Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 177 - Penghancur! Kakugo Dari Perguruan Api Abadi!


__ADS_3

Pertandingan yang sekarang tersaji di lapangan Arena Lingkaran Harimau membuat semua orang tercengang. Murid jenius dari Perguruan Api Abadi itu dapat mengalahkan lawannya dengan mudah, hari ini dia akan melakoni pertandingan sebanyak tiga kali mengingat kemarin dirinya belum bertanding.


Pertandingan pertamanya melawan Dekaku dari Klan Agata cukup membuat penonton tercengang. Baik Kakugo maupun Dekaku sama-sama menggunakan pedang. Hanya saja Kakugo memanipulasi aura tubuhnya dan elemen apinya menjadi peledak. Pedang besar yang menjadi senjata utamanya itu membuat Dekaku kalah setelah keduanya bertukar puluhan jurus.


Luka yang di alami Dekaku tidak parah tetapi Dekaku terkapar di tanah dengan badan yang bersimbah darah. Walau tidak sampai menjadi luka dalam atau berakibat fatal, Kakugo dengan sengaja membuat lawannya memuntahkan darah yang banyak keluar dari mulutnya.


Ekspresi wajah Kakugo terlihat sangat menikmati melihat lawannya yang terkapar dan bersimbah darah. Melihat itu, Mujin memberi peringatan pada Kakugo dan menghentikan pertandingan.


Kakugo masih menunggu giliran untuk bertanding. Dua pertandingan yang masih dia lakoni membuat beberapa nyali pendekar muda menciut. Sementara itu Nagato mengkhawatirkan teman-temannya yang belum bertanding. Nagato berharap jika Iris, Litha, Tika, Hika, Chiaki, Chaika dan Hisui tidak bertemu dengan Kakugo.


Walaupun selalu bersikap dingin, Nagato paling tidak suka melihat seorang lelaki menyiksa perempuan. Untuk Ninjin sendiri, Nagato cukup yakin dengan kemampuan temannya itu.


Beberapa pertandingan telah terlewati, kini Nagato melihat perbedaan jelas yang terlihat antara Kakugo dan Ninjin. Pertarungan antara Kakugo dari Perguruan Api Abadi melawan Ninjin dari Klan Kitakaze sudah terlihat jelas hasilnya.


Nagato merapatkan giginya melihat Ninjin yang terus-menerus terdesak, setiap tebasan yang dilesatkan oleh Kakugo berhasil ditangkis oleh Ninjin. Tetapi setiap Ninjin menangkisnya, maka akan terjadi ledakan dari pedang besar Kakugo.


Kakugo sangat berbakat bahkan akan menjadi lawan yang sangat merepotkan jika bertemu Nagato. Baru kali ini Nagato melihat anak seusianya yang memiliki nafsu membunuh yang besar, keberdaan Kakugo cukup menarik perhatian Nagato.


"Ninjin! Kau tidak boleh kalah! Bukankah kau ingin bertarung melawanku?!" Nagato membatin sambil menahan dirinya untuk tetap tenang. Pertandingan yang dia lihat cukup menguras kesabarannya, bagaimanapun Ninjin adalah teman laki-laki pertama Nagato.


Mungkin sampai sekarang Nagato hanya memiliki teman-teman perempuan, dan Ninjin adalah teman Nagato walau keduanya jarang bertemu, namun tujuh tahun lalu Nagato sudah menganggap Ninjin sebagai seorang teman.


Serangan yang terus dilesatkan Kakugo sangat membahayakan lawannya, Nagato sendiri bisa melihat jika Kakugo berniat melukai Ninjin dengan fatal.


Banyak yang menyadari kesadisan Kakugo tetapi bagaimanapun Kakugo hanya mengintimidasi, jika pemuda itu lolos ke babak 32 besar kemungkinan dia tidak segan-segan membunuh atau melukai lawannya hingga lumpuh dan membuat lawannya tidak bisa menjadi seorang pendekar lagi.


