
Setelah itu Kuina menyuruh Litha dan yang lainnya untuk keluar ruangan sebentar karena ada hal penting yang ingin dirinya dibicarakan dengan Nagato.
Kuina menahan Iris ketika gadis kecil itu hendak berdiri dari kursi yang berada disamping ranjang Nagato.
Tak lama setelah Litha dan yang lainnya keluar, Shirayuki masuk dalam ruangan Nagato.
"Ibu?" Iris menatap ibunya karena raut wajah ibunya berbeda dari yang biasanya, Shirayuki terlihat gelisah.
Shirayuki menutup pintu kamar, setelah itu dirinya melangkah mendekati mereka bertiga.
"Iris, ada hal penting yang ingin ibu bicarakan denganmu." Shirayuki tersenyun hangat kepada putri semata wayangnya itu.
"Iya bu." Iris penasaran dengan hal yang penting yang ingin ibunya bicarakan dengannya, karena baru pertama kali Iris melihat ibunya terlihat gugup dan gelisah.
"Kamu sudah bangun Tuan Muda Nagato." sapa Shirayuki pada Nagato yang sedang melihatnya.
"Iya." Nagato memandang wajah Shirayuki dan Iris sambil membandingkan ibu dan anak itu.
"Hanya rambutnya saja yang beda, Iris menurutku dia cantik tetapi masih lebih cantik ibuku." batin Nagato sambil membaringkan kembali tubuhnya.
"Tuan Muda Nagato, terimakasih telah menyelamatkan anakku ini." Shirayuki tersenyum hangat pada Nagato.
"Tunggu, mereka berdua ibu dan anak pantas saja." batin Nagato sambil menyipitkan matanya menatap Iris.
"Tidak apa - apa, lagipula itu sudah menjadi kewajibanku karena aku yang mengajak Iris untuk bekerja sama." Nagato tersenyum sinis kepada Iris.
Iris menatap tajam Nagato dan sedikit merasa kesal karena senyuman pemuda itu seperti ingin mengeledeknya.
Gadis kecil itu menyentuh tangan kiri Nagato dan sedikit menekannya karena Iris sedang duduk dikursi yang ada disamping Nagato sehingga gadis kecil itu dengan mudah menjahili Nagato.
Nagato merapatkan giginya karena menahan nyeri ketika Iris menekan tangan kirinya yang patah.
Iris tersenyum sinis pada Nagato.
"Rasain!" batin Iris sambil mengedipkan matanya pada Nagato.
Shirayuki mengambil kursi yang ada diruangan kamar Nagato kemudian perempuan itu duduk disamping anaknya.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua." Shirayuki terlihat serius dan gugup disaat yang bersamaan.
"Iya bu, ada apa?" Iris tersenyum hangat pada ibunya.
Nagato memalingkan wajahnya kesamping sambil menghela nafas panjang karena Iris sudah tidak lagi menekan tangannya yang patah.
"Ini adalah pembicaraan yang penting, karena menyangkut masa depan kalian berdua, jadi dengarkan baik - baik." Shirayuki mencoba menenangkan dirinya sebelum menjelaskan kepada Iris dan Nagato tentang perjodohan mereka berdua.
"Tuan Muda Nagato, sebenarnya aku ingin menjodohkan Tuan Muda dengan putriku ini, tetapi aku harus membicarakan hal ini pada kalian berdua terlebih dahulu." Shirayuki mengelus rambut putri semata wayangnya dengan penuh kasih sayang sambil memandang Nagato.
Nagato bangun dari tidurnya ketika mendengar perkataan Shirayuki.
Nagato dan Iris terkejut secara bersamaan setelah itu mereka berdua saling memandang satu sama lain.
"Tunggu, jodoh? Aku tidak terlalu peduli juga sih." batin Nagato sambil memandang Iris.
"Eh ... ibu ingin menjodohkan aku dengan Naga, aku tidak salah dengar, kan?" batin Iris sambil memandang lelaki yang dijodohkan dengannya itu.
"Kalian berdua pikirkan baik - baik, kalian masih kecil jadi masih banyak waktu untuk mengenal satu sama lain." Shirayuki tersenyum melihat reaksi putrinya dan Nagato yang saling memandang satu sama lain itu.
"Ibu ... aku." wajah Iris merah merona, gadis kecil itu memegang tangan ibunya dengan lembut.
Nagato tersenyum tipis sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya, sehingga senyuman yang menyungging diwajahnya tidak kelihatan.
