
Serlin yang melihat mental Nagato goyah segera memanfaatkan hal itu, “Aku tidak menyesal telah membunuh Kuina ataupun Azai. Aku yang mendorong mereka dari tebing. Yang aku sesali hanya satu, karena kau tidak bisa hidup tanpa mereka ataupun kedua orang tuamu, Nagato. Seharusnya kau dapat hidup dengan lapang dada, karena disini ada aku.”
“Hah?” Nagato terkejut mendengar perkataan Serlin. Tanpa sadar tangannya menarik pedangnya karena dia merasakan Serlin melepaskan aura pembunuh pada dirinya.
“Nagato, apakah kau akan memaafkan Kak Serlin ini?” Serlin berjalan semakin dekat dengan Nagato. Jarak mereka semakin singkat sebelum akhirnya Serlin berlari sekencang mungkin dan membiarkan pedang Nagato menembus dadanya.
Nagato terkejut karena melihat tubuh Serlin dipenuhi tanda hitam yang sama seperti Kakugo ataupun Himuro.
“Nagato, terimakasih karena telah membebaskanku dari neraka ini...” Tanpa Nagato ketahui, Serlin telah menghembuskan napas terakhirnya dan mati ditangannya yang memegang Pedang Kusanagi.
Langit mendung, secara perlahan hujan membasahi Hutan Cakrawyuha yang tenang. Nagato memeluk tubuh Serlin yang terkulai layu tak bernyawa.
Untuk pertama kalinya Nagato membunuh seorang perempuan, melanggar sumpahnya. Walau Serlin sengaja berlari ke arah pedangnya, tetapi Nagato tetap menyalahkan dirinya yang tidak sempat menyadari makna dari kata-kata Serlin.
“Pasti sangat menyakitkan hidupmu selama ini, Kak Serlin...” Nagato menatap secarik surat yang ditulis Serlin, kisah pilu hidup seorang perempuan yang hidup di dalam tubuh Serlin.
Nagato mengetahui alasan mengapa Serlin tidak ada saat penyerangan di Ibukota Daifuzen dan alasan kematian Merlin.
Hati Nagato sekarang terasa mati saat mengetahui bahwa orang yang telah membocorkan semua informasi tentang keluarganya adalah murid ayahnya. Baginya sekarang kenyataan menyakitkan.
Nagato menguburkan mayat Serlin di Hutan Cakrawyuha, disamping sebuah batu tempat Azai, Kuina dan Serlin berlatih dibawah arahan Kakek Hyogoro.
“Kak Serlin, bahkan setelah kematianmu. Aku tidak bisa memaafkanmu, tetapi aku tidak bisa membencimu. Hanya satu hal yang aku tahu, aku harus mengakhiri semua ini. Mengakhiri kebencian ini...” Selesai memberi penghormatan terakhir pada Serlin. Nagato mengambil pedang peninggalan ayahnya.
Pedang Raiden yang merupakan warisan ayahnya akan Nagato gunakan. Sebagai seorang keturunan Kagutsuchi yang terakhir, Nagato mulai menapaki jalan berlumuran darah.
__ADS_1
Satu hal yang Nagato tidak diketahui adalah Pedang Raiden yang sekarang dididami oleh Roh Dewa Petir, peninggalan terakhir Sarah sebelum kematiannya.
Nagato membawa Pedang Raiden yang tersarung rapi di pinggangnya sebelum menyadari jika dirinya larut dalam perasaanya, dan berakhir di alam bawah sadarnya bertemu Roh Dewa Petir.
“Sudah berapa lama kita tidak berjumpa? Terakhir kali kita berbicara saat aku memberikan arahan padamu di kota yang terbakar itu.” Mata Nagato melebar melihat sekumpulan petir membentuk naga yang berbicara padanya.
Nagato membenci makhluk yang ada didepannya sehingga dengan segera dia menarik pedangnya, namun tubuh Roh Dewa Petir tidak dapat dia belah ataupun bunuh.
“Sesuai janjiku aku akan membantumu. Berkat perjuangan orang tuamu, aku dapat mendiami pedang ini. Tetapi kau harus tahu, aku melakukan ini karena Sarah. Ibumu, dia sangat menyayangimu. Aku harap kau dapat mempelajari kekuatan ini dan mengasahnya.” Tanpa aba-aba, Roh Dewa Petir masuk ke dalam tubuh Nagato membuat pemuda itu meronta kesakitan.
