Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 145 - Cemburu


__ADS_3

Empat hari telah berlalu semenjak perjodohan Iris dan Hiragi. Keluarga Kaisar Hizen masih menetap di Pulau Samui. Sementar itu Dorobo, Celes dan Kuas baru sampai di Pulau Samui. Mereka bertiga harus rela menunggu untuk sampai ke Pulau Samui.


Butuh perjuangan untuk bisa pergi ke Pulau Samui yang merupakan tempat kediaman Klan Fuyumi selain Pulau Maru. Setelah bertemu dengan Oichi yang baru pulang dari sebuah misi, Dorobo, Celes dan Kuas ikut bersama Oichi menuju Pulau Samui untuk menemui Nagato dan Litha.


Nagato semenjak itu selalu melampiaskan seluruh emosinya dengan melatih kemampuan berpedangnya. Perlahan Nagato sudah bisa untuk kembali bersikap seperti biasa, tetapi semenjak itu Iris selalu bersama Hiragi.


Iris terlihat tidak peduli ketika Hiragi bercerita tentang kemampuannya, raut wajah datar dan dingin terlihat di wajah cantik Iris.


Hari ini Nagato kembali berlatih sendirian di hutan bersalju yang ada di suatu tempat Pulau Samui. Sementara itu Litha, Tika dan Hika baru mengetahui tentang perjodohan Iris dan Hiragi. Mereka bertiga bisa melihat perubahan besar yang terjadi pada Nagato.


Api membakar kayu - kayu yang ada di sekitar Nagato. Api yang membara saat ini menggambarkan perasaannya yang berkobar, gerakan demi gerakan yang dilakukan Nagato masih terasa begitu berat. Setiap dia melihat Iris duduk berdua bersama Hiragi. Semakin sakit hatinya, Nagato tidak pernah menyangka jika dia akan sesakit ini melihat Iris bersama laki - laki lain selain dirinya.


Ketika Nagato sedang memanipulasi auranya menjadi api yang membakar tubuhnya, sosok gadis yang lebih muda dari dirinya setahun sedang melihatnya latihan. Nagato menyadari keberadaan gadis tersebut, sehingga dirinya berhenti menggunakan auranya.


"Keluar!" teriak Nagato dengan nada yang dingin.


"Maaf." suara malu - malu dari gadis bermata sayu terdengar menggemaskan. Nagato menatap gadis yang bukan berasal dari Klan Fuyumi tersebut.


"Tunggu, aku putri dari Kaisar Kai kenapa kau berani berteriak padaku?!" Hisui menatap dingin Nagato.


"Apa aku harus bersikap sopan padamu, hanya karena kau seorang anak kaisar?" Nagato tersenyum sinis dan berjalan mendekati Hisui yang menatapnya tajam, "Jangan berada disini. Kau sangat mengangguku!" tegas Nagato berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya dan menatap dingin Hisui.


"Dasar tidak sopan!" bentak Hisui memukul perut Nagato.


Pukulan tangan Hisui sama sekali tidak terasa di perut Nagato. Tidak berapa lama Hisui berhenti memukul Nagato dan memegang tangannya.


"Aku pikir pukulanku kuat?" Hisui kebingungan dan menatap Nagato penuh keheranan, "Kau sangat aneh, kakakku yang termasuk sepuluh pendekar muda jenius saja kesakitan ketika aku memukulnya." tambah Hisui masih terus menatap Nagato keheranan.


"Kakakmu saja yang lemah, jangan samakan aku dengan yang lainnya." jawab Nagato berjalan pelan meninggalkan Hisui.

__ADS_1


"Tunggu!" teriak Hisui melihat Nagato yang sama sekali tidak peduli padanya.


Nagato berhenti berjalan dan menoleh ke belakang melihat Hisui yang sedang berdecak kesal dengan tingkahnya.


"Apa?" Nagato memasang wajah datar tidak peduli dengan Hisui.


"Apa kau tidak tahu aku?" Hisui mendekati Nagato dan tangan kanannya menyentuh dadanya, "Aku adalah tuan putri Hisui." senyum manis Hisui terlihat, tetapi Nagato masih tidak peduli.


Nagato menghela napas panjang dan menatap Hisui yang lebih pendek darinya, tatapan matanya yang dingin membuat wajah Hisui merah merona.


Satu hari yang lalu, Hisui selalu mengikuti Nagato yang pergi berlatih sendirian, ketampanan Nagato membuat Hisui jatuh cinta pada pandangan pertamanya.


Nagato keheranan menatap Hisui yang tidak berkedip melihat dirinya, tatapan Hisui semakin lama membuat Nagato menjadi risih.


