
**Assalamualaikum dan selamat malam. Cie yang malmingan wkwkwk.
Hai, Author kembali.
Beberapa dari kalian pasti bertanya kenapa kemarin tidak up, tapi hari ini Author Crazy Up. Sebelum membaca bantu kasih rate untuk Kagutsuchi Nagato dong biar dia tetap semangat menjalani kehidupan. Selamat membaca dan nikmatilah!
___
IG : pena_bulu_merah**
___
Pertarungan selanjutnya telah dimulai. Mujin memanggil dua nama selanjutnya setelah pertandingan sebelumnya telah selesai.
Pada hari ini ada yang bertanding sekali dan ada yang bertanding dua kali, walau kebanyakan telah bertanding sebanyak dua kali tetapi masih ada peserta yang menunggu giliran pertandingan kedua dan ketiganya.
Di lapangan Arena Lingkaran Harimau telah tersaji pertandingan menarik antara Akira dari Perguruan Api Abadi melawan Zenbu dari Ikatan Darah Tunggal.
Akira terlihat lebih agresif dalam menyerang dibandingkan dengan Zenbu. Tepat setelah Mujin memberi aba-aba, Akira terus menyerang Zenbu dengan tapak tangannya.
Sesekali dia memukul dan menendang dengan cepat, api yang melapisi tangan dan kakinya membuat Zenbu cukup kerepotan.
Zenbu sangat pasif dalam menyerang, yang dia lakukan hanyalah bertahan. Wajar bagi pemuda yang baru mengikuti pertandingan Turnamen Harimau Kai terlihat sangat pasif seperti Zenbu.
Kebanyakan dari mereka belum melihat kekejaman dan kebengisan seorang manusia, mereka hanya berpikir jika menjadi seorang pendekar maka hidupnya menjadi lebih baik. Namun itu hanya anggapan sebagian orang belaka. Orang-orang yang memiliki wewenang memang akan hidup lebih baik tetapi orang yang tidak memiliki wewenang dan kekuasaan maka hidupnya akan sama saja seperti sebelumnya atau biasa-biasa saja.
Gerakan tangan Zenbu cukup gemulai, tetapi Akira dapat menangkis pukulannya dengan mudah. Sekarang Akira kembali memukul Zenbu secara bertubi-tubi.
Tidak berapa lama tapak tangan Akira bercahaya berwarna merah, setelah itu dia arahkan tapak tangannya ke dada Zenbu. Api dari tapak tangannya membuat Zenbu meringis kesakitan.
Celah Zenbu sangat terbuka, kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Akira untuk melepaskan pukulan tangannya yang dilapisi api ke arah Zenbu. Dalam sekejap Zenbu terkapar di tanah setelah terkena pukulan tangan Akira.
Pemenang pertandingan kali ini dimenangkan oleh Akira dari Perguruan Api Abadi. Ingin memaksimalkan waktu sebisa mungkin, Mujin langsung beralih ke pertandingan selanjutnya.
Akira sendiri baru dua kali bertanding, hari ini dia masih ada satu pertandingan untuk masuk ke babak 32 besar. Tentu itu akan menjadi babak penentuan bagi Akira.
Pertandingan selanjutnya antara Gurojimaru dari Perguruan Api Abadi melawan Muromachi Kuroaru dari Klan Muromachi.
Penonton kembali bergumuruh dan memberi semangat kepada dua peserta yang akan bertanding. Suara tepuk tangan dan teriakan dari penonton menggema di Arena Lingkaran Harimau.
Mujin yang memimpin babak penyisihan dan menjadi wasit langsung menyuruh Gurojimaru dan Kuroaru mengambil jarak. Setelah keduanya berada di jarak yang telah ditentukan. Mujin segera memberi aba-aba untuk memulai pertandingan.
"Pertandingan antara Gurojimaru dari Perguruan Api Abadi melawan Muromachi Kuroaru dari Klan Muromachi dimulai!" Mujin langsung mundur beberapa langkah ke belakang setelah kedua peserta saling mengeluarkan aura intimidasi satu sama lain. Benturan aura berwarna merah dengan aura berwarna ungu terlihat di udara.
Gurojimaru menggunakan tombak sebagai senjatanya, dia mengambil inisiatif untuk menyerang Kuroaru terlebih dahulu. Gurojimaru memutarkan tombaknya untuk memberikan serangan putaran api pada Kuroaru.
__ADS_1
Lintasan api berbentuk lingkaran yang mengarah pada Kuroaru cukup luas, terlihat Kuroaru mengambil jarak dari Gurojimaru yang menyerangnya.
Melihat lintasan api yang berbentuk lingkaran mengarah ke arah dirinya, Kuroaru menarik pedangnya dan menebaskan pedangnya dari jauh menciptakan sebuah tebasan pedang berbentuk hembusan angin berwarna ungu yang membuat api yang berkobar dari tombak lawannya malah menjadi bumerang bagi lawannya tersebut.
Gurojimaru telah mengikuti Turnamen Harimau Kai sebanyak tiga kali, dan sekarang adalah keempat kalinya Gurojimaru mengikuti Turnamen Harimau Kai di umurnya yang kelima belas tahun.
