Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 155 - Memanas! Ejekan Dan Sindiran!


__ADS_3

Aula makan Penginapan Bunga Badai adalah tempat yang luas dan besar, kursi dan meja makan memiliki ukiran yang unik. Makanan lezat dan bergizi juga telah disajikan, malam ini terlihat begitu ramai orang yang sedang makan di aula makan Penginapan Bunga Badai.


Meja paling pojok kiri telah diisi tiga pendekar muda dari Klan Akatsuki. Meja paling pojok kanan telah diisi dua pendekar muda dari Klan Kurozawa. Tidak berapa lama empat orang yang paling berpengaruh di kedua klan tersebut duduk bersama pendekar muda yang menjadi wakil dari klan keduanya.


Sementara itu meja yang dekat dengan pintu masuk telah diisi dua pendekar muda jenius dari Klan Kuromachi. Pemuda berumur enam belas tahun yang bernama Kuromachi Kurose sedang memakan daging bersama Kuromachi Kujo. Dua pendekar muda yang termasuk dalam sepuluh pendekar muda jenius itu sedang memakan makanan yang disajikan di aula makan Penginapan dengan santai, tidak berapa lama pemimpin dari Klan Kuromachi yang bernama Kuromachi Nezusaki duduk bersama Kurose dan Kujo.


Sementara itu salah satu pendekar muda jenius yang bernama Mangetsu Tatara duduk bersama Mangetsu Mizurawa dan Mangetsu Katsuri. Sosok pemimpin dan wakil pemimpin dari Klan Mangetsu menemani Tatara untuk mengikuti Turnamen Harimau Kai kembali.


Di sebelah meja makan pendekar dari Klan Mangetsu terlihat salah satu pendekar muda jenius yang bernama Agata Izawa sedang makan bersama adiknya yang berumur dua belas tahun. Izawa datang bersama adiknya yang bernama Agata Kizawa dan pemimpin dari Klan Agata yang bernama Agata Kata.


Aula makan yang dipenuhi pendekar muda berbakat membuat ruangan menjadi sedikit panas, tatapan tajam yang saling merendahkan terlihat dengan jelas. Semua yang berada di aula makan termasuk dalam sepuluh klan terbesar di Kekaisaran Kai. Tiga klan kubu timur yang berada di aula makan diantaranya adalah Klan Agata, Klan Akatsuki dan Klan Mangetsu. Sementara itu kubu barat diwakili Klan Kuromachi dan Klan Kurozawa.


Kubu timur adalah klan pendekar yang mendukung Pandu untuk menjadi kaisar, sementara kubu barat menolak Pandu menjadi kaisar dan mendukung Hizen. Konflik pecah ketika pendekar dari kubu barat terbunuh tanpa alasan yang pasti, klan tersebut tak lain adalah Klan Kuromachi. Perang antar klan pecah selama dua tahunan, tetapi setelah kabar Pandu menghabisi seluruh Klan Kagutsuchi peperangan berhenti. Perjanjian damai dibuat, hanya saja kata damai yang tertulis di atas kertas hanyalah sebuah tulisan tanpa makna. Kenyataannya, kubu barat dan kubu timur masih ada sampai sekarang.


"Makmur dan damai? Kekaisaran Kai sudah tidak mempunyai generasi berbakat semenjak Pandu dituduh sebagai pengkhianat oleh orang tak dikenal!" Sosok pria paruh baya yang sedang meminum arak bersuara, membuat suasana di aula makan menjadi tegang. Pria paruh baya tersebut bernama Akatsuki Taka dan dia menjabat menjadi pemimpin dari Klan Akatsuki.


"Ketua, jangan minum terlalu banyak." Wakil pemimpin dari Klan Akatasuki yang bernama Akatsuki Hinozaya menegur Takamasa yang terlalu banyak meminum arak.


"Seorang pembunuh masih saja dibela!" Nezusaki angkat bicara dan menatap tajam Takamasa. "Adik Kaisar Hizen telah membunuh kakak dari Shin! Tidak akan pernah kumaafkan pembunuh dari klan terkutuk seperti itu!"


Kurose dan Kujo menghela napas panjang setelah Nezusaki membalas perkataan Takamasa. Kedua pendekar muda tersebut juga bertanya-tanya tentang keberadaan Shin yang tidak ikut bersama mereka pergi mengantar kedua pendekar muda jenius tersebut.


