Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 82 - Kenapa Perasaan Ini Sangat Menyakitkan?


__ADS_3

Beberapa hari setelah menyelesaikan misi bersama Kakek Hyogoro kini mereka bertiga kembali ke Hutan Cakrawyuha.


Nagato membeli makanan pedas dan beberapa pakaian sedangkan uang 100 keping koin emas diambil Kakek Hyogoro untuk membeli arak.


"Kakek Hyo, bukankah kita sudah membaginya sama rata lagi pula kenapa kakek memberikan semua uang bayaran itu kepada orang miskin?" Nagato sedang memakan daging sapi pedas dan duduk disamping Kakek Hyogoro.


Kakek Hyogoro hanya tertawa tidak menjawab perkataan Nagato.


"Sudah kuduga, arak ini sangat nikmat!" Kakek Hyogoro tersenyum puas.


Nagato tersenyum melihat Kakek Hyogoro kemudian dia datang menghampiri Litha yang sedang memasak didapur.


Nagato berdiri disamping Litha sambil melihat gadis kecil disampingnya memasak sayuran.


Litha melirik Nagato yang sedang melihatnya memasak.


"Hari ini aku akan membuat makanan kesukaanmu." Litha tersenyum manis pada Nagato sambil menunjuk potongan daging sapi yang akan dibuat menjadi rendang pedas oleh gadis kecil itu.


Nagato tersenyum melihat Litha kemudian dia menatap butiran keringat yang ada diwajah gadis kecil yang sedang memasak disampingnya.


"Apa ada yang bisa kubantu? Aku tidak enak jika Litha yang memasak semuanya?" Nagato menawarkan diri untuk membantu Litha.


Litha tersenyum kemudian gadis kecil itu menyuruh Nagato memotong bawang merah dan cabai menjadi potong - potongan kecil.


Litha tertawa pelan melihat Nagato yang sedang memotong bawang merah dan cabai disampingnya setelah beberapa menit mata Nagato menangis ketika memotong bawang merah.


"Perih ..." Nagato bergumam pelan kemudian dia memotong cabai setelah selesai memotong bawang merah.


Litha mengambil bawang merah yang lainnya kemudian dia menyuruh Nagato melihatnya.


"Begini, Nagato ..." Litha mengiris bawang didalam rendaman air agar matanya tidak perih.


Litha tersenyum ketika melihat raut wajah lucu Nagato yang sedang menahan air mata ketika memotong bawang merah dan kini pemuda itu memotong cabai kemudian dia meringis menahan perih dimatanya ketika Nagato mengusap matanya dengan tangan yang habis memegang cabai.


Litha tertawa kemudian gadis kecil itu memegang tangan Nagato yang terus mengusap matanya.


"Nagato, biar aku saja yang mengurus sisanya ... " Litha mendorong tubuh Nagato ketempat yang ada dibelakang rumah Kakek Hyogoro yang disana terlihat ada beberapa bak air dan menyuruh Nagato untuk membersihkan tangannya.

__ADS_1


Litha melanjutkan masakannya sedangkan Nagato mencuci tangannya sambil memejamkan matanya yang kepedasan.


"Sialan, aku terlihat menyedihkan didepan Litha." Nagato bergumam pelan sambil mencuci kedua tangannya.


Beberapa jam setelah itu mereka bertiga sedang sarapan pagi dan Litha juga membuatkan ikan mentah untuk Chibi yang telah dibuang duri dan tulang - tulang ikannya.


Nagato memakan makanan daging sapi yang pedas dengan lahap.


Litha merasa senang melihat Nagato yang menyukai masakannya bahkan melihat pipi Nagato yang mengembung ketika mengunyah makanan itu membuatnya ingin menyentuh pipi Nagato.


Kakek Hyogoro memakan sayuran yang dimasak Litha karena dia tidak tahan dengan daging sapi pedas yang dibuat Litha.


Setelah selesai makan Nagato membantu Litha mencuci piring kemudian mereka berdua duduk bersama diteras depan rumah ditemani Chibi.


Nagato menatap langit yang membentang luas diatas Hutan Cakrawyuha bersama Litha.


"Aku bersyukur dengan keadaan saat ini karena aku masih mempunyai sebuah tempat untuk pulang." Nagato bergumam pelan sambil menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya membuat rambutnya bergoyang.


Litha memperhatikan Nagato yang sedang duduk disampingnya.


Nagato bisa melihat kesedihan didalam diri Litha.


