Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 68 - Api Yang Membakar Tubuh


__ADS_3

ST 14 merasa senang telah melumpuhkan Nagato untuk sementara waktu, mengingat tubuhnya yang terluka karena pisau kecil yang dilempar Nagato, membuatnya menatap Nagato dengan penuh kebencian.


Nagato merasa bahwa tubuhnya sedang dipukul dan ditendang oleh ST 14, sulit baginya untuk melawan rasa kantuk dimatanya. Nagato menghela napas panjang melihat bayangan gadis kecil yang terlihat buram dimatanya terkapar dikelilingi tahanan wanita yang sedang membantu Litha untuk berdiri.


Seluruh tubuh Nagato terdapat luka lebam karena pukulan ST 14 dan darah segar mengalir di mulut Nagato.


"Tudak kusangka aku akan kalah seperti ini ... " dengan senyuman yang menyungging di wahahnya Nagato mencoba untuk kembali melawan ST 14.


Dengan kondisi yang tidak menguntungkan, Nagato memejamkan matanya terlihat dalam bayangan pikiranan didalam kepalanya disana terlihat ada beberapa warna api yang muncul berkorbar didalam ingatannya.


"Ingatan milik siapa?" batin Nagato ketika melihat api berwarna biru muda, jingga kemerahan dan hitam legam.


"Sial! Aku tidak akan mati disini, tidak sampai aku membunuh sialan itu!" gumam Nagato dengan senyuman sinis yang menyungging di wajahnya membuat ST 14 kembali bergidik melihat pemuda yang sekarat masih bisa tersenyum.


Ketika api yang berwarna jingga kemerahan mulai terus berkobar semakin besar dalam ingatannya, tubuh Nagato terasa begitu panas dan perlahan api jingga mengelilingi tubuhnya.


"Memanipulasi aura?!" gumam ST 14 melepaskan cekikan tangannya pada leher Nagato dan mundur beberapa langkah kebelakang untuk menjaga jarak dengan Nagato.


"Uhuk ... uhuk." Nagato batuk pelan ketika ST 14 melepas cekikan tangannya pada lehernya.


Nagato mencoba berdiri dengan memaksakan tubuhnya perlahan matanya kembali cerah bisa melihat dengan jelas dan dirinya terkejut ketika melihat kedua telapak tangannya terbakar api tetapi dirinya tidak merasakan panas atau sakit sedikutpun.


"Bocah itu memiliki tubuh jelmaan dewa api, jangan - jangan ... " mata ST 14 melebar melihat seluruh tubuh Nagato yang terbakar api.

__ADS_1


"Anak dari Pandu! Ini akan menjadi hadiah yang luar biasa untuk beliau!" ucap ST 14 dengan senyuman lebar diwajahnya.


Nagato mendengar ucapan ST 14 mebuat dirinya menjadi sedikit penasaran dengan identitas yang sebenarnya dari pemimpin Sekte Pemuja Iblis.


"Hewan buas, jawab pertanyaanku!" Nagato tersenyum sinis mengambil pedang Litha yang terjatuh ditanah ketika gadis kecil itu ditendang ST 14 kemudian dia menyalurkan tenaga dalamnya pada pedang tersebut hingga pedang milik Litha dilapisi api yang berkobar padat.


"Siapa sebenarnya orang yang kau panggil dengan sebutan beliau itu?!" Nagato menodongkan pedangnya pada ST 14 dan berniat menggertaknya namun ST 14 tersenyum sinis menatap Nagato.


"Bocah, jangan berlagak sombong hanya kau memiliki kekuatan yang spesial seperti itu!" ST 14 perlahan berdiri dan melompat menghindari tusukan pedang Nagato.


"Sial! Ketika aku bertarung seperti ini aku tidak bisa berpikir jernih, aku tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya!" Nagato berbicara sendiri sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


ST 14 tersenyum sinis melihat Nagato bertingkah aneh, kemudian dia melemparkan empat pisau kecil yang terbang menyerang Nagato dari berbagai arah.


"Sirih." Nagato mengolah pernapasan sambil mencoba menghilangkan segala pikiran yang mengganggu suara didalam kepalanya.


"Lintasan Jingga."


Tebasan horizontal pedang api Nagato kali ini jangkauannya cukup luas dengan api yang menyambar dengan cepat kearah lawannya membuat ST 14 tidak bisa berkutik.


ST 14 mencoba menahan lintasan api dengan pisau kecil tetapi justru pisau kecil miliknya patah dan tangan kanannya yang memegang pisau putus oleh tebasan api padat pedang Nagato.


Raut wajah ST 14 berubah menjadi sangat pucat, Nagato tersenyum sinis dan terus berjalan mendekatinya, dengan mengaliri tenaga dalam pada pedangnya membuat api padat yang melapisi bilah pedang milik Litha semakin menyala dan berkobar.

__ADS_1


"Menyerahlah, dan katakan padaku siapa nama orang itu ..." Nagato mengeluarkan peringatan pada ST 14.


"Sialan aku harus tetap hidup, lebih baik aku membocorkan kepada bocah ini daripada aku mati!" benak ST 14 dengan wajah pucat dipenuhi keringat yang mengucur dengan deras ditubuhnya ketika melihat Nagato sudah berdiri didepannya.


"Tetapi jika aku kalah dari bocah ini ... " ST 14 terlalu banyak berpikir dan tidak menjawab pertanyaan Nagato hingga akhirnya tindakannya itu membuat Nagato marah.


"Argh!"


Nagato menusuk sela tulang tangan ST 14 hingga membuat ST 14 berteriak keras kesakitan karena pedang yang dilapisi api padat yang menusuk dan membakar disela - sela tulangnya, membuatnya merasakan rasa sakit yang tak tertahankan.


Nagato memegang kepalanya, dirinya tidak tahu mana dirinya yang benar dengan senyuman sinis diwajahnya dan perasaan gundah dihatinya membuat dirinya tidak bisa berpikir jernih.


"Cepat katakan! Kau pikir aku bercanda, selanjutnya tangan kirimu dan kedua kakimu!" ancaman Nagato membuat ST 14 menelan ludah dan berkeringat dingin.


Raut wajah ST 14 memucat saat melihat tatapan mata kiri Nagato yang terlihat begitu dingin sedangkan tatapan mata kananya begitu hangat.


"Baik ... baik akan kukatakan!" ST 14 mencoba menenangkan Nagato.


"Nama beliau adalah G-." belum selesai berbicara lidah ST 14 putus dihadapan Nagato dan nyawa ST 14 melayang dalam sekejap.


Nagato mengerutkan dahinya ketika melihat tanda lambang tengkorak hitam di bagian lidah yang putus tersebut.


"Lambang ini? Sial!" Nagato mengepalkan tangannya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2