Rumor perpecahan di antara pendekar dari Klan Kuromachi juga telah terdengar di telinga Kurose. Sebagai pendekar muda tentu saja dia ingin ikut campur, tetapi ambisinya untuk membuat Klan Kuromachi menjadi klan terkuat di Kekaisaran Kai membuat Kurose penasaran dengan masalah internal Klan Kuromachi.


"Sudahlah, jangan membahas orang yang telah tiada. Lebih baik kita nikmati saja pertandingan antar generasi muda." Pemimpin dari Klan Agata yang bernama Kata mengelus jenggotnya dan memejamkan matanya mencoba merasakan detak jantung semua orang yang ada di aula makan. "Sejarah berdarah cukup di generasi kita saja, dan generasi yang sekarang tidak ada sangkut pautnya."


"Ya, generasi sekarang banyak pendekar muda berbakat dari kubu barat. Aku sangat menantikan pertandingan yang akan dihelat nanti?" Nezusaki tersenyum sinis menatap Takamasa dan Kata. Tatapannya terlihat begitu merendahkan.


Kata menghela napas panjang dan mencoba untuk tetap bersabar, matanya terbuka secara perlahan karena merasa ada beberapa orang yang mendekat ke tempat aula makan.


Ketika semua orang yang berada di aula makan saling menatap tajam satu sama lain, hawa dingin dan sejuk begitu terasa dari arah pintu masuk aula makan. Ketika pintu masuk terbuka, sosok perempuan berparas cantik membuat semua orang yang berada di ruangan tertegun.


"Naga, lepaskan topengmu. Kamu terlihat seperti orang yang mencurigakan." Iris yang berjalan di samping Nagato memegang topeng rubah putih yang dikenakan Nagato.


"Iris, aku akan melepasnya nanti." Nagato memegang tangan Iris dan menahannya.


"Kamu memakai topeng juga terlihat tampan kok," ucap Litha menatap Nagato.

__ADS_1


"Percuma saja wajahmu disembunyikan Nagato." Tika yang berjalan di depan berbalik menatap Nagato.


Kedatangan pendekar dari Klan Fuyumi membuat orang yang berada di ruangan terdiam, kebanyakan pendekar muda yang berada di aula makan merasa iri pada Nagato yang dikelilingi keempat gadis cantik dan manis.


Meja makan yang berada di tengah ruangan aula makan menjadi tempat pendekar dari Klan Fuyumi menyantap hidangan makan malam. Nagato duduk di samping Shirayuki dan Iris.


"Buruk rupa yang tidak tahu malu!" Ejekan dari Kurose terdengar di telinga Iris, Litha, Hika dan Tika. Bahkan Nagato dan Shirayuki juga mendengarnya, tetua dari klan lain hanya diam dan membiarkan pendekar muda saling memanasi Nagato.


"Kurose, sepertinya kita bisa hancurkan mental anak sombong itu, nanti," sahut Kujo sambil menyantap daging sapi.


Nagato yang tidak peka tidak merasa tersinggung dirinya, tetapi setelah mendengar perkataan Nezusaki dan Kurose yang menghina nama marganya, membuat amarah yang tertahan pada Nagato terlepas.


"Kurose, ukiran itu mirip ukiran klan terkutuk. Apa dia anak dari pembunuh itu?!" Nezusaki tertawa keras mengejek Nagato. "Laki-laki dikerumunan perempuan, tidak lebih dari seorang pengecut. Kau jangan menjadi pemuda seperti itu."


Semua tetua yang ada di aula makan tidak menyangka Nezusaki akan bersikap seperti anak remaja yang baru tumbuh dewasa. Umur Nezusaki yang telah menginjak usia lima puluh tahun seharusnya malu dengan sikapnya.


"Baik, ketua. Aku tidak akan menjadi pecundang seperti anak itu." Kurose tersenyum menghina menatap Nagato.


"Sial, ini sambutan pertama terburuk dalam hidupku." Nagato berdecak kesal dan mencoba untuk tetap bersabar. "Nafsu makanku hilang karena berada di kerumunan binatang yang dekat dengan pintu."


Emi, Shirayuki, Ichiba dan Oichi hanya tertawa mendengar perkataan Nagato.


"Ketua, daging sapinya jatuh..." Kujo bergumam pelan tak rela melihat daging sapi yang sedang dia nikmati jatuh ke lantai.


"Bocah, katamu? Bukankah kau sendiri yang bersikap seperti bocah?" Nagato membalas perkataan Nezusaki dengan sinis.


"Kurose, hajar dia!" Perintah dari Nezusaki membuat Kurose berjalan mendekati Nagato.


