudah berteman baik dengan Hika dan Tika. Hingga suatu hari, tepat ketika dirinya berumur lima tahun, Iris bertemu dengan Nagato. Pertemuan dengan Nagato membuat Iris tersenyum lepas setelah sekian lama. Sosok dirinya yang manja, mudah cemburu dan ingin di perhatikan hanya dia perlihatkan kepada Nagato.
Dalam tatapan kosongnya, Iris hanya diam tanpa bergerak sedikitpun dari tempat dia berpijak. Puluhan serangan air yang dilesatkan oleh Kanade dengan mudah dia bekukan.
Kanade sedikit kesal melihat Iris yang masih tetap bersikap santai dan tenang. Keringat terus mengucur di sekujur tubuh gadis muda itu. Perut langsing yang dia perlihatkan itu membuat penonton laki-laki bergairah.
"Laki-laki semuanya sampah! Otak mereka sangat mesum!" Kanade berteriak kecil ketika telapak tangannya membentuk sebuah pedang air dengan tenaga dalamnya.
Iris mendengar teriakan kecil Kanade. Tidak berapa lama dia merespon sedikit perkataan Kanade walau hanya membatin.
"Benar, laki-laki hanya tertarik dengan tubuh perempuan ... tapi dia berbeda." Iris membatin dalam relung hatinya yang paling dalam. Setelah itu dia membentuk sebuah pedang es dari tenaga dalamnya.
Kanade terkejut melihat Iris pertama kali tersenyum tipis, walau sesaat tetapi tubuh Kanade terasa tersambar petir.
__ADS_1
"Anggunnya..." Kanade tersenyum pada Iris. Perlahan Kanade memperlambat tempo kecepatan larinya sebelum dia melompat ke atas.
Kanade mengolah pernapasan, kemudian dia melepaskan aura tubuhnya yang berwarna biru muda. Mulutnya mengembung sebelum mengeluarkan air yang melesat cepat ke arah Iris.
Wajah Iris terlihat tenang, dia tidak terkejut sama sekali. Dengan mudah dia membekukan air deras yang melesat cepat ke arahnya. Sedangkan tangannya masih menciptakan satu pedang dari tenaga dalamnya.
Tidak berapa lama lima pedang muncul mengitari tubuh Iris. Dengan aura tubuhnya yang berwarna putih bersamaan dengan tenaga dalamnya, Iris mengendalikan pedang-pedang es yang dia ciptakan untuk menyerang Kanade.
Gadis cantik itu tidak berkeringat sedikitpun. Sekarang dia benar-benar telah menguasai jalannya pertandingan. Pedang-pedang yang dia kendalikan, terbang di udara dan bergerak cepat kesana kemari mengincar tubuh Kanade.
Tatapan kosong yang tidak menunjukkan antusias bertarung itu membuat Iris menjadi lebih anggun. Wajahnya yang ayu membuat para pemuda yang melihatnya semakin tertarik dengannya.
Kanade mengayunkan pedang air padat yang dia ciptakan dengan tenaga dalamnya. Namun pedang yang dia ciptakan itu kini telah membeku ketika menangkis serangan tebasan pedang-pedang es milik Iris.
"Membeku?" Kanade membatin dan terkejut. Dirinya lebih terkejut ketika melihat salah satu pedang es milik Iris melesat cepat ke arah lehernya, namun pedang es tersebut berhenti setelah menyentuh lehernya. Dengan napas tersengal-sengal dan detak jantung yang memacu cepat karena ketakutan, Kanade bernapas lega ketika melihat pedang es milik Iris berhenti.
Mujin hampir menghentikan pertandingan tetapi dia menjadi terkejut dengan Iris yang mengendalikan kecepatan pedang es itu.
Ketika Kanade bernapas lega, tiba-tiba lehernya membeku dan secara perlahan es mulai menyebar hingga ke dada dan perutnya. Tubuh Kanade menggeliat kesana kemari kedinginan.
"Aku menyerah! Aku menyerah!" Iris tanpa ekspresi apapun menekan aura tubuhnya dan tenaga dalamnya secara bersamaan. Perlahan es yang membekukan leher, dada dan perut Kanade mencair.
