
Semenjak pertemuan dengan Bisma yang tidak terduga membuat Nagato ingin bertanya sesuatu pada pria paruh baya tersebut.
Bisma melihat Nagato dan Asha yang akan bertarung. Sesuatu yang membuat Bisma terkejut adalah bagaimana Nagato berkonsentrasi, di matanya terlihat jika Nagato memiliki potensi untuk membuka tiga kekuatan mutlak.
"Apa yang menjadi penyebab anak ini tumbuh sepesat ini tetapi aku melihat ada penyakit di tubuh anak yang bernama Nagato itu..." batin Bisma menatap Nagato tajam.
Bisma tertarik untuk menjadikan Nagato sebagai cucunya. Organisasi yang dibuat oleh Bisma bernama Organisasi Brahmastra. Bisma memiliki anggota yang sangat banyak jumlahnya bahkan jumlah anggotanya lebih dari anggota Organisasi Disaster.
Bisma merekrut anak yatim piatu di bawah umur untuk menjadi cucunya, Bisma tidak menganggap anggotanya sebagai anak buah melainkan seorang cucu kesayangannya. Bisma telah kehilangan satu - satunya cucu kesayangannya karena dibunuh oleh militer Kekaisaran Bahamut. Orang yang lahir di negeri jajahan tidak memiliki masa depan selain bertahan hidup dengan membuat kelompok untuk menghadapi dunia yang keras dan kejam ini.
Jumlah anggota Organisasi Brahmastra berjumlah seratus ribu orang dan masing - masing di pimpin tujuh kapten, baru - baru ini Bisma merekrut manusia harimau menjadi kapten ke delapan sedangkan Bisma yang menjadi pemimpinnya. Bisma mengumpulkan seluruh anak muda yatim piatu di seluruh belahan dunia dan menjadikan mereka semua menjadi cucunya. Impian terbesar Bisma adalah membuat sebuah negeri tanpa diskriminasi.
Bisma mengamati Nagato dan Asha yang sedang bertarung dari tempat duduk yang dia buat dengan batu. Asha selalu menantang Nagato bertarung dan dia tidak pernah menang sekalipun dari Nagato.
"Kakek Bisma... apakah singa terbang ini banyak di dunia luar?" tanya Litha pada Bisma sambil menatap singa terbang yang terluka.
"Tidak banyak... hewan seperti ini hanya ditemukan di Pulau Kura - Kura Raksasa." jawab Bisma sambil menjelaskan pada Litha tentang dunia luar.
Bisma berterus terang jika dunia luar adalah tempat yang luas dan indah tetapi tidak semuanya seperti yang Litha bayangkan, karena banyak negeri yang dijajah dan peperangan selalu ada di mana - mana.
"Kakek ijinkan aku ikut bersamamu. Aku ingin pergi berpetualang bersama Kakek Bisma." ucap Litha dengan penuh harap.
Nagato memukul Asha dengan telak tepat di perutnya setelah mendengar perkataan Litha.
"Litha, kita harus menunggu Kakek Hyogoro..." ucap Nagato dengan napas yang terengah - rengah.
"Jangan bertindak seenaknya." tambah Nagato.
Litha tersenyum melihat Nagato kemudian dia berjalan mendekati singa terbang yang terluka.
"Nagato, aku sudah putuskan. Aku akan pergi dari Benua Ezzo tepat ketika umurku 17 tahun." ucap Litha sambil melirik Nagato.
Nagato tersenyum tipis mendengar ucapan Litha kemudian dia menatap tajam Bisma.
"Kakek tua, aku menantangmu bertarung. Kau adalah penjahat sama seperti dia! Aku ingin melawanmu untuk mengukur sejauh mana kemampuanku!" Nagato mendekati Bisma sambil menatap Bisma dengan tatapan tajam.
Bisma tertawa mendengar perkataan Nagato dan dia bisa melihat jika Nagato memiliki dendam yang luar biasa pada seseorang.
__ADS_1
"Namamu Nagato, bukan?" tanya Bisma pada Nagato.
Nagato mengangguk pelan sambil memegang pedangnya yang tersarung rapi di pinggangnya. Melihat hal itu, Litha dan Asha menelan ludah karena Nagato mengeluarkan aura intimidasi yang sangat mencekam.
"Jadilah cucuku dan akan ku ajak kau berpetualang keliling dunia sebagai penjahat di bawah nama organisasiku." ucap Bisma mengulurkan tangannya pada Nagato.
Mata Nagato melebar karena Bisma sangat mirip dengan Kakek Hyogoro di matanya.
Nagato tidak menjawab pertanyaan Bisma dan memanipulasi auranya menjadi dinding api walau terlihat jika auranya belum sempurna. Bisma tersenyum melihat teknik Nagato sambil memejamkan matanya dia mencoba merasakan hawa kehidupan Nagato.
Litha dan Asha terkejut karena Nagato sudah semakin mahir memanipulasi aura tubuhnya walau belum sempurna. Nagato mengayunkan pedangnya dengan cepat menebas badan Bisma.
Nagato berdecak kesal melihat Bisma yang memejamkan matanya sambil menghindari setiap tebasan pedangnya.
"Putaran Jarum Api."