"Apa ada yang salah dengan wajahku?" Nagato menggoyangkan tangannya tepat di depan mata Hisui yang tidak berkedip, "Tatapanmu itu sangat menggangguku!" tegur Nagato pada gadis bermata sayu tersebut.


Hisui malu dan memalingkan wajahnya, jantungnya berdetak dengan cepat. Perasaan yang baru pertama kali Hisui rasakan membuatnya ingin semakin mengenal Nagato.


"Perasaan ini!" batin Nagato ketika merasa ada aura kebencian yang keluar dari tubuhnya secara perlahan.


Hisui memegang kedua pundak Nagato sambil terus menahannya, tidak berapa lama aura Nagato terasa di tubuh Hisui.


Nagato mengunci aura kebenciannya yang berasal dari Shinigami. Kesadarannya perlahan hilang, Nagato mengingat apa saja yang diajarkan Bisma tentang tiga kekuatan mutlak.


Hisui tersenyum melihat Nagato yang telah pingsan kehabisan aura dan jatuh dipelukannya. Gadis bermata sayu tersebut tidak menyadari jika pemuda berparas tampan yang sedang dia peluk adalah saudaranya sendiri dan merupakan anak dari adik ayahnya sendiri.


"Bagaimana dia bisa setampan ini?" batin Hisui ketika perlahan mencoba untuk duduk dan membiarkan kepala Nagato berbaring di pangkuannya.


Nagato tidak menyangka akan kehabisan aura karena berlatih seharian tanpa henti, kemarahan dan kebenciannya yang terpendam mulai menyeruak keluar.

__ADS_1


Rambut Nagato dielus Hisui dengan tangannya sambil menatap wajah Nagato penuh makna, tangan satunya menyentuh pipi Nagato dan sedikit mencubitnya dengan lembut.


Hisui semakin lama semakin gemas dengan Nagato yang tertidur dipangkuannya, matanya melirik ke kiri dan ke kanan sebelum mengecup kening Nagato.


Mata Hisui melihat cincin berbentuk setengah hati yang melingkar di jari manis Nagato. Menurut Hisui, wajah dan aura Nagato menandakan jika Nagato bukanlah keturunan orang sembarangan.


Sementara itu setelah selesai mendengar cerita Hiragi yang menyombongkan dirinya sendiri, Iris pergi mencari keberadaan Nagato. Langkah kakinya berhenti, matanya melebar melihat Nagato yang tidur dipangkuan seorang gadis. Bahkan kini gadis bermata sayu tersebut mengecup kening Nagato.


"Naga..." gumam Iris lirih dan bersembunyi di balik pohon.


Iris tidak mengetahui jika Nagato sedang pingsan dan kehabisan aura tubuhnya, perasaan cemburu mulai berbisik di sela-sela di tubuhnya, hatinya terasa sakit melihat Nagato yang sedang bersama perempuan lain.


Tidak berapa lama Iris pergi untuk menenangkan dirinya, satu hal yang Iris sadari saat ini. Bukan hanya dirinya yang merasa sakit, tetapi Nagato juga merasakan sakit melihat dirinya bersama Hiragi.


Iris ingin keluar dari situasi yang menjeratnya, ketika bersama Hiragi semuanya terasa hambar. Berbeda ketika bersama Nagato yang bersikap seperti biasa pada dirinya, satu - satunya yang dapat meluluhkan hati Iris hanyalah Nagato.


Iris berdiri menatap danau kecil tempat dia dan Nagato bersama, jari telunjuknya menyentuh bibirnya. Wajah Iris memerah mengingat dia memberikan ciuman pertamanya pada Nagato walau hanya sekedar mengecupnya saja.


Bekas api yang membakar tanah bersalju masih terlihat jelas, Iris memejamkan matanya dan mengingat kedekatannya dengan Nagato. Semenjak Nagato dan dirinya menjauh, Iris merasa hampa, seluruh dunia yang dia pandang terasa tidak indah di matanya.


Perasaan yang baru pertama kali dia rasakan membuatnya semakin mengerti tentang sakitnya patah hati, melihat orang yang dia cintai bersama orang lain adalah pemandangan yang begitu menyakitkan.


Iris hendak kembali ke Rumah Bunga Salju karena malam ini akan ada perjamuan makan bersama Keluarga Kaisar Hizen. Iris melewati jalan setapak, tempat dimana dia melihat Nagato berduaan dengan Hisui.


Hatinya semakin teriris ketika melihat Nagato sedang memarahi Hisui. Di mata Iris keduanya terlihat seperti kakak beradik yang begitu akrab, tetapi tetap saja ini adalah pemandangan yang tidak ingin dia lihat.


"Naga?!" Iris sengaja menghampiri Nagato dan menyapanya.


Nagato dan Hisui menoleh melihat Iris yang datang sendirian menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


___


IG : pena_bulu_merah


__ADS_2