"Tidak buruk juga, tetapi kau telah berhasil membuatku merasa sangat kesal!" Gurojimaru kembali memutarkan tombaknya di depan. Api dari teknik tombaknya melesat cepat ke arah dirinya, kemudian api-api tersebut terlihat memutari tombak Gurojimaru.
"Rasakan ini!" Gurojimaru berlari ke arah Kuroaru sambil mengayunkan tombaknya yang dilapisi api.
Tombak dan pedang saling berbenturan, keduanya kembali bertukar serangan selama beberapa menit. Permainan pedang Kuroaru cukup mahir, dia bisa memberi luka-luka sayatan pada sekujur tubuh Gurojimaru.
Jubah merah yang dikenakan Gurojimaru menjadi robek karena terkena tusukan-tusukan pedang yang dilancarkan Kuroaru.
"Tombak Amukan Api Abadi!"
Gurojimaru menyalurkan tenaga dalamnya pada tombaknya kemudian dia mengayunkan tombaknya pada Kuroaru. Ayunan tombak Gurojimaru begitu cepat dan bertenaga, bahkan tangkisan pedang Kuroaru tidak menjadi penghalangnya.
"Maaf. Tahun ini aku ingin merasakan babak 32 besar!" Gurojimaru tersenyum sinis kepada Kuroaru sebelum dia berkata, "Coba lagi tahun depan, junior!" Pedang Kuroaru terlempar karena tidak mampu menahan serangan tombak Gurojimaru.
Kuroaru sudah terlihat jelas kalah, tetapi Gurojimaru tidak memberi kesempatan pada lawannya untuk mengangkat tangan atau menyerah begitu saja. Karena tombaknya masih berayun, dengan sengaja Gurojimaru mengarahkannya ke dada Kuroaru.
Beberapa pendekar dari kubu timur menatap tajam Gurojimaru. Sedangkan pendekar dari Klan Muromachi tidak terlalu peduli melihat salah satu anggotanya terluka parah, mengingat jumlah pendekar muda mereka jumlahnya cukup banyak.
Kuroaru meringis kesakitan sambil mencoba untuk tetap terlihat kuat. Tidak berapa lama Mujin mengangkat tangannya dan mengumumkan Gurojimaru sebagai pemenangnya.
"Pemenangnya Gurojimaru dari Perguruan Api Abadi!" Mujin menunjuk Gurojimaru sebagai pemenangnya. Kemudian dia memberi isyarat pada tim medis agar segera memberi perawatan pada Kuroaru.
Luka Kuroaru tidak terlalu dalam tetapi tindakan Gurojimaru hampir membuat luka fatal pada lawannya. Mengingat aturan di babak penyisihan tidak boleh membunuh atau memberi luka fatal pada lawannya, tentu tindakan Gurojimaru menarik perhatian peserta yang menunggu giliran bertanding di babak penyisihan. Kebanyakan dari mereka berharap tidak bertemu Gurojimaru mengingat pemuda berwajah garang itu masih menyisakan satu pertandingan untuk menuju babak 32 besar.
Mujin menatap Gurojimaru yang sedang berjalan kembali ke bangku penonton tempat pendekar Perguruan Api Abadi menonton. Kemudian dia merasa kesantainnya dalam memimpin pertandingan hampir membuat seorang peserta kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang pendekar seumur hidupnya.
"Aku harus lebih cekatan. Ini masih babak penyisihan. Jika babak 32 besar maka peraturan berubah. Membunuh atau melukai fatal musuhmu diperbolehkan." Mujin membatin sambil menatap langit. Dia tidak peduli dengan banyaknya orang yang terus memperhatikannya melamun sendirian di tengah lapangan.
Pertarungan selanjutnya kembali dimulai. Mujin langsung beralih ke pertandingan selanjutnya, dia memanggil dua nama berikutnya.
"Roka dari Kuil Matahari Baru dan Shitanda dari Air Terjun Kebenaran silahkan segera ke tengah lapangan!" Dengan suaranya yang santai tetapi terdengar nyaring, Mujin menatap kedua peserta yang sedang berjalan ke arahnya.
Gadis muda berambut hitam bernama Roka menggunakan senjata jarum-jarum kecil. Sedangkan gadis muda yang memilki rambut ikal bernama Shitanda menggunakan pedang sebagai senjatanya.
Mujin langsung mengambil alih pertandingan, dia memberi isyarat pada kedua peserta agar mundur ke belakang dan berdiri di jarak yang telah ditentukan.
"Pertandingan antara Roka dari Kuil Matahari Baru melawan Shitanda dari Air Terjun Kebenaran dimulai!" Penonton memberi tepuk tangan pada kedua peserta ketika Mujin memberi aba-aba memulai pertandingan.
Shitanda mundur ke belakang ketika mendengar aba-aba dari Mujin. Serangan jarum yang dilempar oleh Roka sangat cepat. Jarum-jarum itu telah diberi cairan penidur agar lawannya melemah dan merasa mengantuk.
__ADS_1
Shitanda mengamati tangan Roka. Kemudian dia mencoba memulai serangan dengan berlari ke arah lawannya tersebut. Ayunan pedang Shitanda cukup terampil, tebasannya lurus mengarah ke arah Roka.