Penonton laki-laki bergemuruh melihat Kanade yang menggeliat. Mendengar itu, Kanade berdecak kesal. Pandangan matanya terarah pada Iris.
"Kau juga mesum, dasar putri cantik yang dingin!" Kanade beranjak pergi meninggalkan tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau menuju tempat bangku penonton dari Air Terjun Kebenaran.
"Pemenangnya Fuyumi Iris!" Mujin mengakhiri pertandingan dan menunjuk Iris sebagai pemenangnya. Tidak berapa lama dia langsung beralih ke pertandingan selanjutnya.
"Aku mesum..." Iris membatin. Dia merasa syok mendengar perkataan Kanade. Dalam perjalanan menuju bangku penonton Klan Fuyumi, dia bertemu dengan Litha.
"Selamat ya Iris. Aku akan mengejarmu." Litha tersenyum lembut pada Iris tetapi gadis cantik itu hanya terus berjalan dengan tatapan kosong tidak membalas senyumannya.
"Iris kenapa?" Litha kebingungan. Kemudian dia melihat Iris menoleh melihat dirinya.
"Litha, menurutmu apa aku itu mesum?" Iris bertanya pada Litha dengan suara pelan.
Litha ingin tersenyum tetapi justru dia terlihat semakin bingung dengan pertanyaan Iris.
"Kamu tidak mesum kok. Tidak usah dipikirkan." Litha melambaikan tangan pada Iris dan beranjak pergi menuju lapangan Arena Lingkaran Harimau.
"Semangat Litha. Aku akan mendukungmu." Iris membalas lambaian tangan Litha dan kembali ke bangku penonton Klan Fuyumi.
Setelah duduk di samping Tika dengan wajah yang datar, Iris menatap Litha yang sedang berdiri di depan Mujin.
"Guru Shirayuki. Aku merasa kesal melihat tatapan pria dewasa yang ada di sana itu, mereka terlihat sangat mesum." Tika berkata pada Shirayuki tepat setelah Iris duduk.
Iris melirik Tika tetapi dia melihat lambaian tangan Nagato walau pemuda itu pandangan matanya terarah kepada Litha.
"Naga. Dia pasti ingin mengejekku." Iris membatin kesal.
__ADS_1
Sementara itu di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau terlihat Mujin sedang mengingatkan peraturan pertandingan pada Litha dan Surume.
"Ambil jarak!" Mujin memberi isyarat pada Litha dan Surume agar berdiri di jarak yang telah ditentukan.
"Pertandingan antara Fuyumi Litha dai Klan Fuyumi melawan Surume dari Air Terjun Kebenaran dimulai!" Tepat setelah Mujin memberi aba-aba pertandingan dimulai, Litha dan Surume langsung melepaskan pedang mereka yang tersarung rapi di pinggangnya.
Seperti biasa Litha selalu tenang dan mengamati keadaan terlebih dahulu, dia menatap Surume dari kepala sampai ujung kakinya dan memperkirakan pergerakan Surume.
Litha mengolah pernapasan sirih, kemudian dia menyalurkan tenaga dalamnya pada bilah pedangnya hingga bilah pedang tersebut mengeluarkan cahaya berwarna biru muda.
Litha memulai serangan terlebih dahulu, benturan kedua pedang menggema. Cipratan air dari kedua elemen yang sama membuat penonton tertarik dengan hasil akhir pertandingan ini.
Dengan gerakan yang lincah penuh seni, Litha mendominasi pertandingan. Gadis yang memakai jepit rambut bunga mawar itu berhasil mendesak Surume ke posisi bertahan.
Ayunan pedang Litha sangat cepat, gadis itu belajar banyak dari Kakek Hyogoro, Bisma dan Nagato. Banyak yang misterius dari Litha karena gadis manis yang selalu tersenyum lembut itu masih memiliki darah keturunan Azbec. Bahkan Litha mengetahui cerita dongeng Paus Terbang, Pulau Kura-Kura Raksasa yang dihukum berjalan selama ribuan tahun dan leluhur penyihir Azbec yang memiliki telinga runcing. Lelurhu penyihir Azbec itu dikenal dengan Ras Elf.