Suara ledakan di lapangan membuat semua orang menatap pertandingan itu dengan tajam. Terlihat Kakugo menebaskan pedangnya ke tanah dan meledakkan tanah-tanah yang terkena tebasan pedangnya, sedangkan Ninjin terus menghindari tebasan pedang Kakugo setelah menyadari kekuatan lawannya itu.


Tebasan angin maupun pusaran angin yang dilancarkan Ninjin dapat dihindari Kakugo dengan mudah. Ninjin menggertakkan giginya melihat kekuatan Kakugo yang jauh diatasnya walau musuhnya itu lebih muda darinya.


"Menyerahlah!" Tiba-tiba Kakugo berhenti menyerang Ninjin. Terlihat wajahnya memandang Ninjin dengan tatapan mata yang merendahkan.


"Aku tidak ingin melihat perjuanganmu yang sia-sia! Tujuanku hanya bertarung di babak 32 besar agar aku bisa melihat lebih banyak darah dan darah!" Kakugo tertawa sambil menancapkan pedangnya di tanah.


Ninjin tersenyum tipis mendengar perkataan Kakugo yang merendahkan dirinya. Lawannya itu bertarung hanya untuk kepuasan batinnya, terlihat jelas jika Kakugo hanya suka menyiksa.


Ninjin melihat sekujur tubuh Kakugo yang mempunyai luka lebam bahkan bekas-bekas sayatan juga terpampang jelas di badannya. Kuku kaki Kakugo sudah terlepas semua. Melihat itu, Ninjin justru merasa bersimpati karena dia merasa lawannya itu mempunyai masalah yang disembunyikan.


"Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Apa dia sudah terbiasa disiksa sampai mentalnya berubah menjadi seperti ini!" Ninjin merapatkan giginya dan menguatkan hatinya, membuang rasa simpatinya jauh-jauh. Jika dia lengah sedikit saja maka itu akan menjadi kesalahan terbesarnya.


"Tidak ada jawaban! Kubunuh kau!" Kakugo bergerak melesat cepat ke arah Ninjin sambil mengayunkan pedangnya. Ledakan demi ledakan terdengar di tengah lapangan.


Serangan Kakugo sangat brutal dan tidak kenal arah, apa saja dia ledakkan dengan tebasan pedangnya. Sekarang Ninjin benar-benar telah terdesak.


"Hembusan Angin Dalam Sayatan!"


Ninjin berusaha membalas serangan Kakugo. Tebasan pedangnya mampu membuat Kakugo mundur beberapa langkah ke belakang. Namun tidak butuh waktu lama bagi Kakugo kembali menyerang Ninjin dan membuat lawannya itu kembali terdesak.


Tebasan pedang Kakugo sangat dalam dan membuat Ninjin memuntahkan darah dari mulutnya karena menahan tebasan pedang Kakugo tepat di depan dadanya. Ledakan itu terjadi ketika Ninjin menangkis tebasan pedang Kakugo tersebut.


"Argh!" Ninjin meringis kesakitan dan memuntahkan darah dalam jumlah yang cukup banyak. Mujin langsung menghentikan pertandingan tepat setelah tangan Ninjin melepas pedang kesayangannya dan tubuhnya ambruk ke tanah.


"Sial aku kalah! Padahal aku sudah berjanji pada Nagato!" Ninjin membatin ketika melihat wajah Kakugo yang tersenyum lebar dan hendak menebaskan pedangnya kembali padanya.


Semua orang terkejut melihat Kakugo hendak menebas tubuh Ninjin.


"Berhenti! Hei, kau dengan tidak!" Mujin melepaskan aura pembunuh yang berwarna hitam pekat ke arah Kakugo.


Nagato yang sudah sanagt geram dan sekarang dia sudah dalam posisi berdiri, sedangkan tangannya memegang pedangnya tetapi sentuhan lembut gadis cantik membuat Nagato sedikit reda emosinya.


