Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 273 — Menuju Akhir Pertempuran II


__ADS_3

“Formasi penyegelan? Apa yang para Ketua Klan lakukan?” Iris tersentak kaget melihat para Ketua Klan membentuk formasi segel. Kurang lebih formasi segel itu membuatnya khawatir karena disana Emi yang sedang bergabung.


Iris telah membaca sebuah Catatan Kuno milil Klan Fuyumi. Banyak yang mengira Catatan Kuno menyimpan rahasia masa lalu atau kunci menuju Eden, yang orang-orang dari luar Benua Ezzo cari. Semenjak kematian Hiryuu, dunia memang telah dilanda kekacauan. Banyak orang yang mencari kebenaran tentang Eden. Bahkan penyerangan yang dilakukan Sekte Pemuja Iblis di Gunung Menangis adalah untuk mencari Catatan Kuno karena percaya catatan itu menuntun dan memberitahu mereka jalan menuju Eden.


“Iris, wajahmu pucat. Apa kau baik-baik saja?” Litha bertanya. Tentu saja Litha khawatir melihat wajah Iris yang terlihat pucat. Sangat jarang gadis cantik itu terlihat pucat karena biasanya dia terlihat dingin.


“Maaf, aku hanya melamun...” Iris berbohong. Kemudian dia kembali melepaskan hawa dingin untuk menahan prajurit militer Kekaisaran Rakuza.


“Pertempuran ini sangat buruk. Kenapa makhluk itu hanya mengamati. Saat seperti ini kita harus bersatu, bukan saling membunuh seperti ini!” Nagato menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya. Tangan kanannya memegang pedang semakin erat.


Nagato menyadari hanya orang yang kuat dan memiliki kekuatan yang mampu membuat semua orang berhenti bertempur. Perasaan yang merayapi tubuhnya sama seperti saat dirinya melihat Organisasi Disaster menghancurkan Kerajaan Sihir Azbec. Ini bukanlah sesuatu yang dapat dia hentikan, tetapi pertempuran ini membuatnya merasa semakin tersiksa dengan kenyataan kehidupan yang memilukan.


Nagato terus bergerak bersama Iris dan Litha. Mereka bertiga melangkah bersama mencoba melewati lautan musuh yang menghadang.


“Nagato, Iris, sepertinya Hika dan Tika berada disana...” Litha menunjuk tempat dimana pendekar yang dipimpin oleh Sachie berada. Disana terlihat pendekar dari Air Terjun Kebenaran dan Gunung Menangis sedang mencoba membentuk formasi pengepungan.


Nagato mulai melepaskan tenaga dalam yang lebih besar. Dalam membunuh, Nagato lebih banyak membunub dibandingkan Iris dan Lihta. Sebagai anak yang gagal melindungi Hisui, membuat tangan Iris dan Litha berlumuran darah, Nagato mulai membekukan hatinya, membuang perasaannya yang selalu mencoba mengikuti perbuatan ayahnya.


Beberapa orang yang mengenal Pandu memang berpikir Nagato memiliki wajah yang lebih tampan dari mendiang ayahnya dengan sikapnya yang dingin itu. Tetapi bagaimanapun Nagato dan Pandu tumbuh dalam lingkungan yang berbeda, Nagato tidak pernah mengetahui kakak sepupu dan adik sepupunya. Dia hanya mengetahui semuanya dari cerita.


Pemuda yang tumbuh dengan rasa sakit dan penderitaan itu terus melangkah kakinya. Seberat apapun itu, sesulit apapun itu. Nagato masih terus melangkah kakinya mencari pertanyaan yang menggenang di kepalanya dan belum terjawab.

__ADS_1


“Nagato! Apa kau sedang memikirkan sesuatu?!” Litha berteriak pada Nagato yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Entah itu apa, tetapi Litha merasa khawatir melihat Nagato yang membunuh puluhan prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan prajurit militer Kekaisaran Kinai. Terlihat punggung Nagato yang tampak rapuh berusaha melindungi Litha, mengisyaratkan permohonan maaf karena gagal menjadi seorang kakak yang baik.


“Aku baik-baik saja. Hanya saja kenapa mereka terus berdatangan. Setelah melihat kemampuan kita bertiga dan dikepung dari segala arah, tetapi pasukan dari luar kota dan seluruh yang berada di dalam kota justru melakukan serangan.” Nagato menjawab sambil berdiri disamping Litha. Tangan kanannya mengibaskan pedangnya.


Litha tahu Nagato berbohong, tetapi Litha menyadari tindakan Nagato. Walau keduanya masih memiliki ikatan darah tetapi Litha berbeda dengan Nagato. Gadis manis itu sangat perhatian dan peka akan akan perasaan dan tindakan Nagato. Tidak seperti Nagato yang tidak peka akan perasaan orang-orang disekitarnya, Litha justru peka akan perasaan orang-orang yang dia kenal deengan baik.


“Apa mereka bertindak seperti ini berdasarkan perintah?” Litha mencoba mengamati keadaan disekitarnya. Saat ini Nagato sedang tidak tenang untuk memikirkan sebuah rencana, Litha berpikir ingin membantu Nagato walaupun hanya sedikit. Setidaknya dia ingin tetap menjadi adik sepupu dari Nagato.


“Mereka terus berdatangan. Pendekar yang mengepung pasukan dari Kekaisaran Rakuza dan Kekaisaran Kinai justru terkepung dari dua sisi. Sementara kita, pihak Kekaisaran Kai, terhimpit dari dua arah...” Iris menggumam pelan.