Tiga cerita yang cukup populer di Azbec itu berasal dari leluhur Keluarga Von. Dan tentunya Keluarga Von selalu menceritakan cerita tersebut secara turun-temurun hingga terkenal ke seluruh penduduk Kerajaan Sihir Azbec. Namun sebenarnya masih ada tiga cerita turun-temurun lainnya tentang sebuah Ras Fairy, Ras Mermaid dan Ras Ghost yang hanya diketahui ceritanya oleh Keluarga Von.
Bukan hanya itu, Litha juga memilik jelmaan tubuh Dewi Pengobatan. Setiap manusia yang lahir dengan jelmaan dewa-dewi memiliki kekuatan tersendiri yang di luar nalar manusia jika mengalami pembangkitan. Mereka adalah manusia yang membawa sejarah masa lalu yang dilupakan dari dunia. Sejarah yang diubah dari dunia yang luas dan tidak diketahui apa yang ada dibalik dari ujung dunia ini.
Kembali ke pertandingan antara Litha melawan Surume.
Terlihat sekarang Litha dan Surume telah bertukar puluhan jurus, tebasan demi tebasan dan benturan pedang yang selalu menggema di lapangan Arena Lingkaran Harimau itu berakhir setelah Litha memaksa Surume mundur beberapa langkah ke belakang.
Stamina Litha jauh di atas Surume. Ketika Surume napasnya terengah-rengah, Litha menendang perut Surume hingga gadis itu terjatuh ke tanah. Kemudian Litha menodongkan pedangnya ke arah Surume.
Mengetahui dirinya tidak mempunyai kesempatan untuk menang, Surume menyerah dengan hati yang lapang mengingat dirinya telah mengeluarkan segenap kekuatannya. Bahkan seluruh aura tubuh dan tenaga dalamnya terkuras habis hingga tubuhnya ditandu menuju ruang perawatan yang ada di Arena Lingkaran Harimau Kai.
"Pemenangnya Fuyumi Litha dari Klan Fuyumi!" Mujin mengumumkan Litha sebagai pemanangnya.
Penonton dan semua pendekar yang melihat pertarungan pendekar muda dari Klan Fuyumi hanya bisa tercengang dan berdecak kagum. Dari lima perwakilan pendekar muda Klan Fuyumi sudah tiga yang lolos ke babak 32 besar. Nagato, Iris dan Litha telah dipastikan lolos, sedangkan untuk Hika dan Tika sedang menunggu giliran mereka untuk bertanding.
Sesampainya di bangku penonton Klan Fuyumi, Litha disambut ucapan selamat dari keluarga kecilnya yang ada di Klan Fuyumi. Walau tidak sedarah dengannya, Litha menganggap mereka semua adalah keluarganya, begitu juga sebaliknya.
"Selamat Litha!" Hika dan Tika memberi ucapan selamat kepada Litha.
"Saudari kembar Iris memang sama-sama hebat dan cantik, dasar dua bidadari Klan Fuyumi," celoteh Tika sambil tertawa kecil menutup mulutnya.
"Bidadari?" Iris dan Litha saling menatap satu sama lain kemudian mereka tersenyum.
"Selamat Litha." Iris menatap Litha yang duduk disampingnya.
"Terimakasih saudari kembarku hehe." Litha memegang pipinya dan tersenyum lembut pada Iris.
"Sekarang yang tersisa tinggal saudari kembar yang di situ." Iris menanggapi perkataan Litha sambil melihat Tika dan Hika.
"Benar juga, saudari kembar yang dua ini belum bertanding," sahut Litha.
"Hika dan Tika akan menyusul Iris sama Litha. Saudari kembar di situ tunggu aja ya," ucap Hika dan Tika secara bersamaan.
__ADS_1
Tidak berapa lama suara Mujin memanggil nama Fuyumi Tika. Shirayuki, Ichiba dan Oichi tertawa mendengar perkataan keempat gadis kecil yang sedang berbincang-bincang.
Sedangkan Nagato dan Emi sedang berbicara. Setelah Emi berkata pelan kepada pemuda yang duduk di sampingnya itu, raut wajah pemuda itu terkejut dibalik topeng rubah putihnya.