"Buruk rupa, jaga sopan santunmu ketika berbicara dengan orang dari Klan Kuromachi!" Kurose melirik Litha yang menarik perhatiannya, senyuman manis Litha membuat dirinya tertarik dengan gadis itu. Hanya saja melihat Nagato yang memakai topeng dikelilingi gadis cantik membuat Kurose iri hati pada Nagato.


"Kuromachi?" Nagato reflek mencoba berdiri dan menatap tajam Kurose. "Jangan buat suasana hatiku menjadi buruk!" tegas Nagato mengingatkan sambil mencoba berdiri tetapi sentuhan tangan Iris menahan Nagato untuk berdiri.


"Iris?" Nagato menatap tajam Iris dari balik topeng rubah putih yang dia kenakan.


"Dinginkan kepalamu Naga. Buktikan dengan kekuatanmu di pertandingan." Iris tersenyum tipis sambil menenangkan Nagato.


Melihat gadis secantik Iris menyentuh tangan Nagato membuat Kurose melepaskan aura berwarna hitam pekat ke arah Nagato.

__ADS_1


"Tunduk dan sadari posisi kalian!" Shirayuki membekukan seluruh tubuh Kurose bahkan kepala pemuda itu membeku kecuali mata, hidung dan mulut.


"Pelayan!" Shirayuki berteriak memanggil pelayan. "Bawa makanan yang telah kami pesan ke kamar kami. Jujur, aku sangat menyayangkan penginapan ini yang membiarkan manusia tak beradab masuk satu atap bersama kami."


"Maaf ... Putri Salju ... eh ... maksudku Putri Shirayuki." Pelayan perempuan gugup dan membungkuk dihadapan Shirayuki.


Emi berdiri dan mengajak yang lainnya untuk kembali ke kamar. "Ayo kembali, jangan dengarkan kata mereka dan teruslah berjalan."


Semua orang yang berada di aula makan tertawa melihat wajah pendekar dari Klan Kuromachi terlihat buruk wajahnya, hanya Klan Kurozawa yang diam dan tidak menyukai kedatangan Klan Fuyumi.


Nagato yang didampingi Iris dan Litha tersenyum sinis menatap Kurose yang melotot menatap dirinya penuh kemarahan.


"Kalian berdua jangan terlalu dekat denganku." Nagato menegur Iris dan Litha yang berusaha menenangkan dirinya. "Bara Api."


Nagato melepaskan auranya yang berwarna emas dan memanipulasinya menjadi api berwarna jingga. Semua orang selain pendekar dari Klan Fuyumi terkejut melihat Nagato. Aura api yang membentuk harimau membakar es yang membekukan tubuh Kurose.


Nagato dengan sinis berjalan melewati Kurose yang terduduk di lantai penginapan.


"Naga, harusnya kau bakar saja mulutnya yang telah menghinamu." Iris tersenyum sambil menatap Nagato yang berjalan di sampingnya.


Mendengar perkataan Iris padanya, reflek tangan Nagato memencet hidung Iris dengan pelan.


"Seorang perempuan tidak boleh berkata seperti itu," ucap Nagato sambil menatap Iris keheranan.


"Aku tidak suka jika ada orang yang menghinamu." Iris menepis tangan Nagato.


"Lalu, kenapa kau menghentikanku?" Nagato menatap Iris dalam dan penasaran dengan apa yang akan dikatakan gadis tersebut.


"Bukankah aku sudah bilang padamu, aku akan mendinginkanmu saat kau panas penuh amarah, Nagato," jawab Iris sambil tersenyum manis pada Nagato.


"Aku senang mendengarnya." Nagato melirik Kurose yang menatap dirinya penuh kebencian. Nagato mengusap rambut Iris dan Litha yang berjalan disampingnya, dirinya ingin mengucapkan terimakasih dengan tindakannya pada dua gadis yang selalu ada buat Nagato.


"Nagato, aku paling tidak suka saat kau memperlakukanku seperti anak kecil," ucap Litha ketika tangan Nagato mengusap rambut hitamnya.


"Maaf ... maaf..." Nagato tersenyum lembut pada Litha.


Sedangkan Iris membiarkan rambutnya dielus Nagato. Jujur saja Iris sangat menyukai Nagato yang begitu perhatian padanya.

__ADS_1


Kurose mengepalkan tangannya dengan erat, kebenciannya pada Nagato tidak tertahankan.


"Kuhabisi kau, bocah tengik!"


__ADS_2