Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 144 - Api Yang Membentuk Lambang Hati


__ADS_3

Nagato sudah memakai pakaian terbaiknya dan jaket yang telah disiapkan Shirayuki di dalam kamarnya, setelah siap untuk bertemu dengan Iris, dengan cepat Nagato keluar Asrama Salju Rembulan.


Detak jantungnya berdetak cepat, malam ini dirinya akan bertemu kembali dengan Iris. Perlahan kakinya menginjak salju yang menumpuk di luar Asrama Salju Rembulan.


Litha, Hika dan Tika melihat Nagato yang keluar dengan pakaian yang rapi, ketampanan Nagato malam ini lebih terlihat dari hari - hari biasanya.


"Litha. Apa kamu tidak cemburu?" tanya Hika pada Litha.


Tika mencubit Hika karena tidak mengerti keadaan dan suasana yang dirasakan Litha.


"Aku memang menyukai Nagato," ucapan Litha tertahan, dan matanya terus menatap Nagato yang kian menjauh meninggalkan Asrama Salju Rembulan, "Tapi aku belum pernah melihat Nagato seperti ini, melihat dia bahagia saja, bagiku itu sudah cukup." Litha meneruskan ucapannya.


Hika dan Tika kagum dengan perkataan Litha. Mata mereka bertiga melihat Nagato yang sudah tidak terlihat lagi dari dalam jendela.


Sementara itu Nagato yang baru sampai di depan Rumah Bunga Salju terdiam dan mematung tanpa bergerak sedikitpun, Nagato berharap dirinya salah mendengar tentang pembicaraan perjodohan Iris dan Hiragi.


Kebahagiaan yang baru dia rasakan perlahan langsung hancur berkeping - keping dalam sekejap, perasaan bahagia yang dia rasakan kini lenyap tak bersisa. Kedua tangannya mengepal, Nagato menggigit bibirnya keras - keras agar tidak bersuara ataupun menunjukkan emosi apapun.


Waktu di sekitar Nagato terasa begitu lama, satu detik bagi Nagato sekarang terasa berjam - jam. Kedinginan salju dan angin malam semakin terasa dengan kesedihannya, patah hati yang pertama dirasakan Nagato adalah perasaan yang membuat hatinya begitu teriris tapi tak berdarah. Tangan kanannya memegang dada kirinya, Nagato mencoba untuk menikmati suasana basi yang dia rasakan saat ini. Suasana yang berubah dalam sekejap. Dalam sekejap semua berubah menjadi dingin dan gelap bagi Nagato.


Nagato mencoba berdiri tegak walau tubuhnya tertatih, dan dia terus mendengarkan sesuatu yang tidak ingin dia dengar dari luar Rumah Bunga Salju. Nagato hanya terdiam, namun seluruh tubuhnya dalam sekejap ingin memberontak. Nagato mengigit bibirnya dengan keras. Nagato memastikan bahwa dirinya baik - baik saja.


Malam terus berlalu menyisakan luka di hatinya, emosi yang tertahan membuatnya ingin berteriak dengan keras. Rasa sakit yang baru pertama kali dia rasakan ini, membuatnya tersadar jika dirinya sedang mengalami patah hati yang mendalam.


Nagato berdiri selama dua jam di depan Rumah Bunga Salju. Waktu terasa berjalan dengan lambat di sekitar Nagato. Dalam satu tarikan napasnya yang dalam, Nagato memukul kayu yang ada di depan Rumah Bunga Salju sebelum pergi.


Setelah mendengar pembicaraan antara Keluarga Kaisar Hizen dan Keluarga Fuyumi selesai. Nagato pergi ke sebuah tempat yang sepi untuk menenangkan dirinya, sinar tembulan di tengah malam membuatnya semakin larut dalam kesedihan. Air mata tidak keluar dari kedua bola mata Nagato. Tetapi rasa sakit di seluruh tubuhnya, membuat Nagato merasa begitu lemas dan tidak mempunyai tenaga sedikitpun.


Setelah tenang, Nagato mencoba untuk tetap seperti biasanya dan terlihat baik - baik saja. Nagato berlari menuju ke tempat yang dijanjikan dengan Iris, waktu hampir menunjukkan tengah malam. Nagato duduk di kursi yang kosong, suasana yang begitu sepi dan angin malam yang tenang mulai menjadi teman terbaiknya saat ini.

__ADS_1


Nagato hanya ditemani oleh butiran salju yang menerpa wajahnya, setelah melihat Iris keluar dari Rumah Bunga Salju. Nagato pergi menuju Taman Fuyumi, dia berjalan pelan, disana sudah ada Iris yang baru sampai duduk di bangku kosong taman, Nagato menghampiri Iris yang sedang sendirian.


Melihat Nagato yang berada di depannya, gadis itu memegang erat baju nagato dan menangis. Nagato mencoba bersikap seperti biasa, setelah itu dia duduk disebelah Iris sambil menahan kesedihannya.