__ADS_1
"Dijodohkan dengan Iris? Hmmm ... " gumam Nagato pelan.
Kuina tersenyum melihat reaksi Nagato, karena sepertinya anak dari gurunya itu juga tertarik pada Iris.
"T-Tunggu ... " Iris menatap Nagato karena pemuda itu seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Kita baru kenal satu hari yang lalu?" Nagato mengerutkan dahinya karena sedang memikirkan sesuatu.
"Kalian sudah mengenal selama lima belas hari." sahut Kuina.
"Lima belas? Tidak ... menurutku itu baru satu hari karena aku tertidur selama tiga belas hari dan kejadian di malam itu tidak dihitung." gumam Nagato sambil memandang Kuina.
"Nagato, guru pernah berkata padaku kalau cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, jadi kalian berdua terima saja perjodohan ini, aku tidak keberatan, menurutku kalian berdua pasangan yang serasi di masa depan." Kuina tertawa kecil mengeledek Nagato yang kebingungan.
Iris menatap Nagato dengan malu - malu.
"Na-Naga, apa kamu tidak keberatan dengan hal ini?" Iris gugup ketika ingin mengucapkan sesuatu pada Nagato, bibir gadis kecil itu bergetar.
"Hah? Naga?" gumam Nagato ketika mendengar Iris mengucapkan namanya.
"Aku tidak keberatan, lagipula kita berdua mempunyai waktu yang cukup banyak untuk mengenal satu sama lain, jika kita sudah dewasa dan tidak merasa cocok satu sama lain, maka kita batalkan saja perjodohan ini." ucap Nagato dengan tenang dan jelas.
"Lagipula aku tidak pantas untuk memikirkan hal seperti percintaaan, karena aku ... " batin Nagato teringat perkataan Shinigami, entah mengapa hatinya akhir - akhir ini menjadi lunak dan tidak terlalu memikirkan kebenciannya terhadap Kazan.
Iris tersipu malu mendengar perkataan Nagato, gadis kecil yang jarang tersenyum ataupun tertawa kini setelah bertemu dengan Nagato, gadis kecil itu menjadi sedikit berubah.
"Iris, apa kamu tidak keberatan dengan perjodohan ini?" tanya Nagato kepada Iris.
"Tidak." jawab Iris singkat sambil mencoba tersenyum pada Nagato.
Shirayuki dan Kuina saling memandang satu sama lain dan tersenyum.
"Mulai hari ini kalian berdua telah resmi bertunangan, kita berempat yang berada di ruangan ini akan menjadi saksinya." ucap Shirayuki kepada Iris dan Nagato.
Nagato mengulurkan jari kelingkingnya pada Iris.
"Jarimu." batin Nagato sambil menggoyangkan jari kelingkingnya karena Iris terlihat kebingungan.
"Kamu seperti anak kecil saja." Iris mengulurkan jari kelingkingnya pada Nagato.
Setelah itu mereka berdua saling mengaitkan jari kelingkingnya satu sama lain.
Shirayuki dan Kuina tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
Nagato maupun Iris tidak sadar bahwa ini adalah sebuah awal yang akan merubah segalanya di masa depan, dimana Nagato mendapatkan kembali bagian dirinya yang dipenuhi kebencian bahkan Nagato menjadi seorang yang berdarah dingin sedangkan Iris menjadi sosok wanita yang angkuh dan dingin.
***
Setelah perjodohan antara Nagato dengan Iris, Kakek Hyogoro berniat untuk kembali ke Hutan tempat persembunyiannya.
"Dimana Nagato?" Kakek Hyogoro sedang berjalan menyusuri seluruh ruangan penginapan untuk menemukan Nagato.
"Kakek, Nagato kan sedang terluka parah, dia sedang bersama Kuina di kamarnya." sahut Azai yang sedang minum kopi.
"Oh iya, aku lupa hahaha." Kakek Hyogoro tertawa kecil.
"Azai, kita lanjutkan perjalanan hari ini, aku ingin bergegas pergi karena ada hal yang harus dihindari dan aku tidak ingin terlibat didalamnya." Kakek Hyogoro menambahkan.
"Kakek, apa maksudmu?" Azai penasaran dengan Kakek Hyogoro yang terlihat gelisah itu.
"Ada seorang Jendral yang berkunjung ke kota ini, akan merepotkan jika kita terlibat dengan mereka!" Kakek Hyogoro memijat keningnya dengan jari tengah dan telunjuknya.