Nagato, Iris dan Litha masih terus bertarung sambil memikirkan cara agar tidak terkepung. Karena serangan dari berbagai arah membuat ketiganya tidak melihat keberadaan Shirayuki bersama pendekar perempuan dari Klan Fuyumi yang sedang bertarung melawan prajurit militer Kekaisaran Rakuza.


Prajurit militer Kekaisaran Kinai sendiri berdatangan tanpa henti menyerang Nagato, Iris dan Litha. Mereka semua tersebar di seluruh penjuru Ibukota Daifuzen. Setelah melihat kemampuan dan serangan dari pendekar yang berasal dari Kekaisaran Kai, prajurit militer Kekaisaran Kinai justru tidak gentar dan merasa takut. Walau terlihat keraguan di wajah mereka, tetapi ketika petinggi Spider, Organisasi Laba-Laba Malam dan Organisasi Delapan Jari memerintahkan untuk kembali menyerang, maka prajurit militer Kekaisaran Kinai kembali bertempur dengan semangat yang berapi-api.


“Aku belum pernah mendengarnya.” Nagato menjawab sambil terus melancarkan serangan pada prajurit militer Kekaisaran Kinai yang datang menyergapnya.


“Sepertinya orang yang kau kalahkan memakan pil itu Nagato. Saat kau melindungi kami...” Litha menyinggung orang-orang dari Kekaisaran Kinai yang sempat dia lihat memakan sebuah pil.


“Pil berwarna merah darah itu...” Nagato mengingat saat B-Town menelan pil berwarna merah darah. Kemudian dia menatap dengan seksama gerakan tubuh serta mata prajurit militer Kekaisaran Kinai. Memang ada aura dan sesuatu yang mencurigakan dari prajurit militer Kekaisaran Kinai.


“Sekali menelan pil itu maka akan semakin kecanduan. Aku tidak tahu secara pasti, tetapi aku bersama Ibu dan Kakak Oichi pernah mencoba mencari keberadaan seseorang. Kemungkinan adik dari ibuku menjadi budak di Kekaisaran Kinai, tetapi kami tidak menemukan apapun disana, bahkan jalur perdagangan manusia sekalipun tidak kami temukan...” Iris justru menceritakan hal yang tidak diketahui oleh Nagato dan Litha.

__ADS_1


“Adik? Apa Bibi Shirayuki mempunyai dua adik?” Nagato dan Litha sama-sama membatin ketika mendengar perkataan Iris.


“Saat ini kita cari keberadaan Bibi Shirayuki. Kalian berdua perhatian mereka dengan baik, bukankah mereka seperti berusaha menguras stamina kita. Ini bukan hal yang baik untuk kita.” Litha berpendapat.


“Saat ini aku justru dalam keadaan terbaik. Aura ini sangat membantuku..." Nagato tersenyum mendengar pendapat Litha. Kemudian dia melepaskan aura tubuhnya hingga kimono putihnya yang bersimbah darah terlihat seperti membentuk zirah berwarna hitam pekat yang tak lain adalah aura Roh Dewa Kematian, Shinigami.


“Ibuku sepertinya juga sedang mencari kita. Aku samar-samar bisa merasakan hawa dingin miliknya...” Iris berkata pada Nagato dan Litha. Kemudian Iris menunjuk ke arah tempat Shirayuki berada.


“Baiklah, kalian berdua jangan jauh-jauh dariku dan urus bagian belakang yang mencoba mengejar kita. Aku akan membuka jalan dengan kekuatan ini...” Nagato tersenyum tipis ketika merasakan kebencian yang merayapi tubuhnya bercampur dengan kehangatan, “Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi...”


Iris dan Litha terlihat ragu dengan perkataan Nagato. Pemuda yang sedang berada di depan mereka dipenuhi aura hitam pekat, keduanya sama-sama takut Nagato akan semakin larut dalam kebencian.


Tanpa menunggu jawaban Iris dan Litha yang masih melepaskan aura tubuhnya untuk mengintimidasi prajurit militer Kekaisaran Kinai, Nagato langsung bergerak dengan kecepatan tinggi menyerang prajurit militer Kekaisaran Kinai yang adai didepannya.


Nagato tersenyum tipis memandang lautan musuh dan membunuh prajurit militer Kekaisaran Kinai yang menghadang jalannya. Detak jantungnya membuatnya merasa nyeri setiap pedangnya membunuh prajurit militer Kekaisaran Kinai. Namun ada perasaan senang tersendiri, Nagato merasa di alam bawah sadarnya, Roh Dewa Kematian, Shinigami, sedang tertawa puas karena dirinya menggunakan kekuatannya walau belum sepenuhnya berada di Kutukan Kuno Dewa Kematian Tingkat Satu.


Di belakang Nagato, Iris dan Litha terdapat cukup banyak prajurit militer Kekaisaran Kinai dan prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang sedang bertempur.


Nagato melihat Iris dan Litha mengatasi musuh-musuh yang ada di belakang. Di sisi lain, didepannya masih ada ratusan prajurit militer Kekaisaran Kinai yang menghadang bahkan mungkin ribuan yang sedang bertempur dengan pendekar dari Kekaisaran Kai sudah terlihat.


Nagato bergerak secepat mungkin, menghabisi setiap prajurit militer Kekaisaran Kinai yang berada di dalam jangkauan serangannya. Kekuatan dari Ruang Hampa berulang kali dia gunakan. Hingga akhirnya Nagato dapat melihat perempuan berambut putih yang terlihat anggun di tengah pertempuran.

__ADS_1


“Nagato!” Shirayuki menoleh melihat perubahan pada Nagato.


__ADS_2