Melihat Shitanda yang menyerangnya, Roka mengeluarkan puluhan jarum dan melempar kembali ke arah Shitanda agar musuhnya tersebut tetap jauh darinya.
"Aku harus memaksanya bertarung jarak jauh!" Roka melepaskan aura tubuhnya yang berwarna kuning ke arah Shitanda. Dia mengubah aura tubuhnya menjadi aura intimidasi.
Shitanda menangkis setiap jarum yang di lempar Roka ke arahnya, dia sekarang semakin dekat dengan Roka. Dengan percaya diri, Shitanda menebaskan pedangnya dari jauh membentuk sebuah pusaran air yang mengarah lurus ke arah Roka.
Melihat teknik pedang dari Shitanda yang cukup merepotkan, terlihat wajah manis Roka mengkerut. Gadis muda itu menyentuh tanah dan membuat tembok tanah untuk menahan pusaran air teknik pedang dari Shitanda.
"Sepertinya tidak akan mudah!" Roka memikirkan cara untuk mengalahkan Shitanda. Bagaimanapun dia ingin merasakan sendiri atmosfer babak 32 besar. Semua pendekar muda pasti menginginkan bertanding di babak 32 besar.
Roka merasa Shitanda mendekat ke arahnya. Dia menancapkan puluhan jarum di tanah, jarum-jarum yang telah di beri cairan penidur itu dia sebar di tanah. Kemudian Roka dengan tenang menunggu serangan dari Shitanda.
Tembok tanah pelindung yang dibuat Roka hancur ketika Shitanda memotongnya, dengan cepat Roka menghindari tebasan pedang Shitanda.
"Ini!" Shitanda terkejut ketika dia hendak berpijak, tidak ada tempat untuknya berpijak karena tanah disekitarnya dipenuhi jarum-jarum yang menghadap ke atas untuk menancapkan ujungnya yang lancip ke kaki manusia.
Shitanda memutarkan tubuhnya di udara, semua orang berdecak kagum termasuk lawannya sendiri. Roka terdiam beberapa detik melihat Shitanda yang melewati jebakan jarumnya.
Tetapi dengan cepat Roka menggigit bibir bawahnya menghentikkan kekagumannya pada Shitanda. Sebelum musuhnya itu berpijak di tanah, Roka mengambil jarum yang dilapisi cairan penidur ke arah Shitanda.
Roka memang tidak menyangka akan melihat Shitanda menanggapi jebakan jarum-jarum dengan cara yang tidak terduga, karena Shitanda memutarkan tubuhnya di tengah-tengah udara untuk menjauh dari jarum-jarum yang tersebar di tanah.
"Gawat!" Shitanda juga tidak bisa memutarkan tubuhnya untuk kedua kali, butuh tenaga yang besar untuk melakukan itu. Satu jarum yang melesat ke arahnya, membuat Shitanda kehabisan akal untuk menghindari serangan jarum tersebut.
Tepat ketika kaki Shitanda berpijak di tanah yang tidak ada jarum-jarum bersebaran, satu jarum yang sudah berada tepat di dadanya tidak bisa dia tangkis dengan pedangnya ataupun dia hindari dengan gerakan tubuhnya.
Roka tersenyum ketika melihat jarum miliknya tertancap di dada Shitanda. Tidak berapa lama gadis berambut ikal itu rebah tubuhnya ke depan. Roka dengan cepat menahan tubuh Shitanda.
"Kenapa aku mengantuk..." Shitanda kebingungan karena matanya merasa sangat kantuk. Tidak berapa lama matanya memejam dan dia tertidur.
Roka tersenyum melihat musuhnya terkena jarum miliknya yang telah dilapisi cairan penidur.
"Maaf ya Shitanda. Aku ingin merasakan babak 32 besar," ucap Roka sambil mencabut jarum miliknya yang tertancap di dada Shitanda. Kemudian dia mengangkat tubuh Shitanda untuk berdiri.
Mujin mengangkat tangannya dan menunjuk Roka sebagai pemenangnya.
"Pemenangnya Roka dari Kuil Matahari Baru!" Mujin mengakhiri pertandingan, tidak berapa lama dia memberi isyarat pada tenaga medis untuk membawa tubuh Shitanda yang tertidur itu.
Roka tersenyum tipis ketika melihat tubuh Shitanda dibawa ke ruang medis yang ada di Arena Lingkaran Harimau. Shitanda hanya tertidur, semua pendekar muda yang melihat pertarungan barusan menjadi sadar, pertarungan itu mengajarkan mereka untuk lebih cerdik seperti Roka.
Dalam pertarungan bukan hanya kekuatan saja yang dibutuhkan, tetapi para pendekar muda menjadi sadar jika strategi juga perlu dalam pertarungan. Dengan taktik yang matang maka dengan mudah mereka bisa memenangkan pertandingan.
Setelah Roka kembali ke bangku penonton tempat pendekar dari Kuil Matahari Baru, dengan cepat Mujin kembali beralih ke pertandingan selanjutnya.
__ADS_1