Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 89 - 14 DAY


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, dan mereka berdua telah bermeditasi selama 14 hari, tidak makan dan tidak minum. Tubuh mereka diselubungi aura hangat tipis seperti asap, hanya saja aura milik Nagato berbeda, karena ditubuhnya terdapat api yang membakar badannya.


Bermeditasi selama 14 hari membuat tubuh mereka terasa lebih ringan, Litha merasa jika pikirannya begitu tenang dan hatinya terasa begitu sejuk.


Litha membuka matanya secara perlahan, pandangan matanya tertuju pada sosok Nagato yang sedang duduk bersila dihadapannya.


"Nagato...." ucap Litha lirih karena melihat api yang membakar perut Nagato. Karena cemas Litha hendak membangunkan Nagato yang masih memejamkan matanya.


Tangan Litha hendak menepuk pundak Nagato, tetapi tangannya dipegang oleh pemuda yang akan ia tepuk.


"Aku sudah bangun." ujar Nagato memandang wajah Litha penuh makna.


Setiap melihat Litha, Nagato selalu mengusap rambut halusnya, kemudian dia mengajak Litha untuk keluar dari Gua Hati.


Litha mengembungkan pipinya karena setiap tangan Nagato mengelus rambutnya, dia selalu memperhatikan ekspresi datar wajah Nagato.


Nagato melirik Litha karena merasa penasaran apakah gadis kecil disampingnya itu juga merasakan kebencian di alam bawah sadarnya. Melihat Litha yang selalu tersenyum dan mendukung dirinya, membuat Nagato menjadi penasaran dengan perasaan Litha yang sebenarnya.


Cahaya terang benderang, menyilaukan mata mereka berdua ketika sampai di luar gua. Di luar terlihat Kakek Hyogoro yang sedang meminum arak menunggu mereka berdua.


Kakek Hyogoro tersenyum melihat kedua muridnya keluar dari dalam gua. Kemudian dia melemparkan dua kantong yang berisi uang ratusan koin diberkan kepada Litha dan Nagato.


"Nagato, kakek pakai setengah uangmu untuk membeli arak." jelas Kakek Hyogoro sambil meminum arak kembali.

__ADS_1


Nagato hanya menghela nafas panjang, kemudian dia berjalan kembali ke tengah Hutan Cakrawyuha bersama Kakek Hyogoro dan Litha.


Sesampainya dirumah yang berada di tengah hutan, sudah terdapat makanan yang dibuat Kakek Hyogoro. Walaupun lapar tetapi Nagato dan Litha lebih memilih untuk mandi membersihkan diri terlebih dahulu. Karena makanan akan lebih nikmat disantap ketika tubuh kita bersih dan sudah mandi.


Kakek Hyogoro duduk didepan rumahnya sambil membuat api unggun dan membakar daging rusa ditemani dua gentong arak disampingnya, ditambah dengan suasana tengah hutan yang sejuk karena terdengar nyanyian suara burung.


"Sial! Aku tidak menyangka anak seriang dia bisa menjadi pengkhianat!" gumam Kakek Hyogoro meminum araknya, beberapa kali dia menggelengkan kepalanya karena masih tidak percaya dengan sosok pengkhianat yang memberi tahu lokasi Hutan Cakrawyuha kepada Sekte Pemuja Iblis.


Nagato yang telah selesai mandi dan makan, menghampiri Kakek Hyogoro yang terlihat sedih.


"Kakek Hyo, kenapa kau selalu memberikan uang bayaranmu kepada orang miskin di wilayah Me?" tanya Nagato yang ikut membakar daging rusa di api unggun.


Kakek Hyogoro menaikan alisnya melihat Nagato yang bertanya padanya, dia tersenyum pahit, karena dia juga termasuk orang yang lahir di wilayah Me bagian Kota Reruntuhan Kuno.


