
Teriakan Namida yang datang ke Rumah Harimau Kai ditemani anak semata wayangnya bernama Masayu, dan perempuan muda berumur dua puluh tahun bernama Kanae membuat Sepuluh Tetua Kai menatap tajam mereka bertiga.
"Namida? Ada apa gerangan kau kemari?" tanya Satra dengan santainya sambil duduk dengan tenang menatap Namida yang menatapnya penuh kebencian.
"Katakan padaku, jika kau telah membocorkan lokasi Gunung Menangis pada Sekte Pemuja Iblis?!" teriak Namida sambil melangkahkan kakinya mendekati Sepuluh Tetua Kai.
"Saudari Namida. Tindakanmu ini sangat tidak sopan, sadarlah dengan posisimu." tegur salah satu Sepuluh Tetua Kai yang bernama Mujin. Pria berambut putih itu menatap dingin Namida yang penuh emosi.
"Gunung Menangis ditemukan Sekte Pemuja Iblis? Apa kamu sedang bercanda, Namida?" sahut salah satu Sepuluh Tetua Kai yang lain bernama Hideaki.
Namida memukul meja bundar dan mengeluarkan auranya beserta tenaga dalamnya ke arah Sepuluh Tetua Kai.
"Insiden tujuh belas tahun lalu. Kalian sengaja menutupinya, bukan?!" Namida mendelik matanya menatap seluruh Sepuluh Tetua Kai penuh kebencian, "Demi menjaga kedamaian di tanah Kai. Kalian sengaja melimpahkan semuanya kepada salah satu pangeran. Dan ironisnya pangeran itu adalah Kagutsuchi Pandu." tambah Namida.
Perkataan Namida membuat Sepuluh Tetua Kai menatap balik Namida dengan tajam.
"Jaga mulutmu!" bentak salah satu Sepuluh Tetua Kai bernama Kuro. Pria berambut hitam itu emosi setelah mendengar perkataan Namida.
"Namida! Kau beraninya menuduh kami! Sadarlah dengan posisimu itu!" tegur salah satu Sepuluh Tetua Kai bernama Ryuzaki.
"Tenang kalian semua!" Satra menenangkan seluruh anggota Sepuluh Tetua Kai yang berada di Rumah Harimau Kai.
Terlihat seluruh anggota Sepuluh Tetua Kai begitu emosi dengan perkataan tuduhan yang terus dilontarkan Namida.
"Namida. Bagaimana jika kalian mengikuti pertemuan tentang Turnamen Harimau Kai. Ada hal yang ingin kami bahas tentang Kekaisaran Rakuza." ajak Satra pada Namida.
Kekaisaran Rakuza mengirim panglima dan pasukan khususnya untuk membuat Kekaisaran Kai tinduk pada mereka, demi menghindari peperangan yang tidak berarti dengan Kekaisaran Rakuza. Sepuluh Tetua Kai memikirkan cara yang tepat mencari jalan keluar.
Namida tersenyum sinis menatap Sepuluh Tetua Kai. Senyuman Namida membuat Sepuluh Tetua Kai kembali emosi.
__ADS_1
"Tindakan yang kalian lakukan akan ada yang membalasnya. Fajar belum berakhir, suatu saat kalian akan ketakutan dan tidak bisa tidur dengan tenang." ancam Namida sebelum mengajak Masayu dan Kanae meninggalkan meja bundar.
Perkataan Namida membuat Sepuluh Tetua Kai mengkerutkan wajahnya, beberapa dari mereka berkeringat dingin. Ketika langkah kaki Namida berhenti di depan pintu Rumah Harimau Kai, seluruh anggota Sepuluh Tetua Kai melihat Namida.
"Lima tahun dari sekarang. Entah Hizen atau kalian semua, tidak ada orang yang menghentikan dendam seorang pemuda! Kalian akan mati dengan begitu menyedihkan!" Namida tersenyum sinis melihat raut wajah Sepuluh Tetua Kai yang terlihat begitu buruk sebelum meninggalkan Rumah Harimau Kai.
Namida mengajak Masayu dan Kanae untuk menginap di penginapan yang ada di Kota Daifuzen. Kedatangan Namida ke Kota Daifuzen juga termasuk untuk mendukung anaknya yang akan ikut dalam kompetisi Turnamen Harimau Kai.
Namida, Masayu dan Kanae meninggalkan Rumah Harimau Kai menuju penginapan. Masayu masih mengingat Nagato dan Litha. Dalam benaknya, Masayu sangat berharap jika Nagato dan Litha akan mengikuti Turnamen Harimau Kai.
Sementara itu di ruangan Rumah Harimau Kai. Seorang pria yang bersembunyi di balik bayangan menampakkan dirinya dan berdiri tepat di depan Sepuluh Tetua Kai.
Pria yang datang dari luar Benua Ezzo itu bernama Reptile. Sosok pria yang memiliki sisik hijau di tubuhnya sedang mengancam Sepuluh Tetua Kai tentang negosiasi perdamaian antara Kekaisaran Kai dan Kekaisaran Rakuza.
