
****Assalamualaikum dan Selamat siang. Jangan lupa baca sinopsi ya ada pemberitahuan.
Selamat membaca****.
___
Tanjung Missique telah menjadi lautan api. Ribuan orang yang hidup di sana telah berkurang secara drastis, sekarang hanya tersisa ratusan penduduk yang berendam di pantai dan lautan yang berada di ujung Tanjung Missique.
"Api semakin membesar! Kurang ajar kau Black Madia!" teriak salah satu penduduk Tanjung Missique yang bernama Rhytm.
"Terkutuklah kau Black Madia!" teriak penduduk yang lainnya yang bernama Rock.
Semua penduduk yang selamat berendam di lautan yang dangkal, panas api begitu terasa di tubuh mereka walau jarak kobaran api jauh dari mereka semua. Air laut membuat tubuh mereka jadi tidak begitu panas, banyak anak kecil yang umurnya berkisar dari satu tahun sampai dua belas tahun menangis karena melihat kekejaman Black Madia yang menyuruh Hell Shadow membunuh orang yang tidak bersalah dan menghanguskan seluruh Tanjung Missique.
"Bu, aku ingin membunuh Black Madia!" jerit tangis seorang pemuda berumur dua belas tahun bernama Pop.
"Pop, cukup jangan menangis. Jika mereka mendengar tangisanmu, Hell Shadow akan membunuh kita semua." Ibu Pop memeluk Pop yang menangis histeris.
Lautan api terus berkobar membuat langit malam yang hitam berubah menjadi jingga kemerahan. Tangisan dan teriakan penduduk Tanjung Missique terus terdengar. Suaranya begitu menyayat, darah segar keluar dari bibir mereka semua ketika ingin menangis. Takut ketahuan anggota penyihir Hell Shadow. Ratusan penduduk kota menahan tangisan mereka dengan menggigit bibir mereka sendiri.
"Panas! Panas! Kenapa ini bisa terjadi?!" teriakan anak berumur dua belas tahun bernama Dangdang terdengar histeris karena setengah tubuhnya terbakar.
"Kenapa kita harus mati seperti binatang!" teriak penduduk Tanjung Missique yang lainnya.
Dari kejauhan Tanjung Missique terlihat tiga kapal yang memiliki corak ukiran harimau dan garuda pada kapalnya, ketiga kapal tersebut berlayar menghampiri pinggiran pantai. Kapal milik Organisasi Revolusioner datang ke Benua Ezzo karena mendengar kedatangan Bangsawan Bahamut ke benua yang mendapatkan julukan benua ujung timur tersebut.
__ADS_1
Organisasi Revolusioner bukanlah salah satu dari Lima Penguasa tetapi kelompok ini terbentuk dengan ribuan orang yang hidup dijajah. Pemimpin Organisasi Revolusioner bernama Muramasa Honjo. Sosok pria berkharisma dan berwibawa yang memiliki rambut hitam dengan mata kiri yang terluka itu menatap lautan api yang membakar Tanjung Missique. Mata kanannya menatap tajam api yang terkobar melahap seluruh rumah dan bangunan milik penduduk yang tinggal di Tanjung Missique.
Muramasa Honjo berdiri paling depan di kapal, disamping kiri dan kanannya terlihat orang yang paling dekat dengannya. Disamping kiri Honjo berdiri sosok pria yang bernama Kung Wu dan disampimg kanannya berdiri pria yang bernama Raden Aryaguna. Dua sosok yang menjadi tombak dan tameng Organisasi Revolusioner itu berasal dari Benua Jiu dan Benua Kuru.
"Pemandangan yang sangat mengerikan, api membakar segalanya. Manusia seperti serangga hanya karena sebuah perbedaan." ucap Kung Wu menatap tajam lautan api yang membakar seluruh rumah dan bangunan yang ada di Tanjung Missique.
"Ketua Honjo, melihat pemandangan ini membuatku mengingat makhluk penuh kebencian yang membakar Yamato." tambah Kung Wu.
Honjo menarik napas panjang dan matanya menatap langit, angin berhembus kencang diiringi suara hujan dari langit. Ketika Honjo menghembuskan napasnya cepat, hujan turun dengan derasnya membasahi Tanjung Missique.
"Pertemuanmu denganku tidak sia - sia, kau terlempar karena cermin teleportasi, kau seharusnya bersyukur karena bertemu denganku. Apa masih ada keturunan pewaris kekuatan surgawi di Benua Jiu?" Honjo melirik Kung Wu yang berada disamping kirinya. Honjo menarik napas panjang kembali dan mengolah pernapasan, selesai Honjo mengolah pernapasan perlahan hujan yang membasahi Tanjung Missique mulai reda.
Kung Wu tersenyum melihat kekuatan Honjo yang tidak pernah berhenti membuatnya untuk takjub pada sosok pemimpin Organisasi Revolusioner tersebut, "Aku masih mengingat keturunan Keluarga Tsukuyomi yang bernama Shingen berhasil memberi luka pada tubuh makhluk penuh kebencian itu," matanya menatap Honjo yang sedang tersenyum karena mendengar perkataannya, "Tapi, umurnya yang masih muda itu membuatku khawatir pada tuan muda. Kekuatan yang tersembunyi tiba - tiba bangkit bukanlah hal yang baik, aku yakin tuan muda sudah menyadari tentang leluhurnya dan kekuatannya."