Iris menawarkan teh panas dan kue coklat yang dibuatnya, Nagato memakan kue coklat yang dibuat Iris. Rasa kue yang dibuat dengan seluruh perasaan Iris sangat terasa di setiap kunyahan Nagato. Tetapi perasaan hancurnya membuat Nagato tidak merasakan kelembutan dan rasa manis dari kue buatan Iris.


Iris menjelaskan pada Nagato bahwa selama setahun ini dia berlatih memasak jika ada waktu luang, Nagato mengeluarkan air mata sedikit dan menghapusnya.


"Ayo pergi," ajak Nagato berdiri tanpa memegang tangan Iris.


"Kita pergi sebelum hari semakin malam..." tambah Nagato sambil meniupkan hembusan mulutnya.


Iris berdiri dan berjalan bersama Nagato menuju danau kecil yang menjadi tempat kesukaan Iris. Malam hari yang begitu dingin membuat Iris kedinginan, melihat itu Nagato melepas jaketnya dan memakaikannnya ke tubuh Iris.


"Naga..." gumam Iris melihat Nagato yang sadar jika dirinya kedinginan.


"Terimakasih..." Iris juga memalingkan wajahnya ke samping agar Nagato tidak melihat matanya yang berkaca - kaca.


Sesampainya di danau kecil, Nagato dan Iris disambut dengan kunang - kunang yang bercahaya memenuhi hamparan tanah yang berada di tengah - tengah danau kecil tersebut.


Hal indah yang mereka berdua lihat kini terasa biasa saja, perasaan sunyi, sepi dan hampa adalah perasaan yang menggambarkan perasaan Nagato dan Iris sekarang.


Nagato tersenyum tipis dan memejamkan matanya, hembusan angin malam yang menerpa tubuhnya membuat Nagato sadar. Selama ini dia hanya mengejar sesuatu yang tidak dapat dia raih, dan sekarang sesuatu itu adalah Iris yang berdiri di sampingnya.


Iris memegang tangan Nagato dan menggenggamnya dengan erat, hatinya hancur saat ini. Sesuatu yang menopang gadis muda itu telah jatuh tanpa suara dan hancur berkeping - keping.


"Naga. Bagaimana? Apa kau menyukainya?" tanya Iris dengan suara yang bergetar.


"Aku menyukainya." jawab Nagato singkat.

__ADS_1


Nagato melirik Iris dan mengusap air mata yang menetes keluar dari kedua bola mata indah gadis yang dia cintai itu. Walau saat ini perasaannya hancur, setidaknya Nagato ingin melihat senyuman Iris malam ini.


Sentuhan lembut tangan Nagato di wajahnya membuat Iris membenamkan wajahnya di dada Nagato. Kedua tangannya mendekap tubuh Nagato dengan erat.


"Naga ... aku mencintaimu." Iris menangis histeris di pelukan Nagato.


Saat ini Nagato hanya mencoba untuk tidak menangis, tetapi mendengar Iris yang menangis di pelukannya, perlahan air matanya jatuh menyentuh rambut halus Iris.


"Iris..." gumam Nagato membalas pelukan Iris dengan erat.


Butiran salju turun jatuh menempel di tubuh mereka berdua, kehangatan tidak lagi mereka rasakan.


Nagato melepas pelukan Iris dan mencoba menenangkan Iris dengan satu kecupan di kening gadis itu. Kecupan Nagato membuat Iris berhenti menangis.


Iris menatap Nagato yang lebih tinggi darinya sedikit, kedua matanya bertemu mata Nagato yang menatap dirinya tajam. Perlahan keduanya mendekat, kecupan bibir Iris di bibir Nagato membuatnya terkejut. Air mata kembali menetes membasahi wajah Iris.


Nagato memejamkan matanya dan membiarkan perasaan yang menghangatkan jiwanya masuk kedalam seluruh tubuhnya. Jiwa dan kehangatan yang diberikan Iris padanya membuat Nagato kembali tenang walau rasa sakit masih tersisa di hatinya.


Ketika keduanya membuka mata, Iris menundukkan wajahnya dan memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan. Nagato memeluk tubuh Iris dan mengeluarkan aura tubuhnya menciptakan api yang membentuk lambang hati, sedangkan Nagato dan Iris berada di tengah - tengahnya.


Kunang - kunang perlahan terbang menghampiri kedua insan manusia yang sedang bersama itu. Perasaan Iris saat ini begitu bahagia karena merasakan pelukan hangat Nagato.


Detak jantung Nagato yang memainkan melodi kesedihan yang tak berujung, membuat Iris semakin jatuh dalam kesedihan yang mendalam dan tidak berapa lama dia kembali menangis dipelukan Nagato.


"Maaf..." gumam Iris membalas pelukan Nagato.


___


IG : pena_bulu_merah

__ADS_1


__ADS_2