Reptile adalah salah satu anggota Tujuh Dosa Besar Mematikan yang datang ke Benua Ezzo bersama Brusca. Kedatangan Reptile sebenarnya untuk memastikan apakah Brusca mengkhianati Tujuh Dosa Besar Mematikan atau tidak, tetapi setelah Brusca menawarkan pekerjaan yang menggiurkan pada Reptile dalam sekejap Reptile berubah pikiran dan langsung menerima tawaran Brusca.
"Kalian masih ingat, bukan? Jika kurang satu rakyat jelata saja, maka kami akan membawa anak Kaisar Hizen yang bernama Hisui." tegas Reptile menatap dingin Sepuluh Tetua Kai.
"Tuan Reptile. Bagaimana jika anda melihat Turnamen Harimau Kai terlebih dahulu sebelum melaporkan kepada Panglima Perang Nobu dan Kaisar Orochi. Aku jamin, di turnamen tahun ini banyak pendekar muda yang memiliki tubuh istimewa." Satra mencoba menenangkan Reptile.
Sangat tidak disangka oleh Satra jika Reptile memiliki aura iblis seperti Gore. Satra tidak mengetahui jika Reptile adalah salah satu anggota Tujuh Dosa Bosa Mematikan, merasakan aura iblis Reptile mengingatkan aura Gore yang sering dia temui.
"Baiklah. Jika ada anak yang mempunyai tubuh istimewa, kalian tahu, kan. Apa yang harus kalian lakukan!" tegas Reptile pada Sepuluh Tetua Kai sebelum meninggalkan Rumah Harimau Kai.
Satra sangat menyayangkan tidak kehadiran Gore yang telah bekerja sama dengannya selama beberapa tahun belakangan ini. Satra adalah teman masa kecil Hizen dan Pandu. Empat teman masa kecil Satra tak lain adalah Hizen, Pandu dan Zen.
Selain menjadi orang terkuat di Sepuluh Tetua Kai. Satra juga menjabat sebagai Ketua Parlemen Pengadilan Kai, sedangkan yang menjabat sebagai Penasihat Kaisar Hizen adalah Zen.
Keberadaan Zen sebenarnya tidak terlalu berpengaruh, karena selalu saja perkataan Satra yang lebih dipercaya Kaisar Hizen. Setelah menjadi teman dekat dan tangan kanan Kaisar Hizen tentu Satra dengan mudah menggerakan hati Kaisar Hizen lewat kata - kata.
__ADS_1
Satra memiliki ambisi untuk menjadi Kaisar Kai yang baru, dengan bekerja sama dengan Gore dan melakukan penelitian manusia secara hidup - hidup tentu Satra cukup percaya diri dengan kemapuannya. Ribuan orang sudah melayang di tangan Satra, demi melancarkan ambisinya untuk menggulingkan kursi kepemimpinan Kaisar Hizen, tentu Satra harus membuat Kekaisaran Kai menjadi tempat yang penuh kekacauan.
Namun pergerakan Kekaisaran Rakuza selama beberapa tahun terakhir begitu mengganggu rencananya, Satra dan Gore harus mengurungkan niatnya selama lima tahun lagi untuk menguasai Kekaisaran Kai.
Apa saja tindakan Satra tidak pernah dicurigai Kaisar Hizen. Orang yang memiliki bukti dan melaporkannya pada Kaisar Hizen akan dihakimi oleh Satra sendiri. Semenjak Hizen menjadi Kaisar Kai yang baru, korupsi semakin merajalela bahkan perbedaan kasta di seluruh provinsi kecuali Provinsi Utara membuat Kekaisaran Kai semakin memprihatinkan kondisinya. Diskriminasi dimana - mana merajalela.
Parlemen Pengadilan Kai menjadi tempat para bangsawan kaya untuk menuduh rakyat jelata, bahkan di antara mereka menganggap tuduhan yang mereka lakukan pada orang tak bersalah hanyalah kesenangan semata.
Satra yang memegang kursi Ketua Parlemen Pengadilan Kai dengan sesuka hati dia menuduh sembarang orang ketika ada rumor tentang bangsawan yang korupsi. Sudah tidak terhitung jumlah orang yang dituduh oleh Satra demi kepuasan pribadinya.
Sesuai yang diramalkan oleh takdir yang tertera di batu prasasti yang ada di Hutan Cakrawyuha. Kekaisaran Kai akan hancur walau telah berdiri selama ribuan tahun di Benua Ezzo.
___
**Assalamualaikum sahabat. Salam Bulu Merah. Ada sedikit pemberitahuan nih.
50 komentar : Bonus 1 chapter.
300 Like : Bonus 1 chapter.
1000 vote : Bonus 2 chapter.
#Kalau mood author bagus, crazy up bisa lebih.
Note : Author hitung dari periode mingguan ini ya sahabatπ€ 50 komen bonus 1 chapter loh. Setiap periode mingguan selesai, nanti author crazy up kalau target di atas tercapai. Akan banyak kejutan di Arc CINTAπ.
IG : Pena_Bulu_Merah
WA : π**
__ADS_1