"Kakekmu ini adalah seorang pemimpi tua, kakek pernah ingin pergi dari benua ini. Karena ingin berpetualang menjadi seorang penjahat atau apapun itu, yang penting kakek bisa pergi dari tempat yang membosankan dan hampa ini." jelas Kakek Hyogoro meminum araknya kembali," 13 tahun lalu, kakek hendak pergi dari benua ini bersama orang yang bernama Hiryuu. Tetapi ketika perjalanan kami sampai di utara, kakek kembali karena mendengar tentang insiden malam berdarah yang membuat Klan Kagutsuchi musnah.


"Ya." balas Nagato singkat.


"Kau tahu salah satu lima penguasa yang bernama Bisma. Kakek ingin seperti dia bermimpi membuat sebuat tempat yang damai dan tanpa diskriminasi." Kakek Hyogoro tersenyum sebentar, sebelum meminum araknya kembali.


Nagato terkejut mendengar nama Hiryuu dan Bisma, karena dia mengetahui kedua nama penjahat ini dari koran yang dibeli Kakek Hyogoro saat di Kota Fusha.


"Kakek Hyo, mendengar ceritamu membuatku ingin bermimpi, hanya saja..." gumam Nagato lirih, dia malu karena dirinya sama sekali tidak mempunyai sebuah impian dan yang ada dikepalanya, hanyalah bagaimana caranya agar menjadi lebih kuat dan membalaskan dendam orang tuanya.

__ADS_1


Mendengar Nagato yang menggumam, Kakek Hyogoro meminum araknya bahkan kini dia telah menghabiskan 1 gentong arak.


"Nagato, kau jangan pernah jadi orang yang pemabuk." ucap Kakek Hyogoro sambil memijat keningnya sendiri.


Nagato menatap Kakek Hyogoro dengan penuh keheranan, karena dia sama sekali tidak tertarik dengan hal semacam itu.


"Jalani hidupmu, suatu saat kau akan menemukan mimpimu sendiri," ucap Kakek Hyogoro,"semua sudah ada gilirannya masing - masing."


Kakek Hyogoro terbaring setelah memberi wejangan kepada Nagato.


Nagato menahan tawanya melihat Kakek Hyooro, tetapi perkataan guru kesayangannya itu membuatnya sedikit memahami, bahwa kehidupan selalu tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan.


"Kakek Hyo, aku akan membuat wilayah Me menjadi tempat yang layak, tetapi jangan berharap apa - apa padaku...." gumam Nagato, kemudian dia menyantap daging rusa yang ia bakar.


Wilayah Me adalah wilayah yang berada di perbatasan Kerajaan Ellesmere dan Kekaisaran Kinai, walau masih termasuk dalam wilayah Kekaisaran Kai, tetapi wilayah Me dianggap sebagai daerah bebas hukum karena Mantan Kaisar Genki dan Kaisar Hizen yang sekarang tidak mengakui Me, menjadi bagian dari wilayah Kai.


Ketika hari menjelang siang, Nagato bergegas untuk berlatih seperti biasa, di sisi lain Litha sedang memberi makan Chibi di teras rumah.


"Meong - Meong."


Chibi menggigit ikan yang diberikan Litha, kemudian kucing manis itu berlari mengejar Nagato, yang pergi masuk kedalam hutan membawa pedang ditangannya.


Litha menyipitkan matanya, pandangan matanya tertuju pada punggung Nagato, kemudian dia juga berlari mengikuti Chibi untuk melihat Nagato latihan.

__ADS_1


Didalam hutan, Litha duduk diatas batu datar ditemani Chibi, sedangkan Nagato sedang berlatih mengayunkan pedangnya dan melatih kecepatan langkah kakinya.


"Nagato selalu berlatih sendirian. Setelah kami pulang latihan, dia akan mulai berlatih pedang sendirian kembali." gumam Litha mengingat beberapa bulan kebelakang, Nagato selalu mengulang dan mengulas apa saja yang baru diajarkan Kakek Hyogoro, karena dia tidak mudah menghafal tidak ada pilihan lain baginya untuk mencoba mengingat kembali, agar tubuhnya dapat bergerak sesuai instingnya.


__ADS_2