Nagato memutarkan tubuhnya dan menciptakan jarum api padat yang terbang ke arah Bisma. Serangan demi serangan yang dilancarkan Nagato tidak ada yang mengenai Bisma.
Nagato tersenyum tipis melihat Bisma yang memiliki kekuatan jauh di atasnya. Nagato menggunakan seluruh jurusnya dan tidak ada yang mengenai tubuh Bisma.
"Nagato, kau terlalu berharga untuk hidup di Benua Ezzo. Ikutlah bersamaku dan lihatlah dunia luar." ajak Bisma sambil tersenyum lebar mengulurkan tangannya pada Nagato.
Litha dan Asha bergidik melihat Nagato. Perkataan Nagato membuat Asha terdiam dia bisa melihat jika Nagato memiliki dendam dan sebuah masa lalu yang tidak diketahui olehnya.
"Kazan?" batin Bisma mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan Nagato.
"Jangan termakan dendam Nagato, sudah kubilang kau terlalu dini untuk mati." ucap Bisma menatap tajam Nagato.
Tatapan tajam Bisma membuat api yang membara di sekeliling Nagato padam dalam sekejap.
Nagato terdiam dan berkeringat dingin melihat tatapan Bisma. Dari pertarungan ini Nagato menyadari jika dirinya bukanlah apa - apa bagi Kazan.
Nagato menghela napas panjang sebelum menyarungkan pedangnya. Bisma membuat busur dengan auranya dan menembakan anak panah yang diisi tenaga dalam ke arah Nagato.
Nagato meringis kesakitan setelah terkena anak panah Bisma. Busur dan anak panah yang diciptakan Bisma tidak memiliki wujud tetapi sangat menyakitkan jika terkena tubuh manusia.
"Sial!" umpat Nagato dalam hati ketika tubuhnya terbaring di tanah.
__ADS_1
Bisma menghampiri Nagato dan tertawa pelan melihat Nagato yang terus menatapnya walaupun sudah tidak mempunyai tenaga.
"Aku akan ajari sedikit trik untuk melawan pengguna air suci..." ucap Bisma memegang tangan Nagato dan melemparnya ke arah pohon.
Nagato langsung bersandar di pohon sambil meringis kesakitan karena sudah tidak mempunyai tenaga lagi.
"Apa sejauh ini perbedaannya..." gumam Nagato sedih.
Asha tertawa melihat mata Nagato yang berkaca - kaca sedangkan Litha hanya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.
Bisma semakin tertarik pada Nagato karena dia bisa melihat sorot mata Nagato yang begitu membenci kekalahan.
"Jika kalian sudah berumur 17 tahun datanglah ke sebuah negeri yang berada di Pulau Aksara..." ucap Bisma memberikan benang merah pada Nagato, Litha dan Asha.
"Ini apa Kakek?" tanya Litha dan Asha secara bersamaan.
Nagato memegang benang merah sambil menahan perutnya yang terasa sakit karena terkena serangan Bisma.
"Ini adalah sebuah benang yang akan membuat kita berempat bertemu lagi. Kalian hanya perlu mengalirkan tenaga dalam pada benang ini, maka benang merah akan menuntun kalian ke tempatku berada..." jelas Bisma pada Nagato, Litha dan Asha.
Bisma menjadi ingin menetap di Benua Ezzo lebih lama sebelum kembali ke Pulau Aksara. Satu hal yang ingin Bisma lakukan adalah melatih Nagato yang memiliki potensi untuk menjadi seorang raja.
"Kakek Bisma, ajari aku jurus tadi. Kakek bisa mengalahkan Kak Nagato hanya dengan menatap saja." ucap Asha kegirangan sambil menatap Bisma.
Nagato berdecak kesal mendengar ucapan Asha kemudian dia mengambil batu dan melemparnya ke arah Asha.
"Tidak kena..." ejek Asha sambil berlindung di belakang Bisma.
Nagato hendak berdiri tetapi tubuhnya jatuh ke tanah, melihat hal itu Bisma, Litha dan Asha tertawa.
"Aku akan menetap beberapa hari sebelum pergi, mulai besok kalian bisa berlatih di bawah bimbinganku." ucap Bisma sambil duduk di atas batu.
Bisma menjelaskan pada Nagato, Litha dan Asha tentang kegunaan benang merah.
Benang merah adalah sebuah benang khusus yang berwarna putih tetapi setelah diberi darah oleh pemiliknya maka benang akan berubah menjadi berwarna merah. Benang merah berguna untuk mengetahui kondisi pemilik benang merah tersebut dan keadaannya maupun keberadaannya. Pemilik harus mengikat benang merah pada jari telunjuknya agar orang yang diberikan potongan benang merah bisa mengetahui keadaannya maupun keberadaannya.
Perlahan hari menjelang sore, Nagato dan Litha berniat bermalam bersama Bisma. Detik demi detik terus berputar dan terasa cepat berlalu. Asha bersyukur karena bertemu dengan Bisma, Nagato dan Litha bahkan dia diizinkan untuk tinggal di rumah Dorobo.
__ADS_1
Sebelum hari semakin gelap Bisma mengajak Asha untuk berburu sedangkan dia membiarkan Litha mengobati luka Nagato.