Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 61 - Desa Ninniku


__ADS_3

Kakek Hyogoro, Litha dan Nagato kembali melanjutkan perjalanan, matahari perlahan terbenam menyalami malam yang berganti dengan sinar rembulan, hari sudah semakin gelap dan udara juga semakin dingin.


"Sepertinya akan turun hujan, percepat langkah kalian, kita cari desa terdekat untuk menginap!" ucap Kakek Hyogoro sambil menatap langit, tangan kanannya menunjuk langit seperti sedang merasakan angin malam.


Litha dan Nagato hanya mengangguk pelan sambil mempercepat langkah kaki mereka.


"Litha, kamu semakin pandai dalam mengatur aliran napas!" Kakek Hyogoro mempercepat langkah kakinya sambil beberapa kali menoleh kebelakang melihat Litha dan Nagato.


"Hehe ... iya kek!" Litha mencoba tersenyum karena dirinya sedang fokus mengolah pernapasan.


"Nagato, apa kau sudah menemukan jawaban, mengapa kau tidak bisa menggunakan kekuatan elemen petir!" Kakek Hyogoro melirik Nagato yang sedang mengikuti ritme kecepatan larinya, walau pemuda itu melambatkan langkah kakinya agar Litha bisa berlari bersamanya.


"Aku bukan pengguna air suci tipe elemen petir." Nagato tersenyum tipis sambil terus melangkahkan kakinya.


"Nagato, jangan bercanda!" sahut Litha yang berlari disamping Nagato.

__ADS_1


"Hm ... entahlah aku belum menemukan jawaban itu, tetapi aku rasa dalam waktu dekat aku bisa menggunakan kekuatan itu kembali!" ucap Nagato yang mengingat ketika dirinya dapat memanipulasi cuaca dilangit ketika bersama Kakek Hyogoro dan yang lainnya berada di Kota Roshima yang kini telag menjadi lautan api.


"Baguslah, itu bisa menjadi senjata yang mengerikan jika kau mengasahnya!" Kakek Hyogoro tersenyum kemudian mempercepat langkah kakinya.


Tak lama langit malam menangis membasahi bumi, semakin mereka berlari dengan cepat semakin deras hujan mengenai wajah dan tubuh mereka.


"Kakek, ada jalan kecil .... apa disana ada sebuah desa untuk kita menginap!" Litha melihat jalan kecil yang terlihat cukup lebar sepertinya terdapat desa yang lumayan besar dan ramai di arah jalan tersebut.


"Kita bisa menginap malam ini, jalan kecil itu mengarah ke desa yang cukup ramai!" jawab Kakek Hyogoro yang mempercepat langkah kakinya melewati jalan kecil tersebut.


"Disini banyak perkebunan, sepertinya desa ini cukup makmur!" batin Nagato yang melihat kiri kanannya terdapat perkebunan sayur - sayuran.


"Deras sekali! Dingin!" gumam Litha yang terlihat menggigil disamping Nagato.


Mereka bertiga memasuki desa, disana terlihat beberapa penduduk yang sedang menikmati teh hangat, kopi sambil merokok di bangku yang ada didepan rumah mereka.

__ADS_1


"Lihat, sepertinya mereka bertiga datang dari jauh."


"Dua anak kecil itu kasihan sekali kehujanan."


Beberapa penduduk yang melihat Kakek Hyogoro, Litha dan Nagato yang sedang berlari melewati rumah mereka berbicara mengenai mereka bertiga yang sedang kehujanan.


Kakek Hyogoro melihat rumah yang paling besar didesa tersebut dan mengajak Litha dan Nagato untuk kesana. Sebuah papan berbentuk daun menggantung dirumah besar tersebut, disitu tertulis bahwa rumah tersebut adalah sebuah Penginapan Desa Ninniku.


"Jadi desa ini namanya ninniku." gumam Litha pelan sambil menatap gantungan papan berbentuk daun tersebut.


"Hujannya berhenti." gumam Nagato yang sedang mengulurkan tangannya untuk menangkap tetesan air hujan yang jatuh dari atap penginapan.


"Kakak akan memeriksa terlebih dahulu, kalian berdua tunggu disini sebentar." Kakek Hyogoro meremas rambutnya yang sudah mulai memutih itu.


"Iya kek!" jawab Litha pelan, gadis kecil itu sedang memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan sedangkan Nagato sedang memandang tetesan air hujan yang berjatuhan dari atap penginapan.

__ADS_1


Kakek Hyogoro memasuki penginapan, dirinya menemukan seorang perempuan yang berumur dua puluhan tahun yang terlihat seperti pemilik penginapan sedang melihat tiga pelayan perempuan yang sedang mengelap dan membersihkan meja - meja, dan menyapu lantai penginapan.


__ADS_2