
Nagato membawa tubuh Litha dengan lembut, dia berlari ke Bukit Angin di lapisan hutan ke dua puluh delapan.
"Litha..." ucap Nagato menatap Litha tajam.
"Kenapa," jawab Litha melihat wajah Nagato.
"Sepertinya kamu bertambah berat." balas Nagato dengan wajah tenangnya dia membuat Litha emosi.
Litha memerah wajahnya kemudian dia mencubit dada Nagato dengan tangannya.
"Dasar... dasar..." hati Litha berdecak kesal mendengar ucapan Nagato.
Nagato tersenyum tipis melihat Litha yang mencubit dadanya.
Mereka berdua sampai di Bukit Angin, Nagato menurunkan tubuh Litha pelan - pelan. Kemudian dia memperhatikan wajah Litha yang cemberut dan menghindari tatapan matanya.
"Kamu kenapa?" tanya Nagato pada Litha yang menghindari dirinya.
Litha hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Nagato, karena masih sebal dengan perkataan Nagato.
Ular Sanca Bertanduk Hitam mengikuti Nagato sampai di atas Bukit Angin.
"Datang juga dia." gumam Nagato sambil memegang pedangnya dan melakukan ancang - ancang yang terlihat begitu lembut, sehingga Ular Sanca Bertanduk Hitam tidak menyadari jika Nagato sudah siap untuk menyerangnya.
__ADS_1
Ketika mulut Ular Sanca Bertanduk Hitam mendesis, Nagato sudah berada disampingnya dan dia terlihat menghilang, karena Nagato menggunakan seluruh tenaga dalamnya pada pijakan kakinya.
Litha terkejut melihat Nagato yang cepat tanggap dan gesit dalam melakukan serangan, tidak mau tinggal diam, Litha juga ikut menyerang Ular Sanca Bertanduk Hitam.
"Pernafasan Pelangi Surgawi : Bentuk Kuning." hati Litha sambil tangannya memegang pedangnya dan menyerang Ular Sanca Bertanduk Hitam.
Tebasan pedang Nagato masih kurang dalam pada tubuh Ular Sanca Bertanduk Hitam yang berlendir. Litha juga menebas badan yang berlendir itu dan tebasan pedangnya terlihat seperti meleset dari badan Ular Sanca Bertanduk Hitam. Karena tebasan air pedang Litha membuat badan Ular Sanca Bertanduk Hitam semakin licin.
Ular Sanca Bertanduk Hitam mengeluarkan bisa yang beracun dari mulutnya, melihat hal itu Nagato dan Litha menjaga jarak sambil mencari celah untuk membunuh Ular Sanca Bertanduk Hitam.
Nagato dan Litha menyadari jika bisa racun yang keluar dari mulut Ular Sanca Bertanduk Hitam itu membahayakan nyawa mereka berdua. Nagato mencoba untuk tetap tenang karena dirinya juga membenci ular sehingga dia sangat kesal ketika merasa dirinya terpojok karena serangan Ular Sanca Bertanduk Hitam.
Nagato dan Litha merapatkan giginya sambil memandang bisa Ular Sanca Bertanduk Hitam, yang bercampur dengan udara.
Nagato menatap dingin Ular Sanca Bertanduk Hitam yang menggeliat karena kepanasan. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Nagato kembali mengayunkan pedangnya membuat api semakin berkobar bahkan percikan - percikan api membakar tubuh Ular Sanca Bertanduk Hitam.
Litha tersenyum melihat teknik pedang Nagato, dia berniat membantu tetapi teknik pedang miliknya tidak mempan terhadap Ular Sanca Bertanduk Hitam.
Ular Sanca Bertanduk Hitam melewati kobaran api dan menyerang balik Nagato dan Litha, kemudian Ular Sanca Bertanduk Hitam berganti kulit, secara perlahan kulit tubuhnya terlepas menjadi kulit yang baru dan terlihat kokoh.
Nagato dan Litha dapat menghindari setiap sabetan ekor Ular Sanca Bertanduk Hitam, bahkan mereka juga dapat menghindari setiap racun bisa yang mengarah ke arah mereka berdua.
Nagato mengolah pernafasannya ketika berlari menghindari serangan bertubi - tubi dari ekor Ular Sanca Bertanduk Hitam.
__ADS_1
"Pernafasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah." hati Nagato sambil menarik nafas panjang dan menyalurkannya ke seluruh tubuhnya.
"Lautan Api." hati Nagato menebaskan pedangnya dengan cara memutarkan ayunan pedangnya, sehingga tercipta kobaran api besar membakar tubuh Ular Sanca Bertanduk Hitam.
Nagato kembali menyerang Ular Sanca Bertanduk Hitam dan tidak membiarkannya untuk berganti kulit kembali.
Keduanya bertarung cukup sengit, sampai Litha tidak dapat melihat gerakan Nagato yang terlalu cepat itu.
Nagato berhasil menggores tubuh licin Ular Sanca Bertanduk Hitam. Merasa tebasannya kurang dalam, Nagato berniat menggunakan teknik pedang barunya kembali.
"Ruang Hampa." hati Nagato mengeluarkan teknik barunya tetapi Ular Sanca Bertanduk Hitam masih sempat bereaksi ketika Nagato hendak mengincar matanya.
"Putaran Jarum Api." teriak Nagato sambil memutarkan tubuhnya ketika hampir digigit mulut oleh Ular Sanca Bertanduk hitam tersebut. Puluhan jarum api padat melesat menancap di setiap bagian tubuh Ular Sanca Bertanduk Hitam.
Ular Sanca Bertanduk Hitam hendak mengganti kulitnya kembali, tetapi Nagato kembali menyerang Ular Sanca Bertanduk Hitam tersebut dengan Tebasan Api dan Lautan Api. Karena setelah melewati pertarungan sengit, apalagi racun bisa milik Ular Sanca Bertanduk Hitam sangat berbahaya, sehingga dia berniat menghabisi Ular Sanca Bertanduk Hitam secepatnya.
Nagato memotong tubuh Ular Sanca Bertanduk Hitam yang sedang menggeliat menjadi beberapa bagian.
"Akhirnya..." Nagato bergumam pelan setelah itu dia menghela panjang sambil melirik Litha yang melihat pertarungannya.
Latihannya selama ini membuahkan hasil, dan Nagato merasakan tubuhnya semakin berbeda dari yang biasanya. Karena prinsip Nagato adalah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.
Nagato menghampiri Litha kemudian dia mengajak perempuan tersebut, menuruni lereng Bukit Angin. Tidak memberi waktu istirahat kepada mereka berdua, ternyata sosok Raja Hewan Buas Gorila Peniru sudah mengamati pertarungan mereka sejak tadi.
__ADS_1
Raja Hewan Buas Gorila peniru memukul dadanya dan menantang Nagato untuk bertarung dengannya.