"Tenangkan dirimu Naga!" Iris menarik tangan Nagato hingga pemuda itu duduk kembali ke bangku penonton.

__ADS_1


"Siapapun yang berani melukai temanku, tidak akan pernah kumaafkan! Lepaskan aku Iris!" Nagato menatap Iris yang terlihat sangat tenang.


"Lihat!" Iris memberi isyarat dengan matanya. Nagato melihat ke bawah lapangan dan terjadi hal yang mengejutkan.


Terlihat di sana Mujin yang telah memegang tangan Kakugo dengan erat.


"Ingat peraturannya, bocah!" Mujin melepaskan aura membunuhnya lebih besar.


"Jika kau ingin bertarung sampai mati tunggu babak 32 besar! Kendalikan emosimu anak muda tengik!" Mujin melempar tangan Kakugo hingga pemuda itu termundur ke belakang.


"Nagato, aku tahu apa yang kamu rasakan tapi tahan emosimu!" Emi memberi teguran pada Nagato.


"Maaf, aku tidak peduli jika aku didiskualifikasi. Jika dia berniat melukai salah satu temanku maka itu urusannya sudah lain!" Nagato membalas sengit teguran Emi.


"Bukan hanya Ninjin saja tetapi jika tadi terjadi pada kalian, Iris, Litha, Tika, Hika, Chiaki, Chaika dan Hisui yang manja itu. Aku tidak akan membiarkannya begitu saja!" Nagato meremas rambutnya dan menyandarkan tubuhnya, setelah itu dia menghela napas panjang.


"Aku bisa mengerti jika Nagato takut kehilangan seseorang lagi tetapi entah kenapa aku merasakan firasat buruk tentang hal ini." Emi membatin melihat Nagato yang sudah mulai reda emosinya.


"Terimakasih Nagato kau telah berkata seperti itu," ujar Tika menanggapi perkataan Nagato sambil tersenyum. Kebanyakan perempuan pasti akan mempunyai perasaan yang mendalam pada Nagato tetapi bagi Tika menjadi teman Nagato saja sudah cukup.


Tika sedari kecil tujuannya hanya ingin menikah dengan orang yang dia cintai, tetapi sebenarnya Tika hanya ingin melihat sahabat dan saudari kembarnya itu bahagia. Sampai saat ini Tika belum pernah jatuh cinta pada anak seusianya, namun dia sempat jatuh cinta pada Nagato saat pandangan pertama tetapi semua itu tidak berlangsung lama setelah melihat perubahan Iris yang bertemu dengan Nagato di Kota Yasai.


Tika masih ingat ketika Nagato dan Iris bertarung bersama, perubahan Iris sangat terlihat karena dia mengkhawatirkan Nagato dan terus-menerus menunggu pemuda itu bangun dari tidur panjangnya. Bahkan setelah terbangun, Tika bisa melihat perubahan raut wajah Iris yang dingin menjadi melunak setelah nyawanya diselamatkan oleh Nagato.


"Kau terlalu cepat marah Nagato!" Iris menegur Nagato sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


"Kau terlalu cepat cemburu," balas Nagato dengan nada yang cuek.


"Naga!" Iris mendesis sambil mencubit lengan Nagato.


"Terimakasih telah berusaha menenangkanku," bisik Nagato lirih sambil memegang tangan Iris. Kemudian tangannya menyentuh jari manis Iris. Tidak berapa lama Nagato tertawa kecil melihat wajah Iris yang malu-malu. Perubahan sikap Iris membuatnya ingin menggodanya lebih jauh tetapi tatapan dari Hiragi dan Satha membuat Nagato sedikit merasa terganggu.


Nagato sendiri bisa mengerti kenapa banyak laki-laki yang tidak suka padanya. Tetapi dia hanya mempunyai teman-teman perempuannya yang selalu ada buatnya, jadi dia tidak terlalu peduli jika ada anak seusianya yang mengejek atau menghina dirinya di belakang, asalkan mereka tidak menhina teman-temannya.