"Aku juga ingin membuat sebuah tempat yang damai ..." sahut Nagato menatap Litha yang duduk disampingnya.


"Litha, aku ingin bertanya padamu?" Nagato berbaring diteras sambil memejamkan matanya.


Litha juga ikut berbaring sambil melirik Nagato yang berbaring disampingnya.


"Ibuku pernah bercerita tentang sebuah negeri dongeng yang penuh dengan energi sihir disuatu tempat didunia ini? Apa kamu pernah mendengar tentang cerita manusia bertelinga panjang?" Nagato duduk kembali kemudian dia tersenyum mengingat cerita dari Sarah ibunya sendiri ketika bercerita kepadanya.


Litha tersenyum karena mengetahui cerita tersebut dari ibunya.


"Aku pernah mendengarnya, ras manusia itu disebut dengan elf dan mereka hidup dinegeri dongeng yang ada diangkasa yaitu paus terbang sedangkan ada juga cerita tentang seekor kura - kura yang terus mengarungi seluruh lautan didunia karena kura - kura itu dikutuk." Litha tersenyum senang kemudia gadis kecil itu bercerita panjang lebar dengan Nagato.


Nagato mendengarkan cerita Litha dan dirinya takjub karena menurutnya dunia ini sangatlah luas.


"Tunggu?" Nagato bergumam pelan karena mengingat perempuan berparas cantik dan manis yang datang didalam mimpinya.

__ADS_1


'Perempuam itu siapa?' Nagato mengingat wujud Sang Hitam yang bersemayan didalam dirinya.


Litha melirik cincin yang berbentuk setengah hati yang melingkar dijari manis Nagato.


"Nagato, cincin ini indah?" Litha memegangnya kemudian dia menatap Nagato.


Nagato tersenyum sambil menjelaskan pada Litha jika cincin ini milik orang tuanya kemudian dia juga menceritkana jika cincin ini disatukan maka akan membentuh dua hati yang saling menyatu.


Nagato mengeluarkan cincin yang satunya yang dia simpan disakunya.


"Aku akan memberikan cincin ini kepada perempuan yang kucintai suatu saat nanti." Nagato bergumam pelan sambil tersenyum melihat cincin milik ayahnya kemudian dia melepaskan cincin milik ibunya yang melingkar dijari manisnya.


"Seperti ayahku yang memberikan cincin ini kepada ibuku." ucap Nagato dengan polosnya kemudian dia menatap Litha yang tersipu malu disampingnya.


Litha terkejut mendengar cerita Nagato kemudian gadis itu bertanya pada pemuda disampingnya.


"Nagato, apa hubunganmu dengan Iris?" Litha ingin mengetahui tentang hubungan mereka berdua karena saat itu Nagato terlihat dingin kepada Iris tetapi setelah mereka berdua bertarung bersama keduanya terlihat dekat. Litha menunggu kepastian dari jawaban Nagato.


Nagato menghela nafas panjang kemudian dia menceritakan kepada Litha jika dirinya telah dijodohkan dengan Iris saat itu tetapi dengan satu syarat jika keduanya tidak saling mencintai maka perjodohan itu batal.


Litha terdiam mendengar jawaban Nagato dalam sekejap seluruh tubuhnya terasa lemas dan hatinya terasa teriris.


"Aku kenapa?" Litha bergumam sambil menyentuh dadanya karena setelah mendengar perkataan Nagato membuat dirinya ingin menangis.


'Kenapa perasaan ini sangat menyakitkan, ada apa denganku?' Litha pergi kedalam hutan dan menangis.


Nagato terkejut melihat Litha yang pergi dan yang paling membuatnya merasa sakit adalah melihat Litha yang mengeluarkan air mata.


"Li-Litha?" Nagato bergumam pelan melihat Litha yang terlihat begitu rapuh menghilang dari pandangan matanya.


_________________________________________


Nagato sedang mengiris bawang merah secara perlahan tapi pasti, mata Nagato terasa perih kemudian dia mengeluarkan air matanya ........


Pasti kalian semua pernah menangiskan waktu lagi mengiris bawang?


Kalau pernah, jangan lupa dukungannya dengan cara like, favorite, dan rate lima bintang jika ingin terus membaca novel Kagutsuchi Nagato dan saya akan merasa bangga dalam menulis sebuah novel jika kalian yang menyukai novel ini memberi dukungan vote berupa poin atau koin.

__ADS_1


__ADS_2