Kung Wu mengingat wajah Shingen yang masih kecil berumur sepuluh tahun dan bertarung melawan wujud naga hijau Rieyu di Negeri Yamato. Mengingat dirinya yang mengabdi pada Keluarga Tsukuyomi sebagai seorang pendekar tentu saja meninggalkan penyesalan di hati Kung Wu. Tidak bisa melindungi orang yang telah menyelamatkannya bahkan tidak bisa melindungi Shingen membuat luka di hatinya masih membekas.
Raden Aryaguna tersenyum melihat Honjo yang menenangkan Kung Wu, "Kau sudah sangat berjasa, jika bukan karena dirimu yang menggunakan ilmu pengendali hati maka ratusan orang ini telah mati," terlihat senyuman lebar menyeringai di wajah Raden Aryaguna yang sedang memuji Kung Wu, "Lihatlah, kita pemberontak yang bertindak atas sebuah keadilan dan persaudaraan."
Raden Aryaguna menatap Honjo tajam sebelum bertanya kembali pada pemimpin Organisasi Revolusioner tersebut.
"Bagaimana kau bisa mengetahui jika salah satu pewaris kekuatan surgawi ada di benua yang paling timur ini?" tanya Raden Aryaguna pada Honjo.
"Kami terikat ikatan darah surgawi, aku hanya mengikuti jalan yang ada di langit." jawab Honjo sambil melangkahkan kakinya untuk menatap ratusan orang yang berlari dan berdiri di pasir pantai dengan dekat.
Raden Aryaguna masih tidak mengerti maksud perkataan dari Honjo. Meski keduanya telah bersama - sama selama bertahun - tahun, Raden Aryaguna masih belum terlalu mengetahui tentang keturunan surgawi yang dimaksud Honjo.
__ADS_1
"Kerajaan ini akan menjadi contoh dunia, dimana tidak ada yang nama keadilan dan saling menghargai di dunia ini. Dimana orang yang tidak punya mempunyai kekuatan dan kasta bawah akan ditindas dan dibunuh layaknya serangga." ucap Honjo, matanya yang tajam menatap kepulan asap yang terbang ke atas langit.
"Kerajaan ini juga akan menjadi contoh karena tidak ada yang namanya kebahagiaan di dunia ini di masa depan nanti. Kedamaian palsu yang berlangsung selama ribuan tahun akan kuakhiri. Suatu hari nanti aku akan merubah dunia ini." tambah Honjo.
Seluruh penduduk Tanjung Missique yang tersisa ketakutan melihat kedatangan tiga kapal yang besar berlayar mendekati pinggiran pantai, sosok pria yang menjadi perhatian mereka adalah Muramasa Honjo. Tentu mereka takut karena Honjo bisa mengendalikan cuaca sesuka hatinya.
"Ibu, siapa dia?" tanya Pop yang melihat tiga kapal milik Organisasi Revolusioner.
"Ibu juga tidak tahu Pop..." balas Ibu Pop memeluk Pop dengan erat karena dia takut dengan sosok orang yang kuat. Dunia yang kejam ini selalu saja dipenuhi orang kuat menindas yang lebih lemah, semua itu membuat Ibu Pop trauma.
"Apa dia akan membunuh kita? Tapi aku tidak peduli lagi, lebih baik mati daripada menjalani hidup yang sama seperti seekor serangga!" salah satu pria penduduk Tanjung Missque bernama Hard menatap Honjo tajam.
"Sepertinya dia adalah orang dari dunia luar!" sahut pria yang bernama Slow.
Semua mata terarah pada Honjo yang membalas menatap mereka dengan tatapan tajam mata kanannya.
"Sepertinya kami harus segera pergi dari sini." batin Honjo karena merasakan puluhan nafsu membunuh yang mendekat ke Tanjung Missique.
"Siapapun yang ingin bertarung demi mendapatkan hak kebebasan dan keadilan! Angkat kepala kalian! Busungkan dada kalian! Dan jadilah saudaraku!" seru Honjo pada seluruh penduduk Tanjung Missique yang selamat dan berdiri menatapnya dari pinggiran pasir pantai.
Semua penduduk Tanjung Missique berteriak setelah mendengar ajakan Honjo. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk berpikir dua kali. Semua penduduk Tanjung Missique naik ke kapal Organisasi Revolusioner.
Honjo meyuruh dokter yang menjadi temannya mengobati luka bakar puluhan penduduk Tanjung Missique. Setelah kapalnya kembali berlayar, mata Honjo menatap Benua Ezzo yang baru pertama kali dia datangi.
"Bos, berkatmu dunia akan dipenuhi gejolak peperangan." batin Honjo menatap pantai Tanjung Missque yang kian menjauh dari pandangan matanya.
__ADS_1
"Satu tahun lagi. Aku sangat yakin, dunia akan dipenuhi penjahat yang memegang teguh keadilan dan pahlawan yang bertindak karena sebuah pujian."