"Naga, bagaimana jika aku bertarung melawan Hisui? Apa kau tertarik dengan hal itu?" Nagato terdiam sesaat mendengar Iris bertanya padanya.


"Entahlah..." Nagato menjawab singkat pertanyaan Iris.


"Aku serius." Iris berkata pelan dengan pandangan matanya yang mengarah ke arah lapangan. Dia tidak ingin banyak orang terlalu memperhatikan kedekatannya dengan Nagato.


"Aku tertarik melihat kalian bertarung. Yang satu gadis dingin seperti es dan yang satunya gadis lucu yang sangat manja," jawab Nagato dengan sedikit bercanda.


"Siapa yang kau bilang gadis dingin seperti es? Apa itu aku?" Iris terlihat kesal mendengar perkataan Nagato.


"Iya, itu kamu." Nagato masih tidak melirik Iris.


Mereka berdua berbicara pelan di tengah-tengah riuhnya penonton yang sedang melihat pertandingan.


"Lelaki mesum yang cari kesempatan saat aku tertidur. Hmph!" Iris memalingkan wajahnya ke samping dengan sombongnya.


Nagato diam tidak menanggapi perkataan Iris. Pandangan matanya tertuju pada pertarungan di bawah sana antara Sasae dari Air Terjun Kebenaran melawan Atarin dari Pedang Naga Sakti.


Permainan pedang Sasae yang gemulai memukau perhatian penonton. Gadis berambut biru muda itu memenangkan pertandingan setelah bertukar serangan selama beberapa menit dan bertukar lima jurus dengan Atarin.


"Sepertinya Nagato mudah mengontrol emosinya setiap berada di dekat Iris." Litha membatin lirih dalam relung hatinya. Dia sudah terbiasa melihat Nagato yang selalu emosi, bahkan ketika Nagato emosi, pemuda itu sampai bertarung dengan Kakek Hyogoro walau hanya masalah sepele.


Litha mengingat dari 222 pertarungan antara Nagato melawan Kakek Hyogoro tidak ada satupun yang dimenangkan Nagato. Mengingat itu, membuat gadis manis yang memakai jepit rambut bermotif bunga mawar biru itu tersenyum kecil.


Litha sadar jika dirinya hanya dianggap Nagato sebagai teman seperguruannya saja. Bahkan kebaikan dan kepedulian Nagato pada dirinya selama ini, Litha menganggap semua itu karena Nagato menganggap dirinya seperti seorang adik perempuan yang harus dijaga.


"Kenapa Litha?" Shirayuki melirik Litha yang tersenyum kecil. Emi, Ichiba, Oichi, Tika, Hika, Nagato dan Iris menoleh melihat Litha.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Litha hanya bersyukur bisa dianggap menjadi bagian dari Keluarga Fuyumi." Litha membalas perkataan Shirayuki sambil menyeka air matanya.


"Dasar Litha, Bibi Shirayuki sudah anggap Litha sebagai anak Bibi sendiri." Shirayuki merangkul Litha dan menyandarkan kepala gadis manis itu ke bahunya.


"Bibi Shirayuki inginnya dipanggil Ibu sama Litha. Tapi kamu malu-malu," ujar Shirayuki sambil memencet hidung Litha dengan lembut.


Litha tertawa pelan menatap wajah Shirayuki.


"Terimakasih Ibu." Litha tersenyum lembut ke arah Shirayuki.


Tubuh Shirayuki bergetar, wajahnya memerah melihat senyuman Litha yang sangat manis dan menggemaskan.


"Mulai hari ini Nagato sama Litha harus panggil Bibi Shirayuki Ibu. Kalian berdua sudah Bibi anggap sama seperti Iris." Shirayuki mengelus rambut Litha dengan lembut.


"Aku tidak keberatan. Lagipula aku menganggap Litha sebagai saudari kandungku sendiri karena Iris ingin seperti Hika sama Tika, Bu." Iris tersenyum pada Litha dan Shirayuki.