__ADS_1
"Kakek, tunggu disini dan siapkan persiapan bersama Tuan Shugo, aku akan memanggil yang lainnya dulu." Azai beranjak melangkah kakinya untuk mengajak Nagato dan yang lainnya bergegas.
Kuina dan Shirayuki keluar dari ruangan kamar Nagato dan meninggalkan mereka berdua.
Nagato melihat Iris yang kembali cuek padanya namun gadis kecil itu juga terlihat khawatir pada dirinya.
"Apa aku laki - laki pertama yang kamu kenal?" Nagato terlihat serius dan menatap Iris yang duduk disamping ranjangnya.
"Tidak, aku sudah pernah melihat laki - laki yang lain sebelum kamu." jawab Iris singkat.
Nagato sekarang hanya diam dan tidak berkata apa - apa lagi pada Iris, gadis kecil itu merasa kesal karena Nagato merasa tidak peduli dengan jawabannya.
"K-Kamu adalah lelaki yang pertama aku kenal." Iris terlihat manis ketika dirinya malu - malu dan lugu untuk mengucapkan sesuatu.
"Baguslah, dan kamu adalah seorang perempuan keempat yang aku kenal setelah Litha, Chiaki dan Chaika." Nagato tersenyum sinis pada Iris.
"Naga! Sekarang aku merasa sangat kesal!" Iris berdiri dan mencubit pipi Nagato dengan keras.
Iris mencubit pipi Nagato dengan cukup keras hingga terlihat bekas cubitan kukunya, namun setelah menyentuh pipi Nagato, Iris justru meremas pipi Nagato lebih lama.
"Apaan sih?" Nagato memegang tangan Iris dan menariknya, hingga membuat gadis kecil itu terdorong kedepan diatas badannya.
Pintu kamar Nagato terbuka, Litha dan yang lainnya terkejut melihat Nagato dan Iris.
"Aku tidak melihat apa - apa!" Chiaki menutup matanya.
"Ka-Kakak aku tidak me-melihat juga." Chaika bersembunyi dibalik punggung kakaknya.
Litha menatap tajam mereka berdua, gadis kecil itu cemburu melihat Nagato yang terlihat dekat dengan Iris.
"Iris, kamu mendapatkan pelajaran yang berharga dari misi ini." Tika tertawa kecil sambil mengeledek Iris.
"Aku tidak menyangka perempuan sedingin Iris akan luluh dengan Nagato." gumam Hika pelan sambil melihat Nagato dan Iris.
Nagato terkejut dan tidak menyadari kedatangan Litha dan yang lainnya.
"Bu-Bukan, ini tidak seperti yang kalian pikirkan." Iris mendorong tubuh Nagato sambil berusaha berdiri.
"Pelan." gumam Nagato karena Iris terlihat tidak peduli dengan lukanya.
Iris menatap dingin Nagato hingga suhu udara disekitar Iris menjadi dingin.
"Segar." gumam Nagato menikmati sensasi dingin disekelilingnya.
Iris mengerutkan dahinya mendengar perkataan Nagato yang bersikap santai dan terlihat sengaja mengeledeknya.
Tak lama Azai datang bersama Serlin untuk mengajak Nagato dan Litha bergegas.
"Nagato, sepertinya kita harus melanjutkan perjalanan." Azai menghampiri Nagato.
"Baiklah tapi buatkan aku tongkat Azai untuk pijakan kakiku ini." Nagato memegang kaki kirinya yang patah.
"Aku akan buatkan untukmu." Azai menggaruk kepalanya.
"Azai kita berangkat besok pagi, hari ini sudah terlalu sore untuk melanjutkan perjalanan." Kakek Hyogoro terlihat tergesa - gesa karena dirinya sedang mengatur nafasnya.
"Heh? Bukankah kakek yang memintaku untuk memberitahu Nagato dan yang lainnya." Azai menghela nafas panjang.
"Maaf ... maaf ... aku terlalu terburu - buru, tapi besok kita harus bergegas melanjutkan perjalanan." Kakek Hyogoro tersenyum pada Azai.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membuatkan tongkat untuk Nagato." Azai beranjak pergi meninggalkan kamar Nagato.
__ADS_1
Perjalanan menuju Kota Mikawa tempat kediaman bangsawan Kita dan Klan Kitakaze akan dimulai dichapter berikutnya.