Nagato baru berhenti berteriak setelah melihat hampir sepuluh lapisan hutan tersambar kilatan petir. Pemandangan ini membuat Nagato terkejut, dia melihat teman-temannya memegangi tubuhnya yang kebingungan.
“Siapa yang melakukan ini?” Nagato menggumam pelan saat Hiragi memegangi tangannya.
Namun setelah masuk ke dalam Hutan Cakrawyuha, Hiragi dan yang lainnya dikejutkan dengan tubuh Nagato yang diselubungi kumpulan petir.
“Nagato, apakah kau baik-baik saja? Aku rasa ini semua perbuatanmu...” Hayabusa menatap sekelilingnya dan merasakan jika Serlin benar-benar telah tiada. Hayabusa berjalan mendekati makam didekat batu dan memberikan penghormatan kepada Serlin.
“Naniki...” Nekoya merasa Nagato sedang merasa tertekan sehingga manusia kucing tidak berkata apapun selain menyebut nama Nagato.
Disisi lain Sonjo dan Panda mengamati keadaan disekitar mereka. Bagaimanapun petir yang mereka lihat sangat mengerikan.
“Hayabusa, di hutan ini tidak ada siapapun selain kita. Aku sudah memastikannya.” Ucap Kashima yang baru saja datang mengawasi keadaan disekitar Hutan Cakrawyuha.
“Kita bawa Nagato dan bicarakan ini di tempat lain...” Hayabusa segera memberikan arahan pada teman-temannya untuk meninggalkan Hutan Cakrawyuha.
__ADS_1
Hayabusa menuntun semuanya menuju tempat yang paling dekat dengan Lembah Rafinha. Dalam perjalanan Nagato sudah dapat memulihkan kondisinya yang sempat syok.
Saat Nagato tertidur semua teman-temannya membicarakannya. Bagaimanapun mereka mengetahui ambisi Nagato yang bisa dibilang dendam untuk membalaskan kematian orang tuanya.
“Bukankah dia ingin mengalahkan Magma? Tetapi lihat, Nagato yang sekarang bahkan bisa kita bunuh tanpa perlawanan...” Sonjo menggumam cukup keras hingga membuat Kashima memukul kepala pemuda itu.
“Apa kau berniat membunuhnya?! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu, karena bagaimanapun aku ingin melihat sendiri Nagato membebaskan Kekaisaran Kinai!” Kashima memiliki pendapat sendiri tentang Nagato.
“Kashima, apa kau hanya memanfaatkan kebencian Nagato? Aku bergabung dengan Nagato karena tertarik dengan jalan yang ingin diambil Nagato.” Sonjo memegang kepalanya sambil menjelaskan keinginannya untuk membuktikan perkataannya pada ayahnya bahwa pahlawan itu benar-benar ada.
Hanya Hayabusa dan Hiragi yang diam. Mereka berdua merenungi jika tindakan yang diambil Nagato justru membahayakan nyawa pemuda itu sendiri bahkan teman-temannya.
“Kita semua disini hanya karena ingin membuat benua ini, tidak dunia tempat kita tinggali ini menjadi lebih baik. Benua Ezzo, aku akan mengikuti jalan apapun yang diambil Nagato karena aku tidak pernah menemukan orang sebodoh dan pemberani sepertinya.” Saat Hayabusa mengatakan isi hatinya tentang Nagato, semuanya kembali terdiam.
Mereka semua kembali merenungi tujuan masing-masing kedepannya. Jika mengikuti Nagato, mereka harus siap ikut untuk menantang arus dunia.
Bagaimanapun orang yang ingin Nagato bunuh adalah Magma, dan Magma adalah anak dari Kazan. Semuanya saling berhubungan dan berkaitan. Tindakan Nagato hanya akan mengakibatkan kekacauan dan mereka semua siap menanggung resiko mengurangi beban dipundak Nagato.
“Besok...” Hiragi memegang bilah pedangnya dan tersenyum tipis, “Aku tidak pernah menyangka akan mengalami kehidupan seperti ini. Dan aku sama sekali tidak menyesalinya...”
“Ya, tujuan kita besok adalah Lembah Rafinha. Disana kita akan menyelesaikan permasalahan Sekte Pemuja Iblis ini.” Hayabusa menanggapi perkataan Hiragi.
“Aku akan membantu sebisa mungkin... Ya, sebisa mungkin...” Laura menggumam pelan.
Dalam ketenangan malam. Mereka semua menatap rembulan untuk mempersiapkan pertempuran akhir di Lembah Rafinha melawan Sekte Pemuja Iblis yang menjadi incaran mereka semua.
__ADS_1