"Iris..." Litha menatap Iris berkaca-kaca. Hari ini dia bahagia sekali mendengar perkataan Iris dan Shirayuki.


"Aku?" Nagato merah padam wajahnya karena malu. Jujur jika dia berkumpul bersama teman-temannya dari Klan Fuyumi suasana seperti sekarang ini sering terjadi.


"Nagato kamu setuju, kan?" Shirayuki tersenyum ke arah Nagato.


Ichiba dan Oichi tertawa melihat Shirayuki yang terlihat sangat memanjakan Iris, Litha dan Nagato.


Nagato hanya menganggukkan kepalanya pelan. Melihat itu, Iris menatap dingin Nagato.


"Hmph! Dasar pemalu!" Iris tersenyum tipis ke arah Nagato. Kemudian tangannya mencubit tangan Nagato.


Emi, Shirayuki, Ichiba, Oichi, Tika, Hika dan Litha tertawa karena mereka bisa menebak ekspresi wajah Nagato yang malu.


Nagato memegang tangan Iris dan menahannya beberapa detik sebelum melepasnya.


"Aku pindah di samping Nenek Emi. Setiap kita berdua berkumpul bersama orang lain, kita selalu seperti ini." Nagato berdiri dan berpindah di samping Emi. Dia sendiri sulit percaya jika berada di dekat Iris pasti mereka berdua akan terlihat sangat dekat.


Iris malu setengah mati karena dirinya berani mencari perhatian Nagato di kerumunan banyak orang. Kemudian dia menatap Tika yang sedang melihat dirinya.


"Tika. Apa aku terlihat seperti-" belum selesai Iris berbicara, Tika memotong perkataan sahabatnya itu.


"Iris. Kalian berdua itu terlalu mencolok kalau duduk berdekatan. Aku juga tidak menyangka melihat sahabatku yang dingin ini berani memegang tangan Nagato." Tika menutup mulutnya menahan tawa melihat ekspresi malu Iris.


"Aku berharap kalian berdua sampai dewasa tetap seperti ini. Aku dengar cerita dari ibuku, kalau kita sudah dewasa maka kita akan lebih malu dan menjauh. Katanya sih perasaan manusia itu mudah berubah. Tapi kita masih kecil, jadi wajar aja sih kalau kalian sangat dekat. Yang penting Iris jangan sampai kehilangan ciuman pertamamu sebelum berumur tujuh belas tahun." Tika mengedipkan matanya sambil tersenyum ke arah Iris.


"Ciuman?" Iris membatin mengingat dirinya yang pernah mencium bibir Nagato saat berada di Pulau Samui walau hanya sebatas mengecup selama beberapa detik tetapi itu adalah pengalaman pertamanya.


Wajah Iris memerah, dia berusaha untuk terlihat seperti biasa. Dia juga mengingat kemarin malam dirinya di cium Nagato walau hanya sebatas mengecup satu detik.


Iris juga sadar tentang perasaannya, dia baru saja mengalaminya. Entah kenapa setiap berada di dekat Nagato, Iris selalu merasa ingin lebih dekat lagi dengan Nagato.


"Kenapa bisa aku menjadi seperti ini? Semua ini pasti karena dia?" Iris membatin sambil menghela napas panjang.


Mendengar suara riuh penonton perlahan Iris membuang perasaan hangatnya jauh-jauh, kini dia harus fokus pada pertandingan terlebih dahulu.


___


**Anggap aja cinta monyet masa kecil antara Nagato sama Iris. Kalau udah dewasa nanti dark pokoknya. Nagato udah gak bisa tersenyum seperti sekarang ini.


You know lah cinta monyet gimana sih wkwkwk. Pengin ngetiknya yang lebih greget tapi mampunya cuma begitu ya maaf aja kalau tidak sesuai selera.


___


IG : pena_bulu_merah**

__ADS_1


__ADS_2